Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 30. Hati yang Salah


__ADS_3

Malam itu, setelah Zoya tertidur karena terlalu lelah bermain dengan Kak Rey, kami duduk berdua di balkon kamar. Dua cangkir teh hangat menemani obrolan kami. Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini aku nantikan, yaitu berbicara dengan Kak Rey.


Rasa kesepian karena tidak memiliki teman ataupun seseorang yang mau kuajak bicara membuatku bahagia ketika Kak Rey datang dan mengajakku berbincang berdua. Setidaknya, ada sosok yang mau bertukar pikiran denganku.


"Aku tidak tahu kalau kamu pintar bercerita." Kak Rey berkata setelah menyesap teh hangat yang masih mengepul uap panas di atasnya.


Kepalaku menunduk, menyembunyikan senyum yang tiba-tiba muncul. "Tidak juga. Semua orang pasti tahu kisah itu." Aku menoleh kepadanya.


Lelaki itu menatap ke atas, di mana langit malam lebih cerah dengan menampilkan benda-benda langit yang gemerlap. Sekelebat ingatan tentang kejadian tadi sore membuatku ingin segera mencari tahu. Apakah Kak Rey tahu jika Kak Rena sudah kembali ke kota ini?


"Kak Rey?"


"Heem." Dia menjawab hanya dengan deheman.


"Kapan Kak Rena pulang?"

__ADS_1


Dia menatapku sekilas, lalu mengarahkan pandangannya ke tempat semula. "Sepertinya besok malam. Apa kamu ingin bertemu dengannya?"


Ternyata Kak Rey tidak tahu jika Kak Rena sudah kembali. Ini sangat aneh. Biasanya Kak Rey selalu menaruh curiga kepada siapa pun, tetapi dia sama sekali tidak menyelidiki terkait Kak Rena. Apa itu artinya Kak Rey sudah sangat memercayai istrinya itu?


Aku ingin berkata jika sore tadi berjumpa dengan Kak Rena di pusat perbelanjaan. Namun, segera kutepis keinginan itu. Aku takut apabila perkataanku justru merusak hubungan dan kepercayaan Kak Rey terhadap Kak Rena. Lagi pula, Kak Rena mengatakan sedang menyiapkan kejutan untuk Kak Rey di hari ulang tahun lelaki itu.


"Kami sejak kecil dibesarkan bersama. Meski sekarang aku tahu jika Kak Rena bukanlah saudara kandungku, tetapi dia tetap kakak terbaikku. Aku merindukan saat-saat kami bersama dulu."


Terdengar helaan napas dari bibir Kak Rey. Lelaki itu tampak merasa bersalah kepadaku. "Maaf, mungkin setelah ini kalian tidak bisa seakrab dulu. Aku tahu ini akan berat. Bukan hanya untuk Rena, tetapi juga untukku dan untukmu. Akan tetapi, satu hal yang harus kamu tahu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu apa pun yang terjadi."


"Mungkin Rena akan marah kepadaku, bahkan bisa juga mengancam untuk berpisah. Tapi, ketahuilah! Aku tidak akan melepaskanmu."


Aku masih bingung akan makna tersirat dari perkataannya. Apa yang ingin lelaki itu katakan? Otakku seolah tumpul saat sedang menerjemahkan kalimatnya. Dia selalu mengatakan hal yang membuatku salah tangkap.


"Kalian tidak akan berpisah, kan?" Aku menarik bahunya agar menatapku. "Kak Rey, Kak Rena sangat mencintaimu. Dia bahagia menikah denganmu. Jangan sakiti dia lagi! Andai aku dan anakku bisa bersembunyi selamanya, aku akan memilih bersembunyi agar tidak mengganggu kebahagiaan kalian."

__ADS_1


Tatapan matanya begitu sayu, seolah tengah menunjukkan sesuatu yang aku sendiri tidak jelas apa itu. Dia tak banyak bicara ketika menanggapi perkataanku. Namun, sedetik setelah aku melepaskan tanganku di bahunya, lelaki itu berkata, "Bagaimana denganmu? Apa yang kamu rasakan saat bersamaku?"


Aku mendadak gelagapan. Kupalingkan wajahku ke arah lain, tak lagi menatap mata hazel yang memandangku sendu. "Aku ... selamanya akan menjadi adik iparmu. Kalian harus bahagia."


Mataku tiba-tiba menghangat, menahan sesuatu yang hampir menetes di sana.


Bagaimana perasaanku? Aku tidak tahu. Aku memang merasa nyaman dengannya. Bahkan, aku selalu menantikan kedatangannya setiap hari. Aku bahagia ketika dia memanggil namaku, memakan masakanku, dan meminum teh yang aku buatkan. Sesederhana itu. Namun, dia tetaplah suami Kak Rena. Aku tidak mungkin merebutnya dari kakakku.


"Sudah malam. Tidurlah!" Dia mengusap kepalaku sebelum akhirnya pergi dari sana.


Aku masih diam membisu ketika melihat punggung lelaki itu mulai menjauh hingga menghilang di balik dinding. Seketika itu juga, sudut mataku menitikkan air mata. Mengapa aku harus menangis? Apa yang perlu aku tangisi?


Ternyata sulit sekali menjaga hati. Aku bahkan tak sanggup mengatakan dan mengakuinya. Tembok besar yang menghadang di depanku terlalu kokoh untuk kupanjat. Penghalang itu juga tak mungkin aku enyahkan. Kami berada di jalur yang salah. Seharusnya tidak perlu ada hati yang terlibat pada hubungan ini karena aku tahu bagaimana akhirnya.


Apakah kalian tahu apa yang menakutkan bagiku saat ini? Ya, ketika kutahu melangkah menuju hati yang salah, tetapi perasaan ini tak sanggup untuk aku kendalikan.

__ADS_1


__ADS_2