
"Sungguh?"
"Heem." Dia bergumam. Keningnya sudah menyatu dengan keningku. Mengapa hanya "heem" saja? Padahal aku ingin dia mengatakan lebih dari itu.
"Katakan sekali lagi! Aku ingin mendengarnya."
"Enggak mau."
"Ayolah, Kak! Aku ingin mendengarnya."
"Heem." Bibirnya menipis, membentuk senyuman. "Aku akan mendapat apa kalau mengatakannya?"
Aku mendengkus, dia kembali bersikap menyebalkan. "Kenapa tidak pernah ikhlas, sih?" Keningku mengkerut, lalu berkata, "Menyingkirlah! Aku mau tidur."
"Hei, jangan tidur! Kita belum selesai." Kak Rey menepuk pelan pipiku.
"Sudahlah, aku sudah tidak berminat."
Dia terkekeh, lalu menciumi wajahku secara beruntun, membuatku kembali tersipu. "Aku mencintaimu, Alea. Apakah kamu mendengarnya?"
"Katakan lagi! Lagi dan lagi. Katakan berulang-ulang," pintaku memohon. Aku merasa tidak puas jika Kak Rey hanya mengatakan sekali. Aku ingin mendengarnya terus dan terus.
Dan saat itu juga Kak Rey menurutiku, menyatakan cintanya berulang-ulang sambil menuntunku untuk kembali melakukan malam panas yang menggairahkan.
"Kak Rey, aku juga mencintaimu."
"Sudah tahu. Sejak awal aku sudah tahu kalau kamu mencintaiku," ucapnya yang sama sekali tidak terkejut dengan pengakuanku.
"Iih, mengapa kamu menyebalkan sekali."
"Karena menyebalkan, jadi kamu selalu merindukanku."
Apa? Mungkin seperti itu. Hubungan yang aneh. Kak Rey jarang sekali bicara manis, malah sering kali membuatku kesal. Namun, sedikit perdebatan kecil antara aku dan dia justru membuatku selalu merindukannya. Ya, aku ingin selalu bersamanya dan menemaninya sampai usia kami menua.
__ADS_1
Bagaimana perasaannya untuk Kak Rena? Entahlah! Aku tidak mau memikirkan itu. Untuk saat ini aku ingin menikmati kebahagiaanku bersamanya.
***
"Ya ampun, Kak Rey, apa yang kamu lakukan padaku?"
Aku memandang pantulan diriku di cermin. Banyak sekali jejak-jejak percintaan yang ditinggalkan Kak Rey di leherku. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?
"Memang kenapa? Bukannya wajar jika suami istri melakukan itu."
Aku menatapnya dengan kesal. Santai sekali dia. Padahal wajahku sudah memerah sejak tadi. Dia terlalu ganas sehingga meninggalkan bekas sebanyak ini di tubuhku.
Ingin memarahinya, tetapi pandanganku teralihkan pada penampilan Kak Rey yang hanya mengenakan kaus biru tua slim fit dengan potongan v neck rendah sehingga terlihatlah bentuk tubuhnya yang proporsional. Hari ini memang dia libur bekerja sehingga lebih memilih mengenakan pakaian santai. Namun, bukan itu yang menjadi perhatianku. Kak Rey dengan tidak tahu malu membiarkan tanda merah di tubuh dan lehernya terlihat tanpa berniat menutupinya.
"Kak, lihat dirimu! Jangan kenakan itu, ganti kemeja saja."
Dia melangkah mendekat ke cermin, memperhatikan apa yang kumaksud. Lalu, gayanya berlagak terkejut.
"Enak aja. Kamu yang menyuruhku. Jangan salahkan aku!" Aku membela diri. Memang itu kenyataannya.
"Hemm, begitu kah?" Alisnya terangkat sebelah, lalu berkata, "Aku hanya memintamu sekali, tapi kamu malah melakukannya berkali-kali. Itu artinya kamu keenakan."
"Kak Rey!"
Ya ampun. Dia selalu bisa membuatku malu. Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku, menghentikan kalimat selanjutnya yang mungkin akan keluar dari bibirnya. Kak Rey selalu begitu. Pandai sekali dia menyudutkanku.
