Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 40. Marah


__ADS_3

Suaraku yang lirih ternyata mampu menghentikan pertengkaran mereka. Kedua pasang mata itu menatapku dengan pandangan berbeda. Kak Rena menunjukkan kemarahan yang kentara dari dua bola matanya yang sedang mengarah kepadaku. Aku yakin dia sekarang benar-benar membenciku.


Maafkan aku. Ini semua di luar kendaliku.


Aku hanya bisa memandangnya dengan sendu. Kebersamaan kami sejak kecil hingga dewasa seolah tiada artinya karena tragedi satu malam. Perasaan saling menyayangi antar saudara seakan lenyap saat itu juga setelah mengetahui kebenaran. Aku bisa melihat bagaimana kekecewaan tampak dari sorot mata Kak Rena.


"Kak!" Aku menyapanya, tetapi dia enggan menanggapi.


Dia mengalihkan perhatiannya kepada Kak Rey, menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Jadi itu pilihanmu?" Langkahnya mundur menjauh. "Inikah hubungan yang engkau janjikan kepadaku? Mengapa harus Alea? Jika kamu saat itu menginginkannya, mengapa tidak mencariku saja?"


Kak Rey tak menjawab. Dia hanya bergeming sembari memperhatikan Kak Rena. Sementara Kak Rena bergerak ke arahku, menatapku dengan sorot mata menajam. Aku bisa merasakan kemarahannya meski perempuan itu tak mengatakannya. Aku pikir dia ingin mengucapkan sesuatu kepadaku. Ternyata aku salah.


Pipiku terasa panas ketika telapak tangan Kak Rena mendarat di sana. Aku sempat terkejut tak percaya jika dia tega menamparku. Kak Rey pun sepertinya tak menyangka jika Kak Rena mampu melakukan itu. Dia segera beranjak dari posisinya, menarik tangan Kak Rena agar menjauhiku.


"Rena, apa yang kamu lakukan!" ucap Kak Rey dengan suara meninggi.


"Bentak saja aku! Kamu tega meneriakiku hanya karena dia!" Jari telunjuknya menunjuk ke arahku. "Alea, kamu ternyata lebih picik daripada yang aku bayangkan. Sejak awal kamu mengincar Rey, bukan? Saat Rey tidak sadar, kamu pasti sengaja datang ke kamarnya agar dia menidurimu?"


"Kak!"


Sungguh tuduhan Kak Rena sangat menyakiti hatiku. Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu.


"Rena, kamu sudah keterlaluan. Sebaiknya kamu pulang. Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" Kak Rey menarik tangan Kak Rena, tetapi perempuan itu dengan kasar mengibaskan tangan Kak Rey begitu saja.


"Aku bisa pulang sendiri." Dia membentak. "Rey, dengar, ya! Aku tidak mau mengalah dengannya. Dia hanya perebut suami orang. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku dan mengusir benalu sepertinya."

__ADS_1


Kak Rena berjalan mundur, menatapku dan Kak Rey secara bergantian. "Jangan merasa menang, Alea! Aku tidak akan membiarkanmu merebut suamiku." Dengan deraian air mata terjatuh membasahi pipi, Kak Rena pergi meninggalkanku dan Kak Rey di ruangan itu.


Aku pun terisak, tak menyangka jika semuanya berubah kacau seperti ini. Aku sudah kehilangan keluarga. Bahkan, wanita yang sudah kuanggap saudara kandungku sendiri telah mengikrarkan permusuhan kepadaku.


Aku sendiri. Benar-benar sendiri. Tiada yang menjadi pendukung maupun pelindungku. Sebegitu menyedihkannya kah takdirku.


Mataku masih memadang langit-langit kamar. Pikiranku menerawang jauh, membayangkan betapa sunyinya kehidupanku. Seolah takdir sengaja mengatur bahwa aku memang digariskan menjadi wanita menyedihkan di dunia ini.


"Apakah sakit?" Aku merasakan sebuah tangan mengusap pipiku. Segera kualihkan pandangan, menatap sosok yang tiba-tiba berdiri di sampingku.


