Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 25. Kemarahan Mama


__ADS_3

Suasana mendadak senyap ketika mata kami saling beradu pandang. Untuk saat ini aku memilih menunduk, menyembunyikan rasa sakit yang bergemuruh di dalam dada.


Aku tidak berani menatap Kak Rey. Bagaimana perasaannya setelah mengetahui jika aku hanyalah anak haram dari seorang wanita yang dinyatakan gila. Dia pasti sangat malu, bukan?


Apalagi saat ini aku telah mengandung anaknya.


Kak Rey berasal dari kalangan berada, pengusaha kaya raya. Tentu sebuah penghinaan apabila ada yang mengetahui bahwa dia ternyata memiliki hubungan dengan seorang wanita yang tidak jelas asal-muasalnya sepertiku. Citranya sebagai seorang anak pengusaha sukses akan rusak saat itu juga dan mendapatkan sanksi sosial terkait perselingkuhan. Parahnya, perselingkuhan terjadi dengan adik iparnya sendiri.


Dia melangkah ke arahku, membuat tubuhku kian gemetar karena takut. Aku semakin menunduk di kala merasakan bahuku diremas oleh seseorang.


"Reynan!" Itu suara Mama memanggil Kak Rey. Lelaki itu berdiri di belakangku dengan melingkarkan satu tangannya di bahuku.


"Cukup, Ma! Alea tidak bersalah. Jika ingin marah, maki saja aku." Kak Rey ternyata membelaku.


"Rey, kamu mengkhianati anak Mama demi wanita sialan ini? Apa bagusnya dia, hah?"


Perkataan Mama semakin membuatku malu, merasakan berada di titik terendah seorang wanita. Benar kata Mama, tiada yang bagus dan bisa dibanggakan dariku. Mungkin, aku adalah aib terbesar, aib yang patut untuk dibuang dan dimusnahkan. Bahkan, orang tuaku pun tidak mau mengakuiku sebagai anak.


Apalagi untuk saat ini, aku tengah hamil. Parahnya lelaki yang menghamiliku adalah suami kakakku sendiri. Pasti kesan buruk tak bisa lepas dariku seolah mengakar kuat pada namaku.


Namun, genggamam di bahuku seolah tengah memberiku dukungan. Aku melihat tangan kekar itu meremas bahuku, lalu sesaat kemudian Kak Rey berkata, "Aku tidak pernah mengkhianati Rena. Tapi, Alea adalah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menghinanya. Dia ... ibu dari anakku."

__ADS_1


Perkataan Kak Rey jelas membuatku tak percaya. Lelaki itu dengan tegas dan tidak malu mengakui aku sebagai ibu dari anaknya. Namun, ada sisi hatiku yang merasakan sakit, yaitu ketika melihat tatapan Mama yang menghunjam deras padaku.


"Apa kamu bilang? Kamu seharusnya memiliki anak dengan Rena. Wanita bodoh ini hanya akan merusak kebahagiaanmu." Mama benar-benar meradang. Tanganya mendorong bahuku keras. "Kamu, mana balasanmu kepada keluargaku? Apakah ini caramu membalas budi terhadapku yang sudah menampungmu sejak bayi? Apakah ini balasanmu kepada Rena yang selalu menyayangimu seperti adik kandung?"


Mama terus-menerus mengingatkanku akan balas budi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku juga tidak ingin hidup seperti ini. Siapa yang ingin dilahirkan di dunia dengan kondisi sepertiku? Apakah semua ini salahku?


"Aku ...." Aku ingin berkata sesuatu, tetapi Mama terus-menerus menginterupsi, membuatku kesulitan merangkai kata. Lidahku mendadak kelu, tak bisa mengeluarkan kalimat pembelaan. Telingaku sudah puas mendengar caci maki atau hinaan.


"Di mana perasaanmu, Alea? Di mana?" Mama menggeleng, air matanya yang menetes membuat sudut hatiku ngilu.


Dia benar. Aku adalah anak yang tidak tahu diuntung. Aku adalah racun yang mematikan kebahagiaan keluarga Hinata. Seharusnya aku tidak dilahirkan jika keberadaanku justru hanya membuat masalah dan kesedihan bagi orang-orang yang kusayangi. Saat ini hatiku benar-benar terpuruk. Merasakan tamparan keras akan takdir yang telah mengoyak kehidupanku.


