Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 50. Ke Suatu Tempat


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi ketika kami menyelesaikan salat malam bersama. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana seorang Reynan Paderson yang sebelumnya selalu terlihat tanpa beban dan bersikap santai, kini menangis di sana. Dia menumpahkan segala permasalahanya hanya kepada Sang Pencipta.


Aku masih menatap punggung yang bergetar itu. Dia begitu khusuk, tenggelam dengan doa-doa yang sedang ia panjatkan. Hanya suara isak tangis yang sesekali aku dengar keluar dari bibirnya.


Untuk saat ini, aku merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Kak Rey sebenarnya laki-laki baik dan merupakan kriteria suami idaman. Dia bertanggung jawab bukan hanya dari segi materi, tetapi juga tidak pernah bersikap kasar terhadap istrinya, berkata lembut, dan sangat menghargai. Zaman sekarang sangat jarang bisa ditemukan laki-laki sepertinya. Tentu aku merasa terberkati karena telah menaklikkan dirinya sebagai pelengkap separuh agamaku. Menjadikannya partner dalam ibadah terlama, yaitu pernikahan.


Andai memang Kak Rena tidak diceraikan pun, aku ingin tetap menjadi bagian darinya.


Apakah aku bodoh sampai berpikir seperti itu? Entah. Banyak hal yang menjadi pertimbanganku. Terutama karena sifat Kak Rey yang menurutku adalah laki-laki setia hanya pada satu pasangan. Dia mau menikahiku pun hanya terkait masalah tanggung jawab. Jika tidak ada insiden itu, aku yakin sampai saat ini istri Kak Rey hanya Kak Rena seorang.


Dia menoleh kepadaku setelah menyeka matanya yang basah. Senyumnya begitu teduh di balik wajah yang rupawan. Sungguh, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Semoga suatu saat Kak Rey mampu mencintaiku juga, sama seperti bagaimana yang aku rasakan kepadanya.


Tangannya terulur kepadaku. Aku menyambutnya, lantas mencium punggung tangan tersebut. Saat itu juga, dia mengecup keningku dan ... memelukku.


Aku tenggelam dalam dekapannya, merasakan kehangatan lahiriah dan rohaniah secara bersamaan. "Terima kasih tetap bersamaku," bisik Kak Rey kemudian.


Udara sepagi ini terasa sejuk menerpa kulitku yang hanya berbalut pakaian tidur. Aku berdiri di balkon menunggu saat Subuh tiba. Setelah menyeduh teh untuk menemai perbincangan kami, aku membiarkan Kak Rey beristirahat dengan menyandarkan punggungnya pada kursi di balkon kamar.


"Alea, apa yang kamu lihat?"


Aku menoleh, menatapnya sambil tersenyum. "Tidak ada."


"Kemarilah!" Dia menepuk-nepuk sisa kursi di sampingnya dengan menggeser pantatnya sedikit minggir, memberikan ruang kosong untuk kutempati. "Aku ingin bicara."


"Heem." Segera kuayunkan langkah ke arah Kak Rey yang hanya berjarak tiga jangka orang dewasa. Kududukkan tubuhku di sampingnya, lalu ikut bersandar di sana.


Semilir angin pagi menerpa wajahku, menambah kesejukan udara pagi yang belum terkontaminasi. Terdengar helaan napas dari bibir Kak Rey, seolah akan ada satu hal besar yang ingin dia utarakan.


"Ke dokternya undur malam, ya? Karena besok aku akan ke pengadilan untuk mengurus surat cerai."


Aku memandang wajahnya yang terlihat sedih. Apakah sebenarnya Kak Rey belum bisa melepaskan Kak Rena. "Apa Kak Rey yakin berpisah dengan Kak Rena? Aku melihat kalian saling mencintai, tetapi saling menyakiti."


"Aku sudah memutuskan dan memikirkannya. Setelah ini aku bisa fokus pada kalian berdua," ucapnya sembari mengusap perutku. "Tapi, aku tidak yakin sidang perceraian ini bisa berlangsung cepat. Rena ... menolak bercerai. Mungkin banyak tuntutan yang akan dia ajukan. Kamu sabar, ya?"


Aku mengangguk. "Tidak masalah. Aku akan mendukung apa pun yang sudah menjadi keputusanmu."


"Bagus. Karena sikapmu lah yang membuatku yakin mengambil keputusan ini." Dia mengusap kepalaku. Aku tidak mengerti apa maksud Kak Rey melihat dari sikapku yang begini. Tapi, aku tidak memusingkan hal itu.


"Kak Rey, apakah aku boleh meminta sesuatu? Aku tiba-tiba ingin melakukannya bersamamu."


Wajah Kak Rey mendadak berubah. Sedikit dia mengeram, kemudian berkata, "Katakan!"


"Aku ingin sekali naik genteng. Di atas rumah."


