Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 58. Kado Misteri


__ADS_3

Tidak mau membuang waktu, setelah menandaskan spaghetti di piring, kami bergegas ke rumah sakit. Kak Rey tidak menyuruh orang lain untuk mengambil hasil tes DNA itu. Menurutnya hasil tes tersebut sangat penting demi kebutuhan penyelidikan selanjutnya.


Kini selembar kertas itu sudah berada di tanganku. Ku arahkan tatapanku kepada Kak Rey setelah memeriksa isinya. Aku ... memang anak kandung Diana.


Sebuah pelukan kudapatkan, mataku berkaca-kaca. Antara sedih juga senang.


Aku yang sebelumnya mengira hanya sebatang kara hidup di dunia ini ternyata masih memiliki keluarga. Kupikir aku adalah anak yang tak diinginkan, lalu dipungut oleh keluarga Hinata karena atas dasar belas kasihan. Namun, ternyata itu tidak benar. Mama kandungku menyayangiku.


Rasa sedih kurasakan karena kami bertemu ketika kondisi Mama terpuruk. Bahkan, dia hampir kehilangan nyawa jika petugas yayasan tidak segera menolongnya. Andai saja terlambat, mungkin aku akan kehilangan Mama untuk selamanya.


"Kak Rey, selamatkan Mama," gumamku dalam pelukannya.


Kurasakan keningku dikecup olehnya. Lalu, bibirnya berbisik lirih. "Dia akan baik-baik saja."


***


Seperti apa yang Kak Rey ucapkan, aku dilarang menjenguk Mama apabila tanpa didampingi olehnya. Padahal aku ingin sekali merawatnya, mencurahkan kasih sayangku sebagai seorang anak agar beliau merasa diperhatikan. Aku tidak tega melihatnya menggendong boneka ke mana-mana. Bagaimanapun Mama pasti ingin melihat anaknya yang sesungguhnya.


"Mama sudah siuman. Dia akan menjalani hipnoterapi setelah tubuhnya sehat." Kak Rey memberitahuku akan informasi terkait perkembangan Mama.


Setiap hari, bahkan setiap ada perkembangan, Kak Rey selalu menginformasikan kepadaku asal aku menurut untuk tidak menjumpainya. Dia berkata jika Mama belum bisa ditemui oleh orang yang tidak dikenal. Meskipun aku adalah anak kandungnya, tetapi Mama belum pernah melihatku. Beliau tidak mengenalku.


Bisa saja kehadiranku justru mengganggu ketenangannya, membuat wanita yang telah melahirkanku itu ketakutan. Yang lebih fatalnya lagi, Mama bisa menyerangku seperti waktu itu. Aku harus lebih bersabar, membantunya sedikit demi sedikit agar Mama dapat mengenaliku, dan bisa sehat kembali baik jiwa maupun raganya. Harapanku adalah kami bisa berkumpul dan hidup bahagia, merawat wanita itu di masa tuanya.


Beruntung rasa cemas dalam menunggu perkembangan Mama teralihkan akan kesibukanku yang baru. Aku membantu Bunda Salwa dalam menjalankan bisnis kecil-kecilannya, yaitu membuat kue. Banyak hal yang kupelajari darinya. Beliau sama sekali tidak pelit dalam membagikan ilmu sehingga aku dengan mudah menyerap berbagai hal yang diajarkan olehnya.


Kue-kue yang dibuat kebayakan adalah tar dan cup cake. Bunda mulai suka membuat kue ketika Kak Rey masih kecil. Beliau mengatakan jika Kak Rey selalu merengek minta cup cake setiap kali mereka keluar. Cup cake yang dibeli pun hanya cup cake tertentu.


Sampai ketika paman penjual cup cake meninggal, Kak Rey seharian tidak mau makan. Dibelikan cup cake lain pun, Kak Rey tidak mau.


"Bunda mulai belajar membuat cup cake saat itu. Rey suka membantu, oh, tidak. Bukan membantu, melainkan merecoki Bunda." Beliau tertawa. Matanya menyipit dengan guratan halus terlihat di sana. Wajah Bunda Salwa terlihat sangat ramah.


"Pasti sangat lucu. Apakah ada foto Kak Rey saat masih kecil?"


"Heem, ada. Coba ambil di rak tengah. Di sana ada album foto Rey saat masih bayi hingga dewasa." Bunda Salwa menunjuk sebuah bufet yang berada di ruang tengah.


Aku mengangguk, lalu berkata, "Apakah boleh saya pinjam? Saya ingin melihatnya."

__ADS_1


"Tentu, ambillah!"


***


Selepas dari rumah orang tua Kak Rey, aku diantar sopir untuk kembali pulang ke rumah. Beberapa cup cake yang kubuat bersama Bunda Salwa kubawa pulang. Ada cup cake yang sengaja aku buatkan untuk Kak Rey. Cup cake berbahan dasar ketan hitam dengan toping butter cream lembut berbahan premium.


Bunda Salwa selalu mencari produk yang memiliki label halal. Walaupun customer Bunda Salwa dari berbagai kalangan dan menganut kepercayaan berbeda, tetapi beliau tetap menggunakan produk halal.


Sebelumnya, aku menghubungi Kak Rey, menanyakan dia akan pulang jam berapa. Sepertinya tidak terlalu malam, karena dia berjanji akan makan malam di rumah.


