
Menggunakan kancing sengkelit di bagian punggung membuatku kesulitan melepaskan gaun panjang ini. Perlahan, satu per satu kancing itu dilepaskan oleh Kak Rey. Aku tahu jika pandangannya tak beralih pada punggungku, dan kurasakan telapak tangannya membelai permukaan kulitku. Ada gelenyar aneh saat kulit kami bersentuhan, apalagi bukan hanya sentuhan ringan, melainkan meraba ke seluruh permukaan.
"Kak Rey, aku mandi dulu."
Perkataanku membuat gerakan tangannya terhenti. Dia mengangguk, mempersilakan aku ke kamar mandi.
***
Butuh sekitar lima belas menit lamanya aku membersihkan diri. Kini, jubah handuk telah membungkus tubuhku. Kak Rey mengatakan mereka telah menyiapkan pakaianku sehingga aku memutuskan segera keluar untuk mencari pakaian ganti. Aku melirik ke samping di mana Kak Rey sedang sibuk dengan smartphone-nya. Dia masih belum juga mengganti pakaiannya. Mau sampai kapan menggunakan handuk.
Perhatianku mengarah pada koper yang disandarkan di bawah lemari pakaian. Segera kakiku menekuk untuk memeriksa isi dari koper tersebut. Namun, begitu benda kotak besar itu terbuka, aku justru hanya disuguhkan dengan berbagai macam jenis pakaian dalam. Tanganku mengobrak-abrik isinya, mencari-cari pakaian yang bisa kukenakan. Sialnya yang paling tertutup hanya ada gaun tidur tipis nan terawang yang bisa kutemukan.
"Kak Rey, aku tidak menemukan pakaianku!" Aku memanggil dengan kesal. Lelaki itu terlihat menyunggingkan senyum tipis sebelum mengalihkan perhatian dari smartphone-nya ke arahku.
"Sebanyak itu tidak ada yang cocok?" Dia mulai beranjak dari posisinya, lantas mengayunkan kaki jenjangnya ke arahku. Menekuk kedua kaki, Kak Rey memilih berada di belakangku.
"Bukan tidak ada yang cocok, tapi aku tidak menemukan satu pakaian pun."
Kepalanya mengintip dengan meletakkan dagunya di bahuku. Pipi kami saling menempel. Rasanya begitu lembab dan menenangkan. "Pakai yang ini. Aku ingin melihatnya." Tangannya menyerahkan sebuah gaun tidur transparan berwarna kulit, membuatku gemetar ketika menerimanya.
Aku kesulitan menelan ludah saat melebarkan gaun itu di hadapan wajahku. "Apanya yang ditutupi? Kamu yakin aku harus pakai ini?" Aku sangsi, besok apa yang kupakai jika semua model pakaiannya seperti ini?
"Mau pakai sendiri, atau aku yang memakaikannya?" bisiknya di telingaku.
"Aku ... aku pakai sendiri."
"Bagus." Dia menjumput untaian rambutku, lantas mengendusnya sejenak. "Aku tunggu!" ucapnya setelah mencium pipiku.
Aku berlari masuk ke kamar mandi, lantas menutup pintunya. Jubah handuk segera kutanggalkan, menggantungnya di gantungan baju. Segera kukenakan pakaian itu dan ternyata begitu pas di badanku. Lalu, kutatap tampilanku di cermin panjang yang terletak di dinding kamar mandi.
Tenggorokanku kesulitan meneguk ludah. Bayanganku yang tertangkap di cermin membuatku malu jika harus keluar dalam posisi seperti ini. Kak Rey sungguh keterlaluan. Di sana dengan jelas aku bisa melihat hampir semua permukaan tubuhku seolah tanpa penutup. Bahkan, bagian dada dan area kewanitaanku tercetak jelas di sana.
Apa-apaan ini?
Dasar mesum!
Dia tidak berubah.
Mungkin terlalu lama menunggu, kudengar Kak Rey memanggilku.
