Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 36. Terlambat


__ADS_3

Ponsel itu terus berdering meski aku berkali-kali mengabaikannya. Kumasukkan kembali benda pipih itu ke dalam tas selempangku, lalu mencari tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket.


Kutimpakan tubuhku pada kursi tepat di samping jendela kaca, setelah meletakkan tas ranselku di tempat yang aman. Kuhela napas dalam sebelum akhirnya melihat kembali ponsel yang sejak tadi berdering dan kuabaikan.


Ada notifikasi pesan masuk dari Kak Rey. Kugeser layar dengan ibu jari, lantas membaca pesan singkat itu.


"Jangan pergi! Tunggu aku!"


Mataku berembun ketika membacanya. Apa maksud lelaki itu?


Menunggu? Omong kosong!


Ke mana dia seminggu ini tidak pernah menemuiku. Bahkan sekadar menghubungi menanyakan kabarku pun enggan dia lakukan. Lantas, sekarang dengan seenaknya dia memintaku menunggu?


"Tidak perlu repot-repot. Aku sudah pergi." Kukirimkan pesan itu. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, pesan sudah terbalas.


"Kamu naik kereta? Mengapa tidak menungguku? Aku bisa mengantarmu. Cepat turun di stasiun terdekat! Aku jemput kamu di sana!"


Aku abaikan pesan itu. Tidak! Tekatku sudah bulat untuk tidak lagi bergantung padanya. Di saat aku merindukannya, dia tak pernah datang. Aku takut ketika melihatnya lagi, hatiku melunak dan kembali mengharapkan lelaki itu untuk tetap bersamaku.


"Alea, kutunggu di stasiun." Pesan Kak Rey masuk lagi. Aku tidak membalasnya.


Kusandarkan punggungku di sandaran kursi, mengerjapkan kelopak mata yang terasa hampir tak bisa menahan deraian air mata.


"Tidak perlu menangis, Alea. Kamu bisa tanpa Kak Rey," gumamku menguatkan diri.


Aku sengaja mematikan ponsel agar lelaki itu tak lagi menggangguku. Tujuanku kali ini hanya satu, yaitu menemukan ibuku.


Jadwal sampai di stasiun yang aku tuju sekitar dua jam lagi sehingga aku memutuskan untuk memejamkan mata, beristirahat sebentar, meredakan rasa sesak yang membelenggu di dada.


Ya, setidaknya dengan tertidur aku bisa melupakan panggilan Kak Rey, tidak tergoda untuk membalas pesan maupun teleponnya.

__ADS_1


***


Angin malam saat itu berembus cukup kencang, meniupkan helaian rambutku yang kuikat kuat di belakang. Kutarik jaket hoodie yang kukenakan, mendekapnya erat sebagai pelindungku dari dinginnya malam.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika langkahku mengayun menuju sebuah jalan masuk kampung yang masih berupa tanah semak. Lampu penerangan berpijar terbatas, atau hanya beberapa sehingga malam yang kelam ini terasa semakin pekat dan menakutkan. Tidak terlalu banyak rumah penduduk di kawasan ini membuatku kian ragu untuk melanjutkan. Namun, sudah terlalu jauh melangkah, bagaimana mungkin aku tiba-tiba berhenti tanpa membawa sedikit pun hasil.


Dengan hati-hati dan perlahan kulewati jalan setapak yang sepertinya hanya sering dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki jika dilihat dari jejak yang masih tergores di tanah. Suara serangga malam mendominasi membuat suasana malam kian menakutkan. Jadi, seperti ini lingkungan yang ditempati Mbok Narti. Aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.


Hingga pada jarak beberapa puluh meter dari tempatku berdiri, kulihat rumah-rumah penduduk mulai sedikit rapat. Kupercepat langkah ini agar segera sampai tanpa banyak membuang waktu.


Ketika aku memasuki pemukiman warga, mataku tertuju pada banyaknya orang yang berkumpul di sebuah rumah bergaya kuno dengan lantai tinggi dan atap menjulang. Sepertinya di sana ada sesuatu yang membuat mereka berkumpul tanpa diundang. Rasa keingintahuanku jelas saja terpacu sehingga segera kutanyai salah satu di antara mereka.


Kudekati penjual cilok yang mengendarai motor tua dengan obor menyala sebagai penerangan terletak di atas rombongnya. Pria yang kutaksir berusia sekitar tiga puluh limaan itu juga tampak penasaran dengan apa yang terjadi.


"Bang!" Kucolek lengan pria itu. Dia menoleh ke arahku, lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, Neng," jawabnya.


"Oh, ada cilok, tahu, siomay basah, siomay kering. Neng mau yang mana? Pake saus atau bumbu kacang?" jawabnya sambil menyiapkan garpu dan plastik bening.


