Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 68. Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Malam itu ketika Kak Rey pulang terlambat karena pekerjaan yang memang sangat banyak, hujan deras turun menghunjam bumi. Kilap petir menyala di kaki langit diikuti suara guntur yang menggelegar.


Beruntung Althaf tidak terbangun sehingga aku bisa mengurus Kak Rey yang basah kuyup terkena hujan.


"Kebangun, ya?" Kak Rey menyerahkan tas kerjanya padaku.


"Enggak. Aku sengaja nunggu kamu." Dia mencium keningku. "Kak Rey mandi dulu sana, ganti baju. Aku siapkan minuman hangat."


"Heem, makasih, Sayang."


Dia segera pergi meninggalkanku menuju kamar, sementara aku bergegas menuju dapur untuk membuatkan wedang jahe untuknya. Setidaknya minuman hangat pasca terkena hujan di malam hari bisa menghindarkan diri dari masuk angin. Setelah semuanya siap, aku membawanya ke atas.


Hujan masih belun reda. Kudengar suara gemericik air di kamar mandi telah berhenti, dan tak selang berapa lama pintu kamar mandi terbuka dengan Kak Rey keluar mengenakan jubah handuknya.


Dia mengusap-usap kepalanya yang basah menggunakan handuk kecil, lalu berjalan mengarah kepadaku.


"Sini, aku bantu!" Aku meminta handuk dari tangannya.


Seperti sebelum-sebelumnya, aku duduk di tepian ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah di mana ada karpet bulu halus menutupi permukaan lantai. Kak Rey duduk di atas karpet bulu, yaitu di antara kedua kakiku yang terbuka. Aku membantunya mengeringkan rambut yang basah, mengusap-usapnya sekaligus memijat pangkal kepalanya.


Kak Rey terlihat menikmati. Dia memejamkan mata dengan kepala menengadah di antara pahaku. Sepertinya dia sangat lelah karena pulang hampir pukul dua belas malam.


"Kamu pandai memijit, ya?" ucapnya sambil mata memejam.


"Heem, Kakak suka?"


Bibirnya tersenyum lebar. Aku melanjutkan pijatanku padanya dan saat itu juga tangannya tiba-tiba meraih leherku.


"Hei!" Aku sedikit memekik ketika telapak tangan Kak Rey menarik leherku ke bawah sehingga wajahku kini begitu dekat dengan wajahnya. Mata hazel yang sejak tadi memejam kini terbuka sempurna.


Mata kami saling bertemu pandang. Dia menyipit dengan senyum jahil mengembang. Kejadian itu begitu cepat ketika Kak Rey mencium bibirku dengan sedikit menaikkan kepalanya. Tangannya terus menekan, memberikan pijatan di tengkukku sembari memberikan sentuhan ringan. Tidak terlalu lama, dia melepaskanku.


Matanya terlihat berkabut. Aku melihat sebuah hasrat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.


"Alea, aku tidak tahan." Dia berbisik. "Bantu aku malam ini."


"Heem."


Aku memang belum pernah melakukannya dengan Kak Rey pasca melahirkan. Meskipun darah nifasku sudah berhenti sebelum empat puluh hari, tetapi Kak Rey masih menahannya karena takut mengganggu luka di perutku.


"Boleh?" tanyanya lagi padaku memastikan.

__ADS_1


Aku mengangguk malu-malu. "Tapi, pelan-pelan," kataku.


Dan saat itu juga Kak Rey beranjak dari duduknya, berdiri menjulang di depanku. Kedua tangannya diletakkan di bahuku, merebahkanku di atas ranjang.


Dia mulai mencumbuku setelah ciuman kami dengan tubuhnya berada di atasku. Dari menelusuri leher, hingga mulai membuka pakaian tidurku. Namun, sebelum kami melanjutkan lagi, Althaf terbangun.


Suara guntur itu terlalu keras memekakkan telinga sehingga bayi kecil kami menangis.


Kak Rey mengesah, dia tampak kesal, tetapi berusaha menahan. Aku mengusap pipinya, memberikan kecupan kecil di sana. "Sabar, ya? Ini ujian," ucapku sambil tersenyum.


"Heem, aku tunggu." Dia berguling ke samping, memeberiku jalan untuk bangkit dari posisiku yang berbaring.


Segera kugednong Althaf, memberinya ASI untuk ditenangkan. Kak Rey mengikutiku, memelukku dari belakang.


"Jangan lama-lama! Ingat, ya, aku menunggumu." Dia berbisik padaku.


"Iya, minum dulu sana! Keburu dingin." Mataku mengarah pada jahe hangat yang sempat aku buatkan untuknya.


Kak Rey menurut, melepaskan pelukannya padaku. Sementara itu, aku masih berusaha menidurkan Althaf pada box bayinya.


