
Sejak malam itu hubunganku dengan Kak Rey semakin dekat. Dia lebih perhatian kepadaku. Tak segan mengungkapkan perasaannya meski berada di tempat umum. Bahkan, dia tidak malu saat mencium pipiku di depan kedua orang tuanya.
"Kak Rey, malu!"
Aku sedikit menjauhkan wajahnya ketika dia menempel terus padaku. Bukannya tidak senang. Aku sangat senang, tetapi tidak perlu menempel terus begini, bukan? Kami bisa bermesraan di dalam rumah saja tanpa ada yang melihatnya.
Dia hanya senyum-senyum tak menggubris ucapanku. Terkadang dia berbisik. "Biar saja. Biasanya Ayah selalu pamer mesra di depan anak-anaknya. Sekarang giliranku."
Oh, jadi ini balas dendam. Aku tertawa kecil. Kak Rey ternyata memiliki jiwa kekanak-kanakan. Aku baru menyadarinya.
Kak Rey membawaku ke rumah orang tuanya sebelum meninggalkanku bekerja. Ini rutinitas yang sering kali dilakukan agar aku tidak bosan di rumah.
Kulihat Bunda memandang kami sejak tadi. Bertambah meronalah wajahku. Kak Rey benar-benar seperti anak kecil. Tak mau sedikit pun jauh dariku.
Hingga ketika mereka para lelaki akan berangkat bekerja, Kak Rey berpamitan padaku.
"Hei, baik-baik di rumah. Aku akan pulang cepat."
Aku mengangguk. Biasaanya Kak Rey hanya mencium kening dan mengusap perutku. Namun, kali ini dengan tidak tahu malu mencium bibirku padahal ada Bunda Salwa dan Ayah mertua yang juga akan berangkat bekerja di belakang kami.
"Kak Rey!" Aku memukul dadanya. Dia tak mengenal tempat rupanya.
Dia terkekeh, mengusap wajahku yang sudah merah padam menahan malu. "I love you," ucapnya.
"Love you, too." Malu-malu aku membalas ucapannya. "Sudah, berangkat sana! Keburu telat."
"Tunggu aku! Aku akan pulang cepat."
Ya ampun, drama apa lagi ini. Dia berkata seperti itu berulang kali.
"Iya, memang aku mau ke mana? Aku tetap di sini nungguin kamu."
Lagi-lagi dia tertawa kecil, mengusap kepalaku. Akhirnya drama di pagi hari berakhir dengan satu kali kecupan di bibir yang kulakukan padanya.
Malu? Tentu. Aku terpaksa menahan malu untuk melakukan itu supaya dia segera berangkat bekerja.
Sampai semua pria telah meninggalkan rumah, tinggallah aku dan Bunda Salwa berdiri di sana menatap dua mobil yang mulai menghilang dari pandangan. Kami berdua pun masuk ke dalam bersama-sama.
__ADS_1
Meskipun tidak memiliki toko khusus, tetapi kue yang dibuat mertuaku ini cukup laris. Mungkin kolega bisnis Ayah mertua lah yang sengaja memesan guna mempererat tali silaturahmi atau juga sebagai pendekatan karena keluarga Kak Rey adalah orang berpengaruh.
Kali ini kami membuat pesanan kue dengan gambar pemandangan. Aku pikir konsepnya kami akan melukisnya menggunakan pewarna makanan pada permukaan kue. Ternyata tidak. Mertuaku satu ini ternyata cukup terampil. Dia membuat bentuk tiga dimensi dari sebuah bentang alam lautan yang jika dilihat seperti kita sedang melihat pemandangan dari atas ketinggian.
Bunda menggabungkan cake pandan di bagian bawah dan cokelat untuk bagian atas menjadi satu tumpukan, lalu membuat bentuk tebing di kue cokelat. Tak lupa remukan cake pandan ditaburkan di atas krim cokelat sebagai pengganti dedaunan rimbun. Untuk lautnya beliau menggunakan bahan gelatin dan jeli dicampur pewarna makanan.
"Sempurna!" ucap Bunda Salwa setelah memberikan sentuhan terakhir, yaitu memasang aksesori pada kue buatannya.
Aku mengambil ponsel dari dalam tas, memotret cake hasil buatan kami sebelum dikirim ke customer. Rasanya sayang sekali kalau kue secantik ini bakal dipotong dan dihabiskan.
"Bagaimana kehamilanmu?" Kami mengobrol sambil menikmati teh selepas menyiapkan pengiriman kue.
"Baik, Bun. Alhamdulillah."
Beliau mengulurkan sesuatu yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya. Sebuah kotak berwarna hitam berbahan bludru, terlihat elegan dan mewah dengan lapisan emas di bagian tengahnya.
"Sebelumnya Bunda mau memberikan ini kepada Rena." Telapak tangannya menangkup tanganku, meletakkan kotak berwarna hitam itu di atas telapak tanganku. "Kamu tahu, Alea. Bunda tidak memiliki anak perempuan. Kakak Rey tinggal di luar kota bersama istrinya. Sementara si bungsu sudah betah di luar negeri. Hanya Rey yang masih di sini mau membantu ayahnya melanjutkan bisnis keluarga. Rey tidak pernah membantah ataupun meminta sesuatu kepada kami. Makanya saat kami tahu kalau Rey ternyata menghamilimu yang merupakan adik Rena, kami sangat terkejut. Rey yang pendiam justru melakukan hal yang dilarang agama."
"Maaf," ucapku. Meskipun itu semua bukan seratus persen kesalahanku, tetap saja ada perasaan bersalah yang menghantui ketika Bunda Salwa mengungkapkan kekecewaannya kepada Kak Rey. "Tolong maafkan Kak Rey. Dia sudah sangat menyesali perbuatannya."