"Kak Rey!"


"Ssstttt!" Jari telunjuknya menempel di bibirku. "Ini semua salahku. Jangan berpikir menyalahkan dirimu sendiri."


Aku tidak tahu mengapa, ketika Kak Rey mengatakan itu, tangisku semakin pecah. Sejujurnya aku tidak kuat menahan ini semua. Stereotip semua orang terhadapku cukup membuat mentalku terpuruk. Apalagi perkataan Kak Rena yang menuduhku ingin mengambil suaminya. Itu benar-benar menyakitiku.


Hampir dua puluh menit waktu kugunakan untuk menangis. Kak Rey hanya duduk di sampingku tanpa melakukan apa pun. Dia menungguku tenang karena jiwaku begitu emosional.


Lelaki itu mengambil sapu tangan pada saku celananya, lantas menyeka air mata yang sejak tadi membasahi pipiku.


"Alea, aku ingin kamu menjawab jujur."


Senggukan masih saja terdengar meski aku sudah menahannya. Dengan bibir bergetar aku bertanya, "Apa yang perlu aku jawab?"


Sepasang mata hazel itu menatapku, mengunci arah pandangku hingga aku tak mampu mengalihkan perhatian ke arah lain. "Aku ini siapa bagimu?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu menganggap aku apa?" Pertanyaan itu sederhana, tetapi aku sangat sulit menjawabnya.


Aku bahkan tidak tahu hubungan apa yang kami jalani saat ini. Teman, suami istri, atau hanya sekadar status.


"Apakah aku suamimu?"


Mataku mengerjap sekali, masih bingung dengan arah pembicaraan Kak Rey. Namun, aku akhirnya mengangguk pelan.


"Jika aku suamimu, mengapa kamu tidak mau mendengar perkataanku? Bukankah seorang istri wajib mematuhi perkataan suaminya?"


"Kak Rey, aku ...." Saat itu bibirku kelu untuk menjawab pertanyaan sederhana yang terlontar dari bibir Kak Rey. Aku bingung harus berkata apa.


"Aku menyuruhmu untuk pulang bersama Zoya saat itu, tapi kamu justru membuntutiku dengan Rena. Dan saat kamu kusuruh berhenti di stasiun terdekat, kamu tidak menurutinya. Kenapa, Alea? Mengapa kamu tidak mau mendengarku?"


Mataku yang basah berlinang kembali oleh deraian air mata. Ya, aku memang tidak menurut apa yang Kak Rey katakan. Apakah aku termasuk istri durhaka?


"Aku tidak memaksamu untuk melakukan hubungan suami istri karena aku tahu pernikahan ini hanya aku yang menginginkannya. Aku yang memaksamu menerimanya. Tapi, Alea. Pernikahan tetap pernikahan. Aku ingin kamu mendengar apa yang aku perintahkan."


Kulihat wajah Kak Rey memerah. Selain lebam di berbagai sisi, lelaki itu tampak berantakan dengan mata yang berkaca-kaca. "Alea, aku sangat mencemaskanmu."


Aku menggeleng. "Bohong! Bukankah kamu menghilang tanpa kabar? Ke mana kamu selama ini?" Aku memandangnya dengan bersungut-sungut. Bagaimana bisa dia mengatakan mencemaskanku, tetapi dia sendiri hilang tanpa jejak. "Aku di rumah sendiri, tidak memiliki teman ataupun kerabat, tapi kamu justru tidak pernah muncul lagi setelah itu. Sebaiknya kamu kembali saja. Kejar Kak Rena! Biarkan aku tetap sendiri seperti ini."


Mendengar perkataanku yang panjang dan lebar, dia justru tersenyum. "Kamu merindukanku?"

__ADS_1


"A-apa?" Mengapa pertanyaannya begitu tepat sasaran. Bahkan saat ini mungkin wajahku sudah berubah merah karena malu.


"Jika rindu, kenapa tidak bilang?"


__ADS_2