Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 78. Papa Siapa?


__ADS_3

Tanganku tiba-tiba gemetar. Air mata pun tak kuasa kutahan agar tidak menetes. Mengapa dunia sesempit ini?


Sudah lima tahun lamanya aku bersembunyi darinya. Ketika nama itu terdengar lagi, dia justru akan menikah. Dan parahnya akulah yang akan membuatkan kue pernikahan mereka saat ini. Mengapa bisa kebetulan sekali? Mengapa dia harus menikah di negara ini? Apakah tidak ada tempat lain sampai harus dekat denganku?


Namun, aku harus profesional. Demi mencukupi kebutuhan dua buah hatiku, aku harus menerima pesanan ini dan mengantarkannya langsung ke tempat acara. Mungkin sekaligus mengucapkan selamat kepadanya.


Mungkin sudah waktunya aku keluar. Namun, tidak dengan kedua buah hatiku. Biarkan mereka bersamaku. Aku takut Kak Rey malah mengambilnya dan memisahkanku dengan mereka.


***


Seperti rencana awal, aku pergi ke kota dengan menaiki kereta api cepat. Althaf dan Aylin kuajak sekalian karena Mama pasti sangat sibuk menjaga toko. Kedua buah hatiku jarang sekali keluar rumah, apalagi sekadar jalan-jalan selain pergi ke sekolah. Aku terlalu sibuk dengan kegiatanku juga terkait keuangan. Toko kueku belum sepenuhnya berkembang meskipun cukup untuk membiayai seluruh anggota keluarga sehingga aku harus banyak berhemat jika hanya digunakan sebagai keperluan hiburan.


Dan siang ini sepulang Althaf sekolah, aku mengajak mereka pergi ke tempat bermain sekaligus membeli pernak-pernik bahan kue yang dibuat custom.


"Duduk, Sayang!"

__ADS_1


Kedua anakku cukup cerdas. Mereka tidak banyak tingkah. Sangat penurut. Meskipun terkadang rewel, tetapi rewelnya cukup wajar seperti anak kecil pada umumnya.


Smartphone di tangan menyala, menunjukkan rentetan daftar belanja hari ini. Aku menghitung pengeluaran yang ada. Masih cukup untuk mengajak si kecil jalan-jalan. Uang muka yang diberikan customerku ternyata lebih dari cukup. Aku semakin bersemangat untuk menyelesaikan pesanan satu ini. Meskipun sebenarnya hatiku merasa sedikit nyeri.


Kenangan terakhir bersama Kak Rey masih melekat kuat dalam ingatanku. Kami bertengkar hebat saat aku memutuskan untuk berpisah. Dia tetap ingin pernikahan kami berlanjut karena ada Althaf yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, aku menolak. Aku lebih memilih menjaga hatiku agar tidak meneruskan hubungan rumit yang menyakiti banyak orang.


Jika aku memutuskan bertahan, banyak hati yang tersakiti. Lebih baik aku mundur, mengikhlaskan Kak Rey bersatu dengan cinta sejatinya. Dan saat ini, dia pasti sangat bahagia karena akan melangsungkan pernikahan.


Aku menoleh ke samping di mana kursi yang berseberangan denganku berada. Seorang pria bertopi tampak menenggelamkan wajahnya pada sebuah majalah. Aku menperhatikannya sekilas, lalu menggeleng pelan. Entahlah, aku merasa sedang diawasi. Mungkin hanya perasaanku saja. Akan tetapi, aku harus tetap waspada menjaga kedua anakku.


Sebuah pusat perbelanjaan menjadi tempat tujuanku kali ini. Di sana, aku bisa membiarkan Althaf dan Aylin bermain di zona anak, sementara aku mencari bahan kue beserta aksesorinya.


"Mama tinggal dulu. Jangan nakal!" pesanku dengan mengusap kepala Althaf dan Aylin secara bergantian. Ciuman di pipi kanan dan kiri dihadiahkan padaku sebelum aku pergi meninggalkan mereka.


Zona bermain anak di sini memang difungsikan sebagai tempat penitipan anak. Menurut ulasan yang ada, menitipkan anak di sini cukup aman karena bukan hanya aku yang melakukan. Dengan begitu waktu berbelanja lebih efisien.

__ADS_1


Sembari menilik jam di tangan yang hampir menunjukkan sore hari, aku bergegas menyelesaikan pencarian bahan-bahan pembuatan kue yang kubutuhkan. Tema unik yang diminati dan tentunya dipadukan dengan warna khas dari karakter kartun itu membuatku harus banyak membeli bahan-bahan baru.


Hampir tiga puluh menit berlalu tak terasa. Keranjang belanjaku sudah penuh dengan bahan kue dan cemilan kedua anakku. Sembari menunggu antrean kasir, aku menghitung uang yang ada di dalam dompet.


Kulangkahkan kaki menuju ke zona bermain anak setelah semuanya selesai terbayar. Senyum melekat di bibirku. Pasti mereka senang karena camilan kesukaan yang beberapa minggu lalu diinginkan kini mampu kubeli. Sebelumnya aku hanya memberikan mereka pesan agar bersabar jika ada uang, maka aku akan membelikannya.


Ternyata tidak terlalu buruk menerima orderan kue meski dari mantan suami. Paling tidak, aku bisa menyenangkan kedua buah hatiku. Namun, senyum yang sejak tadi bertengger di bibirku pudar seketika setelah melihat mereka tidak ada di tempat.


Jelas rasa marah bergemuruh dalam dadaku. Aku menanyakan keberadaan Althaf dan Aylin pada petugas jaga. Akan tetapi, jawaban yang mereka berikan cukup membuatku meradang.


"Sudah ada yang menjemput bagaimana? Mereka bersamaku! Aku belum ke sini sejak tadi." Napasku tersenggal di kala mengatakannya.


Bagaimana mereka begitu ceroboh dengan membiarkan orang lain membawa kedua anakku. Air mataku jelas tak bisa menahan rasa kecewa dan takut. Bagaimana jika mereka yang masih belia justru diculik oleh mafia penjual organ tubuh manusia. Atau pusat penjualan anak. Tubuhku gemetar membayangkan itu semua. Aku tidak akan bisa hidup tenang jika mereka kenapa-kenapa.


"Mereka memanggilnya dengan sebutan "Papa". Kedua anak Nyonya dijemput papanya."

__ADS_1


Perkataan petugas tersebut membuatku membelalak terkejut. Papa? Siapa lagi laki-laki yang dipanggil Papa oleh mereka?


__ADS_2