"Cukup! Sudah aku katakan, Alea tidak bersalah. Aku sudah memutuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku kepadanya." Kak Rey membelaku di depan Mama. Aku yakin saat ini kebencian Mama akan semakin berlipat kepadaku.


Kak Rey terdiam. Mungkin dia juga bingung harus berkata apa. Dia berada di posisi yang sulit. Aku mengerti akan hal itu.


"Alea, dengar kamu!" Mama kembali berteriak kepadaku. Aku hanya menunduk menanggapi. Tak sedikit pun wajahku berani menatap kemarahannya, apalagi menantang tatapan matanya. "Jika kau masih memiliki hati, gugurkan anak itu! Pergi yang jauh dari kehidupan Rena dan Rey!"


Seketika itu juga aku menatap Mama. Sejak pertama kali janin ini tumbuh di rahimku, tak pernah sekalipun di pikiranku tebersit untuk menggugurkannya. Dia tidak bersalah. Dia sama seperti janin-janin yang lain, memiliki hak untuk hidup.


"Tidak! Alea tidak akan pergi. Aku sudah berjanji untuk menjaganya. Dan anak ini ... berada dalam perlindunganku."

__ADS_1


"Rey!" Mama membentak. Perempuan itu teramat meradang. Saat itu juga dia melihatku dengan amarah yang membuncah, seolah ingin melenyapkanku detik itu juga. Dengan kasar dia menarik pakaianku, mengguncangku, lalu melayangkan pukulan di wajahku.


Aku memejamkan mata ketika suara tamparan keras terdengar memilukan. Namun, anehnya aku tidak merasa kesakitan seperti biasa. Kubuka mataku perlahan, dan saat itu juga barulah aku tahu bahwa tamparan itu tidak mendarat di pipiku, melainkan di pipi Kak Rey.


Lelaki itu dengan sadar mengorbankan wajahnya untuk menggantikan posisiku, menghadang pukulan Mama agar tidak mengenaiku.


Mama terhenyak melihat telapak tangannya membekas merah di pipi Kak Rey. Sepertinya sikap implusif yang Kak Rey lakukan membuatnya terkejut. Mulutnya ternganga tidak percaya. "Rey!" ucapnya saat itu.


"Mama tenang saja." Kak Rey berkata sembari menatap tajam ke arah Mama. "Aku tidak pernah lupa akan janjiku kepada Rena. Dua tahun kami menjalin hubungan hingga sampai ke jenjang pernikahan. Aku berjanji untuk membahagiakannya. Tapi, aku juga tetap bertanggung jawab pada Alea. Anak ini akan lahir dan mendapatkan kasih sayang serta perlindungan dariku sebagaimana seorang ayah melindungi anaknya. Aku sendiri yang akan menjelaskan kepada Rena."


Mama menangis setelah mendengar jawaban dari Kak Rey. Mungkin dia tidak menyangka jika Kak Rena akan mendapatkan kenyataan buruk seperti ini. Dan sampai saat ini, apa yang terjadi pada kehidupan Kak Rey dan Kak Rena menurut Mama adalah karena kesalahanku.


Wanita itu kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah kata. Aku pun tidak bisa berbuat banyak. Serangkaian kejadian yang baru saja aku alami membuat hatiku teriris pilu.


Ketika punggung Mama sudah menghilang dari pandangan, saat itu juga tangisku pecah. Aku tak bisa menahan ini semua sendiri. Bukan hanya ragaku yang tersakiti, tetapi hati dan jiwaku.


Kurasakan tangan kekar itu memelukku, membawaku dalam dekapannya. Aku semakin menangis dengan menenggelamkan wajahku di dadanya. Aku tergugu di sana, terisak dalam tangisku.


Kak Rey membelai punggungku, mencoba menenangkanku. Mungkin dia iba atau bahkan kasihan kepadaku.


"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja," bisiknya lirih tepat di telingaku.

__ADS_1


Aku tahu jika kedepannya kehidupanku akan semakin sulit, tetapi setidaknya saat ini Kak Rey berada di pihakku. Meski suatu saat kami akan berpisah, tetapi aku tidak dapat memungkiri bahwa dukungannya saat ini sangat berarti untukku.


__ADS_2