Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
DINIKAHI TUAN ARTHUR


__ADS_3

■Lewati saja jika tidak ingin membacanya.


#Promosi_Novel


|NIKAHI SAYA SECARA AGAMA DAN ANDA BISA MENCERAIKAN SAYA KAPAN PUN ANDA MENGINGINKAN|


Salwa adalah putri sulung dari empat bersaudara. Dia dibesarkan dalam kondisi ekonomi sulit, memutuskan untuk merantau menjadi TKW selepas menamatkan SMA. Dia membutuhkan biaya pengobatan untuk ayahnya yang sedang sakit keras. Tidak ada pilihan lain bagi Salwa sehingga membuatnya terpaksa harus merendahkan diri untuk meminta pinjaman kepada sang majikan yang sangat dibenci karena sempat hampir menodainya.


Judul : DINIKAHI TUAN ARTHUR


PLATFORM : F İ Z Z 0


Bab 10. Pria Biadab


Sorot mata Sean Arthur seolah-olah sedang menelanjangi Salwa. Perempuan itu kian beringsut melindungi diri, merasa ada yang tidak beres dengan sang majikan.


"Tu-an, apa yang Anda lakukan di kamar saya?" Salwa terlihat ketakutan begitu Sean menutup pintu kamarnya, kemudian mengunci dari dalam.


Malam ini Salwa terlupa mengunci pintu kamar lagi sehingga membuat lelaki itu lebih leluasa masuk ke dalam. Karena terlampau lelah, ia langsung tidur tanpa mengecek pintu, apakah sudah terkunci atau belum.


Sean Arthur melangkah mendekat. Lelaki bertubuh jangkung tak ubahnya seperti predator kelaparan yang hendak memangsa kelinci kecil tak berdaya. Perasaan Salwa semakin tidak enak di saat melihat lelaki itu mulai melepaskan kancing-kancing kemejanya.


"Tuan, apa ... yang Anda lakukan?" Tangan Salwa mencengkeram selimut yang membalut tubuhnya, seolah selimut itu mampu menamenginya dari bahaya yang mengintai seorang Sean Arthur.


Lelaki itu tak menjawab. Ia melemparkan kemejanya ke lantai, lantas mendekat ke arah Salwa, menaikkan kaki ke atas ranjang perempuan itu.


Salwa menghindar di saat tangan kekar hendak menangkap tubuhnya. Sinyal bahaya di kepala berbunyi, membuat perempuan itu waspada akan apa yang mungkin membahayakan diri. Ini adalah negara bebas, seseorang bisa melakukan apa pun apalagi terkait hubungan badan. Namun, tidak dengan Salwa. Ia akan melindungi miliknya yang berharga, tidak membiarkan seorang pun merenggut meski harus bertaruh nyawa.


Dia adalah gadis miskin, tidak memiliki sesuatu hal yang bisa dibanggakan. Hanya harga diri dan kehormatan seorang wanita yang masih bisa dia junjung tinggi. Jika semua itu telah terenggut, akan jadi apa dirinya?


Sorot mata Sean semakin mengintimadasi, menatap Salwa yang sudah terpojok di sudut ruangan sebab posisi ranjangnya mengimpit ke dinding. Dengan kasar lelaki itu menarik selimut yang Salwa kenakan, lalu mengempaskannya.


Mata Salwa membeliak terkejut ketika kedua tangannya dicekal oleh lelaki itu. Tangan kekar berhasil mengarahkan jemarinya, mengapit di sela-sela jemari Salwa, mencengkeramnya, menahan perempuan itu agar tidak bisa ke mana-mana.


Salwa berontak, menggerak-gerakkan tangan serta kaki, berupaya melukai Sean Arthur. Namun, pergerakan kakinya yang menendang, membuat kedua paha perempuan itu terbuka. Hal tersebut memberi kesempatan pria berotak mesum memosisikan dirinya di antara kedua paha perempuan itu.


"Tuan, jangan lakukan itu! Saya mohon! Anda tidak berhak melakukan ini!" Salwa berteriak sembari menangis, air matanya luruh membasahi pipi, mengharap belas kasihan seorang Sean Arthur agar tidak memaksakan kehendak terhadap dirinya.


