
Lampu kamar sengaja dimatikan. Aku menggenggam bola salju itu yang ternyata memancarkan cahaya indah. Kak Rey duduk di belakangku dengan tubuhku bersandar padanya. Kami berada dalam selimut yang sama.
Sesekali kurasakan Kak Rey mengecup bahuku ringan, menambah sensasi geli dan panas. Tangannya memelukku seolah enggan untuk melepaskan. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Namun, baru kali ini aku merasakan kasih sayangnya dari bagaimana dia memperlakukanku.
Jadi, seperti ini rasanya bermesraan. Dua insan manusia saling menempelkan badan, tak lagi malu mempertunjukkan bagian-bagian pribadinya kepada pasangan. Bahkan, tiada sesuatu yang bisa kututupi darinya. Dia sudah melihat semuanya.
"Kak Rey, di mana dan kapan kamu mendapatkan ini?"
Tanganku yang membawa bola salju itu disentuhnya, sehingga kedua tanganku kini berada dalam dekapan telapak tangannya yang lebar.
Kami seolah sedang menyatukan kekuatan dalam pijaran bola salju yang menyala.
"Saat kamu hilang. Kamu meninggalkan ini di atas ranjangmu. Terima kasih hadiahnya."
Aku tersenyum. "Hemm, hadiah Kak Rena mungkin lebih indah dan berharga. Aku hanya bisa memberimu mainan ini."
Kudengar helaan napas berat dari bibir Kak Rey ketika aku menyebut nama Kak Rena. Entah apa yang terjadi malam itu, yang mana aku melihat mereka bermesraan di kamar dengan Kak Rey mendominasi. Aku bisa menduga jika itu adalah malam panas mereka yang merupakan kado terindah bagi Kak Rey. Mengingat itu, hatiku sakit. Tapi, aku tentu harus mengerti akan kondisi, yang mana Kak Rey memang memiliki dua istri.
"Kamu sudah melihatnya, kan? Apa aku harus menceritakan kelanjutannya kepadamu?"
Aku menggeleng. Biar saja aku tidak tahu. Aku sudah memutuskan untuk menjadi yang kedua. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu agar hatiku selamat.
"Dia sudah besar, ya?" Kak Rey mengalihkan pembicaraan. Telapak tangannya mengusap perutku. "Aku sudah lama ingin menyentuhnya, mengusapnya seperti ini. Tapi, aku takut kamu memarahiku."
Aku tersenyum. "Minggu depan jadwal periksa. Aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Apa Kak Rey mau ikut?"
Kurasakan hidungnya mengendus rambutku, lalu mengusap-usapkannya pada belakang kepalaku. "Tentukan jadwalnya. Nanti aku temani."
__ADS_1
"Terima kasih," ujarku.
"Tidak perlu. Aku memang ingin melihat perkembangannya. Terima kasih sudah mau mempertahankan anak ini."
Aku merasa perkataan Kak Rey memiliki makna yang dalam. Dia seolah menunjukkan rasa syukurnya ketika mengatakan hal itu. Padahal, seandainya saat itu aku menggugurkan kandunganku, dia akan bebas dari pernikahan ini dan bisa hidup bahagia dengan Kak Rena. Tapi, Kak Rey malah sangat gembira dengan kehadiran anak yang ada dalam kandunganku.
***
"Alea, sarapanku kamu jadikan bekal saja. Aku tidak sempat memakannya."
Kulihat Kak Rey tengah sibuk dengan meletakkan ponsel di telinganya sembari memasang satu per satu kancing kemejanya.
"Okey!" Aku segera menyiapkan apa yang dia minta tanpa banyak membantah. Kutahu jika Kak Rey sibuk, sehingga aku lebih cepat bergerak untuk menyesuaikan waktu.
Dia berjalan ke arahku sambil menenteng tas hitam di tangan kanan, sementara tangan kirinya membawa ponsel dengan diletakkan di telinga.
"Alea, tolong pasangkan dasiku!"
"Selesai!" ucapku sambil sedikit mengibas-ibaskan kemeja yang sudah licin itu. Tepat ketika aku meyelesaikan memasangkan dasi, Kak Rey juga menutup panggilan teleponnya.
Dia melihat hasil karyaku yang kini melingkar di lehernya, lalu menatapku dengan tatapan aneh.
"Ada sesuatu di rambutmu," ucapnya kemudian.
"Apa?" Aku meraba-raba kepalaku, mencari sesuaru yang Kak Rey maksudkan, tetapi tak kunjung menemukannya.
