
"Apa yang terjadi, Kak?" Aku menatap Kak Rey dengan penasaran. Bukannya menjawab, dia hanya mempererat cengkeraman tangan pada bahuku.
Kebingungan jelas melandaku, apalagi tiada jawaban yang keluar dari bibir Kak Rey. Lelaki itu seolah sengaja menyembunyikan apa yang telah terjadi.
"Kak Rey!" Kembali aku memanggilnya. Namun, lagi-lagi dia tak menjawab.
Sebenarnya ada apa ini?
Hingga ketika kami sudah kembali ke yayasan. Kak Rey menggandengku, berjalan tidak terlalu cepat meski sebenarnya kami ingin buru-buru. Dia tetep saja mengingatkanku agar berhati-hati saat melangkah karena kandunganku sudah sangat besar. Kami akhirnya berhenti di tempat perawatan Mama.
Di sana seorang dokter memeriksa mata serta denyut nadi Mama yang saat ini tampak tertidur. Kak Rey mengajakku mendekat dengan masuk ke dalam ruangan itu. Dokter pria tampak mengangguk saat melihat kami, kemudian berkata, "Kami baru saja menyuntikkan obat penenang. Pasien sedang beristirahat."
Aku menatap ke arah Kak Rey, menuntut akan jawaban. Sebenarnya apa yang terjadi? Saat aku pulang meninggalkan Mama di ruangan ini, beliau dalam kondisi tenang. Tiada tanda-tanda akan melalukan hal buruk terhadap dirinya. Namun, mengapa sekarang Mama harus mendapatlan obat penenang?
"Tuan Reynan, pelakunya sudah ditangkap." Seorang pria datang dengan terburu-buru, malapor tanpa lebih dulu berbasa-basi.
"Pelaku? Pelaku apa?" tanyaku semakin bingung.
Kak Rey mengusap lenganku, seolah mengerti jika aku begitu cemas akan apa yang terjadi pada Mama. "Tenanglah! Semua akan baik-baik saja."
Kak Rey menuntunku ke suatu tempat yang mana di sana sudah berdiri banyak pria asing berbadan tegap dan berpakaian serba hitam. Mereka seperti orang-orang yang mengelilingiku ketika akan menonton video sadis saat itu.
"Di mana dia?" tanya Kak Rey kepada mereka.
"Di dalam. Kami mengikatnya."
Kak Rey mengangguk, lalu menatapku. "Alea, sebaiknya kamu menunggu di sini." Dia menggiringku duduk di sebuah kursi empuk berpunggung panjang. Tangannya mengambil ponsel, lalu melalukan sebuah panggilan pada ponselku. Aku masih bingung akan maksud Kak Rey, tetapi lelaki itu kemudian mengatakan, "Kamu bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam dengan ini. Tetap di sini! Mereka semua akan menjagamu."
Aku menggeleng tidak setuju. Aku tidak nyaman jika tidak ada Kak Rey di sisiku. Namun, dia menunjukkan bahwa aku akan lebih aman di sini. "Percayalah!"
Meski ragu, aku akhirnya mengangguk. Kak Rey pergi tanpa membawaku bersama beberapa orang mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Memasang headset bluetooth, aku mulai mendengar suara dari ponsel yang terhubung dengan ponsel Kak Rey. Awalnya hanya ada suara langkah kaki bersamaan suara laki-laki yang sedang berdiskusi. Sepertinya itu suara Kak Rey dengan orang kepercayaannya.
Sampai terdengar suara pintu dibuka, barulah aku merasakan ketegangan di sana.
Entah apa yang terjadi di ruangan itu. Aku mendengar suara lelaki berteriak, mengerang kesakitan.
"Siapa kau?" Itu suara Kak rey.
"Ampun! Lepaskan aku! Aku hanya ingin menjalankan amanah."
"Amanah?" Lagi, suara Kak Rey bertanya dengan nada heran. "Amanah apa? Katakan lebih jelas!" Dia terdengar membentak.
"Perempuan itu adalah aib. Aku hanya bertugas agar dia tidak sampai membocorkan aib."
Terdengar teriakan dari lelaki itu. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Kak Rey kepadanya. Yang kudengar hanya suara erang kesakitan.
"Tuan Arya Hinata memintaku untuk mengurus perempuan itu. Namanya Diana Permata Sari. Diana digauli oleh Tuan Hinata dan kedua temannya saat dalam pengaruh alkohol. Tapi, saat tes DNA, anak yang dikandung Diana ternyata adalah anak Tuan Arya. Beliau tidak mau sampai orang-orang tahu tentang Diana sehingga kami memutuskan mengambil anaknya dan mengurung Diana di suatu tempat."
Tanganku gemetar ketika mendengar semua pengakuan pria itu. Bagaimana seorang papa yang selama ini aku kasihi dan hormati ternyata berbuat begitu kejam terhadap mamaku. Bagaimana bisa dia berpikir Mama adalah aib, padahal di sini Mama adalah korban. Dilecehkan oleh tiga pria sekaligus, hamil tanpa suami, lalu dikurung setelah melahirkan. Sungguh, ini ujian yang begitu berat bagi seorang wanita.
Sungguh, membayangkannya saja aku tidak sanggup. Mengapa orang-orang itu begitu tega memperlakukan wanita yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan? Apa salah Mama?
"Mengapa harus dipisahkan, selagi kalian bisa menyuruhnya pergi jauh dari kota ini?" Kini ada suara Kak Rey yang memulai percakapan.