Aku menyimpan cup cake ke dalam showcase, lalu bergegas menyiapkan makan malam untuk Kak Rey.


Sesuai apa yang dijanjikan, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku buru-buru membukanya dan di sana Kak Rey sudah berdiri sambil menenteng tas kerjanya.


Aku menyambutnya seperti pasangan suami istri pada umumnya. Mencium punggung tanganya sembari mengambil alih tas kerja Kak Rey.


"Masak apa? Aku sudah sangat lapar," ucapnya dengan menatap ke arah dapur.


"Heem, mandi dulu sana. Kak Rey bau." Tanganku sedikit mendorongnya agar segera naik ke atas di mana kamar kami berada. Tapi, bukannya naik, dia malah mengapit kepalaku di bawah ketiaknya.


"Ih, Kak Rey. Bau. Pergi, mandi sana!" Aku berusaha melepaskan diri. Dia selalu menganiaya aku.


"Emm, padahal setiap malam kamu selalu mengendus bagian ini," ucapnya sambil menunjuk di bawah ketiak.


Astaga, dia benar-benar membuatku malu. "Aku tidak seperti itu. Jangan mengada-ngada!" Aku mencebik setelah terlepas dari dekapannya. "Cepat mandi! Setelah ini kita makan. Aku juga sudah lapar."


"Okey!" Akhirnya dia tak lagi mendebatku.


Sepertinya Kak Rey tidak mau melihatku terlalu lama menahan rasa lapar sehingga tidak ingin banyak membuang waktu dengan menghentikan perdebatan kecil kami. Aku menggeleng menatap punggung tegak itu yang melangkah naik tangga dengan pergerakan cepat menuju kamar. Dia sangat manis, bukan?


***


Awalnya aku menghidangkan cup cake itu sebagai hidangan pencuci mulut setelah makan malam, tetapi Kak Rey memintaku membawanya ke balkon kamar untuk menemani kami berbincang malam.


Sudah lama kami tidak banyak menghabiskan malam dengan bercanda berdua di sana. Padahal, sebelum kami saling mengutarakan perasaan, ngobrol berdua di balkon sudah menjadi rutinitas kami.


Saat aku mengajaknya ke balkon untuk menikmati malam, dia selalu menolak.

__ADS_1


"Buat apa ngobrol di balkon, buang-buang waktu. Mending langsung saja pada intinya, yaitu main di ranjang."


Entah, pikirannya sekarang tak jauh dari urusan ranjang. Namun, malam ini berbeda. Dia ingin berbicara santai dengan dua cangkir teh dan cup cake menemani kami sambil memandang langit malam.


"Sudah belajar apa dari Bunda?" Kak Rey menyesap teh sambil menatap ke arahku. "Jangan bilang kamu hanya mengacau di sana."


"Emm, jangan meremehkanku. Ini tadi aku sendiri yang buat." Aku mengangkat cup cake yang aku buatkan khusus untuk Kak Rey. Bunda Salwa mengatakan jika Kak Rey menyukai cup cake berbahan ketan hitam. Selera Kak Rey aneh, ya? "Ini buatmu."


Dia tersenyum, mengambil cup cake dari tanganku. "Terima kasih," ucapnya. "Pasti kalian ngomongin aku."


"Tidak." Aku tertawa kecil. "Aku yang sengaja bertanya. Karena aku ingin banyak tahu tentangmu."


Cup cake itu dimakan olehnya. Aku memperhatikan pergerakam bibirnya saat mengunyah kue kecil itu dan berakhir ditelan olehnya. "Lumayan, tidak buruk," ucapnya.


"Hanya itu? Berapa nilainya?" Aku menunggu tanggapan darinya.


Dia tampak berpikir, mengarahkan pandangannya ke atas. Kemudian mengatakan, "Enam."


"Kak Rey!" Menyebalkan sekali dia. Pujilah aku sekali saja!


Dia terkekeh, mengusap kepalaku. "Nilainya akan jadi sepuluh kalau kamu mau mengenakan hadiah dariku."


"Hadiah?" Aku menatapnya bingung. "Hadiah apa?"


"Ada di atas ranjang. Cobalah! Aku ingin melihat ukurannya pas atau tidak." Dia tampak menyembunyikan senyum yang tertahan. Aku semakin curiga dibuatnya.


"Baju?" tebakku.


"Lihat saja sendiri. Cepat pakai! Aku tunggu di sini." Dia memerintah tanpa memedulikan pertanyaanku.


Aku menghela napas panjang kemudian, mengalah dengan menurut untuk mencoba hadiah yang Kak Rey berikan.


Di sana, yaitu di atas ranjang memang terdapat paper bag berwarna merah jambu dengan pita menghias di bagian luarnya. Kak Rey memang manis, dia bahkan mengaplikasikan hiasan pada hadiah yang akan diberikan padaku. Senyum tak sanggup kusembunyikan. Segera kubuka apa yang ada di dalamnya. Namun, senyum yang semula terbentuk lebar perlahan menciut saat aku melihat isi dari paper bag tersebut.


Ya, ampun, Kak Rey. Kepalaku menggeleng dengan embusan napas kasar keluar dari bibirku.


Hadiah yang dimaksudkan adalah sebuah gaun tidur minim bahan dengan model transparan.

__ADS_1


__ADS_2