Guntur itu tak berhenti juga. Althaf sulit tidur. Butuh waktu lama dan usaha yang lebih gigih untuk membuaikan bayi tampanku.


Kak Rey berkali-kali datang sembari mengecek Althaf. "Sudah tidur, belum?"


"Sudah, belum?"


Entah itu pertanyaan yang ke berapa, sampai aku lelah menjawabnya.


"Alea!" Lagi, dia memanggilku dengan wajah yang memelas. Aku melihat dia sepertinya sudah tidak sanggup menahannya.


Akhirnya aku menidurkan Althaf di ranjang kami. Aku memberinya ASI dengan memiringkan sedikit tubuhnya. Dengan mendekap seperti itu, ternyata Althaf lebih mudah tertidur.


Kak Rey tidur miring memelukku yang sedang menyusui Althaf. Lagi-lagi dia menyelusupkan wajahnya pada rambutku.


"Kamu harum begini. Mana mungkin aku bisa menahannya?" Terpaan napasnya hangat di tengkukku. Aku hanya tersenyum menanggapi. Sudah lelah memintanya bersabar.


"Kak!" Aku memanggilnya. "Kak Rey!"


"Heem, apa sudah tidur?"


"Belum."

__ADS_1


"Lama sekali, Althaf. Gantian sama Papa." Dia malah merengek sama anak sendiri. Ya, ampun, Kak Rey. Aku ingin tertawa jadinya.


"Bukan itu. Kak Rena tadi siang ke sini?"


Seketika dia berhenti mengendus rambutku, lalu berkata dengan nada yang tak lagi manja. "Mau apa dia? Apa dia berbuat macam-macam?"


Sejak kejadian itu, Kak Rey masih menaruh rasa marah pada Kak Rena. Dia belum sepenuhnya memaafkan kakaku.


"Dia meminta maaf. Dia sudah berubah, Kak. Dia terlihat tulus saat meminta maaf padaku. Kakak maafkan Kak Rena juga, ya? Aku tidak ingin ada dendam di antara kalian."


"Entahlah. Mungkin karena sebelumnya aku sangat mencintai Rena. Saat ini aku terlalu kecewa. Rasa cinta itu begitu cepat berubah menjadi benci. Aku sudah memaafkannya. Tapi, jangan memaksaku untuk menerima dia dan memperlakukan dia dengan baik. Aku masih mengingat jelas karena emosinya yang tak terkendali, dia hampir membuatku kehilanganmu dan Althaf."


Aku terdiam. Mungkin ini lebih baik. Setidaknya Kak Rey akan tetap mencintaiku dan tidak lagi menoleh kepada Kak Rena. Seperti apa yang Ayah mertua katakan, aku akan menjaga jarak dengan Kak Rena demi mempertahankan suamiku. Aku ingin Althaf memiliki keluarga yang utuh dan tumbuh menjadi pribadi kuat, namun penyayang.


Pikiranku yang membayangkan hal itu segera terhenti di kala suara Kak Rey mengagetkanku.


"Alea, sepertinya Althaf sudah lelap. Apakah kita bisa memulainya sekarang?"


"Apa?"


Belum sempat aku menyadari, Kak Rey sudah menarikku mendekat kepadanya. Dia memosisikan tubuhnya di atasku dan mulai melepaskan simpul tali jubah tidurnya sendiri.


Malam itu untuk pertama kalinya setelah kelahiran Althaf, kami melakukannya lagi. Kak Rey begitu hati-hati dan perlahan saat menuntunku menikmati indahnya malam dalam kenikmatan ragawi.


Hujan terdengar kian deras. Kilatan petir menyala dan suara halilintar terdengar bersahut-sahutan. Dinginnya malam menambah suasana kian bergelora. Kedua tangannya menyelip di antara jemariku. Kami saling menggenggam ketika semua itu terjadi. Kaki kami terlihat di bawah selimut saling tumpang-tindih. Aku merasakan sesuatu yang basah menyembur di bawah sana hingga sebuah gelombang aneh melabuhkan kenikmatan yang sudah lama tidak aku rasakan.


Kak Rey roboh di sampingku kemudian memelukku dari belakang.


"Terima kasih. Aku mencintaimu."


Namun, aku seketika teringat akan sesuatu membuatku membelalakkan mata.


"Kak!"


"Heem." Dia menjawab dengan gumaman.


"Mengapa keluar di dalam?"


...****************...


Terima kasih sudah menanti. Ada karya keren dari teman saya, Author "Chocollacious".. Silakan diintip. Ceritanya bikin baper. Up tiap hari tanpa jeda. Semoga suka.

__ADS_1



__ADS_2