
WARNING!
Siapkan kanebo kering untuk menyeka air mata.
Jangan dibaca! Aku takut akan menyesal!
...****************...
Suasana saat itu mendadak mencekam ketika kulihat sorot mata Kak Rey berubah murka. Tampak tangannya terkepal ketika menatap pemandangan di depan mata. Perasaan takut serta ngeri tiba-tiba menyelinap di hatiku. Apa yang akan Kak Rey lakukan selanjutnya?
Mobil yang kami tumpangi berada persis di depan mobil yang Kak Rena duduki. Lelaki itu menoleh kepadaku, lantas mengatakan sesuatu. "Bawa Zoya pulang!"
Aku mengangguk mengiakan, tetapi tidak langsung menurut akan apa yang Kak Rey katakan. Lelaki itu keluar dari mobil tanpa bicara apa pun lagi. Rasanya aku tak bisa meninggalkannya dalam kondisi emosi seperti ini.
Tubuh tegap itu terus berjalan ke arah Kak Rena tanpa menoleh ke belakang. Dia bergerak tanpa suara, lalu mendorong pria bertopi yang sedang bicara dengan Kak Rena.
Pria itu tersungkur di atas cap mobil dengan Kak Rena menjerit histeris.
"Rey!"
Kak Rena berteriak, tetapi Kak Rey tidak peduli. Lelaki itu terlihat marah dan langsung menghajar pria bertopi. Ketika pria itu terpelanting dengan darah segar merembes di hidungnya, Kak Rey menarik kerah kemejanya.
Topi yang selalu membuat wajah itu tak terlihat, kini terlepas dari kepalanya. Barulah aku tahu siapa sosok yang beberapa waktu lalu kutemui bersama Kak Rena.
"Erlangga!" gumamku lirih.
Mengapa Erlangga masih berhubungan dengan Kak Rena? Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Aku mendadak ketakutan, takut jika Kak Rey akan khilaf dengan menyakiti Kak Rena.
"Rey, lepaskan dia!" Kak Rena memegangi tangan Kak Rey yang ingin menghantam wajah Erlangga. "Apa-apaan kamu, Rey? Jangan seperti orang urakan!"
Tubuh Erlangga diempaskan begitu saja. Wajah lelaki itu lebam dengan darah yang keluar di sudut bibirnya.
"Kamu masih menemuinya? Apa yang kurang dariku sehingga kamu masih bertemu dengannya lagi?!" Kak Rey membentak Kak Rena di depan umum. Wajah Kak Rena begitu pasi dengan air mata berderai di pipinya.
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku dan Angga enggak ada hubungan apa-apa!"
"Lalu, mengapa kamu tidak memberi tahuku jika sudah kembali? Mengapa harus dia yang tahu?"
Kak Rey benar-benar marah. Sorot matanya terlihat mengerikan. Mungkin, dia sangat kecewa dengan apa yang Kak Rena lakukan. Kak Rey pasti telah lama menanti kedatangan Kak Rena, tetapi dia malah bertemu dengan pria lain sebelum menemui suaminya sendiri.
"Pulang!" Kak Rey menarik tangan Kak Rena kasar. Aku melihat Kak Rena kesulitan berjalan dengan hak tingginya karena tarikan lelaki itu teramat kuat.
Tubuhku ikut gemetar, menyaksikan pertengkaran Kak Rey dan Kak Rena. Apa yang akan lelaki itu lakukan terhadap Kak Rena? Sungguh, aku khawatir jika Kak Rey melakukan tindakan yang buruk terhadap kakakku.
Kak Rena didorong masuk ke dalam mobil miliknya, dengan Kak Rey mengambil kursi kemudi. Mereka pergi menggunakan mobil Kak Rena dan meninggalkan Erlangga yang terkapar di parkiran.
"Pak, buruan, kejar mobil Kak Rey!" Aku meminta kepada sopir untuk membuntuti mobil mereka. Perintah Kak Rey untuk segera pulang aku abaikan. Sesungguhnya aku takut jika Kak Rey menyakiti Kak Rena. Bagaimanapun Kak Rena adalah kakakku. Terkadang orang yang sedang emosi akan melakukan tindakan yang di luar kendali.
Mobil yang dikendarai Kak Rey berjalan ugal-ugalan, menyalip sana-sini, tak peduli akan mobil-mobil besar yang sedang melaju gesit di keramaian kota. Aku yakin Kak Rena sangat ketakutan di bawah kendali Kak Rey. Aku bisa membayangkan bagaimana mencekamnya situasi mereka di dalam mobil.
"Buruan, Pak! Jangan sampai kehilangan jejak!" Aku sekali lagi meminta tolong sopir untuk mempercepat laju kendaraan kami. Meski tubuhku ikut gemetar, tetapi aku tidak bisa membiarkan Kak Rey bertindak yang membuat Kak Rena celaka.
Hingga mobil mereka memasuki hunian mewah yang dikelilingi pagar tinggi menjulang. Mobil Kak Rey masuk ke dalam gerbang rumah itu. Apakah ini rumah Kak Rena dan Kak Rey? Entahlah, aku tidak mengerti banyak tentang kehidupan mereka.
