
Sebelum Kak Rey menjawab perkataan Mama, sebuah suara terdengar mengalihkan perhatian kami bertiga.
Kak Rena siuman. Dia memanggil nama Kak Rey saat pertama kali membuka mata.
"Rey, mengapa aku diikat?" Dia mengentak-ngentakkan tubuh serta kakinya, berontak setelah menyadari kedua kaki dan tangannya terikat. "Rey, tolong aku! Mereka semua kejam."
Aku pun tak tega menyaksikan kondisi Kak Rena yang begitu. Kupalingkan muka, membiarkan Kak Rey menenangkannya.
Dari ekor mataku, aku melihat Kak Rey membantu melepaskan kain yang mengikat kedua tangan kakakku. Dan begitu tali itu terlepas, Kak Rena memeluk suamiku.
"Rey, aku tahu kamu tidak akan meninggalkanku. Aku tahu kamu akan tetap mendampingiku." Dia menangis sambil memeluk Kak Rey. Dan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Kak Rey membalas pelukannya, berusaha menenangkan perempuan itu.
Aku tahu ini sebuah bentuk empati atas kondisi Kak Rena. Tapi bagiku, hati Kak Rey memang masih terpaut padanya. Mungkin, memang beginilah akhirnya. Dia bersama cinta sejatinya.
Aku ... menyerah.
***
Pertengkaran itu jelas terjadi sebelum akhirnya kami memutuskan berpisah. Ya, aku egois karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit saat suamiku bersama kakakku. Mungkin ini sudah jalannya. Pernikahan kami yang belum sempat disahkan oleh negara harus kandas hari ini juga.
Koper besar diseret oleh Mama dan juga sopir yang kuajak mengantarku ke bandara. Aku meninggalkan rumah yang dibelikan Kak Rey sebagai rumah kami. Di sana Bunda sudah menunggu bersama Ayah mertua. Aku melihat raut kecewa yang dipertunjukkan padaku.
Aku tahu keputusanku akan melukai banyak orang. Namun, seharusnya ini kulakukan sejak lama tanpa harus melibatkan perasaan. Namun, semuanya telah telanjur masuk dalam lingkaran kekecewaan.
Aku sambil menggendong Althaf menghampiri Bunda yang menatap pedih ke arahku. Aku menyalaminya sebagai tanda hormatku, bergantian dengan Ayah mertua. Althaf diambil alih oleh Ayah. Tubuh mungil itu debelainya dan dikecup pipi kanan dan kiri berkali-kali.
Mereka melakukan itu secara bergantian. Seolah hari ini adalah hari terakhir bertemu dengan Althaf.
"Kami boleh berkunjung, kan, Alea?" tanya Bunda dengan suara serak.
Aku mengangguk. "Tentu. Pintu rumahku terbuka lebar untuk Bunda dan Ayah." Kulihat cincin yang tersemat di jari manisku, lalu melepaskannya.
Itu adalah cincin pemberian Bunda saat beliau ke rumah waktu itu. Hadiah pernikahan katanya, berharap aku dan Kak Rey bisa langgeng sampai maut memisahkan. Kuserahkan cincin itu padanya. Aku merasa tidak pantas mendapatkan barang berharga itu yang sebelumnya pemberian Ayah mertua pada Bunda Salwa.
Namun, Bunda tak mengambilnya. Beliau menggenggamkan cincin itu pada tanganku, lalu memelukku.
"Bunda sudah menganggapmu sebagai putri sendiri. Jaga Althaf. Kami akan sering berkunjung ke depannya."
__ADS_1
Aku mengangguk. Air mata tak sanggup lagi aku tahan. Keluarga Kak Rey sangat hangat kepadaku. Aku tak kuasa jika berpisah dengan mereka.
Kak Rey belum juga datang. Dia tidak mengantarku. Dia juga belum mengucapkan kata talak padaku. Aku menunduk dalam. Sepertinya keinginanku untuk melihatnya terakhir kali pupus sudah.
Keberangkatanku masih sekitar lima belas menit lagi. Petugas bandara sudah memberi peringatan. Aku akan masuk ke dalam, mengambil Althaf dari tangan Ayah mertua. Mereka menangis, pun demikian denganku. Aku tahu jika keputusanku sangat egois. Tapi, aku benar-benar ingin melupakan Kak Rey, terbebas dari belenggu hubungan rumit antara suami dan kakakku.
Saat aku hampir mencapai pintu di mana security hendak memeriksa menggunakan metal detector, langkahku terhenti karena mendengar seseorang memanggilku.
"Kak Rey!" Dia berlari kencang ke arahku sambil terus berteriak memanggil namaku.
