
Senja saat itu terlihat cerah merona. Aku duduk di balkon kamar sambil membaca buku tentang kehamilan. Memasuki bulan ke lima, tentu perutku sudah mulai kentara. Terkadang ada gerakan-gerakan kecil yang terasa menendang di sana. Kadang gerakan itu membuatku geli, kadang juga membuat perutku keram. Namun, aku menikmatinya dengan suka cita
Kak Rey mengatakan malam ini tidak akan pulang. Ada hal yang perlu dia bicarakan dengan Kak Rena. Jelas saja aku tidak bisa menghalanginya bertemu Kak Rena. Bagaimanapun Kak Rena masih sah menjadi istrinya.
Setelah kejadian tadi siang, aku baru menyadari banyak hal yang telah Kak Rey sembunyikan dariku. Dia menyimpan segala laranya sendiri. Tak pernah sedikit pun Kak Rey mengadu akan sikap kasar Kak Rena. Dia selalu menutupi tingkah buruk istrinya. Lelaki itu cukup baik dengan tidak mengumbar aib Kak Rena, bahkan kepadaku.
Sebuah pesan baru saja masuk membuat ponselku berdering. Segera kuambil benda pipih itu, lalu mengusapnya menggunakan ibu jari.
"Sudah makan?"
Bibirku tak sanggup menyembunyikan senyum. Kak Rey ternyata cukup manis. Dia masih sempat menanyakan aku sudah makan atau belum. Kami seperti orang yang sedang berpacaran.
"Belum. Belum lapar." Aku membalasnya dengan membubuhi emoji senyum.
Tak lama, ponselku kembali berbunyi. Kak Rey membalas lagi. "Cepat makan! Kalau tidak, aku yang memakanmu."
Aku menggeleng. "Jangan! Makan aku tidak bikin kenyang, tapi bikin ketagihan ðŸ¤." Wajahku merona ketika mengirimkan pesan tersebut. Ngomong-ngomong, aku sekarang lebih berani meladeni candaan Kak Rey yang agak mesum. Padahal sebelumnya aku hanya mencebik ketika lelaki itu mengatakan hal-hal aneh yang membuat telingaku geli.
"Aku suka ketagihan kamu." Aku terkekeh. Kata-kata Kak Rey memang terlalu menjurus, tetapi bukannya itu hal wajar jika dikirimkan kepada istri sendiri? Saling membalas pesan masih saja berlanjut. Belum sempat aku mengetik balasan, Kak Rey mengirim pesan lagi. "Cepat makan, ya! Aku ada meeting."
"Heem, semangat Kak Rey. Love U." Aku ingin mengirim itu, tapi segera kuhapus.
"Heem, semangat, Kak Rey. 😘" Lagi-lagi urung kukirimkan. Aku takut terlihat terlalu menyukainya sehingga segera kuganti emoji itu dengan emoji lain.
"Heem, semangat, Kak Rey 💪." Ah, sepertinya kalimat ini lebih pas. Aku segera mengirimkan pesanku untuk mengakhiri.
Kupeluk ponsel itu, seolah sedang mendapatkan hadiah besar yang membuat hatiku senang. Ternyata, sesederhana itu bahagia. Hanya sedikit diperhatikan oleh suami sudah membuatku gembira.
Berada di rumah seorang diri, tentu membuatku bosan. Malam ini karena Kak Rey tidak pulang, aku memutuskan tidur lebih awal. Kuubah posisiku berkali-kali, tetapi tetap tidak menemukan kenyamanan.
Mataku membuka, mengubah posisi yang sebelumnya miring menjadi duduk. Entah mengapa aku merasa merindukan Kak Rey. Ada-ada saja. Padahal biasanya tidak begini. Kuembuskan napas kasar, sebelum akhirnya membuka selimut yang menutupi tubuhku. Kuturunkan kaki dari ranjang, melangkah keluar untuk mencari suasana yang tenang.
__ADS_1
Kulihat jam di dinding, sudah pukul sebelas malam, tetapi kantuk tak kunjung menyerang. Tanganku seolah tak tahan untuk menghubungi lelaki itu, menyuruhnya pulang agar menemaniku. Namun, tentu aku masih waras. Keputusan untuk menjadi istri kedua mengharuskan aku rela berbagi kasih dengan Kak Rena. Menyakitkan, bukan? Tapi, ini memang adalah takdir yang harus kujalani. Aku harus ikhlas menerimanya.
Langkahku terayun menuju kamar Kak Rey. Perlahan kenop pintu itu aku putar, lalu terbuka. Tanganku meraba di bagian sisi dinding untuk menyalakan lampu penerangan. Namun, hal itu urung aku lakukan.
Aku memilih menyalakan senter pada ponselku, lalu melangkah menuju ranjang. Tubuh kurebahkan di sana. Aroma lelaki itu masih tertinggal. Aku bisa mengendusnya dengan posisi seperti ini.
Tanganku meraih bola salju yang ada di atas nakas, menyalakan lampunya agar berpijar indah. Di sana ada sebuah keluarga kecil bahagia, tersenyum dan saling mengasihi. Apakah nanti aku bisa menciptakan keluarga kecil bahagia seperti ini?
