Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 45. Kecewa


__ADS_3

Ciuman itu bukanlah ciuman seperti sebelumnya, yang kasar dan menyakitkan. Bibirnya menempel lembut, mengulum bibir bawahku. Aku merasakan lidahnya membelai permukaan atas dan bawah bibirku secara bergantian.


Sorot matanya tak berpindah dari pupil mataku yang melebar. Aku kebingungan dengan sikap Kak Rey yang seperti ini. Aku ingin menolak, ini terlalu cepat. Dia bahkan tidak pernah mengatakan ketertarikannya kepadaku. Lalu, mengapa saat ini dia menciumku?


Dia belum melepas pagutan pada bibirku. Seolah terlena dan menikmatinya. Aku tidak melakukan apa-apa sampai selimut tebal yang membalut tubuhku diempaskan olehnya.


"Kak, emm ...." Dia tak memberiku kesempatan bicara. Aku sempat terbuai dengan permainannya. Hingga di saat aku merasakan pakaian tidurku yang bergambar Doraemon disingkap ke atas olehnya.


Rasa dingin udara malam bersamaan pendingin ruangan menyapu kulitku. Aku merasakan tangan kekar itu mengusap perutku, membuat tubuh ini menegang secara naluri. Kemudian jemarinya bergerak lincah menelusuri permukaan perut serta punggung dengan melingkarkan lengannya pada tubuhku.


Entah, ini tidak sesuai rencana. Aku takut Kak Rey kehilangan kendali. Dia sama sekali tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Bagaimanapun aku adalah wanita normal. Sentuhannya yang seperti ini sanggup membuatku melayang. Apalagi suara erotis yang terdengar dari film itu bisa memantik gairah di antara kami.


Aku mencoba menyadarkan Kak Rey dengan meremas rambutnya. Tapi entah mengapa yang kulakukan justru membuatnya makin gila. Dia melepaskan ciuman itu, tetapi membungkam mulutku dengan telapak tangannya yang besar. Sementara bibirnya malah menelusuri leherku dengan membuat kecupan-kecupan kecil di sana. Aku sempat mengerang ketika merasakan gigitan di area leherku. Dia seolah paham di mana bagian-bagian yang membuat tubuh seorang wanita bereaksi tak terkendali.


Sungguh, aku tidak bisa menahan ini. Dia seolah sedang dirudung naf^su besar yang terbakar dalam dirinya. Aku hampir saja terlena. Ini benar-benar gila. Hingga ketika aku merasa semua di luar batas, yaitu di saat lelaki itu hendak membuka pakaian dalamku dan menyentuhkan tangannya di sana, aku baru bisa berteriak. "Kak Rey, hen-tikan!"


Tatapannya yang sebelumnya seolah terbakar, kini meredup, menurunkan tangan yang sudah menyentuh permukaan dadaku. Napasnya tersenggal, begitu juga denganku. Namun, dia sepertinya masih bisa menguasai keadaan. "Kenapa, Alea? Bukankah kita sudah menikah?"


Mataku berembun saat itu. Apakah setiap orang yang sudah menikah harus melakukan itu? Bukankah dia tidak mencintaiku? Lantas, bagaimana dia bisa melakukan ini kepadaku?


"Karena kamu ... tidak mencintaiku. Jangan karena ada masalah dengan Kak Rena, kamu melampiaskannya kepadaku. Aku juga memiliki perasaan. Aku ... tidak ingin terbuai olehmu."


Kak Rey terdiam, membenarkan pakaianku kembali. Sejujurnya, aku sedikit kecewa ketika dia memilih menyudahi permainannya tadi. Namun, aku tidak ingin terlena. Jangan sampai dia melakukannya kepadaku, tetapi membayangkan wanita lain. Tentu itu pasti sangat menyakiti perasaanku.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."

__ADS_1


"Apa?" Perkataannya yang pendek cukup mewakili semuanya. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya kepadaku. Sungguh, ungkapan singkatnya menyakitiku.


Lelaki itu beranjak dari posisinya, membenarkan jubah tidur yang tadi sempat terbuka. Dia pergi sambil membawa laptop itu bersamanya tanpa menoleh lagi kepadaku.


Aku memejamkan mata. Rasanya begitu sakit. Tapi, memang begini adanya. Kak Rey sampai kapan pun hanya akan mencintai Kak Rena. Sementara denganku, mungkin cuma sebatas bentuk pertanggungjawaban saja.


***


Saat di meja makan, tiada percakapan di antara kami. Kak Rey biasanya selalu menghabiskan makanan, tetapi kali ini dia hanya memakannya sedikit. Dia berubah semakin dingin dan terlalu jauh untuk kuraih.


Aku harus menahan hati ini agar tidak terlalu terluka ketika melihatnya beranjak dari kursi, pergi bekerja tanpa berpamitan kepadaku. Biasanya, aku selalu mencium tangannya, lalu dia mengusap kepalaku. Namun, saat ini kakiku tak sanggup untuk mengejarnya. Aku berdiam di tempat sambil menyaksikan punggung tegapnya menjauh, hilang dari pandangan.