"Hah?" Aku terbengong sesaat, lalu menatap jualan tukang cilok itu yang sudah dibuka penutupnya. "Bukan jualan Abang. Itu ramai-ramai ada apa?"


"Oh, itu." Penjual itu nyengir kepadaku, meletakkan kembali garpu dan plastik bening pada tempatnya. "Ada yang meninggal, Neng. Kasihan, sudah tua. Baru ketahuan setelah tercium bau busuk."


Deg!


Sudah tua? Ketahuan meninggal setelah tercium bau busuk?


"Maksudnya, Bang? Orangnya tinggal sendiri?"


Pria penjual cilok mengangguk. "Iya, Neng. Ini sedang diurus warga dan aparat kepolisian jenazahnya."

__ADS_1


Segera kusodorkan alamat yang difotokan Mbak Leli dan tersimpan di galeriku. "Bang, tahu alamat ini, enggak?" tanyaku pada penjual cilok tersebut.


Lelaki itu membacanya, lalu menatapku dengan raut muka yang sulit kuartikan. "Neng siapanya Mbok Narti?"


"Bukan siapa-siapanya, Bang. Hanya ingin berkunjung karena dulu di kota baik sama saya."


"Tapi, Neng ...." Lelaki itu kesulitan menjawab. Matanya menatap ke arah rumah yang dikerubungi banyak orang. "Nenek yang meninggal itu namanya Narti juga. Alamat yang ada di sini, itu rumahnya."


"Apa?" Jelas saja kenyataan itu membuatku terkejut. Seketika tubuhku rasanya lemas. Aku terlambat. Mbok Narti ternyata dipanggil Tuhan terlebih dulu sebelum aku mengetahui kebenaran.


Apa yang harus aku lakukan?


Aku melangkah lemas ke sana setelah mengucapkan terima kasih kepada penjual cilok, di mana banyak pelayat yang sedang mengurus jenazah Mbok Narti. Beberapa orang yang melihatku tampak terkejut. Mereka saling berbisik, membuatku tidak nyaman.


Ruang tamu sudah dijadikan tempat menyalati jenazah. Aku mengintip dari luar dengan ibu-ibu yang tadi saling berbisik di belakangku. Mataku berembun, merasa iba dengan kehidupan Mbok Narti. Apakah selama ini Mbok Narti terurus dengan baik? Atau justru terluntang-lantung karena tiada yang mengurus dirinya di masa tua?


Mengapa saat itu aku percaya saja saat Mama mengatakan bahwa Mbok Narti ingin pulang kampung? Seharusnya aku bisa melihat raut kecewa di mata tua Mbok Narti saat Mama menyuruhnya pulang. Aku belum dewasa saat itu. Apalagi kejadian itu terjadi saat Papa baru meninggal beberapa hari. Aku tidak memikirkan apa-apa selain rasa kehilangan seorang ayah yang selama ini menjadi tempatku berkeluh kesah.


Jenazah akhirnya diletakkan di atas tandu untuk segera dimakamkan malam itu juga. Di sini pelayat yang mengantarkan jenazah hanya pihak laki-laki, sementara pelayat wanita tetap tinggal di rumah untuk melakukan doa bersama.


Aku ikut duduk bersila setelah meletakkan tas ransel yang sejak tadi kupanggul, bergabung dengan ibu-ibu lain. Seseorang menepuk bahuku dari belakang, lalu mengangsurkan kerudung segi empat kepadaku. Ya, aku memang hanya mengenakan hoodie dengan celana olahraga yang memiliki tali di bagian perut. Segera kuterima kerudung itu dan mengenakannya meski hanya kusampirkan di bahu.


Kami melakukan doa bersama dipimpin oleh seorang wanita yang tampaknya seperti tokoh masyarakat. Suasana terasa khidmat ketika acara itu berlangsung. Sekitar lima belas menit lamanya, akhirnya doa bersama selesai. Beberapa ada yang undur diri untuk pulang ke rumah karena hari sudah malam, ada juga yang masih tinggal. Aku sendiri bingung harus apa.


"Neng, siapanya Mbok Narti?" Seorang wanita bertubuh gemuk tiba-tiba duduk di sampingku, mengarahkan pandangannya kepadaku.


"Saya ... tinggal di tempat Mbok Narti kerja dulu. Saya kemari ingin bertemu dengan Mbok Narti."


"Oh!" Dia mengangguk-angguk. "Saya pikir Neng cicitnya Mbok Narti. Soalnya wajah Neng mengingatkan saya sama anak angkatnya Mbok Narti yang diajak ke kota."


"Apa?"

__ADS_1


Wajahku mirip dengan anak angkatnya Mbok Narti? Apa maksudnya?


__ADS_2