Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 29. Om yang Sombong


__ADS_3

Zoya gadis kecil yang cerdas. Ketika aku menceritakan tentang kisah Nabi Musa, dia tak segan bertanya. Dia menyimak dengan baik apa saja yang aku katakan, bahkan hal detail yang luput aku ungkapkan, segera ia tanyakan dengan lugas.


"Tante, bukannya Raja Firaun adalah papa Nabi Musa. Mengapa bisa jahat dengan anak sendiri? Papa Zoya enggak pernah marahin Zoya. Kalau Zoya enggak mau makan, Papa ngajak Zoya main sambil bujuk Zoya. Bukannya semua Papa itu baik?"


Aku mendengar celotehan gadis kecil itu sembari tersenyum. Ya, Papa memang baik, bahkan laki-laki terbaik yang aku kenal meski dia bukan papa kandungku. Kuusap kepalanya yang direbahkan di pangkuanku.


"Semua papa baik. Hanya saja di hati Raja Firaun tidak ada iman. Beliau sangat sombong ingin diakui sebagai Tuhan karena saat itu tidak ada yang bisa menaklukkan dan mengalahkannya. Sampai suatu saat Nabi Musa mendapatkan mu'zizat dari Allah untuk menyadarkan papanya agar bertaubat."


"Lalu? Apakah Nabi Musa selamat dari ular-ular itu?" tanyanya lagi dengan mengedip-ngedipkan kelopak mata.


"Ya, kalau Allah sudah berkehendak, kekuatan dan kekuasaan sebesar apa pun yang ada di dunia pasti akan kalah karena tidak akan ada satu hal pun yang bisa menghalangi pertolongan Allah. Nabi Musa melemparkan tongkat kayunya, lalu atas izin Allah seketika tongkat kayu yang tampak biasa itu berubah menjadi ular raksasa. Ular nabi Musa kemudian memakan ular-ular kecil buatan penyihir jahat dan menanglah Nabi Musa dengan mudah."


"Waah, hebat!" Gadis kecil itu bertepuk tangan. "Zoya mau dibelikan tongkat Nabi Musa sama Papa. Zoya mau mengalahkan penyihir jahat."


Aku menahan rasa ingin tertawa, menatap mata bulat itu dengan lembut. Kalau selepas pulang dari rumah ini Zoya minta dibelikan tongkat Nabi Musa, itu bukan salahku, kan? Biarlah, itu menjadi urusan papanya.

__ADS_1


"Sekarang Tante tanya, apa yang bisa dipetik dari kisah Nabi Musa dan Raja Firaun?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatian.


Zoya terlihat mengerutkan kening. Gadis kecil itu sangat imut ketika serius. Pipinya putih kemerahan dengan lesung pipit di bagian kiri. Aku yakin, jika dewasa Zoya pasti menjadi incaran para lelaki.


"Kita tidak boleh mainan ular," jawabnya dengan bersemangat.


Aku terkekeh. Jawaban anak kecil memang sangat polos. "Ada lagi?"


"Ehmm, menjadi papa enggak boleh sombong. Iya, kan, Tante?"


"Heem, benar sekali." Aku tersenyum, mengusap kepala gadis kecil itu. Dia terlihat senang karena menganggap jawabannya benar. "Bukan hanya Papa yang enggak boleh sombong. Zoya, Tante, Om Rey, semua orang yang ada di dunia ini tidak boleh sombong karena semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Jadi, kewajiban kita adalah bersyukur. Mengerti?"


"Hah?" Saat itu, ingin sekali aku tertawa. Bahkan, anak kecil pun tahu kesombongan Kak Rey yang tiada duanya. "Om Rey sombong?" tanyaku kemudian. Tentu saja. Dia manusia sombong yang pernah aku kenal.


"Iya, Om Rey selalu ngatain Zoya anak kecil. Mentang-mentang Om Rey sudah tua, jadi suka ngejek Zoya."

__ADS_1


"Ehh, siapa yang tua?" Kak Rey tiba-tiba masuk ke kamarku, lalu ikut duduk di ranjang bersama kami. Apakah sejak tadi dia mengintip di sana?


Zoya pun bangkit dari pangkuan, lalu menjukurkan lidah ke arah Kak Rey. "Om yang tua."


Lelaki itu merangkul tubuh kecil Zoya, menggelitikinya. "Hey, Om tidak tua."


Zoya tertawa sambil minta tolong kepadaku. Setelah terlepas dari Kak Rey, dia bersembunyi di belakang punggungku, sementara Kak Rey berada di depanku. Kak Rey tetap meraihnya, tetapi Zoya enggan menurut. Hingga ketika gadis kecil itu tiba-tiba menjauh dan berlari, Kak Rey yang mencoba menggapai tubuh mungil di belakangku tersungkur ke depan menimpaku.


Tubuh kami terjerembab di ranjang dengan Kak Rey berada di atasku. Aku terkejut, pun terlihat sama dengannya. Sejenak mata kami saling beradu pandang dengan tanganku menahan dadanya. Aku melihat mata hazel itu tampak berkabut, pandangannya berubah saat itu, menatapku dengan tatapan yang berbeda. Jantungku tiba-tiba berdetak tak berirama merasakan sesuatu yang aku sendiri tak bisa menerjemahkan.


"Kak Rey!" Aku memanggilnya lirih yang sesungguhnya sejak tadi sulit untuk mengucapkan sepatah kata.


Dia berdehem kemudian, lalu berkata, "Maaf. Aku tidak sengaja." Dia menegakkan badannya, menjauh dariku. Pun sama denganku yang segera duduk kembali seperti posisi semula. "Aku ... cari Zoya dulu. Dia tidak boleh tidur malam-malam," ucapnya lagi dengan canggung.


"Heem." Aku mengangguk. Kak Rey bangkit dati posisinya untuk mencari Zoya yang tadi sempat kabur dari kamarku.

__ADS_1


Kutundukkan wajah. Mungkin, saat ini wajahku sudah bersemu merah. Meskipun ada rasa malu menjalar pada diriku, tetapi insiden yang baru saja terjadi cukup membuat jantungku berdebar dan hati yang berbunga-bunga.


Salahkah aku? Aku masih berharap Tuhan mau menjaga hatiku.


__ADS_2