"Jangan munafik! Kau hanya pembantu. Setiap wanita menginginkanku. Dan kau mendapatkan kesempatan itu sekarang." Sean berkata dengan pongah, menganggap semua wanita sama saja.


Dia terbiasa dipuja dan diinginkan, tetapi penolakan Salwa membuatnya semakin tertantang. Dia akan segera mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Tidak! Emm, ...." Teriakan Salwa dibungkam dengan ciuman kasar oleh Sean Arthur. Ciuman pertama yang seharusnya ia berikan kepada suaminya, kepada laki-laki yang dicintainya kelak telah direnggut dengan paksa oleh pria biadap. Matanya terasa panas dengan air mata yang berderai tak henti-henti. Lelaki itu telah menguasainya, merusak pakaian yang ia kenakan.


Salwa merasakan tubuhnya telah terjamah dengan kotor. Tangan lelaki itu tak henti-hentinya menyentuh apa yang ingin dia sentuh. Sungguh, perempuan berambut panjang itu merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Malam ini tak akan sekali pun ia lupakan dalam ingatannya. Ia sangat membenci lelaki itu. Lelaki kejam yang tidak memiliki belas kasihan meski hanya dengan seorang wanita lemah sepertinya.


Tenaganya yang brutal untuk melawan Sean Arthur mulai melemah. Salwa tak bisa berkutik lagi. Dia tak sanggup melawan lelaki itu. Pikiran buruk terkait masa depannya yang akan dirusak oleh lelaki itu membuatnya tak bisa mengehentikan tangis.


Salwa benci, sangat benci dengan lelaki itu, sangat.


Akan tetapi, ketika lelaki itu ingin merusak Salwa dengan mengambil mahkota yang terjaga itu, Salwa menarik kakinya, lalu menendang sesuatu yang sudah menegang tersebut.


"Aaaargghh!"


Sean terjerembab ke lantai, memegangi miliknya yang terasa kesakitan dan nyeri. Napas Salwa memburu dengan pakaian yang sudah koyak dan tidak terpasang dengan benar. Perempuan itu lari masuk ke kamar mandi, lalu menguncinya.


Salwa bersandar di belakang pintu, luruh ke lantai. Ia menangis, membenamkan wajah di atas kedua telapak tangan dengan menekuk kedua kakinya. Dia merasa kotor, terhina, dan dilecehkan secara brutal oleh Sean Arthur. Dia tidak akan memaafkan lelaki itu, tidak akan pernah.


Seharusnya ia tahu bahwa semua ini akan terjadi. Melihat pertemuan pertama mereka di belakang gedung dengan lelaki itu menghajar seseorang secara biadap cukup membuktikan jika seorang Sean Arthur bukanlah laki-laki baik. Namun, tekad untuk mendapatkan uang demi menghidupi keluarganya yang tinggal di Indonesia membuatnya harus memaksakan diri agar bisa mendapatkan pekerjaan itu. Meskipun pada akhirnya ia harus bernasib tragis seperti saat ini.


***


"Alan!"


Sean meneriaki lelaki itu yang tertawa tak henti-henti melihat kondisinya. Dia adalah Alan Alensky, seorang teman sekaligus dokter pribadi Sean Arthur. Mereka dekat sejak sekolah, sehingga lelaki itu tidak takut dengan sosok Sean yang terkenal dingin dan mematikan.


"Siapa wanita spesial itu sehingga bisa membuatmu seperti ini." Dia kembali tertawa membuat Sean semakin kesal saja.


"Sekali lagi kau tertawa, kurobek mulutmu!"


Ancaman Sean tidak pernah main-main. Alan segera menghentikan tawanya, meski dalam hati lelaki itu masih ingin mentertawakan sahabatnya itu.


"Besok mungkin kau harus beristirahat dulu, karena kau akan kesulitan berjalan." Alan berkata setelah melihat kondisi milik Sean yang terkena tendang Salwa. Sepertinya tendangan itu cukup keras sehingga meskipun Alan sudah menyuntikkan pereda nyeri, Sean masih tidak bisa leluasa bergerak.


"Sial! Kenapa kau tidak memberi obat yang terbaik. Kau tidak berguna menjadi seorang dokter. Percuma aku membayarmu mahal."