"Sini, biar aku saja!" Dia meraih kepalaku dengan aku menurut saja. Saat itu juga aku merasakan kecupan hangat di keningku. Begitu lembut dan lama. Mataku sampai memejam karena merasakan kehangatan di sana. "Aku berangkat dulu. Jaga dirimu baik-baik," ucap Kak Rey setelah melepas ciuman di keningku.
__ADS_1
Aku mengangguk, tersenyum malu-malu. Biasanya dia hanya mengusap kepalaku ketika hendak berangkat bekerja, tetapi pagi ini Kak Rey mau mencium keningku.
Dia pergi setelah itu, dengan aku mengikuti di belakangnya.
Terlalu fokus dengan perubahan sikap Kak Rey yang lebih hangat kepadaku, aku baru menyadari jika bekal yang diminta lupa dibawa olehnya. Aku mengingatnya ketika kembali ke meja makan di mana aku meletakkan tas bekal tersebut sekitar tiga puluh menitan yang lalu.
"Ya, ampun." Kutepuk dahiku sekali, lalu segera menghubungi Kak Rey. Kukirimkan pesan singkat kepadanya karena mungkin saat ini dia sedang sibuk. Dia tak membalasnya segera, tetapi sekitar sepuluh menit kemudian, dia menelepon.
"Bisa bawakan ke kantor? Atau aku minta sopir mengambilnya? Tadinya aku ingin beli di luar, tapi rasanya aku ingin sekali memakan masakanmu."
"Tidak perlu. Aku akan mengantarnya sendiri."
Ponsel itu kupleuk, mendekapnya di dada. Aku seperti seorang yang sedang kasmaran. Seperti sebuah cinta yang lama terpendam telah bersambut oleh orang yang diinginkan. Sebahagia itu.
Memesan sebuah taksi online, aku mengantar bekal itu ke kantor Kak Rey. Ini adalah pertama kali aku ke sana. Kak Rey mengirimkan alamat serta bagaimana agar aku bisa bertemu dengannya. Kupikir aku nanti hanya akan bertemu satpam penjaga depan dan menitipkan bekal itu padanya, tetapi tidak. Kak Rey memintaku untuk masuk ke ruangannya dan mengantar bekal itu sendiri.
Tidak terlalu jauh lokasi kantor Kak Rey. Aku hanya butuh sekitar dua puluh lima menit lamanya untuk berada di depan gedung pencakar langit yang tinggi menjulang mega juga mewah. Perusahaan keluarga Hinata adalah perusahan besar, tapi aku tidak menyangka jika keluarga Kak Rey memiliki kantor pusat yang semewah ini. Pantas saja Mama mewanti-wanti aku untuk tidak mendekati menantunya, ternyata keluarga Kak Rey benar-benar kaya raya.
Aku masuk ke lobby, menemui resepsionis untuk meminta izin bertemu Kak Rey. Ternyata, sesuai instruksi aku tidak banyak mengalami kendala. Kak Rey rupanya sudah memberi pesan kepada petugas resepsionis hingga mempermudahku untuk menemuinya.
Ruangan Kak Rey berada di lantai teratas gedung ini. Aku dipandu oleh salah seorang petugas dengan mengikutiku naik lift kantor. Mereka sangat sopan, terlihat dari sikapnya yang ramah kepadaku. Padahal aku ke sini tidak mengenakan pakaian mewah, hanya sebuah kaus lengan pendek yang kututupi dengan hoodie putih.
Sampai lift itu berhenti bersamaan pintunya bergeser, petugas tersebut menunjukkan ruangan Kak Rey yang berada di bagian ujung. Aku mengangguk mengerti, lalu mengucapkan terima kasih sebelum petugas itu kembali memasuki lift untuk turun ke lantai bawah.
Beberapa pasang mata yang duduk di balik kubikel-kubikel menatapku aneh saat aku masuk ke sana. Aku tersenyum ramah sambil mengangguk menanggapi pandangan orang-orang tersebut. Mereka seolah sedang melihat makhluk luar angkasa saja ketika menatapku.
Aku memilih abai, mengayunkan langkah menuju ke ruangan Direktur Utama. Tunggu! Direktur Utama? Apa tidak salah lihat? Kak Rey direktur utama?
__ADS_1
Perlahan aku ragu ketika ingin mengetuk pintunya, tetapi ternyata pintu itu tidak benar-benar ditutup. Ada sedikit celah yang membuatku bisa mengintip ke dalam. Dan apa yang kulihat dan dengar cukup membuatku tidak percaya.
Kak Rey dan Kak Rena sedang bertengkar hebat.