
Di ruangan itu, aku disuguhkan pemandangan menyedihkan yang sesungguhnya tidak sanggup aku lihat. Beban berat dan semua hal yang terkait akan keputusasaan seorang wanita tergambar jelas dalam sebuah ketidakberdayaan. Mataku tak sedikit pun berpaling dari sana, sosok wanita yang wajahnya sangat mirip denganku.
Bahuku diremas oleh Kak Rey, seolah menguatkanku saat ini.
"Ma-ma!" Tanpa banyak bertanya, aku sudah bisa memastikan jika dia benar adalah mamaku. Mata, hidung, dan bibir sangat mirip denganku meski wanita di depanku tampak tidak terurus.
Wanita itu memeluk boneka, menggendongnya layaknya bayi. Mengapa Mama seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku memajukan langkah, mencoba mendekati wanita paruh baya dengan tubuh kotor dan pakaian lusuh. Namun, dia segera berlari menjauhiku.
"Jangan mendekat! Jangan ambil anakku!" Dia berteriak kepadaku. Matanya melotot seolah memberi isyarat agar aku tidak mengganggunya. Bukan hanya itu, dia meraih benda-benda yang ada di sekitarnya untuk dilemparkan kepadaku.
"Pergi! Pergi! Pergi!"
Aku hampir terkena lemparan guci dan vas bunga andai Kak Rey tak melindungi dengan menghadangkan tubuhnya sembari memelukku.
"Tenangkan dia!" Kak Rey memerintah kepada anak buahnya yang segera ditanggapi dengan sigap tanpa banyak bertanya. Dia menggiringku untuk segera pergi dari sana tanpa mengizinkanku melihat kondisi ibuku yang kini terdengar berteriak minta tolong.
Teriakan itu membuatku tidak tega. Aku ingin kembali dan menolongnya, tetapi Kak Rey tidak mengizinkan. Dia tetap menahanku untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
***
Aku berdiri dengan mencengkeram pagar terali balkon kamar, menatap kosong dari atas sini bangunan-bangunan yang ada di bawah. Ini sudah menjadi kebiasaanku ketika malam, yaitu saat hatiku sedang kacau dan banyak beban pikiran. Berdiri di sini menyendiri, membiarkan desiran angin malam membelaiku.
Ingatan tentang betapa menyedihkan nasib ibuku membuat hatiku pilu. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ibuku bisa gila? Bagaimana aku bisa berakhir pada keluarga Hinata? Semua pertanyaan itu benar-benar bergelung dan penuh sesak dalam pikiranku.
Sampai sebuah suara membuatku mengalihkan perhatianku sejenak, membuyarkan pikiran yang sejak tadi menjadi bebanku.
"Hai!"
Aku menoleh. Kak Rey berdiri di sampingku, memosisikan dirinya sama seperti yang aku lakukan.
__ADS_1
"Heem." Aku tak bisa menyembunyikan rasa sedihku.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan meski sebelumnya Nyonya Hinata memberi tahuku bahwa ibuku gila. Aku masih terpukul akan kenyataan bahwa seorang ibu yang selama ini kunantikan rupanya tidak mengenaliku. Bahkan terkena gangguan jiwa, menyerang siapa saja yang ingin mendekatinya.
"Aku menyuruh orang untuk menyelidiki rumah Mbok Narti. Mereka mencari identitas wanita yang diketahui menghilang saat diajak bekerja ke kediaman Hinata." Mata hazelnya menunjukkan sorot kekhawatiran kepadaku. "Alea, meski aku belum melakukan tes pencocokan DNA, tapi dari tes golongan darah, golongam darah kalian sama. Tapi, aku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut agar memastikan semuanya benar."
Aku menatap Kak Rey yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Apa yang kamu ketahui? Katakan padaku! Ada apa sebenarnya?"
Kedua tangan Kak Rey meremas bahuku, menatapku dengan tatapan penuh. "Ada jeratan benang merah yang sulit untuk diuraikan antara kamu, Diana, dan mendiang Tuan Hinata. Ada satu kunci yang bisa menjelaskan ini semua, yaitu ibumu dan Nyonya Hinata."
"Maksud Kak Rey?"
Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Serahkan semuanya padaku. Ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur."
Aku mengangguk. Meskipun banyak pertanyaan yang membelenggu kepalaku, tapi Kak Rey benar jika hari sudah sangat larut. Kak Rey melingkarkan tangannya di bahuku, menuntunku masuk ke kamar. Oh, ya, kami sudah tidur satu kamar. Tidak lagi terpisah. Kebiasaan baruku adalah selalu meminta Kak Rey mengusap perutku sampai aku tertidur. Dia tidak pernah menolak, bahkan mengatakan selalu menantikan malam agar bisa mengelus perutku sepuasnya.