Air mata yang sempat berhenti luruh kembali di saat sosok tegap itu berhenti dengan sedikit ngos-ngosan di depanku. Dia mengambil alih Althaf, memeluk bayi berusia dua setengah bulan itu, lalu mencium wajahnya yang terlelap berkali-kali.
Kak Rey menitikkan air matanya saat mencium Althaf.
"Anak Papa hebat. Jaga Mama! Jangan izinkan pria lain mendekatinya. Okey?" Dia malah berbisik lirih di telinga Althaf, tetapi masih bisa terdengar olehku.
Bayi mungil itu diberikan pada Mama. Dan kini dia menatapku.
Pandangan kami saling bertemu. Seolah dunia berhenti berputar. Hanya ada aku dan Kak Rey. Tiada perkataan yang keluar dari bibir kami berdua. Hanya tatapan mata yang saling menerjemahkan perasaan.
Lalu, dia memelukku.
Cukup! Bisakah tidak mengatakan hal itu lagi. Aku semakin tidak bisa meninggalkannya.
Dia menengadahkan wajahku, lalu mencium wajahku berkali-kali. Dan terakhir, bibirku.
Kak Rey tidak peduli jika kami ditonton oleh banyak pasang mata. Bahkan, dia semakin memperdalam ciumannya saat ini. Aku mendorong dadanya saat napasku sudah tersenggal. Aku membenci ini. Aku menikmati ciuman itu.
Dia menatapku sayu, lalu meletakkan telapak tangannya di kepalaku.
"Alea Hinata, mulai hari ini aku manalakmu."
Inilah yang aku harapkan, perkataan talak darinya yang disaksikan oleh orang tuanya juga mamaku. Aku menipiskan bibir mencoba tersenyum. Tapi, entah mengapa bibirku gemetar menahan isakan tangis yang menggebu di dada.
"Jaga dirimu ... baik-baik. Hiduplah bahagia dengan Kak Rena. Aku pergi!"
Aku mengangguk pada Mama agar segera menuju ke pintu masuk. Sambil menggeret koper, aku pergi meninggalkan Kak Rey tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
Saat kami sudah berada di dalam area tunggu, aku memeluk Mama. Aku menangis di sana. Tubuhku benar-benar gemetar merasakan sakit di dada.
Kak Rey, selamat tinggal.
***
Lima Tahun kemudian ...
"Tadaima ...." Suara kecil terdengar di siang ini membuatku mengalihkan perhatian dari kegiatanku mendekor kue.
Althaf tersenyum dengan sedikit nyengir ketika melihatku manyun karena dia membawa pulang mainan lagi.
"Bilang "Assalamualaikum", Althaf. Bukan tadaima!" Aku mencolek hidungnya yang mancung. Wajahnya makin lama semakin mirip papanya. Dari warna rambut, hidung, bibir, dan warna bola mata. Bagaimana aku bisa melupakan Kak Rey jika wajahnya selalu berada dalam ingatanku.
"Assalamualaikum, Okaa san!"
Dia lagi-lagi menggodaku. Kucium pipi gembulnya, membuat dia tertawa makin kencang.
Kami sebelumnya tinggal di Surabaya. Namun, aku memutuskan untuk pindah ke Jepang tanpa sepengetahuan keluarga Kak Rey. Aku tidak ingin mengganggu dan menjadi bayang-bayang rumah tangga Kak Rey dan Kak Rena. Aku yakin mereka sudah menikah dan hidup berbahagia.
Aku mendirikan toko kue kecil-kecilan bersama Mama. Beruntung aku memiliki Mama yang selalu mensupport aku, menemaniku di kala aku sedang sendiri dan terpuruk. Beliau selalu menyemangatiku demi membesarkan dua buah hatiku.
Ya, setelah kepergianku dari Indonesia, aku ternyata hamil. Malam terakhirku bersama Kak Rey menghasilkan satu anak lagi. Entah, disebut apa hubunganku saat ini. Yang jelas, aku sudah bahagia bersama anak-anakku.
"Bawa mainan lagi?"
Kulihat mainan ini pasti harganya mahal. Althaf terkekeh lagi. "Pemberian Papa."
Ya, ampun. Entah laki-laki ke berapa yang dipanggil Althaf dengan sebutan Papa karena sudah beberapa kali seorang datang mendekati kedua anakku agar mendapatkan izin menikahiku. Aku hanya bisa menghela napas menghadapinya.
"Jangan terima hadiah dari orang lain. Nanti Mama akan belikan."
"Tapi, Ma. Al dibelikan dua. Satu untuk Aylin. Ay pasti suka." Tangan kecil itu membuka tas sekolahnya, lalu menunjukkan boneka Berbie kepadaku dengan menunjukkan senyum mengembang.
Astaga, pria mana lagi yang harus kuhadapi kali ini.
...****************...
__ADS_1
Kira2, siapa ya pria itu?