Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 21. Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Terpaksa aku keluar dari tempat persembunyianku, melangkah sambil menunduk menemui dua orang ibu dan anak itu.


"Maaf, saya tidak berniat menguping, Tante. Saya hanya ...." Aku bingung harus berkata apa. Mataku melirik ke arah Kak Rey, berharap lelaki itu membantuku menjawab pertanyaan ibunya.


"Duduklah! Jangan berdiri di sana!" Wanita paruh baya itu ternyata tidak marah. Beliau malah bersikap ramah kepadaku.


Ragu langkahku mengayun ke sana, menuju meja bundar yang terdapat banyak bahan baku kue yang masih belum dibuka. Rasa gugupku seakan lenyap ketika melihat begitu lengkapnya peralatan memasak yang ada di dapur. Mataku berbinar, menatap benda-benda itu penuh kekaguman. "Tante suka bikin kue?" tanyaku tiba-tiba.


Wanita itu tersenyum, lalu berkata, "Iya, usaha kecil-kecilan."


Hah, usaha kecil-kecilan?


Segabut itu kah orang kaya?


Aku yakin jika ibu Kak Rey tidak akan sampai kekurangan uang hingga membuat kue untuk dijual lagi.


"Usaha kecil-kecilan?" tanyaku memastikan perkataannya.


Dia tersenyum lagi, "Iya, terkadang ada yang pesan kue sama Tante." Lalu, beliau menatap Kak Rey yang sejak tadi diam setelah kedatanganku. "Rey, kapan-kapan ajak Rena ke sini. Bunda kan enggak punya anak perempuan. Pengen deh sekali-kali ngajak menantu Bunda untuk bikin kue."


Terdengar helaan napas berat dari bibir Kak Rey. "Iya, kalau Rena sempat. Bunda tahu sendiri dia sedang sibuk. Sama Alea kan bisa. Dia juga anak perempuan." Kak Rey berkata asal. Aku menunduk. Entah apa maksudnya melibatkanku dalam obrolan mereka.


"Hei, bagaimana mungkin Bunda ngajak Alea. Alea pasti memiliki kesibukan sendiri. Bener kan, Alea?"


Aku hanya tersenyum tipis. Sibuk? Bahkan, aku bingung mencari pekerjaan baru karena anaknya yang sok kegantengan itu dengan seenaknya membuatku dipecat.


"Enggak, Alea enggak sibuk. Tadi pagi baru juga dipecat."


Benar, kan? Kak Rey seenaknya saja bicara. Aku menatapnya dengan sedikit melotot. Tapi, lelaki itu hanya mengedikkan bahu tidak peduli.


"Kamu baru dipecat?" Ibu Kak Rey menanyaiku, membuatku segera memasang wajah ramah.


"Iya, Tan. Apakah Tante membutuhkan karyawan? Kalau iya, saya mau menjadi karyawan Tante. Saya dari dulu ingin sekali bisa membuat kue." Aku menjawab dengan antusias. Setiap melihat kue-kue cantik di toko kue, ada rasa ingin mencobanya. Aku penikmat kue modern juga jajanan tradisional yang sering dipajang di etalase.

__ADS_1


Perkataanku belum sempat ditanggapi oleh ibu Kak Rey karena pada detik itu juga seseorang datang memanggilnya.


"Salwa!"


Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun, tetapi masih terlihat gagah dan tampan tiba-tiba memutus obrolan kami. Dia datang sembari membawa sebuah dasi berwarna navy, menatap hanya pada satu orang, Tante Salwa. Nama ibu Kak Rey adalah Salwa, begitulah yang kutangkap setelah pria yang aku ketahahui adalah ayah Kak Rey--Tuan Sean Paderson-- memanggil namanya.


Tante Salwa melempar senyum ke arah Paman Sean, berjalan menemuinya. Mereka berhenti setelah saling berhadapan tepat dua langkah di depanku. Entah mengapa, aku tak bisa melepaskan pandanganku dari dua orang tua itu. Sepertinya sikap romantis Paman Sean kepada sang istri tidak berubah meski usia mereka sudah tidak muda lagi. Tentu saja hal itu sangat menarik perhatianku.


Tante Salwa mengambil alih dasi dari tangan Paman Sean, lalu memasangkannya. Sungguh pemandangan itu jarang dan hampir tidak pernah lagi kulihat di kehidupan nyata.


"Ada pesanan lagi?" Paman Sean bertanya dengan kening berkerut setelah melihat meja penuh dengan bahan-bahan kue.


"Heem, iya. Lumayan kan, Mas, buat jajan." Tante Salwa meringis ketika menyebut kata "jajan". Sepertinya itu hanya alasan saja. Mana mungkin seorang istri pengusaha sekaya Paman Sean harus jualan kue dulu agar bisa "jajan"? Dan saat itu juga jari telunjuk Paman Sean mencolek hidung istrinya.


