Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 31. Arti Genggaman Tangan


__ADS_3

"Zoya di mana?"


Kak Rey menarik kursi untuk bersiap makan pagi. Berhubung hari ini hari Minggu, dia masih mengenakan pakaian santai.


"Ehm, aku panggilkan."


Aku beranjak segera untuk memanggil Zoya yang tadi pagi bermain di halaman belakang. Baru saja dua langkah menjauh, Kak Rey memanggilku.


"Alea!"


Aku menoleh, mengedikkan dagu sebagai isyarat yang menjelaskan "ada apa?".


"Aku ingin mengajak Zoya ke kebun binatang. Apa kamu mau ikut?"


Beberapa hari berdiam diri di rumah cukup membuatku bosan. Sepertinya ikut bersama Kak Rey adalah pilihan yang menyenangkan.


"Ehm, okey. Aku ikut!" jawabku sembari tersenyum kepadanya.


***


Kebun Biatang baru buka pukul sembilan pagi. Kami berkeliling dulu untuk mengulur waktu. Zoya masih menagihku untuk menceritakan kisah nabi-nabi lain sehingga di dalam mobil pun dia ingin mendengar cerita.


Kami berdua duduk di kabin penumpang. Sementara Kak Rey berada di depan samping kursi kemudi dengan sopir yang mengendarai mobilnya. Untuk sementara, kami lebih terlihat seperti keluarga kecil bahagia.


Tanpa sengaja kulihat kaca spion tengah, mendapati Kak Rey yang ternyata menatap di arah yang sama. Lelaki itu sepertinya mengawasi kami berdua. Aku menunduk, mengalihkan pandanganku dari tatapannya yang bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat.


Cukup lama kami berkeliling, akhirnya sampai di kebun binatang tepat pukul sembilan pagi. Karena hari Minggu, meskipun masih pagi sudah banyak pengunjung yang mengantre tiket.


"Tunggu di sini. Aku belikan tiketnya dulu."


Kak Rey berlari kecil menuju tempat pembelian tiket, sementara aku dan Zoya duduk-duduk di bawah pohon angsana yang berdaun lebat.


Zoya adalah gadis kecil periang. Aku mulai terbiasa dengan segala pertanyaannya yang seolah terus-menerus muncul tiada henti. Gadis kecil itu selalu mengangguk setelah merasa puas akan jawaban yang aku berikan.


"Tante, Om Rey itu ganteng, ya?"

__ADS_1


Namun, kali ini pertanyaannya membuatku sulit menjawab. "Zoya mengapa tanya seperti itu?"


"Habisnya Tante sejak tadi lihatin Om Rey terus."


"Hah?" Memangnya aku terlihat menatap Kak Rey kah sejak tadi. Aku merasa seperti pencuri yang tertangkap basah oleh polisi kecil. Padahal aku tidak merasa seperti itu. Aku hanya melihat sesekali ke arah Kak Rey, tidak seintens seperti yang Zoya katakan. Kurasa Zoya sudah berlebihan.


"Om Rey ganteng ya, Tan? Mama juga sering lihatin Papa. Kata Mama, Papa itu ganteng."


Aku cukup menelan ludah sembari meringis mendengar pernyataan Zoya. "Apa harus Tante jawab?"


Dengan mantap Zoya mengangguk. Gadis kecil berambut panjang itu pasti akan terus-menerus bertanya hal yang sama saat tidak mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan keingintahuannya.


"Yaaa, ganteng. Om Rey kan cowok. Kalau Zoya cewek, jadi cantik."


Dia terkekeh kecil, menutup mulut dengan telapak tanganya yang mungil. Pipinya terlihat kemerahan ketika sinar mentari menerpanya secara langsung.


"Ayo, masuk! Tiketnya sudah dapat." Kak Rey tiba-tiba datang dengan menunjukkan tiga lembar tiket kepada kami. Aku dan Zoya segera berdiri untuk mergabung dengannya.


Pemandangan cukup asri. Banyak pohon-pohon berdaun lebat yang menaungi tempat ini. Kami tidak merasakan sengatan panas matahari secara berlebih meskipun cuaca cukup terik. Zoya berlari-larian sembari melihat berbagai macam hewan yang berada pada kandang. Dia tidak merasa takut, bahkan ingin ikut memberi makan seperti anak-anak yang lain.


Zoya berlari untuk menangkap kelinci-kelinci itu, tetapi kumpulan kelinci itu justru kabur ketika Zoya menghampiri mereka. Jelas saja jika hewan-hewan kecil itu menghindar karena Zoya berlari kencang sehingga membuat mereka ketakutan.