Perkataan Sean memang pedas, tetapi Alan sudah terbiasa dengan kalimat pedas yang dilontarkan oleh lelaki itu.


"Mungkin kau belum boleh berhubungan sekitar sebulan. Ya, dia harus beristirahat lama agar bisa kembali gagah seperti sedia kala."


"Apa?!" Sean berteriak, tetapi Alan justru menyembunyikan senyum. Alan selalu mengerjai Sean dengan teknis kedokteran yang tidak lelaki itu ketahui hanya untuk membalas perkataan pedasnya.


"Jika kau mau dia mati suri, kau boleh melanggarnya."

__ADS_1


Namun, Alan sepertinya tak sanggup lagi menahan tawa. Lelaki itu tergelak setelah membayangkan wajah Sean yang menahan hasrat karena takut miliknya tak bisa berguna seperti sebelumnya.


"Kau!" Sean melempar bantal ke wajah Alan, tetapi tentu saja segera ditangkas oleh lelaki itu diiringi gelak tawa yang membuat pria berambut brunette semakin kesal..


***


Seperti apa yang Alan katakan, meski Sean susah dinasihati, tetapi lelaki itu masih bisa berpikir jernih untuk tidak melanggar perintah dokter pribadinya.


Sean memilih membatalkan pertemuan dengan para klien dan bekerja di ruang kerjanya yang berada di dalam penthouse.


Leon yang merupakan asisten pribadinya diperintahkan untuk menghandle semua, karena untuk saat ini hanya Leon yang bisa diandalkan.


Di saat lelaki itu sibuk dengan komputernya, suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Dia sedikit berdehem menyadari jika Salwalah yang berada di balik pintu.


Apakah dia akan memarahi perempuan itu karena telah menolaknya semalam?


Seharusnya Salwa bersyukur karena seorang rakyat biasa mendapat perhatian dari pria kaya raya dan berpengaruh sepertinya.


Sean menghela napas kasar yang pada akhirnya mengizinkan perempuan itu memasuki ruangannya.


"Masuk!"


Suara Sean tidak mendapat jawaban, tetapi pintu ruangan terbuka dengan sosok Salwa yang masih mengenakan seragam kerja datang menunduk. Mata perempuan itu terlihat sembab, seolah waktu semalaman hanya digunakan untuk menangis saja.


Tatapannya tertuju pada leher Salwa, Sean dengan jelas melihat hasil perbuatannya kemarin. Ya, leher itu semalam terasa begitu memikat. Bau alami perempuan itu bagaikan candu, menguar dengan memabukkan dirinya yang sedang berada di puncak hasrat.


"Maaf, saya ingin mengundurkan diri." Salwa berkata dengan tenang, tetapi suaranya terdengar begitu serak.


"Mengundurkan diri?" Sean tersenyum miring. Dia seperti sedang direndahkan oleh pembantunya sendiri. Perempuan itu berani sekali keluar dari pekerjaan karena ingin menghindarinya. "Kau harus membayar denda seratus juta dollar."


Mata Salwa membeliak, mendongakkan wajah menatap Sean Arthur. Apa-apaan ini? Mana ada perjanjian kerja yang seperti itu?


"Denda? Bagaimana bisa? Saya sudah membaca isi kontrak dan tidak ada denda tertulis di sana."


Sean menyandarkan punggungnya, bersikap santai dengan menatap Salwa dengan tatapan merendahkan. "Itu adalah peraturan tidak tertulis. Peraturan langsung dariku sebagai tuanmu."


Salwa menggeleng. Dia tidak terima akan peraturan aneh tersebut. "Anda mengada-ngada, Tuan. Saya tidak mau tahu. Saya akan keluar dari tempat ini sekarang juga."


Tanpa peduli dengan perkataan Sean Arthur, Salwa segera berbalik untuk keluar dari ruangan itu. Sudah cukup apa yang ia terima semalam. Ia tidak yakin akan selamat untuk hari-hari berikutnya karena lelaki itu ternyata biadap. Namun, tepat ketika tubuh berbalut pakaian kerja hendak melangkah, Sean mengucapkan sesuatu yang membuat ia mengurungkan niatnya.


"Apakah kau tidak penasaran dengan email balasan dari saudaramu, tentang penyakit ... ayahmu."


Glek.