Apakah Kak Rey sudah jatuh cinta kepadaku? Entah. Dia belum pernah mengatakan perasaannya kepadaku. Tapi, apa pun itu, setiap perlakuannya sudah membuatku nyaman dan bahagia. Semoga suatu saat perasaan sayang Kak Rey kepadaku bisa ditumbuhi benih-benih cinta seperti apa yang saat ini telah aku rasakan.
***
"Biar aku saja." Dia mengenakan apron cokelat tua, menggulung kemejanya sebatas siku sebelum merebut spatula dariku.
"Kak Rey bisa masak?" tanyaku sedikit ragu. Bagaimanapun aku tidak pernah melihatnya memasak.
"Kamu meremehkanku?" Dia melirikku sekilas dengan sedikit menyunggingkan senyum tipis. Rahangnya kokoh, otot lengan yang besar di balik kemeja panjang yang menutupinya, lelaki itu terlihat sangat menawan di mataku. Tidak, lebih tepatnya sangat seksi. Aku semakin terpesona dengan auranya.
Tangannya cekatan mengambil bawang merah, bawang putih, dan cabai. Lalu, dengan gerakan yang luwes, Kak Rey memotong semua itu dengan cepat. Bahkan, hasil dari potongannya sangat pas dan begitu presisi.
Mulutku ternganga ketika menonton secara langsung keahlian Kak Rey yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Hai, jangan sampai air liurmu menetes di sana!" Lagi-lagi dia menggodaku. Buru-buru aku menutup mulut, mengusap bibir yang sama sekali tidak ada bekas air liur. Segera kupukul lengan Kak Rey dan dibalas kekehan kecil darinya. "Aku tahu kalau aku tampan. Tapi, jangan mangap begitu. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri."
Mataku memutar malas. Dia memang selalu mengagumi dirinya sendiri. Mana pernah dia memujiku. Adanya dia yang setiap waktu membanggakan diri di depanku. "Tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menghinaku. Kamu menyebalkan ya, lama-lama." Aku mencebik.
"Bukan." Kak Rey meletakkan pisau di atas tatakan, lalu menatapku tanpa membalikkan badan. "Aku takut tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menutup mulutmu dengan ciuman."
Kata-katanya itu selalu membuat wajahku merona. Dia pandai sekali membual. "Sudah. Ayo, selesaikan masaknya! Aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan suamiku."
Kak Rey mengedikkan bahu, bersikap sombong. "Kamu akan ketagihan nantinya," ucapnya dengan melanjutkan memasak bahan masakan yang sudah dipotong-potong.
***
Semua sudah terhidang di atas meja. Kak Rey ternyata bisa membuat banyak masakan dalam waktu yang relatif lebih singkat. Ada capcay, ayam saus mentega, dan salad sayur. Aku tidak tahu jika dia pandai memasak.
"Ayo, silakan dicicipi!" ucapnya setelah mengambilkanku beberapa menu dalam satu piring.
Biasanya aku yang melayaninya, tetapi kali ini Kak Rey yang mengambilkan makanan untukku. "Terima kasih," ucapku tulus.
Aku tak bisa menyembunyikan betapa terharunya diperlakukan istimewa seperti ini. Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu melayani. Kak Rena mengatakan menyayangiku, tetapi acapkali dia menyuruh-nyuruhku untuk membereskan mainannya, menyiapkan perlengkapan sekolah sebelum dia tidur malam. Bahkan, aku tak menyadari kata sayangnya itu lebih kepada agar aku segan untuk menolak perintahnya.
Namun saat ini, Kak Rey melakukan hal berbeda kepadaku. Dia melayaniku tanpa kuminta. Tanpa sadar aku meneteskan air mata yang rupanya tak luput dari perhatian Kak Rey.
"Hei, mengapa menangis?" Dia menyeka air mata yang menetes di kedua pipiku secara bergantian.
Aku menggeleng. "Tidak ada. Kamu sangat manis. Aku makan, ya?" kataku kemudian.
Aku bisa melihat jika Kak Rey sampai saat ini tengah memandangiku. Aku berusaha bersikap biasa saja, mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutku. Begitu makanan itu telah sampai ke dalam rongga mulutku, mataku membulat seketika merasakan ada yang aneh dengan cita rasa masakannya.
"Bagaimana? Enak?" tanyanya antusias.
Aku meringis, mengangguk ragu.
__ADS_1
Masakan Kak Rey ... sangat asin.
...****************...