"Apa?" Dia tampak terkejut.


"Heem." Aku mengembuskan napas. Sepertinya keinginanku itu tidak mungkin terjadi. Memang kemauanku kali ini sangat absurd. Mana ada ibu hamil ingin naik atap rumah? "Kak Rey tahu saat adegan Sizuka dan Nobita duduk di atas rumah sambil memandang langit. Lalu, tiba-tiba ada bintang jatuh yang terlihat oleh mereka. Aku merasa itu adalah adegan yang paling romantis. Andai saja aku bisa melakukannya. Bersamamu."


Kak Rey terkekeh. Telapak tangannya yang besar kembali mengusap kepalaku. Aku bagaikan seorang anak kecil yang sedang meminta mainan daripada seperti layaknya istri. "Kamu ada-ada saja."


"Tapi aku ingin, Kak Rey."

__ADS_1


"Heem, kalau kamu naik genteng, adanya kamu jatuh. Bukan jadi romantis, tapi masuk rumah sakit."


Iya, benar juga. Mungkin itu hanya ada di adegan film-film saja. Kalau kenyataannya, tidak ada. Tapi, entah mengapa aku masih saja tidak rela saat Kak Rey tak bisa menyanggupi keinginanku.


"Ayo, masuk! Sudah waktunya Subuh," ucapnya dengan menarik tanganku agar mengikutinya ke dalam.


***


Benar yang Kak Rey katakan. Dia pulang lebih sore dari biasanya. Entah berapa pekerjaan yang dia abaikan karena berjanji akan mengantarku ke dokter kandungan.


Aku sudah siap dengan menunggunya di depan rumah. Karena sudah melakukan perjanjian sebelumnya, kami tidak perlu ikut mengantre nantinya.


Sebuah Lexus seri L 500 telah berhenti tepat di depanku. Kulihat Kak Rey tidak menggunakan sopir, melainkan menyetir sendiri.


"Ayo, masuk!" ucapnya setelah membuka pintu depan untukku.


Aku memgangguk, lantas mengambil posisi dengan mengenakan sabuk pengaman sebelum mobil berwarna perak itu melaju kembali.


"Bagaimana tadi? Apa urusannya lancar?" tanyaku saat di tengah perjalanan.


"Iya, kita tinggal menunggu sidang saja. Semoga cepat selesai."


"Heem, syukurlah."


Tiada percakapan lagi di antara kami. Aku sengaja membiarkan Kak Rey berkonsentrasi dengan kendaraannya karena saat ini dia sedang menyetir sendiri.


Tidak membutuhkan waktu lama, sampai kami berada di depan sebuah klinik ibu dan anak. Kak Rey memarkirkan mobil terlebih dulu setelah menyuruhku keluar untuk menunggu di lobby.


"Ibu Alea, silakan rebahan di sini." Seorang perawat wanita menuntunku untuk naik ke atas ranjang, lalu menutupi separuh tubuhku dengan selimut. Aku akan melakukan USG untuk melihat perkembangan janin yang ada dalam kandungan.


Setelah mengoleskan gel ke permukaan perutku, sebuah alat yang rasanya dingin menekan di sana. Dan detik itu juga terdengar suara detak jantung bersamaan gambar janin yang sudah berbentuk seperti bayi muncul di layar monitor.


Kak Rey menggenggam tanganku. Kami sama-sama menatap pergerakan yang masih perlahan pada gambar janin itu. Dokter menjelaskan dengan gamblang bagaimana aktivitas janin, perkembangan fisik serta motoriknya yang dikatakan tidak ada masalah.


"Jenis kelaminnya adalah ...."


"Tidak!" Oh, aku dan Kak Rey tanpa sadar menahan dokter itu agar tidak memberi tahu jenis kelamin anak kami. "Biarkan tetap menjadi rahasia." Kak Rey berkata dengan mengusap kepalaku. Kulihat matanya berkaca-kaca, seakan terharu bahwa dia akan menjadi seorang ayah.


"Baiklah. Nanti video dan foto USG-nya bisa diambil di bagian administrasi. Sekali lagi, selamat, ya? Jangan lupa diminum vitaminnya!"


Setelah keluar dari rumah sakit, kulihat ekspresi Kak Rey berubah ceria. Padahal saat menjemputku tadi, dia terlihat begitu lelah.


"Aku akan memesankan pigura khusus untuk foto pertama anak kita," ucapnya tanpa beralih pada jalan raya.


"Kak Rey, dia belum lahir." Aku menggeleng menanggapi perkataannya. Terlalu dini untuk memasang foto bayi.


"Bukan, tapi foto yang tadi. Itu untukku. Aku akan menyimpannya di meja kerjaku."


Aku tidak menyangka, Kak Rey sangat menyayangi anak ini. Padahal, sebelumnya kupikir dia tidak peduli. Aku masih tertegun dan mencerna setiap ucapannya, hingga aku tersadar jika jalan yang sedang kami lewati bukanlah jalan menuju rumah.


