
Senja mulai menunjukkan pesonanya. Semburat keemasan yang memancar di ufuk barat mengisyaratkan jika sebentar lagi hari mulai petang. Kami sudah keluar dari area kebun binatang.
Kak Rey tidak duduk di depan, melainkan ikut bersama kami di kabin penumpang. Dia menggendong Zoya yang tampak kelelahan karena sejak pagi berlari-larian. Gadis kecil itu sekarang tertidur di pangkuan Kak Rey.
"Kak, bukannya Kak Rena pulang malam ini? Apakah Kak Rey tidak berniat menjemputnya di bandara?"
Dia menoleh kepadaku, lalu menggeleng. "Rena tidak suka dijemput di bandara. Tapi, aku ingin membelikan sesuatu untuknya. Alea, apakah kamu mau memilihkan hadiah untuk Rena?"
"Eh, apa?"
Yang kutahu, besok adalah hari ulang tahun Kak Rey, tetapi lelaki itu malah ingin mencarikan hadiah untuk Kak Rena. Ternyata sungguh manis hubungan mereka. Di satu sisi Kak Rena sedang menyiapkan kejutan untuk Kak Rey, sementara di sisi lain Kak Rey juga tengah mencari hadiah untuk Kak Rena.
"Aku pikir kalian sejak kecil hidup bersama. Kamu pasti sangat tahu bagaimana selera Rena."
Aku menunduk, kemudian menggeleng. "Kak, seorang wanita akan sangat bahagia ketika pasangannya lah yang mencari dan memilihkan kado untuknya. Dia akan merasa sedih jika mengetahui orang lain yang ternyata memilihkan hadiah itu." Aku tersenyum kepadanya. "Pasti Kak Rena sangat senang jika Kak Rey sendiri yang memilihkannya. Bukan aku."
Bukan aku tidak mau membantu. Tapi, sebuah hadiah akan berkesan jika laki-laki yang dicintai berusaha memilihkannya, bukan wanita lain. Apalagi wanita itu adalah sosok yang merebut suaminya.
Aku cukup mengerti akan posisiku. Mungkin, ini adalah hari terakhirku bisa duduk bersama satu mobil dengan Kak Rey. Bolehkah aku merasakannya lebih lama lagi? Ah, rasanya waktu seharian bersamanya terasa kurang. Aku mendadak takut tidak bisa melihatnya lagi.
"Paling tidak, temani aku ke dalam. Aku yang akan memilihkannya."
"Heem, baiklah!" Aku mengangguk setuju.
Zoya terlelap di dalam mobil dengan sebuah bantal kecil dijadikan alas kepala. Dia benar-benar kelelahan sampai-sampai tidak menyadari jika mobil sudah berhenti. Kak Rey meminta sopir menjaga Zoya, sementara kami keluar mencari hadiah untuk Kak Rena.
Sebuah toko perhiasan kelas menengah atas terlihat berkelas jika diperhatikan dari koleksi-koleksinya yang mewah dan berseri terbatas menjadi tujuan kami. Ketika aku dan Kak Rey sudah memasuki area yang dilapisi karpet merah itu, perhiasan yang dihiasi batu-batu mulia menyambut kami. Aku yakin jika perhiasan di sini memiliki harga yang sangat fantastis.
Kak Rey merangkul bahuku, mengajakku masuk lebih ke dalam untuk melihat-lihat perhiasan mewah yang mungkin seumur hidupku ini aku baru bisa melihatnya secara langsung.
Mereka berkilauan memanjakan mata. Permata yang tersemat di antara perhiasan itu terlihat indah dan mewah.
"Ada produk baru?"
__ADS_1
Dengan wajah tampan dengan aksen bule yang kental, tentu karyawan di toko perhiasan itu berebut untuk melayani Kak Rey. Apa pun yang lelaki itu kenakan, penampilannya selalu terlihat necis dan menarik para kaum hawa.
"Ini yang terbaru. Limited edition."
Sebuah kotak berbahan bludru merah dibuka di depan Kak Rey. Lelaki itu menanggapi dengan mengerutkan kening. "Apa yang spesial dari ini?"
"Ini dirancang oleh desainer kelas atas produk Louis Vuitton. Selain diproduksi sekala terbatas, yaitu hanya ada sepuluh pieces yang tersebar di seluruh dunia, perhiasan ini dilengkapi oleh berlian terbaik dari kolektor kelas dunia."
Penjaga toko itu sangat ramah, menjelaskan dengan gamblang apa-apa yang terkait dengan perhiasan. Pandanganku mengedar, melihat-lihat koleksi yang dipajang di etalase.
"Alea, sini!"
Kak Rey memanggilku. Aku segera melangkah menghampirinya. Kotak merah persegi panjang itu diarahkan kepadaku. Sebuah kalung bertahtahkan berlian terlihat cantik di sana. Benar apa yang Kak Rena katakan, jika Kak Rey pandai memilih barang.
