
Aku tersenyum hambar. Bukan, lebih tepatnya berusaha menarik kedua sudut bibirku ke atas. Aku harus terlihat tegar di hadapannya.
Kak Rena dan Kak Rey ternyata sudah memiliki anak. Aku tidak menyangka sama sekali. Bahkan, anak mereka seusia Aylin. Apa itu berarti mereka langsung menikah sesaat Kak Rey menceraikanku?
Jujur saja, mengingat hal itu hatiku hancur. Aku berusaha menahan buliran bening di pelupuk mata, menghadap ke atas langit-langit yang sudah dihiasi korden-korden cantik dan bunga hiasan menawan.
"Kak Rena!" Kuayunkan langkah mendekat ke arahnya. Lalu, bergerak maju mengusap gadis cantik yang sangat mirip dengan kakakku.
"Namanya Calista. Anakku dan ...."
"Dia cantik." Aku menyela. Aku merasa tidak perlu mendengar perkataannya. Cukup melihat gadis kecil itu seumuran dengan Aylin sudah membuat hatiku terluka. Apalagi harus mendengar penjelasannya.
"Kenapa kamu masih mengenakam pakaian seperti itu?" Kak Rena bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya. "Kamu yang mendekor kue?"
Aku hela napas dalam. Aku harus menjawab apa? Aku memang tidak memiliki gaun cantik seperti dirinya. Penghasilanku sebagai tukang kue tak seberapa. Yang pentiing cukup untuk membiayai kehidupan kedua buah hatiku.
"Iya, Kak. Selamat, ya! Akhirnya kalian menikah." Aku mengulurkan tangan ke arah Kak Rena. Dia tampak mencerna kalinatku.
"Menikah?"
"Iya, bukannya hari ini pernikahan Kakak dengan Kak ...."
"Sayang, ngapain di sini?" Perkataanku terpotong saat sebuah suara memanggil Kak Rena. Sosok lelaki yang sangat aku kenal datang mendekat, memeluk pinggang Kak Rena secara posesif.
Aku terkejut melihat pria itu. Dia bukan Kak Rey, melainkan ... Erlangga.
"Erlangga?" kataku yang tak bisa menyembunyikan raut terkejut.
Kak Rena tersenyum. Dia mengusap dada bidang yang terbalut jas abu-abu. "Iya, kami menikah lima tahun yang lalu. Ini Calista. Anakku dan Angga."
Apa?
Lalu, siapa calon pengantin Kak Rey?
Pertanyaan itu belum sempat mendapat jawaban dari otakku. Namun, sebuah tangan kekar tiba-tiba membalikkan tubuhku.
Sosok itu. Ya, sosok yang selama lima tahun aku hindari. Sosok yang sebenarnya sangat aku rindukan, kini berdiri tepat di hadapanku.
Mataku memanas. Rasa rindu yang sudah menggunung rasanya ingin meledak saat itu juga. Dia tersenyum padaku. Wajahnya lebih dewasa. Namun, dia semakin tampan.
"Kak Rey."
Air mata yang sejak tadi kutahan menetes begitu saja. Aku tidak bisa menahan rasa ini jika berada di dekatnya.
__ADS_1
Tidak, Alea! Dia akan menikah. Jangan menunjukkan kerapuhanmu padanya.
Sekuat tenaga aku berusaha tegar menghadapi ini semua. Kak Rey tidak boleh melihat keterpurukanku.
Namun, di saat hatiku membuat tameng menahan diri dari perasaan yang begitu besar padanya. Dia menarik tubuhku dan memelukku.
Aku berontak, tetapi dia enggan melepaskanku. Dia memelukku semakin erat dan begitu erat.
"Mengapa pergi tanpa bilang?" Dia berbisik padaku. "Aku seperti orang gila mencarimu. Seluruh kota Surabaya aku telusuri, tapi aku tidak menemukan jejakmu. Mengapa kamu menghindariku?"
Saat itu juga pertahananku rapuh. Aku menangis. Aku tidak kuasa menahannya. Kutumpahkan tangis yang selama ini kupendam. Aku tahu ini salah. Dia akan menikah. Bagaimana aku bisa menangis dalam pelukan mempelai pria? Dia semakin erat memelukku, dan sesekali kurasakan kecupan hangat di dahiku.
"Alea, mari kita mulai lagi dari awal. Aku mecintaimu. Aku ingin kamu berada di sisiku selamanya bersama anak-anak kita. Althaf dan Aylin."
"Apa?"
Kak Rey sudah tahu tentang putri kecilku.
Kutengadahkan wajah, menatap mata hazel yang selama ini menemani mimpi indahku.
