Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 61. Hampir Sembuh


__ADS_3

Di sana, Mama sudah terlihat agak sehat. Aku mengunjunginya bersama Kak Rey selepas lelaki itu pulang bekerja. Kami berjalan beriringan dengan Kak Rey melingkarkan tangannya di bahuku. Dia selalu menjagaku, menemaniku ke mana pun aku pergi. Apalagi sekarang kandunganku sudah menginjak usia delapan bulan.


"Hati-hati!" ucap Kak Rey ketika kakiku melangkah masuk ke ruangan Mama.


"Heem, iya."


Aku tersenyum. Impianku untuk memiliki keluarga lengkap dan bahagia sebentar lagi akan terwujud. Mama yang sudah tidak takut lagi padaku, suami yang selalu ada untukku, dan anak yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia, sangat lengkap, bukan?


"Aku tinggal dulu. Jika terjadi ada apa-apa, panggil aku!" pesan Kak Rey setelah aku berada di ruangan Mama. Aku mengangguk dengan dia melabukan satu kecupan hangat di dahiku sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu meninggalkan aku dan Mama berdua.


"Ma, aku datang." Aku menyentuh tangannya, meletakkan punggung tangan Mama di keningku.


Beliau tersenyum, mengusap kepalaku. Oh, ya, Mama sudah bisa bicara padaku meski aku harus berusaha menanyai dan mendekatinya terlebih dahulu.


Sejujurnya aku ingin sekali mengetahui apa yang selama ini terjadi pada Mama. Bagaimana dia bisa berakhir dalam kondisi menyedihkan sampai anak buah Kak Rey menemukannya. Bagaimana aku bisa berada di tengah-tengah keluarga Hinata. Aku ingin tahu semuanya, tetapi Kak Rey melarangku bertanya. Dia bilang itu sangat berbahaya karena saat ini Mama dalam masa pemulihan pasca trauma.


Kami dilarang membahas masa lalu Mama sebab mungkin akan menimbulkan efek traumatik berlebih sehingga aku harus lebih bersabar untuk mengetahui semuanya. Biarkan saja yang lalu itu berlalu, yang penting aku bisa berkumpul lagi dengan mamaku.


Aku menyuapinya. Bibir kehitaman itu melahap makanan yang kusuapkan. Kulihat sudut matanya berlinang. Mama menangis sambil mengunyah suapan dariku.


"Alea, siapa laki-laki yang bersamamu?"


Pertanyaan Mama jelas membuatku terkejut. Sejak awal Mama tak pernah sekali pun bertanya tentangku. Namun, saat ini Mama tiba-tiba mengajakku bicara terlebih dulu. Sungguh ini adalah perkembangan yang luar biasa.


"Dia suamiku, Reynan. Kami sudah menikah, Ma."


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Heem." Aku mengangguk. "Sangat baik. Dia menjagaku dengan baik. Dia juga yang membantuku menemukan Mama."

__ADS_1


"Syukurlah. Mama senang mendengarnya." Tangan kurusnya menyeka air mata yang menetes di pipi. "Maafkan Mama. Mama bukan mama yang baik. Tapi kamu masih mau mencari dan menganggap Mama sebagai orang tuamu."


Aku menggeleng, menyentuh kedua tangannya yang kurus. "Itu tidak benar. Mama adalah mama terbaik. Lupakan masa lalu. Kita mulai dari awal." Aku raih tangan tua itu, lalu menyentuhkannya ke perutku. "Sebentar lagi dia akan lahir. Mama akan menjadi nenek."


Bibirnya menyunggingkan segaris senyum. Aku melihat ada sinar kebahagiaan dari sorot matanya. Telapak tangannya mengusap perutku, dan saat itu juga aku merasakan tendangan di sana. "Dia bergerak," ucapnya sembari meneteskan air mata.


"Dia mengenali neneknya." Aku menangkup tangan Mama. "Dia tidak sabar ingin bermain dengan neneknya."


Saat itu aku ingin sekali menangis. Hatiku merasa haru luar biasa. Tangan Mama tak beralih pada perutku, mengusapnya lembut. "Dia sangat aktif. Mama mendoakan kebahagiaanmu."


Aku mengangguk, lalu memeluk Mama dengan duduk di tepian ranjang. Beliau membalas pelukanku seperti orang tua yang telah lama tak berjumpa anaknya.


Apakah kalian tahu apa yang membuatku begitu haru?


Mungkin segala yang ada di dunia ini bisa aku raih. Uang, ilmu, kehormatan, dan cinta. Namun, kesempatan untuk mengasihi orang tua tidak bisa terulang kembali.


