
Mungkin, aku masih harus berpikir positif bahwa itu adalah bentuk rasa bersalah Kak Rey terhadap Kak Rena. Ya, aku harus berpikir positif. Bagaimana aku bisa merasa ngilu di sudut hatiku melihat bagaimana perhatian Kak Rey terhadap Kak Rena yang hampir meregang nyawa.
Saat aku menanyakan kondisi Kak Rena pada perawat yang ada, dia mengatakan bahwa Kak Rena mengalami gegarotak dan saat ini sedang koma. Kepalanya terbentur cukup keras papan reklame berbahan besi tersebut. Pihak rumah sakit pun sudah meminta maaf dan bersedia dituntut ke jalur hukum jika memang itu benar-benar sebuah keteledoran.
Ya, jika memang keadaan Kak Rena begitu menyedihkan, bagaimana aku bisa merasa sakit hati saat Kak Rey sangat perhatian kepadanya?
Apakah aku egois?
Entah. Aku merasa tidak ingin perhatian Kak Rey terbagi lagi. Meskipun itu pada kakakku.
"Alea!"
Aku segera menyeka air mata yang membendung di mata. Hei, aku menangis. Harusnya aku menangisi Kak Rena, bukan? Tetapi aku lebih kepada menangisi Kak Rey yang sangat memperhatikan kakakku.
Aku segera menoleh di saat suara Mama Sonya memanggilku. Tubuhku berbalik menghadapnya yang sudah berdiri tepat di hadapanku sekarang.
"Mengapa berdiri saja di sini? Mengapa tidak masuk?"
Aku menggeleng dengan menerbitkan senyum tipis. Berusaha tegar meski hati sudah mulai meringis. "Hanya ingin melihat dari sini. Bagaimana perkembangan Kak Rena hari ini?"
Mama Sonya tampak murung. Wajah tuanya kini semakin kentara setelah melihat bagaimana kehidupan Kak Rena bukannya membaik dari hari ke hari.
"Alea, seandainya aku memintamu memberikan Rey untuk Rena, apakah kamu mau?"
"Apa? Mengapa Mama bilang begitu?" Aku tidak menyangka masih ada niat Mama Sonya untuk mengambil Kak Rey dariku.
"Lihat di sana!" Beliau menunjuk ke dalam ruangan itu. Kulihat Kak Rey sejak tadi bergeming di sana, menatap Kak Rena dengan sorot mata sayu. "Apakah kamu tidak melihat bahwa keduanya saling mencintai? Terlepas kalian sudah memiliki anak, cinta Rey untuk Rena sangat besar. Rena pun sejak resmi bercerai dengan Rey, dia tidak memiliki gairah hidup lagi."
"Apa maksud Mama?" Sungguh, meskipun maksud tersirat Mama sudah jelas, tetapi aku tidak percaya jika Mama tega mengatakan semua itu pada wanita bersuami.
"Reynan pria baik-baik. Dia sudah bertanggung jawab penuh terhadapmu dan anakmu. Apa lagi yang kamu inginkan darinya, Alea? Mereka menderita dengan menahan perasaannya masing-masing."
__ADS_1
"Tidak! Itu tidak benar. Kak Rey mencintaiku. Dia mengatakan itu berulang kali. Aku lebih memercayai suamiku daripada orang lain." Aku berkata tegas kepada Mama Sonya. Napasku tersenggal ketika mengutarakannya. Bukankah seorang istri harus percaya dengan suaminya sebelum percaya dengan perkataan orang lain?
"Kamu boleh menganggap aku orang lain, Alea. Tapi, seandainya Rey dan Rena benar-benar saling mencintai, apakah kamu bisa berbesar hati seperti Rena yang rela melepaskan Rey meskipun hatinya sangat tersakiti? Ingatlah! Orang yang paling tersakiti saat dirimu masuk ke dalam kehidupan mereka berdua adalah ... Rena. Dia sudah mengorbankan semuanya."
"Tapi, ...." Aku belum sempat menjawab pertanyaan Mama Sonya, tetapi suara lirih yang tiba-tiba terdengar dari ruang perawatan Kak Rena membuat hatiku semakin teriris.
"Reey!" Suara itu lirih, tetapi masih sanggup telingaku mendengar dengan jelas. "Reey."
