Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 41.


__ADS_3

Tunggu! Apa dia bilang?


Aku tidak sedang salah dengar, bukan?


Begitu ringan Kak Rey mengatakan itu. Bagaimana mungkin aku mengatakan kata rindu kepadanya sementara aku hanyalah istri yang tak dianggap. Dia dengan jelas mengatakan bahwa hanya mencintai Kak Rena. Lantas, apa aku harus mengemis cinta kepadanya?


Tidak! Itu tidak mungkin aku lakukan. Aku masih memilih harga diri meskipun sebenarnya hati ini sangat menginginkan. Lebih baik aku menahan perasaan, menekannya hingga ke dasar daripada mengucapkannya tanpa tahu malu.


"Aku ... tidak seperti itu. Jangan mengada-ngada! Aku hanya kesal karena kamu datang saat ada maunya, lalu menghilang sesukamu."


"Oh!" Dia mengangguk-angguk.


Apa? Hanya "oh"? Dia menanggapi sikap emosionalku hanya dengan kata "oh". Menyebalkan sekali, bukan?


"Kalau tidak rindu, kenapa marah-marah?"


Mendengar perkataannya, emosiku rasanya naik ke ubun-ubun. Laki-laki memang tidak peka dengan perasaan wanita. Ingin sekali aku jedotkan kepalanya ke tembok agar tidak miring.


"Keluarlah! Aku mau istirahat. Mendengarmu bicara membuat tekanan darahku makin naik."


"Benarkah? Kalau begitu tidur saja. Aku akan diam menunggumu tidur di sini. Aku tidak akan bicara lagi."


"Terserah!" Aku memiringkan tubuh, memunggunginya.


Kesal! Aku benar-benar kesal. Kami hanya bertemu beberapa menit saja, dadaku sudah bergemuruh ingin memakinya. Tapi, atas alasan apa aku melakukannya?


Dia memang benar. Mengapa aku marah jika dia tidak datang? Bukannya aku memang menginginkan dia pergi jauh dariku? Lantas, mengapa aku marah?


Aku merasakan tangannya membelai kepalaku. Hanya dengan sentuhan lembut di kepala, esmosiku yang sebelumnya naik perlahan surut. Bahkan, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi seperti anak kecil di depannya. Aku akan marah ketika lelaki itu mengabaikanku, tetapi kemarahan tersebut perlahan sirna ketika dia berada di dekatku.

__ADS_1


Sentuhan lembut di kepalaku terasa begitu nyaman. Seolah apa yang dilakukannya mampu menghangatkan hatiku. Telapak tangannya yang besar membuatku merasa terlindungi. Hal itu membuatku kesal kepada diriku sendiri.


Hai, mengapa aku seperti seorang wanita yang haus belaian? Atau, apakah ini keinginan anak yang sedang kukandung? Ayolah, jangan membuat mamamu seperti wanita gampangan!


Tidak bisa kupungkiri, tidak ada yang pernah membelai kepalaku seperti ini selain mendiang Papa. Aku juga tidak pernah dekat dengan lelaki lain. Hanya Kak Rey yang pernah menyentuhku, membelaiku, dan memelukku. Apa karena itu aku menjadi sangat emosional kepadanya?


Aku merasa nyaman di dekatnya, dan menginginkannya selalu berada di sampingku.


"Kak Rey?" Mencoba mengusir perasaan aneh yang sempat menghangat di hati, aku memutuskan berbicara dengannya.


"Heem."


"Mengapa memilihku? Apa yang sedang ingin kamu rencanakan? Bukankah hubungan kita hanya tinggal beberapa bulan saja? Apa yang bisa diharapkan dengan hubungan sesaat?"


Gerakan tangan yang mengusap kepalaku berhenti, lalu kudengar dia mengembuskan napas berat. "Karena Rena bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak sepertimu. Kamu selalu berada dalam masalah. Apa kamu tahu, semalaman aku tidak tidur karena mencarimu?"


"Apa?" Aku berbalik, mengarahkan sepenuhnya perhatianku kepada lelaki itu. "Tidak tidur?"


Ponselku memang sengaja kumatikan agar Kak Rey tidak bisa menghubungiku lagi. Saat menyala pun, aku mengaktifkan mode pesawat dan memutus jaringan selulernya agar dia tak bisa mengirim pesan atau meneleponku. Aku menggeleng menanggapi pertanyaannya.


"Aku mencemaskanmu, Alea. Tanggung jawabku adalah menjagamu, tapi kamu justru sengaja kabur dariku. Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapmu?"