Tampak raut sedih di wajah Zoya. Aku menghampirinya, mengusap kepalanya lembut. "Jangan sedih! Sini, Tante bantu nangkep satu!"


Wajah cemberut berubah riang. Sebegitu mudahnya menghibur anak kecil. Masalah mereka hanya sekadar kesulitan menangkap kelinci, tidak seperti orang dewasa yang memikirkan banyak sekali problematika kehidupan dan membuat kepala berdenyut pening.


"Zoya, lihat ini!" Kak Rey membawa seekor kelinci bertubuh montok, berjalan menghampiri kami.


Zoya melompat-lompat kegirangan, lalu mengulurkan wortel yang ada di kantung plastik untuk diberikan kepada kelinci gendut tersebut. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia ketika hewan lucu itu mengunyah wortel pemberiannya dengan lahap.


Setelah puas makan, kelinci itu tiba-tiba melompat ke arahku. Sontak aku terkejut dan menjerit karena kaki hewan gembul itu mengenai wajahku.


"Kamu tidak apa-apa?" Terdengar Kak Rey bertanya kepadaku. Mataku tak sanggup membuka, sepertinya kemasukan debu dari kaki kelinci itu.


Berusaha mengeluarkan benda asing yang masuk ke mata, aku kucek mataku dengan jari telunjuk. Belum sempat jariku mengenai mata, tetapi tangan kekar Kak Rey menahannya.

__ADS_1


"Jangan dikucek!"


"Tapi, perih, Kak!"


Kurasakan tangannya menyentuh wajahku, sementara jarinya membuka mataku lebar. Aku merasakan tiupan angin segar mengenai kornea mata. Kak Rey meniup mataku berulang kali dengan aku berusaha mengerjapkan kelopak mata agar kotoran itu segera keluar dari sana.


Air mataku keluar setelahnya, tetapi Kak Rey masih meniupkan udara segar ke mataku. Sampai semuanya terasa nyaman, aku tidak merasakan perih lagi. Barulah aku sadar jika posisi wajah kami sangatlah dekat. Aku menjadi gugup, menyentuh tangan kekar yang sejak tadi memegang wajahku.


"Su-dah, terima kasih," ucapku kepadanya.


Tangan itu terlepas dariku. Dia mengangguk mengerti, lalu mengalihkan perhatian ke arah Zoya.


"Makan, yuk!" ajaknya yang diikuti anggukan oleh gadis kecil itu.


Mereka berdua berjalan lebih dulu, sementara aku mengekor di belakangnya.


Tubuh tegap itu yang sebelumnya kukira sangat dingin dan angkuh ternyata memiliki jiwa penyayang. Tangan kekarnya menggandeng tangan mungil Zoya dengan gadis kecil itu melompat-lompat sambil bersenandung riang.


Andai saja Kak Rey bukanlah suami Kak Rena, mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia karena bisa memilikinya. Andai yang dicintai Kak Rey adalah aku, mungkin kisah ini berakhir berbeda. Namun, semuanya ini telah digariskan Tuhan yang sudah menjadi takdirku. Aku hanya bisa mengagumi sosok yang menjadi suamiku tanpa bisa memiliki.


Takdir mungkin tidak akan menyatukan kami karena sejak awal hubungan ini adalah sebuah kesalahan. Mungkin, aku harus puas dengan berada di belakangnya, mengaguminya tanpa banyak berharap. Membiarkan sosok itu bahagia dengan pasangan sesungguhnya. Tentu, karena pada dasarnya aku hanyalah orang ketiga yang tak diharapkan.


Mataku masih menangkap pemandangan dua orang berbeda usia itu dari belakang, sampai Zoya menoleh kepadaku.


"Tante Alea, kenapa di sana? Ayo, pegangin tangan Zoya! Kita saling bergandengan tangan."


Gadis kecil itu meraih tanganku, mengajakku bergabung dengan kelompoknya. Kami bertiga dengan saling bergandengan tangan pergi menuju rumah makan yang berada di area kebun binatang.


Untuk sejenak aku berpikir. Baru saja aku mengatakan bahwa aku hanya bisa berdiri di belakangnya, tetapi detik itu juga sosok kecil itu membuatku bisa berdiri di sampingnya.


Apakah suatu saat aku bisa merasakan genggaman tangan kekar itu yang mana rasa terlindungi akan hadir di kala kedua telapak tangan kami saling menyatu?


...****************...


Bab selanjutnya, siapkan batin yang lapang karena mungkin kalian akan berpikir melakukan ini kepadaku. 😭

__ADS_1



__ADS_2