
Dua hari pasca tragedi itu, hubungan kami sedikit renggang. Bukan karena Kak Rey berubah sikapnya terhadapku, melainkan dia jarang berada di rumah. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Kak Rey membantu Mama Sonya untuk menjaga Kak Rena.
Aku masih bisa bersabar dan memberinya semangat. Mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan sampailah saat ini terjadi, yaitu ketika Kak Rey hendak pergi bekerja dengan sudah lengkap mengenakan pakaian kerja rapi. Seseorang tiba-tiba mengetuk rumah kami.
Tidak biasanya sepagi ini ada tamu di rumahku. Bahkan, ketika Kak Rey belum berangkat bekerja pun sudah ada yang mengetuk pintu utama. Aku bergegas ke depan memeriksa siapa yang datang. Di sana ada Mama Sonya berdiri dengan wajah panik yang kentara.
Tanpa memedulikanku, Mama Sonya masuk tanpa aku persilakan. Dia menerobos ke dalam mencari Kak Rey, melupakan sopan santun dan adab sebagai seorang tamu.
"Rey, Reynan!"
Kak Rey yang baru saja menyelesaikan sarapannya berdiri ketika Mama Sonya memanggilnya. Kami berempat: Aku, Mama Sonya, Kak Rey, dan Mama Diana, berada di ruang tengah di mana meja makan terdapat di sana.
Untuk pertama kalinya Mama bertemu dengan Mama Sonya. Pandangan mereka saling bertemu, dengan wajah syok terlihat jelas dari mimik muka Mama. Aku takut Mama histeris saat melihat Mama Sonya berdiri di depannya. Namun, itu semua tidak terjadi.
Mama tidak histeris, melainkan meneteskan air mata.
"Nyonya Hinata?" Mama berkata lirih, memanggil Mama Sonya yang berdiri dengan raut terkejut.
"Diana. Kau tinggal di sini?" Mama Sonya sempat terkejut saat melihat Mama. Beliau menatapku yang ada di sampingnya. "Kamu sudah menemukan orang tuamu?" Lalu, senyumnya mengembang. "Bagus. Kamu kebahagiaanmu sangat lengkap, kan? Tidak seperti Rena. Dia ... kritis." Mama Sonya menangis setelah mengatakan itu. Aku pun syok dengan informasi yang beliau ungkapkan. Tatapannya itu kemudian beralih pada Kak Rey. "Reynan, Rena mencarimu. Aku takut Rena kenapa-kenapa." Kedua telapak tangannya menangkup wajah, tampak menahan isak tangis yang menggebu di dada.
***
Kami berlima: Mama, Kak Rey, Mama Sonya, dan aku yang sedang menggendong Althaf segera pergi ke rumah sakit. Suasana cukup panik dengan kami semua mempercepat langkah.
Mama Sonya mengatakan sejak tadi menghubungi Kak Rey, tetapi tidak diangkat sehingga ia memutuskan untuk datang ke rumah langsung. Dan saat ini kami dihadapkan dengan seorang dokter yang sedang memeriksa Kak Rena.
Mama Sonya menangis. Isakannya jelas terdengar menyayat hati. Bagaimana bisa di usia tuanya justru melihat putri semata wayangnya meregang nyawa seperti ini. Ibu mana yang tidak terluka, kuat menerima cobaan seperti apa yang sedang beliau alami.
"Renaa ...." Suara Mama Sonya terdengar bergetar, meratapi anaknya yang terbaring tak berdaya di atas brankar. "Rey, kumohon bantu Rena. Dia sejak semalam mencarimu."
Kak Rey yang sejak tadi berdiri di sampingku tampak ragu. Mungkin dia masih memikirkan perasaanku. Namun, sekuat tenaga kuikhlaskan semuanya, meminta Kak Rey untuk menjaga Kak Rena.
Lalu, dia melangkah masuk perlahan dan berhenti tepat di samping ranjang. Diseretnya kursi itu untuk didekatkan tepat di sisi kiri brankar, kemudian diduduki.
__ADS_1
Kulihat tangan Kak Rey menyentuh tangan Kak Rena, lalu menangkupnya. Dia kembali mengajak Kak Rena bicara, membisikkan sesuatu yang aku sendiri tidak bisa mendengarnya.
Meski Kak Rey tak pernah mau mengakui, aku bisa melihat sebuah ketulusan di sana. Dadaku rasanya seperti dicabik-cabik sembilu, menggoreskan sebuah luka yang mulai menganga di ujung sanubari.
Hingga kemudian aku dikejutkan dengan permintaan Mama Sonya yang tiba-tiba memanggilku.
"Alea!"
Aku sempat mengerjapkan mata ketika berbalik menghadapnya.
Mama Sonya berlutut di hadapanku.