"Kak Rey, ini di mana?"

__ADS_1


Kulihat ke arah kanan dan kiri, sudah tidak ada lagi bangunan-bangunan khas perkotaan. Melainkan hanya pohon-pohon tunggi menjulang yang tampak gelap mengerikan.


"Ke suatu tempat. Aku memang menunggu gelap untuk ke sana."


"Kamu tidak berniat membuangku ke hutan, bukan?" Aku menerka-nerka perkiraan terburuk, sampai menaruh curiga kepadanya.


Dia terkekeh mendengar tuduhanku. "Mungkin memberi makan singa malam-malam begini asik juga."


"Kak Rey!" Aku berteriak sambil melotot, memukul lengannya. "Bercandamu tidak lucu."


Kak Rey hanya tertawa menanggapiku, tak sedikit pun berniat menjelaskan akan ke mana mobil ini tertuju. Aku akhirnya pasrah, mencoba berpikir positif bahwa dia tidak mungkin membuangku. Kupejamkan mata karena tiba-tiba aku mengantuk.


Entah berapa lama aku tertidur, sampai-sampai Kak Rey mengguncang bahuku pelan sembari menepuk pipiku.


"Alea, bangun! Sudah sampai."


Kelopak mataku mengerjap, lalu menatap ke depan yang mana mobil telah berhenti di suatu tempat.


"Di mana ini?" tanyaku yang masih kebingungan.


"Ayo, keluar!" Dia keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitar untuk membukakan pintu untukku. Tangannya terulur membantuku turun dari sana.


Semuanya gelap. Hanya angin malam yang bertiup lebih kencang. Lalu, Kak Rey menuntunku melangkah maju dan berhenti tepat di depan cap mobil.


"Lihat di sana!" Jari telunjuknya mengarah ke depan. "Kita bisa melihat gemerlapnya bangunan kota di tempat tinggi seperti ini."


Ya, benar. Di sepanjang mata memandang, gemerlapnya perkotaan terlihat indah memukau. Aku bahkan tidak tahu jika ada tempat seperti ini. Aku masih terpesona dengan pemandangan di depanku. Namun, Kak Rey mendadak mengangkat tubuhku, didudukkannya pada cap mobil.


"Hei!" Aku hampir saja terkejut karena sikapnya yang tiba-tiba.


"Lihat ke atas!" Dia mengarahkan kepalaku untuk menengadah. Dan barulah aku tahu maksud Kak Rey membawaku ke sini. "Kamu bilang ingin melihat bintang, bukan? Di sini, kamu bisa melihat bintang sepuasmu tanpa harus membahayakan diri dengan naik di atas atap rumah."


"Heem." Sedikit kucondongkan tubuhku ke belakang, dengan kedua tanganku bertumpu di sana. Mataku tak lepas dari hamparan bintang yang indah kerlap-kerlip di atas langit. "Terima kasih. Ini ... indah."


Kak Rey ikut duduk di cap mobil bersamaku dengan posisi yang sama. Kami menikmati keindahan bintang di langit berdua di kelamnya malam. Sampai embusan angin malam kian kencang. Aku mengusap kedua lenganku untuk menghalau rasa dingin yang mendera semakin kuat. Namun, rasa dingin itu tak berlangsung lama karena saat itu juga Kak Rey melepaskan jasnya dan memakaiankannya kepadaku.


"Pakai ini!" ucapnya sembari mengenakan jas tersebut untuk menutupi tubuhku.


"Terima kasih."


Dia tidak menjawab, tetapi tangannya menyentuh pipiku. Wajahnya kian mendekat, menyatukan keningnya dengan keningku. Saat itu juga aku merasakan bibirnya berlabuh pada bibirku, menyecapnya dengan gerakan lembut namun sedikit liar. Aku hampir tak bisa mengimbanginya karena dia melakukannya secara tiba-tiba. Aku terhanyut oleh permainannya hingga tak sanggup menahan tubuh ini agar tetap duduk dengan tegak.


Akan tetapi, saat pertemuan bibir itu belum sepenuhnya selesai, sebuah panggilan dari ponsel Kak Rey membuyarkan semuanya.


Dia berdecak, seolah tak rela menyudahi ciuman kami. Sementara wajahku sudah tak bisa disembunyikan rona merahnya.


"Ya!" Hanya kata itu yang Kak Rey ucapkan. Namun, matanya yang sebelumnya tampak sayu kini berubah menajam dan menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.


"Alea, mereka menemukan ibumu."


...****************...

__ADS_1


Satu bab tapi puanjang, ya! Tadinya mau aku potong jd dua bab, tp enggak jd. Btw, yg belum ngasih sesajen, ditunggu! 🤭🤭


__ADS_2