Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 53. Tidak Mau Mengalah


__ADS_3

Dan di sinilah kami berada. Di sebuah kursi panjang berbahan besi terletak pada taman belakang rumah keluarga Paderson.


Aku tidak tahu mengapa Kak Rena tiba-tiba datang kemari. Kupikir dia hendak menenui Tante Salwa. Ternyata tidak. Dia bersikap ramah dan mengatakan bahwa ingin bertemu denganku. Anehnya, dari mana dia tahu aku ada di sini?


Demi mendapatkan privasi, Tante Salwa tidak ikut bergabung dengan kami. Beliau memilih melanjutkan aktivitas sehari-harinya dengan membuat kue, merekap pesanan, atau apa pun itu karena kulihat sejak tadi sibuk sekali.


Di bawah pohon palem yang menjulang tinggi dengan daunnya lebat menjari, menaungi kami dari panas matahari yang mulai terik, Kak Rena mulai membuka suara.


"Bagaimana kabarmu?" Dia bertanya tanpa menatapku.


"Baik. Sangat baik."


"Baguslah. Rey mengurusmu dengan baik." Aku tidak menyangka Kak Rena akan berkata seperti itu. Apa artinya dia sudah melepaskan Kak Rey?


"Kakak bagaimana?" tanyaku berbalik. Sejujurnya aku rindu bicara dengan hangat seperti dulu. Tiada pemicu keretakan hubungan antar saudara sebelum Kak Rey datang di antara kami.


"Menurutmu? Apa aku harus bilang baik? Bahagia?" Dia mendesah ringan, mengembuskan napas lelah dari bibirnya. "Apa masih perlu aku menjawabnya setelah semua yang terjadi padaku?"

__ADS_1


"Kak Rena?" ucapku lirih.


Sampai saat ini aku selalu merasakan sebuah beban berat menanggung rasa bersalah terhadap Kak Rena. Kalian tentu tahu bagaimana posisiku. Meskipun Kak Rey mengatakan perceraian dengan Kak Rena bukan karenaku, ada hal lain yang membuatnya menyerah dengan sikap Kak Rena, tetapi tetap saja di saat Kak Rena menunjukkan rasa kecewanya terhadapku, perasaan bersalah kian muncul dan mencuat dari dalam hatiku.


Aku tidak tahu sampai kapan perasaan bersalah ini terus-menerus menghantuiku. Apakah aku bisa terbebas dari rasa bersalah ini suatu saat nanti?


Mungkin jika aku bisa melihat Kak Rena bahagia, rasa bersalahku bisa berkurang untuknya. Namun, apa yang kulihat di depan mataku adalah Kak Rena yang rapuh. Bukan Kak Rena yang suka marah-marah seperti sebelum-sebelumnya.


Dia berubah. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku tahu Rey menceraikanku karena dia tidak ingin melukaiku terlalu lama karena ada kamu yang telah mengandung anaknya. Dia ingin aku bebas, mencari kebahagiaanku sendiri. Namun, asal kamu tahu, Alea. Meski kami berpisah, cinta kami tidak mudah hilang. Cinta kami tetap ada," ucapnya dengan menyeka air mata.


"Aku tidak pernah memaksanya untuk melanjutkan pernikahan ini. Jika Kak Rey ingin kembali padamu, aku siap melepaskannya."


"Apa kamu pikir Rey akan bisa melakukan itu?" Kak Rena memandangku dengan tatapan penuh kesedihan. Dia tersenyum, tetapi sorot matanya menunjukkan kepedihan. "Rey bukanlah laki-laki yang bisa menyakiti pasangannya. Dia akan tetap mempertahankanmu meskipun hatinya ingin pergi. Dia akan memaksa diri untuk menerimamu sebagai istrinya walaupun tiada rasa cinta di hatinya. Dia akan menjagamu, melindungimu, dan setia kepadamu meskipun jiwanya tidak merasakan kebahagiaan."


Perkataan Kak Rena jelas membuatku terpukul. Kak Rey yang kulihat memang seperti apa yang Kak Rena ucapkan. Dia selalu menepati janjinya, bahkan jika janji itu membuat dirinya terluka sekalipun.

__ADS_1


Tapi, apakah benar jika di hati Kak Rey tidak ada sedikit pun rasa untukku? Aku sangsi mengakui jika Kak Rey tidak mencintaiku karena akhir-akhir ini dia tak pernah absen meminta haknya kepadaku. Bagaimana bisa dia tidak ada perasaan kepadaku, tetapi selalu mencari kesempatan untuk menyentuh dan menciumku?


"Lalu, apa yang kamu inginkan? Perceraian itu sudah diikrarkan? Apakah kamu ingin rujuk kembali dengan Kak Rey?" tanyaku dengan bibir bergetar.


Ada rasa sakit yang menyelinap di hati tatkala menyadari jika pada kenyataan akulah orang yang tidak mendapatkan tempat di hati Kak Rey.


"Aku menunggumu bercerai dengan Rey." Mudah sekali Kak Rena mengucapkan itu. Seolah sebuah perceraian adalah permainan anak-anak yang sangat mudah dilakukan. "Aku rasa Rey tetap memilihmu karena wanita hamil tidak boleh diceraikan. Maka dari itu, Alea. Jika kamu masih memiliki hati, ingin Rey bahagia, lepaskan dia setelah anak itu lahir! Dia sudah banyak bertanggung jawab kepadamu. Dia sudah menyenangkanmu? Jangan tamak dengan merampas kebahagiaannya! Biarkan dia hidup bersama cintanya, yaitu ... aku."


Aku menggeleng. Tidak selemah itu hubunganku dengan Kak Rey. Dia berkata bahwa hubungan seorang suami istri yang terikat oleh anak akan lebih kuat. Dia juga berkata akan mulai belajar mencintaiku demi memberi kebahagiaan anak yang akan segera kulahirkan.


"Bagaimana jika Kak Rey mencintaiku? Apa yang membuatmu yakin jika Kak Rey sangat mencintaimu?" Meskipun aku tahu apa yang Kak Rena katakan benar adanya, tetapi aku berusaha membela harga diriku di depannya.


"Karena kami sudah melewati banyak hal. Dia bukan laki-laki yang mudah berpaling. Dia memilihmu karena anak, bukan? Aku juga akan menawarkan anak kepadanya. Mungkin sebelumnya aku salah karena menunda kehamilan tanpa sepengetahuannya. Tapi, aku akan memperbaiki semua kesalahanku agar dia tidak berpaling pada wanita lain."


"Kak Rena!" Aku berkata sedikit membentak. "Kalian sudah bercerai. Posisi kita berubah. Untuk saat ini yang kamu maksud wanita lain adalah dirimu sendiri, bukan aku. Jadi, tolong hargai aku yang masih berstatus istri Kak Rey!"


Dia berdecih, lalu menatapku dengan tatapan merendahkan. "Perceraian belum sah, Alea. Dan aku tidak akan mempermudah surat cerai itu didapatkan. Karena Rey adalah suamiku. Aku akan mempertahankannya bagaimanapun cara yang akan kutempuh." Bola matanya memandang ke arah perutku. "Empat bulan Lagi, nikmatilah hidup bersamanya. Karena setelah anak itu lahir, Rey akan kembali kepadaku. Cinta sejatinya."

__ADS_1


...****************...


Terima kasih sudah mendukung dan menunggu. Novel ini mungkin targetnya satu minggu lagi akan tamat. Semoga sesuai jadwal yg diharapkan.. Bab selanjutnya meluncur. Semoga lolos cepat. 🙏🏼


__ADS_2