Walaupun aku tidak banyak berharap, tetapi tetap saja dalam hati kecilku menginginkan sebuah keluarga utuh. Anakku tidak akan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya agar tidak sepertiku.
Perlahan aku memejamkan mata, tidur miring dengan memeluk pijaran bola salju yang sengaja kubiarkan tetap menyala.
***
Aku tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Tanganku menutup mulut yang menguap saat mataku tiba-tiba terbuka. Terlalu lama berada di posisi miring ke kiri, aku mengubah posisi menjadi miring ke kanan. Namun, saat aku melakukan itu, ada sesuatu aneh yang tanpa sengaja kupeluk.
Mataku melebar ketika merasakan sebuah tubuh keras dan liat berada dalam dekapanku. Aku menengadah, menatap sosok yang tiba-tiba berbaring satu ranjang denganku. Dia tersenyum saat mata kami saling bertemu pandang.
Kucubit-cubit pipinya, rasanya seperti nyata. Kak Rey ada di sini, bersamaku. Tapi, bagaimana bisa.
Aku masih menunjukkan wajah kebingungan. Kadang tersenyum, kadang juga merenung. Sampai lelaki itu tiba-tiba mengecup singkat bibirku membuat kesadaran langsung naik ke permukaan.
"Kak Rey!" Aku memukul dadanya. Dia usil sekali.
"Kenapa tidur di sini?"
Aku menunduk, bingung menjawab apa. Tidak mungkin kan aku mengatakan bahwa aku merindukannya. Dia makin besar kepala nanti.
"Hanya ingin. Lagian kamarnya kosong. Jadi, aku gunakan saja."
"Yakin?" ucapnya dengan menaikkan sebelah alisnya. Sinar dari bola salju yang menerpa wajahnya remang-remang membuat lelaki itu tampak makin rupawan. Saat ini jantungku benar-benar berdebar cepat ketika mata hazel itu menatapku lekat.
__ADS_1
"Jangan dibahas!" Aku memilih mengalihkan pembicaraan. "Kenapa Kak Rey pulang? Bukankah katanya sedang bersama Kak Rena. Aku tidak mau dianggap menahanmu agar tetap di sini."
Meskipun pada dasarnya aku sangat senang, tetapi tetap saja aku harus menjaga harga diriku agar tidak terlalu euforia akan kedatangannya.
Dia diam beberapa saat, lalu akhirnya menjawab, "Aku baru saja menalak Rena." Dia menatap ke atas, seolah tengah menyembunyikan kesedihan dariku. "Kami bertengkar hebat. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata sakral itu."
"Kak Rey?" Sungguh aku terkejut dengan apa yang lelaki itu katakan. Memang hubungan mereka tidak sehat sejak awal, apalagi saat aku masuk di antara mereka. Pasti suasana keluarga kecil Kak Rey dan Kak Rena makin memanas.
Apakah aku bahagia mendengar perceraian itu?
Harusnya aku bahagia. Tapi, tidak! Aku mungkin tidak lagi membagi Kak Rey dengan Kak Rena. Namun, tetap saja ada rasa bersalah teramat besar yang selalu membebaniku. Sebagai sesama perempuan, aku merasa sangat jahat telah menyakiti Kak Rena, mengambil suaminya.
"Apa kalian bertengkar karena aku?" Aku memandang wajah itu dengan sendu. Ada gurat kesedihan dan kekecewaan yang tersirat jelas pada raut Kak Rey. "Maaf, aku telah merusak hubungan kalian."
Kak Rey menggeleng. "Semua sudah berlalu. Semoga Rena bisa berubah setelah kejadian ini. Sebagai suami aku tidak bisa mendidiknya dengan baik. Aku suami yang gagal."
Aku paham betapa terpukulnya Kak Rey. Aku mengulurkan tangan, mengusap wajahnya. Telapak tanganku tertusuk rambut-rambut kecil yang baru saja dicukur, terasa geli pada permukaannya. "Jangan sedih," ucapku.
Tangan yang terulur itu ditangkap olehnya, lalu dikecup singkat. "Alea, aku mendadak ingin beribadah malam denganmu. Mungkin dengan begitu rasa sedihku akan berkurang."
"Apa?"
Sungguh, wajahku bersemu ketika Kak Rey mengatakan itu. Aku masih mengingat malam panas yang kami lakukan waktu lalu. Dan malam ini, dia menginginkannya lagi?
"Aku ...." Aku tiba-tiba kikuk, bingung mengungkapkan kesetujuanku akan permintaannya. Namun, Kak Rey tiba-tiba menjitak keningku pelan menggunakan jari telunjuknya yang ditekuk.
"Apa yang kamu pikirkan?" Dia tersenyum, mencium pipi kanan dan kiriku. "Aku sedang ingin mengajakmu salat malam."
Astaga! Betapa malunya aku. Aku menunduk, menyembunyikan raut meronaku di dadanya.
Kak Rey, bisakah sesekali mengatakan hal yang langsung pada intinya?
__ADS_1