Salwa menelan ludah.


Dia segera berbalik, menatap lelaki itu dengan penuh curiga.


"Apakah sudah ada balasan?" Salwa bertanya dengan antusias.


Mengingat bagaimana kondisi terakhir ayahnya yang masih sakit ia tinggal merantau membuatnya takut jika terjadi apa-apa dengan sang kepala keluarga.


Tanpa perlu diminta, Sean mengarahkan komputernya menghadap Salwa, menunjuk dengan satu jari yang mengisyaratkan agar perempuan itu mendekat.


Dan di sana, dengan jelas jika Ahsan sudah membalas pesannya. Sebuah pesan singkat berupa satu paragraf, tetapi membuat Salwa tak bisa menyembunyikan tangisnya.


Pesan itu mengatakan bahwa, mereka membutuhkan biaya sekitar dua ratus lima puluh juta rupiah untuk melakukan operasi pemasangan ring jantung ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit.


Salwa mendadak lemas. Dia ingin segera berhenti bekerja, ingin terbebas dari lelaki menjijikkan dan kejam seperti di depannya. Namun, di lain sisi ia harus mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya.


Perempuan itu luruh, duduk di lantai keramik dengan sedikit semburat corak emas yang terasa dingin di kulit. Ia membenamkan wajah di kedua telapak tangannya, mengeluarkan tangis yang menggebu di dada.


Bagaimana ini?


Apa yang harus ia lakukan?


Bagaimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Apalagi ia sedang berniat segera pergi menjauh dari kehidupan Sean Arthur.


Salwa masih termenung dalam tangisnya, menambah rasa sakit hingga ke relung jiwa.


Bagaimana dia bisa mendapatkan uang itu?


Cukup lama Salwa menangis di bawah meja Sean Arthur, tetapi lelaki itu hanya menjadi penonton dan menikmati betapa hinanya perempuan itu. Semalam dia menolaknya, tetapi saat ini tengah bersimpuh di bawah meja dengan menangis. Benar-benar wanita yang aneh.


Setelah sedikit tenang, menguasai pikiran serta emosi yang sempat tak terkendali, Salwa beranjak dari duduknya, berdiri tegak menghadap Sean Arthur.


"Tuan, bolehkan saya meminjam uang kepada Tuan untuk pengobatan ayah saya?"


Sean tergelak, menunjukkan senyum merendahkan sekaligus menjengkelkan kepada Salwa.


"Apa yang bisa kau berikan kepadaku? Uang itu cukup banyak, gajimu seumur hidup mungkin tidak akan cukup untuk bisa menggantikannya."


Salwa menunduk, tangannya mengepal erat. Lelaki itu benar, dia tidak mungkin mampu mengganti uang sebanyak itu, tetapi dia sangat membutuhkannya. Nyawa ayahnya dipertaruhkan di sini. Antara takut juga malu, Salwa memilih memberanikan diri.

__ADS_1


"Saya akan mengabdi pada Tuan seumur hidup saya."


Gelak tawa di ruangan itu menggema, menyudutkan Salwa akan posisinya. Sean Arthur beranjak dari duduknya, lantas melangkah dari balik meja kerja tersebut setelah mendengar perkataan Salwa, mematri tubuh semampai dari ujung kaki hingga ke ujung kepala sembari terus berjalan ke arah perempuan itu.


"No, no, no. Itu semua tidak menarik. Aku ingin lebih dari itu." Sean mengulurkan tangan, mengangkat sedikit dagu Salwa agar menengadah menghadapnya. "Bagaimana jika kau membayarnya dengan ... tubuhmu."


Bab 11. Nikahi Saya Secara Agama


Salwa mundur satu langkah ke belakang, menggelengkan kepala menanggapi perkataan mesum Sean Arthur. Mengapa pria kaya dan dewasa justru menganggap rendah kaum rakyat jelata sepertinya?


"Saya tidak mau."


Dia menunduk lagi. Air mata yang sebelumnya sempat diseka, kini berderai kembali. Sesak, itulah yang ia rasakan saat ini. Kehormatan dan harga diri adalah hal terpenting baginya. Ia memang bukanlah seorang agamis yang suci dan tidak berlumur dosa, tetapi ia cukup paham jika memberikan tubuh kepada seseorang yang bukan mahramnya adalah hal yang salah, dosa besar. Bahkan, agama memberikan hukuman cambuk seratus kali bagi wanita dan pria single yang nekat melakukannya.


