Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 67. Kedatangan Kak Rena


__ADS_3

Aku mengangguk ragu. Bukan karena tidak ingin menerima Kak Rena lagi, melainkan aku masih teringat akan insiden hari itu.


Kak Rey sempat menuntut Kak Rena, tetapi aku memohon padanya agar tuntutan itu segera dicabut. Mama Sonya memohon dan meminta maaf padaku di rumah sakit. Beliau mengatakan tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Kak Rena. Bagaimana aku bisa tega melihat seorang wanita yang pernah kuanggap sebagai mama meneteskan air mata kesedihan seperti itu. Lagi pula aku sudah baik-baik saja. Kak Rena berbuat seperti itu karena atas dorongan emosionalnya saja.


Aku pun memahami itu. Kak Rena yang selalu terpenuhi semua keinginannya sejak kecil harus dihadapkan kenyataan bahwa suaminya menceriakannya, pasti hal itu sangat sulit ia terima. Apalagi suaminya lebih memilih orang ketiga sepertiku. Sebagai sesama wanita aku memaklumi tindakannya meskipun tidak setuju.


Kubuka pintu lebar-lebar, mempersilakannya masuk. Awalnya Ayah dan Bunda mertua terkejut dengan kehadiran Kak Rena, tetapi kemudian mereka memasang wajah datar.


Tanpa lagi peduli padaku, Kak Rena masuk setelah melihat kedua mertuaku ada di dalam. Dia bersikap ramah dan sopan, menyalami dengan membungkukkan badan. Namun, saat Kak Rena akan mencium punggung tangan Ayah mertua, beliau menarik tangannya cepat.


Sikap Ayah mertua memang dingin. Apalagi terhadap orang lain. Beliau sedikit hangat ketika sudah menjadi keluarga. Sebelumnya beliau juga seperti itu padaku.


"Duduk, Kak!" Aku mempersilakan Kak Rena duduk. Bagaimanapun dia adalah tamu dan aku merupakan tuan rumah.


Dia menggeleng menanggapi. "Bisakah kita bicara empat mata?"


"Mengapa harus empat mata?" Ayah mertua menyela. "Apa ada hal yang kalian rahasiakan?"


Sorot mata Ayah begitu tajam mengarah pada Kak Rena. Aku bahkan tidak berani menrntang atau membela Kak Rena.


"Tidak. Bukan seperti itu. Hanya saja ... ada hal pribadi terkait keluarga kami."


"Sudahlah, Mas, tidak perlu ikut campur. Aku yakin Alea bisa mengatasinya. Lagi pula kita ada di sini. Rena tidak mungkin berani macam-macam." Bunda menengahi ketegangan yang sempat tercipta. Aku merasakan perhatian dari kedua mertuaku. "Selesaikan masalah kalian. Althaf biar kami yang urus. Ayo, Mas! Kita ke taman belakang."

__ADS_1


Kulihat Ayah tampak berat menyetujui. Namun, lagi-lagi beliau selalu menurut apa saja yang Bunda katakan. Mereka kemudian berlalu dan pergi dari ruang tamu.


Kini, tinggallah aku dan Kak Rena berdua. Dia duduk berhadapan denganku. Kedua tangannya saling terjalin, seolah ada rasa gugup yang mendera dirinya.


"Ada apa, Kak?" tanyaku yang merasa tidak sabar. Kak Rena mengatakan ada masalah terkait keluarga kami. Apa yang dimaksudkan adalah Mama Sonya?


"Alea, Kakak ke sini ingin meminta maaf padamu. Kakak tidak bermaksud mencelakaimu saat itu. Kakak sedang emosi. Kamu tahu kan bahwa Kakak sulit menerima perceraian ini?"


Wajah Kak Rena tampak kusut, seolah-olah dirinya tak lagi merawat diri. Apakah perceraian itu membuatnya menjadi terpuruk?


"Kak, aku sudah memaafkanmu. Aku sama sekali tidak marah padamu. Aku tahu ini sulit, tapi aku harus mengatakan bahwa, tolong lupakan Kak Rey! Maaf jika aku egois. Aku hanya ingin keluargaku tenang. Aku ingin anakku memiliki keluarga yang lengkap, tidak kekurangan kasih sayang orang tua."


