Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 81. Pesta Pernikahan


__ADS_3

》Bab 80 dobel, ya? Yang pertama itu sudah sy hapus. Yang benar adalah bab 80 yang kedua. Jadi, ada narasi yang kepoting di bab 80 yg pertama. Sudah sy ajukan perbaikan di Q n A agar tidak dobel, tetapi belum ada jawaban. Mohon maaf jika tidak nyaman.


...****************...


Apakah sebenarnya sebuah pernikahan bagiku?


Yaitu, sebuah hubungan yang mana bukan bagaimana bisa aku hidup dengannya, melainkan aku yang tidak akan bisa hidup tanpanya.


Aku merasakan ini. Berupaya tegar setiap hari meskipun hati menahan perih dan sakit. Setiap menatap Althaf, bayangan Kak Rey selalu muncul di kepalaku. Senyumnya, perhatiannya, dan sentuhannya. Aku tidak bisa melupakannya. Mereka begitu mirip dan hal itu justru membuat rasa cintaku semakin besar kepada papanya.


Kini, aku berdiri menghadap cermin, mengenakan gaun putih panjang tertutup dengan kerudung membalut rambutku. Wajahku sudah dirias dalam waktu relatif singkat, tetapi terlihat begitu berbeda. Mereka benar-benar profesinal mengubah wanita berparas alakadarnya sepertiku menjadi seorang ratu dalam waktu sehari.


"Apa sudah selesai ...."


Aku menoleh ke arah suara yang berada di depan pintu. Perkataan yang menggantung itu menampilkan sosok lelaki berpakaian rapi dengan stelan tuxedo putih, begitu selaras dengan apa yang aku kenakan.


Dia berjalan mendekat, melangkahkan kaki mengarah padaku. Rambutnya yang tebal tampak rapi disisir belah samping. Ayunan langkahnya berhenti tepat di depanku.


"Sudah siap?" Suaranya terdengar berbeda. Sedikit serau dan parau. Mata hazel menatapku begitu intens sampai aku tak sanggup beradu pandang dengannya. Memilih menunduk, kemudian aku mengangguk.


"Ya," jawabku.


Jemari besar menyelip di antara jemariku, lantas menggenggamnya. "Kamu cantik."


Saat pujian itu sering kali diucapkan oleh pria lain yang sedang mendekati Althaf dan Aylin, aku merasa biasa saja. Namun, berbeda ketika Kak Rey yang mengucapkan. Mungkin, wajahku saat ini sudah bersemu mendengar pujiannya.


"Kamu juga ... tampan."

__ADS_1


Dia tersenyum. Tangan lekar yang sejak tadi mengapit jemariku kini beralih ke pinggangku.


"Ayo, acara ijab kabul akan dimulai!"


Kak Rey mengajakku keluar dengan meletakkan tangannya di pinggangku. Dia sama sekali tidak mengindahkanku agar menjaga jarak sedikit. Omongaknu dianggap angin lalu.


Kini acara sakral itu dimulai. Meskipun Kak Rey yang akan meikrakkan akad kepadaku, tetapi tak dapat dipungkiri jika aku ... gugup.


Kalimat itu ternyata begitu lantang diucapkan olehnya. Mataku memanas hingga buliran bening hampir lolos di sudut mata. Dengan satu entakan tangan, Kak Rey bisa megucapkan ikrar janji suci yang bisa mengguncangkan Arsy-Nya. Rasa haru jelas menyelimuti. Meski ini bukan pernikahan pertama kami, tetapi ini adalah pernikahan impianku.


Sebelumnya, kami menikah secara sembunyi-sembunyi. Tiada keluarga dan kerabat dekat yang datang menyaksikan. Hanya ada karyawan serta orang-orang yang tidak kami kenal. Namun, apa yang pernah terjadi saat dulu tak lagi sama. Kini perjanjian suci kami dihadiri oleh orang-orang yang kami sayangi.


Saat mulut semua orang mengucapkan kata "sah", Kak Rey tiba-tiba melakukan sujud syukur di depan semua orang. Aku tidak tahu jika lelaki yang kini telah mengikrarkan akad dua kali padaku begitu menginginkan pernikahan ini. Dia berucap syukur berkali-kali setelah kemudian beranjak dari posisinya.


Aku merasakan keningku menghangat kala bibir Kak Rey mendarat di sana. Aku memejamkan mata saat bibir itu menekan sedikit lama di keningku. Kemudian, suaranya serak berbisik padaku. "Alea, terima kasih mau menerimaku kembali."