Terdengar teriakan Kak Rey bersamaan tangisan Kak Rena di telingaku. Lelaki itu sangat mengerikan ketika marah. Firasatku semakin buruk, takut jika akan terjadi hal buruk terhadap Kak Rena.
"Pak, jangain Zoya! Aku masuk ke sana sebentar," pintaku kepada Pak Sopir.
Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu mengangguk setuju, dan tanpa banyak membuang waktu aku bergegas masuk memeriksa kondisi Kak Rey dan Kak Rena. Mungkin, ini memang bukan urusanku. Namun, aku benar-benar takut ada kejadian buruk setelah pertengkaran mereka.
Buru-buru aku melangkah dengan setengah berlari, menajamkan telinga akan bentakan Kak Rey yang terdengar menggelegar, memekakkan telinga. Setidaknya aku akan berusaha melerai mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Menaiki satu per satu anak tangga, akhirnya aku sampai di sebuah ruangan yang sengaja dibiarkan setengah terbuka. Aku yakin jika itu adalah kamar utama yang ditempati Kak Rey dan Kak Rena. Apalagi jelas terdengar suara mereka yang sedang bertengkar.
"Aku sudah memercayaimu, membiarkanmu mengurus perusahaan sesuai permintaanmu. Lalu, apa yang sudah kamu lakukan di belakangku?!"
Aku mengintip dulu, memastikan semuanya baik-baik saja.
"Rey, aku hanya bertemu dengannya. Bukan berselingkuh. Ada hal penting yang sedang kami bicarakan."
__ADS_1
"Hal penting? Hal penting apa, hah?! Apa yang bisa kau bincangkan padanya tapi tidak bisa kau katakan padaku? Apa?!"
Kulihat Kak Rey menghantam tembok yang ada di samping Kak Rena. Lelaki itu mengungkung tubuh Kak Rena, dan kuyakin tatapannya begitu tajam menghunjam kepada kakakku.
"Dia membantuku menyiapkan kejutan di hari ulang tahunmu."
Sekali lagi aku melihat Kak Rey menghantam dinding itu dengan kepalan tangan, hingga tangan kekar itu bersimbah darah. Kak Rena gemetar dengan memejamkan mata. Pasti dia sangat ketakutan.
"Alasan apa lagi yang kamu buat, Rena! Aku akan menerima apa pun yang kamu berikan tanpa campur tangan lelaki lain!" Tangan Kak Rey mencekal dagu Kak Rena membuat perempuan itu menengadah menatapnya. "Kamu menolakku saat berbulan madu, aku masih bisa terima. Aku masih bersabar agar kau nyaman denganku, dengan pernikahan ini. Karena aku mencintaimu. Aku tulus mencintaimu. Aku menerima semua yang ada pada dirimu meski aku tahu kamu sudah pernah tidur dengan lelaki lain sebelumnya."
Kak Rena terus menangis dalam cekalan tangan kekar itu. "Rey, aku masih trauma saat itu. Kamu pasti mengerti alasanku."
"Tapi tidak dengan sekarang!" Sesaat Kak Rey mengucapkan hal itu, aku melihat dia secara paksa mencium Kak Rena. Kedua tangan mereka saling terpaut dan mencengkeram.
Ciuman itu terlihat begitu kasar, tapi aku mengerti Kak Rey sangat menginginkan itu. Aku baru tahu jika mereka selama ini belum melakukan hubungan suami istri. Aku yakin jika hasrat menggebu seorang laki-laki tidak bisa dibendung terlalu lama.
Mataku memejam dengan tubuh berbalik, bersembunyi di balik dinding. Hatiku rasanya terbakar, begitu sesak hingga kesulitan bernapas. Seharusnya aku tahu jika sebagai pasangan suami istri, melakukan hal itu adalah rutinitas, akan tetapi mengapa begitu menyakitkan ketika melihat dengan mata kepala sendiri?
Bodohnya aku yang mengira Kak Rey akan mencelakai Kak Rena karena terpengaruh emosi. Aku terlupa jika sebagai pasangan suami istri, apabila masalah tak bisa diselesaikan dengan perkataan maka akan dituntaskan di atas ranjang.
Aku terlalu naif pada pemikiranku sendiri hingga tak memikirkan hal lain di luar kendaliku. Air mataku tiba-tiba berderai membasahi pipi. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku. Terdengar teriakan dan des4han dari dalam kamar, cukup membuat hatiku meringis pilu. Kugigit bibir bawahku, meredakan gejolak hati yang rasanya tersayat belati.
Mengapa aku harus menangis? Bukankah ini yang aku inginkan, agar mereka bersatu dan berbahagia? Lantas, mengapa hati ini rasanya tidak rela?
Ya, anggap saja aku adalah orang munafik, menampik perasaan yang ternyata sudah masuk terlalu dalam. Aku kalah. Aku menyerah. Aku benar-benar telah mencintai Kak Rey, suami kakakku sendiri.
...****************...
Sudah, ya!
Boleh marah-marah di kolom komentar. Aku mau kabur dulu.
Bye-bye. ðŸ˜
__ADS_1