Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 43. Konseling


__ADS_3

Malam itu, Kak Rey kembali menginap di rumahku setelah menghilang seminggu lamanya. Aku tidak banyak bertanya bagaimana hubungannya dengan Kak Rena sekarang. Aku juga tidak menanyakan terkait apa pun yang sebenarnya sudah membuatku penasaran.


Lelaki itu berdiam diri di kamar, tak seperti biasa yang selalu mengajakku berbincang di balkon kamar. Kulihat ruangannya tidak ditutup seolah sengaja dibiarkan terbuka lebar. Di sana, dia sedang duduk sembari memperhatikan layar komputer yang menyala.


Apa yang sempat dia katakan benar adanya. Dia terlihat sibuk dengan sejumlah pekerjaan yang mungkin telah terbengkalai beberapa hari ini karena mencariku dan menemaniku di rumah sakit. Terkadang aku merasa bersalah. Karena ulahku, banyak pihak yang dirugikan.


Memilih pergi, aku bergegas ke dapur untuk sekadar membuatkannya minuman. Setahuku, Kak Rey menyukai teh daripada kopi sehingga aku menyeduhkan air berwarna keemasan itu untuknya.


Secangkir teh telah selesai kubuat, aku segera menaiki tangga untuk menuju kamar Kak Rey. Kuhela napas sekali sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu berpelitur itu pelan.


Dia menoleh sekilas, lalu berkata, "Masuk!" Kembali wajahnya terfokus pada rentetan tulisan yang tertera pada layar bercahaya kebiruan itu.


"Minum, Kak!"


"Letakkan saja di sana, nanti aku meminumnya."


"Hem," ucapku sambil meletakkan cangkir teh itu di depan komputer yang menyala. Aku menatapnya sekali lagi. Sepertinya dia benar-benar sibuk. Rentetan huruf dan angka yang tertera di layar komputer itu terlihat rumit dan membingungkan, sangat selaras dengan wajah Kak Rey yang terlihat serius serta tegang. Namun, hal itu justru membuatnya semakin tampan dan berwibawa.


Kugelengkan kepala pelan. Mengapa sekarang aku senang sekali memperhatikan wajah lelaki itu? Aku bahkan betah berlama-lama menatapnya tanpa berkedip. Seolah-olah, dia memiliki daya magnet kuat untuk menarik semua perhatianku agar terpusat padanya.


Namun, meski dia sudah mengatakan bahwa pernikahan ini bukanlah permainan, melainkan pernikahan sesungguhnya, tetapi selama dia tidak pernah mengatakan perasaannya kepadaku, aku akan tetap menganggapnya sebagai orang lain.


Aku bisa bertahan dengan menahan perasaanku kepadanya karena sampai detik ini aku tidak ingin terlalu banyak berharap.


Aku bergegas pergi kemudian, meninggalkan Kak Rey yang tenggelam akan pekerjaannya. Aku tidak ingin mengganggu lelaki itu. Bagaimanapun, dia bekerja juga untuk membiayai aku dan anakku.


***


Siang itu, di saat matahari naik di puncak tertinggi, yang mana panasnya begitu terik membakar kulit, aku sedang berteduh di sebuah minimarket terdekat setelah melakukan penarikan tunai. Kak Rey memberiku kartu kredit, tetapi aku kurang suka menggunakannya sehingga lebih memilih menggunakan uang tunai dalam bertransaksi setiap hari.


Ketika aku mengambil sebotol minuman dingin di lemari es, tiba-tiba sebuah suara yang sangat kukenal memanggilku.


"Alea!"

__ADS_1


Pandanganku langsung bergerak melihat sosok yang sudah berdiri di sampingku.


"Keysha."


Wanita yang usianya hampir sama denganku itu tampak mengangguk dan tersenyum.


Sebuah kursi panjang yang terletak di depan minimarket menjadi tempat duduk kami berdua. Keysha, teman satu almamater denganku saat di kampus. Dia terlihat seperti wanita karier yang sukses. Sangat berbeda denganku yang ke mana-mana selalu mengenakan hoodie dan celana olah raga dengan rambut dikuncir kuda, dia justru mengenakan pakaian formal yang tampak rapi dan anggun. Jika dilihat, perbedaan kami bagaikan bumi dan langit.


"Jadi, kamu sudah nikah? Siapa cowok yang beruntung itu?" tanyanya dengan menyeruput teh botol dingin yang berada dalam genggamannya.


"Hem, mungkin lebih tepatnya cowok yang sedang sial. Iya, kan?" Aku terkekeh ringan.