Dia terdiam. Kami pun hanya bergeming di tempat sambil mencerna isi pikiran masing-masing. Sampai saat kemudian Kak Rena bersuara.


"Aku sudah ikhlas melepas Rey. Jaga dia baik-baik. Aku menyesal sempat menyia-nyiakannya. Aku memang egois. Tapi, aku benar-benar mencintainya. Meski ini keputusan sulit, aku akan mencoba melupakannya. Aku ... tidak ingin meratapi dia setiap hari. Aku juga tidak ingin menjadi pihak ketiga."


"Kak, aku yakin kamu akan bahagia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu. Maaf, atas keputusanku mempertahankan Kak Rey. Aku harus melakukan itu demi anakku. Dia tidak bersalah. Dia berhak mendapatkan kasih sayang papanya."


Kak Rena memelukku saat kami berdua beranjak dari duduk, berdiri. Setelah satu tahun lamanya akhirnya Kak Rena memelukku. Dia menangis, menangis di bahuku. Postur tubuh Kak Rena memang lebih tinggi dariku. Dia memeluk sambil terisak akan tangis.


Aku tidak tahu, apakah ini sebuah titik awal kehidupanku dan Kak Rena berubah. Tapi, aku merasa lega mendengar Kak Rena berusaha mengikhlaskan Kak Rey untukku.


Kak Rena pamit undur diri, menemui kedua mertuaku yang sedang bercengkerama sambil menggendong Althaf bergantian. Kulihat Ayah yang biasa berwajah dingin berkali-kali mencium pipi cucunya. Aku tersenyum, ternyata banyak yang menyayangi Althaf.

__ADS_1


"Kamu sangat beruntung, ya, Alea! Hidupmu bisa sebahagia ini."


Aku menoleh ke arah Kak Rena. Dia menatap ke depan di mana Bunda dan Ayah sedang mengasuh Althaf penuh cinta. "Ya, setelah banyak hal buruk kulewati, aku sangat bersyukur berada di titik ini. Aku yakin Kakak juga akan mendapatkan kebahagiaan suatu saat nanti jika Kakak mau."


"Benarkah?" Dia terlihat tidak yakin. "Aku meragukan itu. Tapi, aku akan berusaha," ucapanya.


Kami akhirnya menyusul kedua mertuaku dengan Kak Rena bermaksud untuk berpamitan. Bunda tersenyum ke arah kami, lalu berkata, "Mengapa cepat sekali?"


"Iya, Bun, ada urusan mendadak." Kak Rena menjawab. "Alea, apa aku boleh sering main ke sini? Jika ada senggang aku ingin main dengan keponakanku," ucapnya sambil mengusap pipi Althaf yang ada dalam gendongan Ayah.


"Tidak perlu. Sebaiknya kamu tidak perlu terlalu sering ke sini. Biarkan Rey bahagia dengan keluarga kecilnya." Ayah menjawab dengan lugas. Beliau selalu tegas tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Saya hanya ingin bertemu dengan keponakan, bukan dengan Rey," jawab Kak Rena. Wajahnya tampak merah ketika mengatakannya. Aku yakin Kak Rena malu mendengar penuturan Ayah yang sangat gamblang.


"Ini, ambillah! Kamu bisa menggendongnya sekarang. Jika kamu memang menyayanginya dan ingin selalu di dekatnya."


Aku tidak tahu mengapa jadi begini. Padahal Kak Rena hanya ingin berkunjung saja, tetapi Ayah tampak tidak menyukainya.


Kak Rena tampak ragu ketika mengulurkan tangan. Namun, akhirnya Althaf berada dalam gendongannya juga. Dia terlihat kaku saat menggendong bayi. Sama sepertiku awalnya. Semoga saja dengan menggendong anakku, hatinya yang terluka sedikit terhibur.


Sekitar lima menit lamanya, Kak Rena mengembalikan Althaf padaku. Dia berkata ada urusan. Bibirnya mencium pipi gembul Althaf. "Aku pergi dulu," ucapnya kepadaku.


"Alea!" Ayah memanggilku setelah punggung Kak Rena menjauh. Aku membalikkan badan, menatap ke arahnya. "Jaga suamimu! Jangan terlalu percaya dengan wanita lain, meski itu saudaramu sendiri."

__ADS_1


...****************...


Semoga lolos, up pertama kena tolak mulu


__ADS_2