"Ini yang terakhir. Besok dan beberapa hari ke depan jangan terima pesanan dulu. Temani aku ke Aussie."


"Beberapa hari ke depan? Berapa hari?"


"Apaan, sih?" Aku mencoba membuka tangan Kak Rey yang menutup mataku, tetapi lelaki itu malah menarik tanganku dan mengajakku pergi. Aku hanya menurut ketika dia menggiringku keluar dari dapur karena tangannya terlepas dari mataku setelah berada di ruang tengah.


"Ayo, aku antar pulang," ucapnya dengan tangan masih mempertahankan genggamannya pada lenganku.


"Tapi, aku kan belum selesai bicara dengan Tante Salwa. Aku diterima enggak jadi karyawannya?"


Kak Rey tidak peduli dengan perkataanku. Dia tetap mengajakku untuk keluar dari rumahnya menuju mobil yang tadi diparkirkan oleh sopir di depan halaman rumah.


"Kamu pasti ditolak." Kak Rey berkata. "Bunda pemilih orangnya. Udah, kita balik aja!" ucapnya mematahkan semangatku dan berhasil membuatku kesal.


***


Sebuah rumah yang berada di kompleks hunian yang cukup jauh dari kediaman orang tua Kak Rey menjadi tujuan kami selanjutnya. Kak Rey hanya diam saja ketika aku bertanya. Lelaki itu hanya fokus pada layar digital tipis miliknya karena disibukkan dalam memeriksa masalah pekerjaan. Tentu aku tahu bahwa ini adalah jam kerja. Kak Rey terpaksa harus bersamaku pun disebabkan adanya insiden yang menimpaku di hotel. Sehingga, aku tidak berani mengganggu waktunya yang ternyata sangat sibuk.


Butuh waktu sekitar satu jam lamanya sampai kami berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Ketika kami turun dari mobil, penjaga rumah tampak tersenyum ramah kepada kami.

__ADS_1


Jelas saja aku merasa aneh. Mengapa Kak Rey mengajakku kemari?


"Ayo, masuk!" ucapnya sembari menarik tanganku.


Laki-laki penjaga rumah yang aku perkirakan bersusia sekitar empat puluhan tahun itu membukakan pintu untuk kami. Aku dan Kak Rey masuk ke dalam rumah besar itu yang entah milik siapa.


"Kak Rey, mengapa ke sini? Ini rumah siapa?"


Pandangan mataku berkeliaran, menyapu ke segala penjuru ruangan. Rumah yang cukup besar, tetapi aku tidak melihat sang pemilik rumah muncul saat kami masuk tadi. Perabotan yang digunakan pun masih baru. Ada beberapa yang belum terlepas dari plastiknya, mungkin terlewat atau sengaja.


"Ini rumahmu. Hadiah pernikahan kita."


Dia berkata dengan datar tanpa sedikit pun menatapku.


"Hadiah untukku?" Sungguh, aku masih belum percaya sepenuhnya. Rumah sebesar ini untukku? Bahkan, membayangkannya pun aku tidak berani.


"Terlalu kecil, ya?" Wajah datarnys berubah kecewa. "Aku terburu-buru membelinya. Setidaknya ini lebih baik daripada kamu tinggal di hotel terus. Kalau dia sudah lahir dan kamu merasa rumah ini terlalu kecil, aku akan carikan yang lebih besar."


"Apa?" Aku bingung dengan cara berpikir orang kaya. Rumah sebesar ini dibilang kecil. Bahkan, detik ini juga aku membayangkan betapa repotnya aku harus membersihkan bangunan sebesar ini setiap hari. "Tidak perlu. Ini sudah sangat besar."


Segaris senyum simpul terbit di bibir Kak Rey. Senyum itu adalah senyum langka yang pernah kulihat ketika dia bersamaku. "Aku kembali ke kantor dulu. Kamarmu ada di atas. Terserah kamu pilih kamar yang mana. Tapi, hanya kamar utama yang sudah ada lemari pakaiannya."


Aku mengangguk mengerti. Kak Rey melangkah pergi setelah memberi tahuku beberapa hal tentang rumah ini. Namun, ketika lelaki itu hampir membuka tuas pintu, dia berbalik.


"Ehmm, Alea!" panggil Kak Rey kepadaku.


"Ya!"


"Mungkin nanti malam ... aku akan ke sini. Tunggu aku!"


Detak jantungku seakan berhenti setelah mendengar perkataan Kak Rey.


Nanti malam dia akan datang menemuiku? Memang untuk apa?

__ADS_1


__ADS_2