Mama yang pertama kali kami datangi. Beliau tersenyum memandangku. Kulihat matanya berkaca-kaca sembari sesekali berusaha menyeka yang hampir menetes.


Kami berpelukan. Dalam dekapan tangan tua itu, aku mendengar isak tangis yang tertahan. Pun dengan perasaan yang terasa menggebu. Rasa haru seorang ibu menyaksikan putri satu-satunya telah bersanding dengan pria yang dicintai. Rasa itu menular padaku. Aku turut menangis dalam dekapan Mama.


Cukup menyita waktu di saat rasa syahdu dan haru menyelimuti. Mama sempat membisikkan nasihat padaku, yaitu apa pun yang terjadi agar tetap mempertahankan rumah tanggaku. Jangan sampai anak menjadi korban atas ego masing-masing. Apalagi Mama melihat perjuangan aku dan Kak Rey sampai akhirnya bisa bersatu kembali.


Mama yang selalu menenamiku saat aku sendiri, menjadi penyemangat dalam hidupku di kala sedang dalam keterpurukan. Kini, beliau melepasku dengan ikhlas, menyerahkan aku kepada Kak Rey.


"Rey akan membahagiakan Alea. Mama jangan khawatir." Kak Rey berkata ketika gilirannya menyalami Mama.


Keharuan bertambah tatkala aku berhadapan dengan Bunda Salwa. Beliau memang mertua, tetapi sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Wanita paruh baya tampak menyeka air mata yang mengalir di pipi, lalu memelukku hangat. Tiada untaian kata yang beliau ucapkan padaku. Hanya terdengar isak tangis dari gerak bibirnya.

__ADS_1


Hampir beberapa menit kami saling memeluk, akhirnya sebuah kalimat terdengar di telingaku. "Tetaplah bersama Rey. Rey membutuhkanmu."


Sungguh, pernikahan dengan restu orang tua dan pernikahan tanpa restu terasa sangat berbeda. Rasa haru yang menyelimuti dan kebahagiaan jelas lebih terasa juga bermakna.


Semua anggota keluarga turut mendoakan akan kebahagiaan kami secara bergantian. Kak Rey menggenggam tanganku, mengajakku naik ke atas panggung guna memulai acara pesta pernikahan yang dihadiri oleh kerabat, teman, dan juga rekan bisnisnya.


"Kamu senang?" bisiknya ketika dirinya mengajakku berdansa. Aku mengangguk malu-malu. Kejutan hari ini begitu luar biasa. Aku yang semula berusaha menahan rasa sakit hati ternyata mendapatkan banyak hal yang bahkan tak pernah sekali pun terbayangkan.


Telapak tangan besar itu merapatkanku, menarik pinggangku agar semakin terdesak ke arahnya. Ruangan pesta yang remang-remang dengan semua pasangan ikut berdansa diiringi lagu romantis yang mendayu-dayu, Kak Rey ... menciumku.


...


"Aku tidak membawa pakaian ganti." Aku berkata kesal karena tak sempat menyiapkan apa pun. Kami berada di sebuah hotel dengan masing-masing masih mengenakan pakaian pengantin.


Kak Rey membantuku melepas kerudung yang kupakai sebelum dia membersihkan diri terlebih dulu. "Sepertinya mereka sudah menyiapkannya," ujar Kak Rey sambil menunjuk koper yang tergeletak di samping lemari pakaian. "Aku mandi dulu," imbuhnya.


Aku mengangguk, membiarkan Kak Rey mandi terlebih dulu. Sementara itu, aku membersihkan bekas make up dengan michellar water.


Ini adalah malam pengantinku. Anak-anak telah diurus kakek-neneknya. Mereka membiarkanku dan Kak Rey menikmati malam pengantin kami barang semalam. Sebenarnya aku gugup. Meski sebelumnya kami sering melakukannya, tetapi itu sudah sangat lama.


Tak selang berapa lama, Kak Rey akhirnya sudah keluar dari kamar mandi. Sekarang giliranku membersihkan diri. Harum sabun menguar dari tubuhnya di kala pintu kamar mandi itu terbuka. Langkah kaki menderap ke arahku, lalu berhenti tepat di belakangku. Telapak tangannya terulur di atas kedua bahuku.


Di sana, di depan cermin aku melihat bayangan Kak Rey hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang. Lima tahun berlalu, bentuk tubuhnya tak banyak berubah. Wajahku memerah saat kedapatan memperhatikannya.


"Mandilah, aku bantu melepaskan pakaianmu!"


...****************...

__ADS_1


2 bab yaa ...


__ADS_2