Ternyata begini rasanya diabaikan. Dia sangat dekat denganku, tetapi ada tembok besar yang menghalangiku untuk menjangkaunya. Kuseka air mata yang tiba-tiba menetes di pipi. Mungkin, inilah yang terbaik agar aku tidak terlalu dalam mencintainya.


Di saat aku membereskan perlengkapan makan, sekaligus mencuci piring, terdengar suara ketukan di pintu. Jarang sekali ada yang bertamu di rumahku. Terakhir aku menerima tamu, yaitu saat Mama datang memarahiku. Kukeringkan tanganku menggunakan lap bersih yang kugantung di atas wastafel setelah mematikan keran air, lalu bergegas pergi menuju pintu depan ruang tamu.


"Kak Rena."


***


Aku meletakkan secangkir teh untuk menjamu Kak Rena. Aku belum mengerti apa tujuannya datang kemari. Dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru, menatap ke atas di mana ruangan yang berada di lantai dua berada.


"Di mana kamar Rey?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Di sana, sebelah kamarku." Tanganku menunjuk ke atas di mana dua ruangan berdampingan dalam kondisi tertutup.

__ADS_1


"Sudah kuduga. Kalian tidak mungkin tidur bersama. Rey tidak akan pernah menyentuhmu." Kak Rena tersenyum setelah mengatakannya. Aku hanya diam, tak ingin menanggapi perkataannya itu.


"Aku sudah memutuskan. Alea, dengarkan aku!" Tatapan Kak Rena begitu tajam mengarah padaku. Aku seolah dipaksa untuk menatap bola matanya yang bulat dengan lensa kontak berwarna kebiruan.


"Aku tahu Rey mau menikahimu hanya karena sebuah kesalahan. Dia hanya ingin menpertanggungjawabkan perbuatannya kepadamu. Okey! Aku setuju. Aku akan membiarkan Rey bersamamu."


Aku sempat tidak percaya dengan apa yang baru saja Kak Rena katakan. Dia membiarkan Kak Rey hidup bersamaku. Semudah itu?


"Sampai anakmu dilahirkan, Rey akan tetap bersamamu. Namun, setelah itu, kembalikan Rey padaku. Dia suamiku, bukan suamimu. Jangan ganggu lagi kehidupan kami! Kamu bisa kan mencari suami tanpa merebut suami kakakmu sendiri?"


Aku ternganga mendengar bagaimana Kak Rena menjelaskan pemikirannya tentangku. Dia menandaiku sebagai perebut suami orang. Padahal, di sini aku adalah korban.


"Tapi, Kak, aku juga istrinya. Kita memiliki hak yang sama."


"Oh, no, Alea! Berhenti bermimpi! Istri yang seperti apa? Istri yang tidak pernah disentuh? Istri yang tidak dicintai? Ayolah, jangan memaksakan keadaanmu yang memang ditakdirkan tidak untuk Rey!" Dia memiringkan kepala, seolah memusatkan perhatiannya kepadaku. "Sekarang katakan! Apakah Rey pernah mengatakan perasaannya kepadamu? Apa dia pernah bilang mencintaimu?"


Kugigit bibir bawahku. Ada rasa sesak ketika menyadari bahwa perkataan Kak Rena ada benarnya. Kak Rey tidak pernah mencintaiku. Cumbuannya semalam hanya bentuk menumpahkan hasratnya yang tidak tersalurkan. Akan tetapi, hatinya tetap milik Kak Rena.


"Dia tidak pernah mencintaimu karena Rey hanya mencintaiku. Jadi, kembalikan suamiku! Biarkan dia bahagia dengan pasangan yang dicintainya. Jangan egois, Alea! Jangan mementingkan dirimu sendiri! Untuk masalah anakmu, jika kamu tidak sanggup mencarikannya ayah sambung, aku bisa mencarikannya untukmu."


Aku tidak menyangka Kak Rena tega mengatakan itu. Kami sama-sama perempuan. Aku tahu dia terluka, tapi aku juga merasakan hal yang sama. Tidak adakah empatinya untukku? Atau mungkin dia memang sangat membenciku saat ini.


Sebelumnya aku tidak pernah memiliki niatan untuk merebut Kak Rey dari Kak Rena. Aku selalu mengalah agar tidak menyakiti kakakku satu-satunya. Namun, setelah mendengar perkatannya hari ini yang sama sekali tidak memikirkan nasibku serta anakku, niatku berubah. Aku ingin memperjuangkan Kak Rey, memenangkan hati lelaki itu untuk diriku sendiri juga anakku.


"Keluar!" Aku berkata tanpa menatapnya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Berani sekali kamu mengusirku dari rumah pemberian suamiku."


"Aku bilang keluar, Kak Rena!" Aku meninggikan suara, tak ingin terlihat rapuh di depannya. Meskipun hatiku tidak ingin melihat luka di hatinya, tetapi aku tak bisa mendengar orang lain menghina dan melukai anakku.


__ADS_2