
Kak Rey mengatakan jika Kak Rena berada di luar kota sekitar dua minggu. Namun, dengan sangat jelas aku melihatnya berada di salah satu toko jam tangan pria dengan seseorang yang hanya terlihat punggungnya saja.
Perasaanku mendadak tidak enak. Apakah selama ini Kak Rey berbohong?
Aku ingin sekali menghampiri Kak Rena. Sudah lama rasanya kami tidak berjumpa semenjak dia berbulan madu dengan Kak Rey. Akan tetapi, aku sedang dalam antrean kasir. Mencoba bersabar sambil terus memperhatikan posisi Kak Rena, berharap masih ada kesempatan untuk bertatap muka dengannya, barulah tiba giliranku maju.
Petugas sedang menghitung barang belanjaanku dan segera kusodorkan kartu kredit yang Kak Rey berikan padaku. Setelah semuanya sudah dikemas dalam kantung-kantung platik berlogo swalayan tersebut, lalu kembali dimasukkan ke dalam troli, aku bergegas keluar dari area kasir untuk menemui Kak Rena. Namun, aku tidak melihatnya lagi di sana.
Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru hanya demi mencari sosok Kak Rena. Sebagai saudara aku sangat merindukannya. Tapi, sepertinya keinginanku pupus saat itu juga.
Kuembuskan napas kasar, mendorong troli yang sudah penuh barang belanjaan. Kulirik jam tangan untuk melihat waktu, sudah pukul empat sore. Aku harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam karena Kak Rey mengatakan akan kembali menginap malam ini.
Tepat ketika aku akan menggunakan escalator, sekelebat bayangan Kak Rena terlihat pada mataku. Ya, tidak salah lagi. Itu adalah Kak Rena. Dia masih berada di pusat perbelanjaan ini sehingga aku mengurungkan niat untuk turun dari lantai dua. Kudorong troliku dan kutepikan sebentar, lalu berteriak memanggil kakakku.
"Kak Rena!"
Wanita yang selalu tampil cantik dan anggun menoleh seketika. Namun, dia tampak terkejut melihatku.
"Alea!" ucapnya lirih yang kulihat dari gerak bibirnya. Tangan yang semula menggandeng lengan seorang pria disampingnya dilepaskan segera. Hal itu tak luput dari perhatianku. Siapa lelaki itu?
Aku memilih abai, tetap mendekat menuju Kak Rena.
"Kakak sudah pulang?" tanyaku tanpa basa-basi.
Dia tersenyum kaku kepadaku. "Kakak sudah pulang. Kamu ke mana aja! Mama bilang kamu menginap di rumah temenmu. Kimono pesenanmu sudah Kakak belikan. Warnanya cantik. Rey yang pilihkan!" Dia berkata dengan bersemangat.
Jadi, Mama mengatakan kepada Kak Rena aku tinggal bersama temanku. Mama tidak mau mengatakan hal sesungguhnya kepada Kak Rena. Tentu, mungkin Mama tidak tega merusak kebahagiaan putri semata wayangnya.
Namun, bukankah Kak Rey mengatakan Kak Rena sedang di luar kota. Aku ingin menanyakan itu, tetapi aku tidak tahu harus memulai dari mana karena Kak Rena menganggap aku hanya tahu jika dirinya baru pulang berbulan madu.
"Kakak sedang apa? Kakak enggak kerja?" Kulirik pria di sampingnya. Lelaki itu tampak familer bagiku. Akan tetapi, dia seolah sedang menyembunyikan wajah dengan menutupinya menggunakan topi yang ditarik ke bawah.
"Dua hari lagi Rey ulang tahun. Aku sedang menyiapkan kejutan untuknya."
__ADS_1
"Oh, ...."
Saat itu juga aku merasa sangat bersalah kepada Kak Rena. Dia ternyata sangat mencintai Kak Rey sehingga repot-repot memberi kejutan di hari ulang tahunnya. Mungkin dia mengajak teman pria di sampingnya untuk mencarikan kado untuk menyiapkan kejutan itu.
Mungkin, Kak Rey belum tahu jika Kak Rena sudah kembali. Bukankah seharusnya Kak Rena mengabari Kak Rey terlebih dulu selaku suami? Tapi, entahlah. Aku tidak mau berpikiran buruk terkait urusan mereka. Mungkin Kak Rena memang sedang menyiapkan kejutan besar untuk Kak Rey di hari ukang tahunnya.
Sejenak aku ragu. Apakah sikap Kak Rey yang akan berkata jujur, menunjukkan kehamilanku pada Kak Rena adalah keputusan yang tepat? Melihat bagaimana raut bahagia Kak Rena saat membicarakan Kak Rey membuat hatiku terluka. Benar kata Mama. Aku adalah racun yang mampu merusak kedamaian keluarga Hinata. Seharusnya aku tiada. Seharusnya aku tidak perlu dilahirkan sehingga tidak akan menghancurkan impian serta kesenangan orang-orang yang kusayangi.