"Ayolah, Alea! Kamu tidak seburuk itu. Kamu cantik, baik, tidak semua orang memiliki kebaikan sepertimu."


Kutundukkan wajah, menatap kosong ke arah bawah di mana ada sekumpulan semut membentuk koloni berjajar rapi demi mengangkat serpihan roti. "Baik itu kebodohan," jawabku.


"Kata siapa?"


"Alea, apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu? Suamimu jahat? Tidak bertanggung jawab?" Pertanyaan Keysha beruntun membuatku segera menggeleng.


"Tidak, suamiku baik. Dia laki-laki bertanggung jawab. Hanya saja, hubungan kami tidak bisa normal seperti pasangan suami istri lainnya."


Jemari lentik itu mengangsurkan kartu nama berwarna merah dengan tinta emas kepadaku. "Apa ini?"


Dia tersenyum sampai-sampai mata mungilnya terlihat semakin sipit. "Aku bekerja di sini. Sebaiknya kamu konsultasikan masalahmu kepada ahlinya. Di sana banyak sekali pasangan suami istri yang memiliki masalah sepertimu. Aku yakin, kamu akan mendapatkan solusi yang tepat untuk itu."


Dia kemudian berdiri setelah meletakkan botol teh yang tersisa sedikit di bagian dasarnya. "Aku tunggu di sana. Aku harap permasalahnmu akan cepat selesai."


Aku tersenyum menanggapi, menatap kartu nama tipis berbahan glossy tersebut, lalu mengucapkan terima kasih kepadanya.


***


Perkataan Keysha ada benarnya. Aku mencoba pergi ke tempat di mana tersedia jasa konseling untuk pasangan suami istri sesuai rekomendasi Keysha.

__ADS_1


Sebuah gedung berlantai tiga dengan dominasi warna putih berdiri menjulang di hadapanku. Sedikit ragu aku melangkah, karena tiba-tiba bingung harus berkata apa nantinya. Namun, karena telah telanjur datang, kubulatkan tekadku untuk masuk ke dalam.


Seusai melakukan registrasi, aku menunggu panggilan dengan duduk di kursi sofa berbahan bludru empuk yang bersandar di tepi tembok. Kualihkan penglihatanku menyapu ruangan itu. Semuanya tampak rapi dan nyaman. Ada rasa optimis ketika melihat tempatnya, membuatku yakin jika psikolog yang menangani adalah orang-orang profesional di bidangnya. Mungkin, aku bisa mencari solusi di sini bagaimana cara menghadapi permasalahanku dengan Kak Rey juga Kak Rena.


Tidak terlalu lama menunggu, akhirnya giliranku tiba juga. Kuembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari sofa untuk melangkah masuk ke dalam ruang konsultasi.


Di sana, seorang wanita berkacamata sedikit tebal dengan rambut disanggul rapi tersenyum ramah kepadaku. Aku menanggapi dengan mengangguk, tak lupa juga membalas senyumannya, lalu duduk tepat di depan meja wanita itu.


Dia menyambutku dengan ramah. Melakukan pendekatan-pendekatan ringan hingga aku terlupa jika wanita yang tengah berbincang kepadaku adalah orang asing.


"Bagaimana komunikasi Anda dengan suami?" tanya wanita itu sembari membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.


Kuremas tanganku, mengalihkan kegugupan yang tiba-tiba melanda. "Hanya komunikasi seperlunya. Tidak terlalu intens."


"Apa ada hal yang membuat hubungan kalian semakin berjarak? Kebohongan, saling tidak percaya, atau mungkin ****^?"


"Apa?"


Dia tersenyum aneh kepadaku. "Berapa kali Anda melakukan hubungan suami istri dengan suami? Dua hari sekali?" tanyanya yang membuat aku mengerutkan kening.


"Tiga hari sekali?" Aku menggeleng.


"Empat?"


"Lima?"


"Seminggu sekali?"


"Sebulan sekali?" Dan lagi-lagi aku menjawab dengan gelengan kepala. Dia menghela napas panjang, lalu berkata, "Coba Anda yang memulainya. Mungkin suami Anda membutuhkan variasi agar lebih bergairah dengan Anda menawarkan diri terlebih dahulu."


Aku masih meringis menanggapi kalimatnya. Lalu, aku dikejutkan dengan sesuatu bergambar vulgar yang disodorkan tepat di depanku. "Menonton ini bisa jadi solusi. Anda bisa memulainya nanti malam. Selamat berusaha!"


Aku meraih benda berbentuk segi empat dengan gambar yang membuatku bergedik ngeri. "Apa-apaan ini? Mengapa dia menyarankanku menonton film seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2