Itu suara Kak Rena. Bahkan, saat matanya terpejam pun hanya ada nama Kak Rey dalam ingatannya. Kulihat di sana Kak Rey membisikkan sesuatu ke telinga Kak Rena. Telapak tangannya mengusap kepala yang tidak terselubung perban, sementara tangan yang lain menggenggam tangan Kak Rena yang tidak tersemat jarum infus.
Pemandangan itu membuat hatiku terluka. Mungkin, ini lah yang dirasakan Kak Rena sebelumnya. Dia merasa sakit hati yang teramat dalam ketika melihat Kak Rey yang begitu ia cintai memperhatikan wanita lain. Tas bekal itu aku genggam erat. Air mataku jatuh membasahi pipi.
Kak Rey, apakah kamu benar-benar masih sangat mencintai Kak Rena?
Apakah itu hanya sekadar sebuah tanggung jawab dan rasa empati karena merasa bersalah saja?
Perlahan aku melangkah maju, masuk ke dalam ruangan Kak Rena.
"Kak, Kak Rey!" panggilku lagi.
Barulah Kak Rey menoleh padaku. Secepat yang dia bisa menyeka air mata dengan jari telunjuknya.
"Alea, sudah lama?" tanyanya dengan suara serak. Tangan yang sejak tadi menggenggam tangan Kak Rena terurai begitu saja. Aku hanya tersenyum melihatnya.
"Kakak belum makan, kan? Makan dulu, ya, biar Kak Rena aku menjaganya."
"Kamu sudah makan?" Dia balik bertanya. Aku menggeleng.
"Aku nungguin kamu sejak tadi. Karena cemas, aku akhirnya ke sini."
Kulihat dia mengusap wajahnya. Tampak sorot matanya menatapku pedih. "Maaf, ayo kita makan bekal ini bedua."
__ADS_1
Dilihat dari mimik wajahnya, aku bisa menyadari ada rasa bimbang dan ragu pada diri Kak Rey. Mungkin dia mulai tidak enak kepadaku. Namun, aku berusaha menunjukkan padanya bahwa aku baik-baik saja.
Kami duduk di sofa panjang yang terletak di sudut ruang perawatan Kak Rena. Membuka bekal tersebut, kami pun mulai memakannya. Aku sengaja membawa dua sendok meski bekal tersebut berada dalam satu wadah.
"Bagaimana Althaf? Dia bersama siapa?" Kak Rey bertanya di sela-sela makannya.
"Aku titipkan Bunda. Mengapa ponsel Kak Rey tidak aktif?"
"Oh, aku lupa mengisi dayanya. Maaf, ya?"
Kak Rey berulang kali mengucapkan kata maaf. Apa pun itu dia selalu berakhir dengan meminta maaf. Hal itu justru membuatku aneh.
Dia seolah melakukan kesalahan besar kepadaku.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Kak Rey pergi ke kamar mandi yang berada di ruangan ini. Sementara itu, aku melangkah menuju kursi yang sebelumnya dipakai Kak Rey menjaga Kak Rena.
Aku dudukkan tubuhku di sana, menatap mata terpejam rapat dengan bibir sedikit terbuka itu. Pantas saja Kak Rey begitu peduli dengan Kak Rena. Kondisi Kak Rena benar-benar memprihatinkan. Wajahnya tergores dan pasti akan membekaskan luka permanen meskipun sedikit. Kepalanya berbalut perban tebal yang dililitkan sekeliling.
Kak Rena yang dulu selalu tampil menawan, menjadi pusat perhatian, kini harus terbaring tak berdaya dengan luka mengerikan di kepala. Aku takut jika dia terbangun akan semakin terpuruk dengan dirinya sendiri. Rambutnya sengaja dicukur oleh pihak rumah sakit sebagian agar bisa membersihkan dan menjahit luka yang tertutup rambut.
Aku turut merasakan pedihnya. Hingga rasa itu semakin kuat berdenyut di hatiku tatkala suara Kak Rena terdengar lagi mengudara.
"Rey!" Dia bergumam, berkali-kali mengigau menyebut nama Kak Rey.
Air mataku berlinang mengalir begitu saja. Bibir bawahku kugigit agar suara tangisku tak sampai terdengar.
"Rey, jangan pergi!" Suara itu membuat pertahannku runtuh.
Aku menangis. Menelungkupkan wajahku di telapak tangan Kak Rena. Aku tergugu di sana.
Kak Rena, maafkan aku. Maafkan aku!
__ADS_1