"Karena Tuan Arya menginginkan anak itu. Diana tidak mau memberikannya. Tuan Arya sangat mencintai Nyonya Sonya meskipun mereka tidak dikaruniai anak setelah menikah."
"Maksudmu? Lalu, siapa Renata?"
"Tuan Arya menikahi Nyonya Sonya saat istrinya mengandung anak pria lain."
Mataku memejam. Kisah Mama hampir sama dengan kisahku saat itu. Kak Rey mau bertanggung jawab saat aku hamil dengan menikahiku dan menyembunyikanku. Kesepakatan awalku dengannya, yaitu dia akan membawa anakku pergi setelah aku melahirkan dan menceraikanku saat itu juga.
__ADS_1
Andai saat itu aku menerima tawarannya, aku yakin nasib anakku akan sepertiku. Aku akan mendapatkan cinta dari seorang ayah, tetapi tidak dengan kasih sayang ibu. Jelas saja Mama Sonya sangat menyayangi Kak Rena, karena beliau menganggap hanya Kak Rena harta berharganya. Berbeda denganku yang merupakan anak dari hasil perselingkuhan suaminya.
Dadaku sesak mendengar itu semua. Aku tergugu dalam tangisku sendiri. Begitu berat cobaan Mama. Bahkan saat Tuan Arya tiada pun, beliau masih diincar agar tidak membocorkan rahasia keluarga Hinata.
Aku mendengar setiap keterangan dari pria yang saat ini disekap oleh anak buah Kak Rey. Setiap ucapannya sangat menyakiti hatiku sebagai seorang anak dan wanita. Jahat dan biadab. Itulah yang bisa kusematkan bagi orang-orang yang tidak memiliki belas kasihan terhadap wanita seperti Mama. Patutlah Mama mengalami trauma dan gangguan mental sampai seperti itu. Beliau sangat menderita.
Saat aku menangis di sana, menyeka air mata yang sebenarnya sejak lama kutahan, sebuah tangan meraih bahuku. Aku menoleh kemudian, mendapati Kak Rey tengah tersenyum padaku. Dan detik itu juga aku memeluknya, menangis dengan menenggelamkan wajahku pada perutnya.
Kak Rey membalas pelukanku. Dia berusaha menenangkanku. Aku tahu ini sulit, tetapi aku harus kuat. Mama membutuhkanku untuk mengibati trauma dan gangguan psikisnya. Aku yakin jika kasih sayang dan perhatian seorang anak bisa membuat Mama sembuh dan tak lagi histeris oleh gangguan-gangguan orang jahat di sekitarnya.
***
Di ruangan itu saat lampu kamar telah dimatikan, hanya berbekal lampu tidur yang menyala remang-remang, Kak Rey mendekap tubuhku dari belakang. Telapak tangannya yang besar mengusap perutku, membelainya dengan penuh kelembutan.
"Kak!" Aku memanggilnya dengan suara agak serak. Terlalu lama menangis membuat warna suaraku berubah.
"Heem, belum tidur?"
Aku menggeleng pelan. "Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?"
"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu?"
Aku hela napas dalam. Ada rasa lega membanjiri hati. Bagaimanapun rasa trauma pada kenyataan hidup Mama membuatku mengantisipasi segala kemungkinan. "Aku hanya takut. Percakapan antara Kakak dan Kak Rena membuatku teringat akan kehidupan Mama. Kak Rena sempat tidur dengan pria lain sebelum hari pernikahan kalian dan Kakak justru menerimanya sebagai istri karena mencintainya. Bedanya saat itu Kak Rena tidak hamil, sementara Mama Sonya hamil. Dan saat itu kita juga melakukannya sampai akhirnya aku hamil.
"Kesepakatan kita saat itu hampir sama. Kak Rey meminta anak dariku dan menceraikanku saat aku melahirkan, bukan? Aku takut itu benar-benar terjadi. Aku takut kehilangan kalian berdua."
Kenyataan bahwa kami sempat melakukan kesepakatan yang sama membuat diriku takut jika akan mengalami nasib yang sama dengan Mama. Namun, Kak Rey berkata lain. Dia membalikkan tubuhku, membuatku berbaring miring menghadapnya.
"Alea, aku menawarkan kesepakatan itu kepadamu bukan karena aku ingin memisahkanmu dengan anak ini. Tapi, aku tidak ingin kamu terkekang dan terbebani. Aku tahu saat itu kamu membenciku, tidak ingin hidup bersamaku. Apalagi hamil anakku. Aku hanya ingin kamu mempertahankan anak ini dan melepaskan taggung jawabmu jika kamu memang keberatan."
Tangan Kak Rey mengusap wajahku, lalu mengecup keningku. "Aku mencintaimu. Aku tidak akan membiarkanmu menderita seperti itu. Kita akan bersama, membesarkan dia berdua dengan memberinya cinta dan kasih dari kedua orang tuanya. Jangan berpikir lagi bahwa aku akan meninggalkanmu. Okey!"
__ADS_1
Aku mengangguk. Kak Rey memelukku, meletakkan kepalaku pada lengannya yang kekar. Telapak tanganya mengusap punggungku, memintaku agar segera tidur.
Meskipun Kak Rey mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkanku, tetapi entah mengapa hatiku berkata lain. Ada sesuatu yang mengganjal dan aku sendiri tidak tahu apa itu. Aku harap semua yang ada dalam pikiranku tidak akan pernah terjadi. Kak Rey akan tetap selamanya menjadi suami dan ayah dari anak-anaku.