"Kamu sendirian? Bagaimana kalau kita makan bareng?" Kak Rena membuyarkan lamunanku.
Aku melirik ke lelaki yang berdiri di samping Kak Rena. Lelaki itu sejak tadi hanya bungkam tak berniat menyambung obrolan.
"Bagaimana?" Kak Rena mengalihkan perhatianku dari lelaki di sampingnya.
Aku menggeleng. "Mungkin lain kali, Kak. Aku harus segera kembali."
Kak Rena tak memaksa. Tampaknya dia mengerti jika aku tidak nyaman dengan keberadaan pria di sampingnya. Kami akhirnya berpisah dengan aku pamit undur diri terlebih dahulu.
***
Aku tidak tahu sejak kapan hatiku selalu berdebar ketika menanti kedatangannya. Ada sesuatu yang menggelitik, membuat semuanya terasa indah dan menyenangkan. Segera kubuka pintu itu lebar-lebar demi menyambut suami kakakku. Jika mengingat itu, hatiku rasanya ngilu.
Sesaat setelah pintu terbuka, bukan Kak Rey yang masuk, tetapi gadis kecil berambut hitam panjang menjuntai dan sangat cantik berlari ke dalam.
"Hati-hati, Zoya!" Suara Kak Rey berteriak kepada gadis kecil itu.
Dia menatapku, lalu berkata, "Dia sepupuku. Anak Tante Zizi. Kebetulan ibunya dirawat di rumah sakit. Tadi aku menjenguknya. Dia malah ingin ikut denganku."
"Ooh!" Aku mengangguk mengerti.
"Kamu tidak keberatan, kan?" Kak Rey menanyaiku.
Aku menggeleng sembari menyunggingkan senyum. "Tentu saja tidak. Kamu mandi sana, kita makan malam bersama. Aku sudah menyiapkannya."
__ADS_1
"Heem, okey!" Dia mengusap kepalaku, lalu segera pergi menuju kamarnya.
"Om Rey, Zoya ikut!" Gadis kecil cantik itu berlari mengikuti Kak Rey, tetapi segera kuhadang.
"Zoya, sini sama Tante. Kita main di sana!" Aku menunjuk ruang tengah di mana ada televisi besar yang menempel di dinding.
Zoya menggeleng, dia tetap menarik-narik celana Kak Rey. "Enggak mau. Zoya mau sama Om Rey!"
Kak Rey mengalah, dia mengurungkan niatnya untuk membersihkan tubuh. Namun, segera mungkin aku menahannya. "Kak Rey, biar aku saja! Mandi sana. Kamu sangat bau."
Sontak dia menegakkan badan yang sebelumnya ingin menggendong Zoya. Diangkat kedua tangannya sembari mengendus kanan dan kiri ketiaknya. "Enggak bau," kilahnya.
"Sudah, mandi sana!" Aku mendorongnya, menggiring lelaki itu agar segera naik ke kamarnya.
Perhatianku beralih kepada Zoya. Gadis kecil itu merengut ketika menatapku. "Zoya belum makan, kan? Kita makan, yuk!"
Dia menggeleng. "Enggak mau. Zoya mau sama Om Rey."
Aku menghela napas dalam, berusaha bersabar menghadapi tingkah gadis kecil tersebut. "Zoya mau enggak mendengar cerita?" Aku mencoba membujuknya.
"Cerita apa? Rapunzle, Putri Salju, atau Cinderella? Zoya sudah hafal semua cerita itu." Dia kembali merengut, menatapku dengan enggan.
"Zoya tahu enggak kalau di dunia ini pernah ada ular yang sangaaaaaaat besar."
Kulihat Zoya mulai terpengaruh. "Sebesar apa?" tanyanya yang terlihat antusias.
"Sebesar ini." Aku merentangkan kedua tanganku, membuat sebuah gambaran jika ular yang akan aku ceritakan adalah sangat-sangat besar. "Ular besar itu adalah ular jahat yang diciptakan oleh penyihir untuk menakut-nakuti Nabi Musa."
"Lalu, lalu?" Mata gadis kecil berlesung pipit itu tampak berbinar mendengar cerita yang kubawakan.
"Emm, tapi Tante lapar. Kita makan dulu, ya? Nanti kita sambung lagi ceritanya."
Dia mengangguk setuju. "Tapi janji, ya, nanti Tante ngelanjutin cerita ular besar itu."
__ADS_1
Aku mengangguk sambil mengusap kepalanya. Dia tersenyum senang. Aku menegakkan badan, menggandeng lengan Zoya untuk diajak ke meja makan. Tepat ketika kami hendak melangkah, kulihat Kak Rey tersenyum kepadaku. Ternyata dia belum pergi dari sana, tetapi memperhatikan aku dan Zoya sejak tadi.