"Bagaimana menurutmu?" Dia menanyaiku.
"Ehm, cantik. Kak Rena pasti menyukainya," ucapku jujur. Pasti semua wanita akan merasa sangat berutung jika mendapatkan hadiah semewah itu.
Tanpa kuduga, kalung cantik itu dia pasangkan di leherku. Jelas saja hal itu membuatku terkejut. Apa maksud semua ini?
Kedua tangannya menyentuh bahuku, lantas mengarahkanku ke sebuah cermin besar yang terletak tepat di depanku. Di sana, bayanganku dan Kak Rey tertangkap dengan sangat jelas. Dia tersenyum ke arah cermin itu, kemudian sedikit membungkuk, membisikkan sesuatu di telingaku. "Apa kamu menyukainya?"
Tanganku menyentuh perhiasan mewah yang melingkar di leherku. Indah, benar-benar indah. Tatapanku mengarah ke cermin, memandang wajah yang sedang tersenyum kepadaku. "Maksud Kak Rey apa?"
Aku tidak ingin terlalu percaya diri dengan memikirkan bahwa Kak Rey sengaja membelikan ini untukku sehingga aku memutuskan untuk langsung bertanya kepadanya.
"Kamu menyukainya?" tanyanya lagi yang membuatku semakin bingung.
Ragu, aku mengangguk mengiakan. "Ini cantik. Semua orang pasti akan menyukainya."
"Baiklah! Ini untukmu. Ini hadiah pernikahan kita." Dia berbisik lembut di telingaku.
Wajahku bersemu merah. Aku tak sanggup menyembunyikan hati yang sedang berbunga-bunga. Tapi, bukankah Kak Rey ke sini ingin membelikan hadiah untuk Kak Rena?
__ADS_1
"Kak Rey, ini terlalu berharga. Sebaiknya Kakak belikan yang lain saja. Bukankah tadi kemari ingin membelikan Kak Rena hadiah?"
Dia menggeleng pelan. "Kamu juga berharga. Kamu ibu dari anakku." Sorot matanya menunjukkan ketulusan. Hatiku terasa menghangat mendengar penuturannya. "Aku akan belikan Rena yang lain. Yang ini untukmu, okey!"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Apakah benar aku sangat berharga? Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan itu kepadaku karena sebelumnya aku hanya dianggap sebagai kotoran menjijikkan. Hal itu jelas membuat perasaanku bahagia.
Kami kembali ke mobil setelah Kak Rey membelikan hadiah untuk Kak Rena. Zoya terbangun setelah mendengar pintu dibuka oleh Kak Rey.
"Sudah sampai belum?" Zoya bertanya sembari mengucek kedua matanya.
"Sebentar lagi, Sayang." Aku mengusap kepala gadis kecil itu, lalu duduk di sampingnya. Dia merebahkan kembali kepalanya di atas pangkuanku. Sepertinya rasa kantuk belum sepenuhnya hilang dari diri Zoya.
Mobil melaju menembus keramaian kota. Hening seakan menyapa, menyelimuti kami berdua. Hanya ada suara musik dari audio yang terpasang pada dashboard mobil mengiringi perjalanan kami.
Kak Rey terfokus pada layar smartphone di tangan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Entah apa yang dia lihat di sana, aku hanya bisa mengamati dari ekor mataku.
"Alea, setelah mengantarmu pulang, aku akan mengantar Zoya kembali ke rumah orang tuanya. Mungkin, malam ini aku tidak menginap lagi. Kamu tidak apa, kan, sendiri?" tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk. Tentu saja Kak Rey tidak akan menginap lagi karena malam ini Kak Rena telah pulang. Bahkan, Kak Rena sudah menyiapkan kejutan spesial untuk Kak Rey di malam ulang tahunnya.
Entah mengapa, memikirkan hal itu membuat sudut hatiku terasa sakit. Namun, sekuat hati aku menyamarkan rasa sakitku dengan menyunggingkan senyum.
Aku masih merenung dalam diam, mencoba mengurai hatiku yang mendadak kalut. Sampai suara Kak Rey mengejutkanku secara tiba-tiba.
"Berhenti!" Lelaki itu berteriak kencang, memerintah sopir untuk menghentikan mobil.
Aku sempat terpental, beruntung ada sabuk pengaman yang membuat diriku tetap aman. Namun, pandanganku tertuju pada suatu tempat di mana mata tajam Kak Rey mengarah ke luar mobil.
Di sana dengan jelas aku melihat Kak Rena sedang duduk di cap mobil bersama sorang pria bertopi yang sempat bertemu denganku saat itu.
...****************...
Siap-siap di bab selanjutnya ðŸ˜
__ADS_1