"Uang pun tidak ada. Kau bisa keluar sekarang. Aku tidak akan menahanmu lagi. Jika terjadi sesuatu terhadap ayahmu, maka ... kau yang akan disalahkan."


Sean menyeringai tatkala melihat gurat ketakutan di wajah Salwa. Perempuan itu mendadak ragu setelah mendapatkan jawaban dingin dari Sean Arthur. Nyawa ayahnya benar-benar dipertaruhkan di sini. Ia harus segera mengambil langkah. Tangannya meremas apron kecil berenda yang melingkar di pinggangnya.


Sejujurnya dia begitu jijik dan benci dengan pria di depannya itu. Apa yang dilakukan Sean Arthur semalam masih terpatri jelas dalam ingantannya. Pria durjana yang tega mengoyak pakaiannya serta menjamah tubuhnya dengan paksa.


Rasa trauma yang Salwa alami belum sepenuhnya sembuh. Ciuman pertamanya, tubuhnya yang sudah tidak suci lagi karena banyak sekali bekas tanda merah yang ditinggalkan lelaki itu. Salwa tidak terima dengan apa yang terjadi. Ingin marah, ingin mengumpat, tetapi tidak tahu harus bagaimana.


Dirinya hanyalah wanita biasa, dari kalangan kasta rendah yang tidak memiliki kekuatan hanya untuk membela diri. Dia semakin membenci lelaki itu, lelaki jahat yang kini sedang menatapnya dengan tatapan mesum serta merendahkan.


Namun, situasi yang terjadi membuat Salwa harus rela merendahkan diri di hadapan lelaki itu. Ayahnya membutuhkan uang banyak dan pasti uang tersebut sangat dibutuhkan dengan segera.


"Mengapa kau masih di sana? Bukankah kau ingin pergi? Pergilah! Ingat seratus juta dollar sebagai biaya penalti yang harus kau bayar kepadaku."


Salwa memejamkan mata. Tangannya mengusap air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipi. Dia kalah, kalah akan permainan seorang Sean Arthur yang begitu arogan serta tak berbelas kasihan. Tentu lelaki itu mengetahui dengan jelas bagaimana susahnya kehidupan Salwa, tetapi dengan sikap sombong dan semena-mena dia meminta biaya penalti begitu besar kepadanya.


"Mengapa kau tidak memiliki empati terhadap seseorang yang lebih lemah? Apakah orang kaya selalu bersikap seperti itu?" Salwa menjeda kalimatnya, memperhatikan wajah Sean Arthur yang masih sama, seolah-olah perkataannya sama sekali tak berbekas di hati lelaki itu. "Saya memang miskin, tetapi saya masih memiliki iman yang harus saya jaga."


Satu langkah mendekat, Sean mengikis jarak dirinya dengan Salwa. Lelaki itu memperhatikan tatapan penuh kebencian serta amarah Salwa yang ditunjukkan kepadanya. Dia hanya tersenyum miring menanggapi sorot mata perempuan itu. "Aku sudah memberimu pilihan, tetapi kau tidak menggunakan kesempatan dengan baik."


Salwa semakin beringsut di kala Sean semakin mendekat kepadanya. Teror kejadian semalam masih menjadi momok menakutkan baginya. Dia trauma, syok akan sikap bejat lelaki itu.


Apa yang Sean lakukan kepadanya, sentuhan-sentuhan lelaki itu di bagian-bagian tubuh pribadinya masih membekas dan terasa sampai saat ini.


"Tuan!" Salwa menahan tubuh depan lelaki itu dengan kedua telapak tangan yang terbuka lebar begitu punggungnya telah tertahan oleh dinding ruangan.


Sean membiarkan tangan Salwa, tak berniat menghalau atau memindahkannya. Sementara tangan kanannya mengangkat dagu Salwa, membuat perempuan itu menengadah menatapnya.


"Aku masih berbaik hati memberimu kesempatan untuk berpikir. Menerima tawaranku atau ayahmu ... tidak dioperasi." Ibu jarinya mengusap bibir perempuan itu perlahan, seolah pikirannya kembali melayang dengan adegan semalam.


