Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 38. Kabur


__ADS_3

Matanya menatapku tajam. Aku berusaha memundurkan langkah.


Apa yang lelaki itu inginkan?


"Siapa kamu sebenarnya?"


Aku menggeleng, mulutku masih dibekap olehnya.


"Kamu anak majikan Mbok Narti, bukan?" Dia seolah sedang menginterogasiku, tak membiarkanku lepas sedikit pun. "Kamu pasti mengenal Diana, foto wanita yang ada di sana. Katakan! Di mana dia sekarang?"


Lagi-lagi aku menggeleng. Aku tidak tahu apa-apa. Siapa sebenarnya Pak Raka ini? Mengapa dia sangat menakutkan.


"Jangan banyak alasan! Kalian orang kota selalu membuat masalah."


Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Rasanya sangat panas, menjalar ke permukaan wajah. Aku mengusapnya, meredakan nyeri dan kebas di pipi.


"Mbok Narti sudah mengabdi dengan kalian selama hidupnya, tapi kalian malah membuangnya setelah dia sudah renta. Setiap hari dia menangis karena di masa tuanya tiada yang mau mengurusnya. Wanita yang di foto itu sudah dia anggap sebagai anak sendiri, tetapi apa yang sudah kalian lakukan kepadanya! Apa?"


Aku tak mampu menjawab semua pertanyaan Pak Raka. Ini semua di luar kendaliku. Memang keluarga Hinata bersalah karena mengirim Mbok Narti pulang di saat wanita tua itu sudah renta, tetapi itu semua juga bukan atas kuasaku.


Mataku membulat di saat pria itu mengeluarkan sesuatu yang tampak berkilat tajam dari balik pakaiannya.


Pisau. Apa yang dia ingin lakukan dengan pisau itu?

__ADS_1


"Aku berniat menyunting Diana saat itu, tetapi ketika Mbok Narti pulang kampung, dia justru mengatakan Diana menghilang. Mbok Narti berjanji akan mencarinya dengan kembali bekerja di kota. Tapi, sampai usianya sudah renta, Diana tidak juga ditemukan."


Pria itu mendekat ke arahku, menggenggam pisau yang tampak tajam itu dengan erat.


"Jika kalian bisa menghancurkan hidup Diana. Aku juga bisa menghancurkan hidupmu."


Saat itu juga, pisau tersebut mengayun ke arahku. Namun, aku berusaha menghindar dengan merangkak ke samping. Tubuhku gemetar melihat pria yang semalam terlihat baik, tetapi kini justru lebih mirip dengan moster.


Dia kembali menyerangku, tetapi aku masih bisa bertahan. Kudorong kursi kayu yang ada di sampingku, sebagai pembatas antara aku dengannya. Dia memutar, aku pun sama demi menghindarinya.


Tangan itu berusaha melukaiku dengan mengayunkan pisau ke arahku lagi. Hampir saja kepalaku menjadi korban, andai aku tidak gesit berpindah tempat. Aku ingin berteriak, tetapi siang-siang begini lingkungan perkampungan sepi sekali sehingga tiada cara lain selain menghadapinya sendiri.


Aku melempar barang-barang yang ada di sekitarku, termasuk tikar yang semalam aku gunakan untuk tidur. Namun, apa yang aku lakukan tidak banyak berimbas. Aku kebingungan mencari barang-barang lain.


Segera aku pergi dari sana, membuka engsel pintu yang terletak di atas sambil berjinjit. Peluh membasahi dahi bersamaan kaki yang gemetar karena teramat panik, takut jika Pak Raka tiba-tiba mengejarku. Setelah bersusah payah, pintu akhirnya terbuka dengan aku segera keluar dari rumah itu.


Aku berlari sekuat tenaga dengan sesekali menoleh ke belakang, takut jika pria yang ternyata memiliki jiwa psikopat itu mengejarku.


Sungguh, aku tidak menyangka jika di mana-mana banyak sekali orang jahat. Bahkan, orang yang terlihat baik pun ternyata memiliki niatan buruk terhadapku.


Aku terus berlari, menapaki jalan setapak yang masih terlihat seperti semak. Menoleh ke depan atau ke belakang, berharap ada seseorang yang mau memberi tumpangan kepadaku. Aku merasa tidak kuat berlari seperti ini, apalagi kandunganku masih sangat rentan.


Syukurlah, usahaku tidak sia-sia karena tinggal beberapa langkah lagi jalan raya sudah menanti. Setidaknya di sana ada angkutan umum yang bisa kutumpangi.

__ADS_1


Sampai di saat kakiku sudah berada di tepi jalan, perutku terasa begitu sakit. Aku mengusapnya lembut, takut jika terjadi sesuatu dengan janinku.


Jalan raya itu sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Aku sudah tidak tahan. Rasanya sangat sakit. Tanganku melambai-lambai, berharap ada kendaraan yang mau membantu membawaku ke rumah sakit karena sejak tadi tiada angkutan umum yang lewat.


Mataku mulai berkunang-kunang ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Aku ambruk, tak sanggup menahan berat tubuhku dan berakhir tak sadarkan diri.


***


Keningku mengernyit di saat merasakan pening di kepala. Mataku mengerjap sesaat, ketika merasakan pendaran lampu menyakiti kornea mata.


Bau rumah sakit.


Aku merasakan bau karbol bercampur desinfektan menusuk rongga penciumanku. Setelah kesadaran merasuk pada diriku, dengan mata mulai terbuka, aku langsung dihadapkan pada sosok wanita paruh baya yang sangat aku kenal.


Wanita anggun dengan wajah teduh tampak cemas menatapku. Di sampingnya telah berdiri dengan tegap sosok laki-laki yang merupakan suaminya.


"Tante Salwa." Aku berkata lirih, tak menyangka jika bisa bertemu dengan ibu Kak Rey dalam kondisi seperti ini. Bukankah sebelumnya mereka sedang pergi ke Ausie?


"Alea, apa yang terjadi?" tanya Tante Salwa kepadaku.


Aku belum sempat berpikir dan menjawab pertanyaannya, tetapi suami dari Tante Salwa tiba-tiba ikut menimpali. "Kamu belum menikah, lalu siapa yang menghamilimu?"


Saat itu juga aku kesulitan menelan ludah. Bagaimana mereka tahu kalau aku sedang hamil? Apakah dokter yang merawatku telah memberi tahu kondisiku kepada kedua orang tua Kak Rey?

__ADS_1


__ADS_2