"Kalau terjadi sesuatu terhadapku? Kamu akan bahagia dengan Kak Rena. Mungkin itu lebih baik." Pandanganku mengarah ke atas, di mana langit-langit ruangan yang bercat putih bersih membentang di sana. "Kak Rey, aku sudah memutuskan untuk tidak banyak berharap kepadamu. Hubungan yang memang direncanakan untuk sementara, tidak akan ada masa depannya. Kembalilah dengan Kak Rena! Anggap saja kita telah bercerai karena percerain itu hanya tinggal menunggu waktu."


Namun, apa yang kupikirkan ternyata tidak sepenuhnya benar. Kak Rey menanggapi perkataanku dengan kalimat panjang yang membuatku tak bisa berkata-kata.


"Aku memang mencintai Rena. Aku sudah mengecewakannya dengan menikahimu secara diam-diam. Tapi, ini adalah takdir yang harus kami lewati. Aku tidak pernah memikirkan untuk menduakannya. Namun, apa yang telah terjadi membuatku harus melakukan itu." Kutatap wajahnya yang berubah sendu. Apakah benar semua ini sudah merupakan garis takdir kami? "Alea, saat anak itu lahir, aku tidak akan menceraikanmu, kecuali jika kamu yang menginginkannya," ucapnya dengan mata hazel yang menatapku lembut.


"Apa?"

__ADS_1


"Tidak ada hubungan sesaat seperti apa yang kamu pikirkan. Pernikahan yang kamu anggap hanya sebuah kesepakatan adalah pernikahan sesungguhnya. Aku tidak pernah main-main dengan pernikahanku."


Aku terdiam, bingung bagaimana menanggapi perkataan Kak Rey. Akan tetapi, lelaki itu kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dengan menceraikanmu. Untuk masalah Rena, apa pun yang dia putuskan, aku akan menerimanya meski perceraian sekalipun. Mungkin dengan melepaskannya, dia akan lebih bahagia."


"Kak Rey, dia mencintaimu."


Dia tersenyum menanggapi. "Bagaimana denganmu?"


"Aku ...." Mengapa harus bertanya hal itu kepadaku? Aku tidak mungkin menjawabnya karena mungkin jawabanku justru akan menambah masalah.


"Apakah kamu tidak merasakan hal yang sama?" Dia mengusap kepalaku. "Apakah kamu tahu, Alea? Terkadang dalam kehidupan ada perasaan yang sebenarnya tidak ingin dijaga tapi tak bisa mati. Ada pula kisah yang seharusnya ingin diakhiri malah justru menjadi kisah abadi. Aku sudah berusaha menjaga perasaanku dan kesetiaanku pada Rena, tapi jika Tuhan berkehendak lain, aku bisa apa?"


"Maksud Kak Rey?"


"Perceraian memang dibolehkan. Tapi, Tuhan membenci itu. Setan akan bertepuk tangan kegirangan ketika ada manusia bercerai setelah mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan. Jadi, aku mohon. Bertahanlah, Alea! Aku tidak akan memisahkanmu dengan anakmu karena kutahu kamu pantas dan bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Bertahanlah demi anak kita! Aku akan menjaga kalian berdua."


Jujur, perkataan Kak Rey membuatku terharu. Bolehlah aku merasa bahagia? Apakah aku salah jika tersentuh dengan ucapannya?


Tanpa sadar aku mengangguk setuju. Tidak bisa dipungkiri jika apa yang Kak Rey katakan benar adanya. Terlepas aku adalah pihak ketiga, dia hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya, kekhilafannya terhadapku. Entah ini takdir yang sudah digariskan kepada kami atau bukan. Yang jelas aku akan melaluinya sebisaku demi anak yang sedang tumbuh di rahimku.


"Tapi, tunggu!" Aku menatapnya dengan curiga. Tidak boleh terbuai dengan perkataannya. "Jika peduli denganku, mengapa seminggu belakangan ini menghilang? Bahkan, kamu tidak pernah menanyakan kabarku."


"Jadi itu masalahnya sehingga kamu tidak mau mengangkat teleponku?"


Aku diam tidak menanggapi, tetapi mataku menunjukkan tuntutan akan jawaban. "Pekerjaanku sangat banyak. Lagi pula, aku tidak perlu menanyakan kabarmu, sebab aku sudah melihat setiap kegiatanmu di rumah melalui CCTV."


"Apa? CCTV?"

__ADS_1


Aku baru sadar jika di rumah ada benda yang namanya CCTV. Wajahku jelas terlihat malu sekali. Jika di rumahku ada CCTV, apa itu artinya di rumah Kak Rena juga dilengkapi CCTV? Dan itu berarti aku telah ketahuan mengintip mereka malam itu?


__ADS_2