"Apa pun alasan Rey, kami tidak membenarkan perbuatannya. Apalagi mempermainkan sebuah pernikahan."
Aku menunduk. Memanh benar apa yang dikatakan Bunda. Beliau pasti sangat marah dan kecewa karena pada saat itu Kak Rey dan Kak Rena baru saja membina rumah tangga.
"Alea," panggilnya.
Aku menoleh seketika. Sudut bibir beliau tersenyum, lalu menatapku dengan pandangannya yang sayu. "Bunda senang kamu bisa menerima Rey. Aku yakin ini sangat sulit. Tapi, melihat kalian berdua bahagia, kami sebagai orang tua ikut bahagia. Tugas kami hanya mendoakan dan merestui hubungan kalian." Jemari lentiknya membantuku membuka kotak hitam yang berada di telapak tanganku. Dan barulah aku tahu apa isi dari kotak tersebut. Sebuah cincin bertahtahkan permata mengias di hampir seluruh permukaannya.
"Ini hadiah pemberian dari Ayah saat awal kami menikah. Ini untukmu. Terimalah! Bunda ingin hubungan kalian awet hingga maut memisahkan. Bunda bisa melihat sendiri bagaimana Rey sering tersenyum sekarang. Dia sangat mencintaimu, Alea. Bunda yakin jika kamu bisa membawa kebahagiaan dan ketentraman pada hidup Rey."
Aku menatap cincin tersebut dengan mata berkaca-kaca. Cincin ini pasti sangat berarti bagi Bunda. Namun, beliau justru menghadiahkan ini kepadaku.
"Heem, Bunda tidak marah?" tanyaku memastikan.
Beliau menggeleng. "Penyesalan memang harus ada. Tapi, kehidupan akan terus berjalan. Kalian harus bahagia."
__ADS_1
Aku mengangguk dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Kebahagiaan jelas membanjiri hatiku. Begini kah rasanya dikasihi dan disayangi orang tua? Mereka begitu hangat. Aku merasakan memiliki keluarga yang sangat sempurna sekarang. Kuusap perutku yang sudah membuncit, mengucap syukur akan kehadirannya.
Aku tidak tahu ini semua takdir, kesalahan, atau sebuah kekhilafan semata. Hanya saja apa yang aku jalani saat ini membawaku pada sebuah titik kebahagiaan pada diri seorang wanita yang awalnya kurang kasih sayang menjadi dipenuhi cinta kasih.
***
Ini adalah pertemuan ketujuh, yaitu bagaimana Mama yang sudah siuman menjalani proses hipnoterapi. Kak Rey sengaja membantu Mama untuk menghilangkan proses traumanya dengan terapi hipnosis. Di sana, pada alam bawah sadar Mama aku diperintahkan menjadi anaknya. Ya, suaraku diperdengarkan ketika proses itu berlangsung.
Mama berada dalam posisi tidur, sementara aku diperintahkan membisikkannya sesuatu yang tentunya sudah diatur oleh profesional bagaimana kalimat demi kalimat yang harus aku ucapkan untuk memengaruhi alam bawah sadar Mama.
Kulihat kening Mama mengernyit, dahi dipenuhi keringat dingin. Dia tampak ketakutan. Seolah-olah kejadian mengerikan sedang dia alami saat ini. Dan di sana peranku sebagai anak ditunjukkan.
"Mama, kembalilah! Ini aku, Alea. Aku anakmu, Ma. Aku anakmu."
Aku hampir tak sanggup mengucapkan kalimat itu. Bibirku gemetar. Sampai-sampai Kak Rey meremas bahuku untuk menguatkan. Perlahan kerutan-kerutan di dahi Mama berangsur menghilang, bergantikan sebuah senyuman mengembang dari raut wajahnya. Dia mulai tenang. Aku menghela napas lega setelahnya.
"Semua akan baik-baik saja," bisik Kak Rey tepat di telingaku.
Saat itu, ketika Mama mulai membuka mata setelag proses hipnoterapi selesai, aku dan Kak Rey berdiri mengelilinginya. Perempuan yang memiliki banyak kerutan di matanya mengerjap, lantas menatap ke sekeliling.
Sebelumnya Mama selalu ketakutan saat melihat orang lain yang tidak dikenal, tetapi setelah menjalani beberapa kali terapi tampaknya terdapat banyak kemajuan.
Mama menatapku dan Kak Rey secara bergantian. Ada gelombang-gelombang kecil yang tercipta di keningnya menunjukkan jika beliau kebingungan. Saat mata kami bersipandang, aku menyinggungkan senyum untuknya. Namun, apa yang kulihat membuatku gak bisa menyembunyikan haru.
Dia menitikkan air mata. Tangannya terangkat menuju ke arahku. Aku mendekat dengan sedikit membungkuk. Dan saat itu juga aku merasakan tangan tua itu membelai wajahku.
"Alea," panggilnya.
Aku menangkup tangan yang berada di pipiku. Kepalaku mengangguk. Mataku berkaca-kaca. Aku merasa ini sebuah keajaiban. Mama ... mengenaliku.
Aku menangis, menumpahkan air mataku pada telapak tangannya. Telapak tangan tua yang kasar dan tidak terawat, tetapi sangat aku rindukan.
"Mama!" Aku memanggilnya. "Aku anakmu. Alea."
Aku memeluknya. Meski Mama belum sepenuhnya mengerti, tetapi aku sudah merasa bahagia. Mama sudah tidak takut kepadaku. Mamaku telah kembali setelah sekian puluh tahun lamanya.
Di ruangan yang sebelumnya hening itu, kini ada isakan tangis seorang anak yang sangat merindukan ibunya. Isak tangis bahagia yang mana telah menyadari bahwa dia tak terlahir sebatang kara di dunia ini.
__ADS_1