"Alea, lama sekali?" Kudengar derap langkahnya mendekat ke arah kamar mandi, kemudian suara pintu diketuk bersamaan panggilan namaku terdengar lagi. "Alea, apa yang kamu lakukan di dalam?"
"A-aku ...."
Dengan rasa tak sabar, Kak Rey mendorong pintu kamar mandi yang memang tidak kukunci. Dia menerobos masuk.
__ADS_1
Sesaat aku terpaku di tempat, terlejut melihatnya yang tiba-tiba datang. Hingga kulihat pandangannya mengarah pada tubuhku yang berbalut gaun tidur. Kusilangkan tangan ke depan dengan menyempitkan kedua paha. Aku merasa sedang tidak berpakaian.
Dia terkekeh, berjalan menghampiriku.
"Hai, mengapa ditutup?" Kedua tanganku dibuka olehnya. "Kamu cantik pakai itu."
Langkahku semakin mundur ketika Kak Rey terus saja mengimpitku. Hingga tubuhku tertahan wastafel berbahan marmer yang membentang di bawah cermin panjang. Tangannya diletakkan di bawah pantat, lalu mengangkatku untuk didudukkan di sisi marmer yang kosong.
Dia mulai mencumbuiku.
Rasanya asing, tetapi aku merindukan perlakuannya yang lembut seperti ini. Dia begitu perlahan menyentuhku, menelusuri permukaan tubuhku yang masih berbalut kain tipis tersebut. Namun, meski hanya dengan seperti itu jiwaku terasa melayang.
"Aku merindukanmu, Alea. Aku sangat merindukanmu." Dia berbisik di sela-sela cumbuannya.
Tubuhku terasa meremang di kala dirinya mulai mmenurunkan bagian atas pakaianku. Tanganku yang reflek menutupi bagian yang terbuka ditahan olehnya. "Nikmati! Aku akan memanjakanmu malam ini."
Saat kalimatnya selesai diucapkan, aku merasakan tubuhku melayang. Dia menggendongku dan membawaku keluar dari kamar mandi. Kami melanjutkannya di atas ranjang.
Di saat dia sibuk memberikan banyak tanda di tubuhku, mengecup, menyesap dengan sesekali terdengar erangan, aku tiba-tiba teringat sesuatu sehingga segera menahan kepalanya.
"Kak Rey!"
Wajahnya yang sudah diliputi oleh nà f su tampak tak rela menghentikannya. Namun, aku tetap menahannya agar berhenti. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Katakan!" ucapnya dengan nada suara berat.
Kak Rey mengeram. Sepertinya dia tidak menyukai pertanyanku. Mungkin jawabannya akan membuang waktu. Aku sudah merasakan miliknya begitu keras menggesek di bawah sana. Namun, aku ingin tahu apa yang terjadi saat itu.
"Bisa kah kita membahasnya nanti? Aku sudah tidak tahan."
Aku menggeleng. "Tidak, kamu akan tidur setelah terpuaskan. Aku ingin tahu kejadiannya."
"Alea, kita bisa membahasnya nanti. Tidak cukup kah kamu menyiksaku selama lima tahun ini? Aku sudah menahan ini selama bertahun-tahun. Jangan menyiksaku lagi!"
Aku tersenyum, lalu mengecup bibirnya singkat. "Kamu cukup menjawab pertanyaanku. Berdebat hanya akan menambah waktu siksaanmu."
Terdengar de sahan dari bibirnya. Sepertinya jawabanku membuatnya kesal. "Rena hamil. Saat kita bertemu dengannya di rumah sakit, dia mengaku muntah-muntah sejak pagi. Dan setelah mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, Rena hamil. Tentu saja aku tidak mau bertanggung jawab karena itu bukan anakku. Aku telah lama tidak menyentuhnya. Dia akhirnya mengaku pernah melakukannya dengan Erlangga karena merindukanku. Aku mencari Erlangga sampai ke Singapura, membawa lelaki itu kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Rena."
"Apa? Tapi, jika Kak Rena pernah melakukan itu dengan pria lain, mengapa dia ingin sekali kembali bersamamu?"