Akhirnya kami turun juga dari kamar. Aku memaksa Kak Rey mengaplikasikan foundation untuk menyamarkan tanda di lehernya. Butuh perjuangan untuk melakukan itu. Kak Rey yang keras kepala harus dibujuk dan dirayu sampai dia benar-benar mau mengalah dan membiarkanku membantu menyamarkan tanda itu. Aku sampai mengancamnya untuk tidak mau lagi melayaninya jika dia tidak menurut. Jangan sampai orang tuanya tahu. Aku semakin malu nantinya.
Kami duduk melingkar dengan aku berada di samping Kak Rey dan tepat di depan Tante Salwa. Seperti biasa, kami para istri mengambilkan makan di piring suami kami. Untuk sejenak, aku merasa memiliki keluarga bahagia. Keluarga yang sempurna. Suami yang baik, anak yang sebentar lagi akan lahir, juga orang tua yang saling menyayangi. Begitu sempurna kehidupanku.
"Alea, kamu jadi mau bantu-bantu bikin kue?" Tante Salwa bertanya setelah menyelesaikan makannya.
"Ehm, iya, Tan. Di rumah tidak ada kegiatan. Ingin sekali belajar bikin kue pada Tante."
__ADS_1
"Kenapa masih panggil Tante? Kamu sudah jadi anak Bunda sekarang."
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Tan, eh, Bun."
Kami tertawa. Kak Rey hanya senyum-senyum kecil yang ditahan. Namun, terlihat berbeda dengan ayah mertuaku. Dia tampak diam saja dengan melanjutkan makan. Aku jadi berpikir, bagaimana Bunda yang kalem bisa menaklukkan orang sedingin itu?
Tepat ketika kami semua menyelesaikan acara makan pagi, sebuah panggilan masuk terdengar pada ponsel Kak Rey. Tanpa berpindah dari tempat duduknya, lelaki itu menjawab panggilan tersebut.
Saat itu juga, sorot matanya menajam. Aku melihat ketegangan di sana. Lantas, dia beralih menatapku. Tak lama, dia mengakhiri panggilan itu.
"Alea, kita harus pergi."
Aku masih bingung dengan perkataan Kak Rey. Lelaki itu buru-buru meminta izin kepada kedua orang tuanya. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menurut kepadanya ketika lelaki itu menggandeng lenganku untuk keluar dari rumah itu.
Dia masih diam membisu ketika kami sudah masuk ke dalam mobil. Aku masih belum berani bertanya apa pun, takut jika mengganggu konsentrasinya dalam menyetir.
Aura ketegangan jelas terlihat di wajahnya, hingga aku merasakan tangan kirinya menangkup tanganku yang kuletakkan di paha. Dia meremas, lalu menyelusupkan jari-jarinya yang besar di sela-sela jariku. Aku menoleh kepadanya, tetapi dia tak berkata apa pun.
Posisi kami masih sama. Kak Rey yang menyetir, sementara aku hanya bergeming di tempat tak berani melakukan apa pun. Aku hanya diam seperti orang bodoh, menunggu dia membuka suara. Aku tahu ada hal genting jika dilihat dari bagaimana ekspresi Kak Rey saat ini sehingga aku lebih memilih menunggu.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan yang hanya ditemani keheningan serta ketegangan dari raut wajah Kak Rey, dan tidak lupa ekspresi kebingungan dariku, akhirnya kami sampai di sebuah rumah sakit Pelita Harapan.
Tapi, tunggu? Rumah sakit? Memang siapa yang sakit? Sampai aku tidak sanggup menahan diri untuk tidak bertanya kepadaya. "Kak Rey, apa yang terjadi? Siapa yang sakit?"
Embusan napas berat terdengar dari bibir lelaki itu, lantas dia menatapku dan mengeratkan jalinan tangan yang sejak tadi belum ia lepaskan dari jemariku.
"Alea, semalam Diana melakukan percobaan bunuh diri."
"Apa?"
Aku sangat syok mendengarnya. Bagaimana itu bisa terjadi?
Kak Rey melanjutkan kalimatnya. "Dia memotong nadinya sendiri dengan pisau. Petugas tidak tahu bagaimana dia bisa menemukan benda tajam seperti itu di kamarnya. Mereka sedang menyelidiki masalah ini. Dan saat ini, dia dalam keadaan kritis." Telapak tangan Kak Rey mengusap kepalaku. "Kamu yang sabar, ya? Aku yakin dia akan selamat. Dia memiliki cinta yang besar untukmu."
__ADS_1