"Alea, aku tahu ini salah. Aku tahu ini berat untukmu. Tapi, sejak kecil Rena kehilangan kasih sayang ayahnya. Dia tidak sepertimu yang selalu mendapat prioritas dari suamiku. Meskipun aku tidak bisa berbuat adil padamu, tapi selama ini aku telah menjagamu dengan baik." Beliau menunduk, meneteskan air mata dan jatuh di pipi. "Kau tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai wanita harus mengurus anak hasil perselingkuhan suamiku. Bagaimana rasa sakit setiap melihat wajahmu yang sangat mirip dengan ibumu."
Kemudian, Mama Sonya tiba-tiba menjatuhkan dirinya, telungkup hampir bersujud. Tapi, sikapnya itu buru-buru dicegah oleh Mama Diana.
"Nyonya, jangan begini!"
Aku berusaha mundur agar kepala beliau tak menyentuh kakiku. Tanganku kugunakan menggendong Althaf, tidak bisa meraih tubuh Mama Sonya.
"Kamu boleh membenciku atas semua perlakuan buruk yang sempat aku lakukan padamu. Jika kamu menginginkan harta peninggalan Hinata, aku memberikan padamu semuanya. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Tapi, kumohon kembalikan Reynan untuk Rena. Kembalikan kebahagiaan putriku."
Permintaannya itu cukup membuat hatiku kalut.
Kembalikan!
Sebuah kata yang menunjukkan bahwa aku bukanlah pemiliknya. Aku hanya meminjam dan pernah mengambil itu dari seseorang. Ya, sampai saat ini aku tidak pernah memiliki, baik itu jiwa dan hati Kak Rey.
***
Malam itu adalah malam di mana semuanya serasa di ujung tanduk. Aku sudah memikirkan banyak hal terkait apa yang akhir-akhir ini terjadi.
Mungkin benar adanya jika terkadang ada perasaan yang tidak ingin dijaga tapi tak bisa mati. Namun, ada juga kisah yang sesungguhnya ingin diakhiri tapi justru menjadi kisah abadi.
__ADS_1
Akan tetapi, untuk saat ini bukan kisahku dan Kak Rey yang akan abadi, melainkan kisah cinta Kak Rena dengan suamiku.
Perasaan memang tidak bisa dipaksakan apa pun itu alasannya. Jika memang keadaan mengharuskan untuk berpisah, apakah aku harus berusaha mempertahankannya?
Sampai kapan rasa bersalah menjadi perebut suami orang, perebut kebahagiaan orang lain selalu menghantuiku. Meskipun pada dasarnya aku tidak menginginkan itu, tetapi pada kenyataannya akulah sosok tak memiliki hati yang telah tega merusak kebahagiaan orang-orang terdekatku.
"Alea, belum tidur?"
Kak Rey sudah pulang sekitar pukul sebelas malam. Dia bukan pulang dari bekerja, melainkan dari rumah sakit. Seharian ini dia menghabiskan waktu untuk menjaga Kak Rena yang belum sadar dari koma. Dia terus-menerus berada di sisi kakakku. Apakah aku salah jika merasa cemburu akan perhatian Kak Rey yang kuanggap berlebihan?
Meskipun itu atas izinku Kak Rey melakukannya, dan tentu saja karena permintaan dari Mama Sonya yang takut kondisi Kak Rena memburuk sehingga Kak Rey bersedia meluangkan waktunya demi menjaga kakakku.
Dia mengecup keningku setelah aku menyalami tangannya.
"Ganti baju dulu, aku siapkan minum," ucapku.
Kak Rey mengangguk patuh. Sementara itu, aku bergegas ke dapur membuatkannya minuman hangat. Tidak membutuhkan waktu lama sampai aku kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh untuk Kak Rey dengan lelaki itu sudah berganti dengan jubah tidurnya.
Aku menemaninya ketika dia membawa teh hangat itu ke balkon kamar. Rasa dingin udara malam menembus kulit, tetapi hal itu sama sekali tak kuhiraukan. Saat ini ada hal penting yang akan aku bicarakan pada Kak Rey. Suatu hal yang telah lama aku pendam.
"Kak Rey!"
Dia menatapku setelah menyesap sedikit teh pada ujung bibir cangkir. "Heem, kamu pasti lelah seharian menjaga Althaf. Tidurlah dulu, setelah ini aku akan menyusul."
Aku menggeleng cepat. Sepertinya tak perlu berbasa-basi lagi. Sejenak aku hela napas dalam sebelum akhirnya mengatakan, "Kak, aku ingin kita berpisah."
...****************...
Terima kasih untuk yg sudah meramaikan kolom komentar. Maaf kalau pas up banyak typo bertebaran. Semoga masih bisa dibaca. Bab selanjutnya semoga bisa lolos cepat.
Sambil menunggu bisa baca novel keren lain, Karya Author Anin. Dijamin bikin baper seharian.
__ADS_1