Aku masih bingung apa yang terjadi saat itu. Hingga akhirnya aku memilih mengalah dan membiarkan Kak Rena memliki Kak Rey tanpa bayang-bayang diriku.
"Kau tahu, terakhir kali kita bercinta. Doaku hanya satu."
"Apa?"
__ADS_1
"Malam itu aku berusaha keras untuk menghamilimu. Aku tahu kamu sudah bertekad berpisah dariku sehingga bagaimanapun caraku membujukmu, kamu akan tetap menginginkan perceraian. Akhirnya aku mengabulkan permintaanmu. Saat itu hatiku hancur. Aku baru saja merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah, memiliki istri yang penyayang sepertimu. Tapi dalam waktu singkat semuanya pergi dariku."
Aku menatap bola mata hazel yang tengah memandangku sendu. Dia membelai wajahku. "Setiap malam aku berdoa agar ada janin yang tumbuh di rahimmu dan aku akan menyusulmu satu bulan lagi, memastikan jika perceraian itu gagal. Tapi setelah satu bulan berlalu, aku tidak menemukanmu. Alea, kamu tidak tahu bagaimana kacaunya hidupku saat itu, mencarimu seperti orang gila. Mencarimu dan Althaf."
Bibirnya mengecup permukaan wajahku dengan merata. "Berjanjilah, jangan mengulanginya lagi! Kita akan selalu bersama apa pun yang terjadi. Aku, kamu, Althaf, dan Aylin. Kita akan menjadi keluarga bahagia. Oh, aku lupa, mungkin ada satu lagi yang akan hadir di antara kita." Dia mengerlingkan mata kepadaku.
Aku hanya mengangkat dagu mengisyaratkan "apa" kepadanya.
"Aku tidak janji jika malam ini mereka akan memiliki adik lagi."
Tanpa menunggu persetujuanku, Kak Rey mulai melanjutkan aksinya. Menuntunku menuju kenikmatan dunia sepasang suami istri yang saling mencintai. Setiap sentuhan, cumbuhannya menunjukkan betapa besar perasaannya kepadaku. Aku merasakan itu. Aku bahagia.
"Kak Rey, mengapa harus dirobek?"
"Kalau dirobek lebih menggairahkan," ucapnya tanpa tahu malu.
Malam itu di musim semi yang mana bunga-bunga dan dedaunan tumbuh subur dengan desiran angin spoi-spoi, kami menuntaskan hasrat yang telah terpendam.
Aku sadar perjalanan cinta kami berawal dari kesalahan, membuat banyak kekhilafan dari sepasang anak manusia. Kami hanyalah manusia biasa, penuh salah dan dosa. Kami hanya ingin memperbaiki semuanya, membahagiakan orang-orang yang kami sayangi setelah kepedihan yang sempat kami torehkan di hati mereka.
~ SELESAI~
Hai, apa kabar semua?
Gak nyangka ya kita berada di episide terakhir?
Bagaimana perasaan kalian saat membaca kisah Alea dan Rey?
Marah, kesal, pengen nye-kik authornya (ini jangan, ya 😑) atau pengen lempar HP?
Hihihi ðŸ¤ðŸ¤
Mohon maaf jika karya halunya sangat aneh. Semoga bisa menghibur dalam menemani waktu senggang Kakak semua.
Pov Rey saya pisah di buku selanjutnya. Tapi, tergatung, ya? Masih ada yang mau baca atau enggak. Kalau enggak ada yang baca sy stop sampai sini. 🤧
Pov Rey tentunya lebih seru. Karena Rey lebih banyak beraksi dan lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang. Semua yang masih misteri di sini, akan dikupas tuntas di PoV Rey.
Untuk Alea ini, mau tamat sampai di sini atau mau nambah 1 bab lagi?
Cukup kali, ya?
Kalau tidak ada halangan dan masih banyak peminat, PoV Rey akan rilis Bulan Desember agar bisa nabung bab.
Sekian, terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1
Jangaan lupa kasih jejak cantik terakhir untuk pasangan ini.
Bye-bye 👋👋