Salwa segera menepis tangan Sean secara kasar, tak lagi menunduk, perempuan itu menatap iris biru itu dengan tajam. "Aku tidak mau menjadi budak nafsumu, Tuan Sean Arthur."


Salwa segera berlari untuk keluar dari ruangan itu setelah mengucapkannya dengan sedikit membanting pintu.


Menuruni satu per satu anak tangga, Salwa berlari menuju kamarnya. Dia benamkan wajahnya di atas bantal, lalu menangis, menangis sepuasnya. Tangannya mengepal dengan beberapa kali memukul-mukul bantal tersebut.


"Mengapa harus seperti ini? Mengapa pilihannya begitu sulit?"


Tak tahan akan apa yang terjadi, perempuan itu menangis tersedu, membayangkan betapa paniknya keluarganya di sana. Bahkan, Ahsan mengatakan bahwa dirinya dan Alfatih mencari tambahan uang dengan mengamen di bus-bus kota. Terkadang menawarkan ginjal secara terbuka di tempat umum, tetapi justru dianggap gila oleh sebagian orang.


Salwa semakin terisak membayangkan itu semua.


Apakah saudara-saudaranya saat ini sudah makan?


Apakah mereka sedang berjuang menahan lapar sampai ada makanan yang bisa mengganjal perut mereka?


Ya, Allah!


Salwa tak sanggup membayangkan itu semua. Bagaimana kondisi keluarganya, ketiga adiknya yang masih sekolah.


Tidak, mereka tidak boleh merasakan kesusahan terus-menerus. Apa gunanya dia jauh-jauh pergi ke negara orang jika hanya berakhir sama, tak bisa membawa perubahan kehidupan keluarganya. Semua pengorbanan, waktu, dan tenaga yang ia korbankan hingga sampai di titik ini akan sia-sia belaka. Air mata ketidakrelaan kedua orang tua atas kepergiannya hanya menjadi butiran debu yang tak berarti jika pada akhirnya ia menyerah.


Salwa mengusap kasar air matanya, lantas pergi ke kamar mandi guna mengambil wudu. Dia hanya ingin menenangkan diri, mencari jalan terbaik setelah pikirannya tenang dan tidak dilanda emosi.


Setiap aliran air yang mengalir membasahi anggota tubuhnya, membuat jiwanya lebih tenang. Ia menghirup napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan. Ya, satu keputusan berat akan ia ambil meskipun ia tahu jika Sean Arthur menyetujui idenya, maka penderitaanlah yang akan ia terima.


Melangkah dengan penuh keyakinan, Salwa menuju ruang kerja Sean Arthur lagi. Ada rasa malu menyelimuti juga kesal di hati. Namun, ia sudah bertekad mengutarakannya meski tidak tahu bagaimana reaksi lelaki itu setelah mendengar permintaannya.


Salwa mengetuk pintu dengan ragu setelah tadi sempat membantingnya ketika keluar dari ruangan tersebut. Tanpa menunggu persetujuan dari Sean, ia memberanikan diri membukanya. Jantungnya berdegup lebih kencang karena merasa gugup, takut, marah secara bersamaan. Namun, ia mengabaikan itu semua karena alasan yang kuat. Keluarganya sedang membutuhkan uluran tangannya.


Begitu pintu ruangan tersebut terbuka, tatapannya langsung berserobok dengan iris biru yang memukau. Sorot mata lelaki itu begitu tajam, menusuk hingga ke kedalaman mata Salwa, menghunjami perempuan itu dengan berbagai perasangka.


Salwa meremas jemarinya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menatap mata lelaki itu dan mengutarakan maksudnya.


"Tuan, saya ... menerima tawaran Anda."


Sean tersenyum tipis. "Aku tahu kau akan kembali dan mengatakan hal itu."


"Tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


"Kau! Berani sekali mengajukan syarat kepadaku." Sean tak menyangka jika pembantunya bisa berani meminta syarat kepadanya.


Salwa tak gentar. Dia tahu Sean pasti tidak akan terima, tetapi ia masih tetap mencoba. "Nikahi saya secara agama dan Anda bisa menceraikan saya kapan pun Anda menginginkan."


__ADS_2