Dan kini, Tuhan memberiku kesempatan untuk melakukan itu. Mempertemukanku dengan Mama yang selama puluhan tahun lamanya baru bisa melihat wajahnya.


Teruntuk yang di luar sana selagi ada kesempatan membahagiakan orang tua, maka lakukanlah! Bahagiakan mereka sesuai kadar kemampuan kita. Karena kita tidak tahu sampai kapan bisa berbakti pada mereka. Bisa jadi saat ini kita bisa melihat senyum mereka, namun esok atau lusa senyum itu tak lagi ada.


Jangan sampai ada penyesalan seperti saya. Karena sebuah kesalahpahaman, berujung pada penyesalan seumur hidup karena sudah tidak memiliki kesempatan membahagiakan seorang Ayah.


***


Hari sudah semakin malam saat kami memutuskan pulang dari yayasan di mana Mama berada. Sebenarnya aku mengusulkan agar Mama tinggal bersamaku. Namun, dokter yang menangani Mama mengatakan bahwa sebaiknya pengobatan tetap dilakukan sampai kondisi Mama benar-benar membaik. Khawatirnya dalam keadaanku yang hamil tua tidak akan bisa merawat Mama saat trauma Mama muncul di waktu yang tidak tepat.


Telapak tangan Kak Rey yang melingkar di tubuhku mengusap perutku. Dia senang sekali saat merasakan pergerakan yang tiba-tiba menendang telapak tangannya. Kadang dia terkekeh kecil, lalu membrlai lembut pada permukaan perutku.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Kak Rey setelah merasakan pergerakan lambat pada perutku.

__ADS_1


"Ehmm, entah."


"Aku tidak sabar mengajaknya bermain. Berlarian di pantai sambil menggendongnya di atas bahuku." Tangannya beralih mengusap kepalaku. "Nanti sekalian kita berbulan madu."


Wajahku bersemu ketika Kak Rey membisikkan kata bulan madu kepadaku. Pernikahan kami belum disahkan oleh negara karena sampai saat ini sidang perceraian Kak Rey belum sepenuhnya selesai.


Kak Rena meminta saham yang teramat besar pada perusahaan keluarga Kak Rey karena merasa dirugikan. Dia menuduh Kak Rey berselingkuh di belakangnya denganku, adiknya sendiri. Kak Rena merasa dibohongi selama menjadi istrinya. Entah apa lagi yang menjadi tuntutan Kak Rena demi mengulur-ngulur waktu sidang cerai mereka.


Namun, Kak Rey berkata bahwa semuanya sudah mendapatkan titik terang. Besok dipastikan pihak Kak Rena akan kalah dengan menetapkan rumah dan sejumlah uang sebagai keputusan akhir.


"Kamu ingin pergi ke mana? Nanti biar aku menyuruh orang untuk mempersiapkannya."


Aku menoleh dengan sedikit menengadah, menatap mata hazel itu yang kini tengah memandangku.


"Terserah kamu. Aku sebelumnya jarang sekali berlibur. Terakhir adalah perpisahan sekolah. Aku akan senang ke mana pun kamu mengajakku. Asalkan kita perginya bersama."


"Hemm, mungkin mulai saat ini aku harus menabung," kata Kak Rey menanggapi jawabanku.


"Menabung?" Apakah sebanyak itu biaya berbulan madu sehingga membuat Kak Rey harus menabung untuk mewujudkannya?


"Ya, aku akan menabung berbagai macam gaun tidur untuk kamu kenakan nanti saat bulan madu." Dia berkata sambil mengedipkan matanya padaku.


"Aih!" Aku mencubit perutnya yang rata. "Mesum!" Bicaranya tak jauh dari masalah itu.


Dia terkekeh, memeluk tubuhku kian erat sembari meletakkan dagunya di atas kepalaku. Namun, sesaat Kak Rey memelukku, terdengar panggilan telepon yang membuatnya segera mengalihkan perhatian.


"Ya," ucap Kak Rey menjawab panggilan itu.


Aku melihat ada ketegangan pada raut mukanya. Dia menatapku tanpa berkata apa pun. Sepertinya panggilan itu terlihat sangat serius jika dilihat dari ekspresi wajah Kak Rey yang berubah.

__ADS_1


"Ada apa?" Aku akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Kita kembali ke yayasan," ucapnya dan segera menyuruh sopir putar balik untuk menuju ke tempat Mama.


__ADS_2