"Mari kita menikah." Dia berkata dengan suara yang begitu tenang. Apa maksud semua ini?
Kak Rey mengukurkan kartu pernikahan padaku. Dan barulah aku sadar bahwa nama mempelai wanita dari seorang Reynan Paderson adalah ... Alea Hinata.
"Shizuka dan Nobita yang menatap bintang di langit di atas atap rumah kini akan melangsungkan pernikahan," bisiknya di telingaku.
Aku teringat akan keinginanku. Menatap bintang bersama Kak Rey di atas atap rumah. Sungguh sangat romantis. Aku baru menyadari kue pernikahan itu bertema Doraemon hanya karena ingin mengingatkanku akan peristiwa itu.
"Alea, maukah kamu menjadi istriku ... lagi? Aku mohon, jangan permalukan aku! Pesta ini akan digelar hari ini."
Aku yang sejak tadi menangis menjadi ingin tertawa mendengar perkatannya. Kak Rey benar-benar tidak berubah. Dia menyebalkan. Tapi, aku menyayanginya.
Awalnya aku ragu. Rasanya semua ini begitu cepat. Rasa sakit yang bertahun-tahun kupendam, apakah akan berakhir hari ini?
Aku masih mencintainya. Apalagi perpisahan kami memang disebabkan karena Kak Rena yang belum bisa jauh dari Kak Rey. Aku memutuskan memberi mereka kesempatan dan memilih menjauh dari kehidupan keduanya.
Lima tahun berlalu, ternyata apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Kak Rey tidak menikah dengan Kak Rena. Dia bertahan dengan posisinya sebagai seorang pria lajang yang sudah bercerai.
"Alea, aku mohon!"
Sekali lagi dia berkata padaku. Aku melihat ketulusan di sana. Apakah aku tetap pada pendirianku, atau menyerah dengan perasaan? Apalagi kedua buah hatiku selalu menanyakan sosok Papa. Mereka tak segan memanggil lelaki yang tak dikenal sebagai sebutan Papa.
"Alea, menikahlah denganku. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku ingin membahagiakan kalian bertiga. Aku mohon, jangan menolakku!"
__ADS_1
Segala pertimbangan aku pikirkan. Aku menunduk dan kutahu Kak Rey masih memperhatikan diriku. "Kak Rey, apakah setelah ini tidak akan ada wanita lain yang kamu perhatikan? Apakah kamu sanggup apa pun yang terjadi perhatianmu hanya untuk Althaf, Aylin, dan ... Aku?"
"Mengapa harus ditanya lagi? Lima tahun. Apakah waktu sebanyak itu tidak cukup untuk menyiksa batinku? Aku menyayangi kalian. Aku akan mendedikasikan seluruh hidupku untuk membahagiakan kalian." Dia menggenggam kedua tanganku, lalu mengecupnya secara bergantian pada punggung tangan. "Alea, aku tahu jika sebenarnya pernikahan kita belum sepenuhnya bercerai. Tapi, aku ingin sekali lagi melamarmu di depan semua orang. Alea, mau kah kamu menjadi istriku?"
Perkataannya yang panjang menyadarkanku. Kak Rey memang mengucapkan kata talak saat itu, tetapi tentu kalimat talak yang ia ucapkan tak berarti karena kondisiku ternyata sedang hamil.
Status kami masihlah suami istri.
Bibirku melengkungkan senyum, lalu mengangguk.
Dia memelukku. "Terima kasih. Terima kasih tidak menikah lagi. Aku takut kamu sudah menikah dengan pria lain," ucapnya sambil mencium pucuk kepalaku berkali-kali.
"Mama, Papa!"
Kudengar suara Althaf dan Aylin berteriak memanggil. Mereka ternyata sudah cantik dengan balutan gaun mahal dan juga tuxedo. Putra dan putriku terlihat bahagia memelukku dan juga Kak Rey.
"Kamu sudah mengatur semua ini?"
Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Jahat! Mengapa tidak memberi tahuku?"
"Aku sudah memberikan undangannya padamu. Bagaimana bisa kamu tidak membacanya?"
Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sungguh aku malu. Aku terlalu cemburu saat itu. Bahkan, aku tidak sanggup berpikir apa-apa.
"Jangan ditutup! Jangan sembunyi lagi! Karena aku pasti akan menemukanmu." Dia melabuhkan sekali lagi kecupan di dahiku. "Cepat ke ruang ganti. Acara akan berlangsung setengah jam lagi."
"Apa?"
Jelas aku terkejut. Bagaimana bisa mempersiapkan mempelai wanita dalam waktu sesingkat itu?
"Ayo, pergi sana! Aku sudah tidak sabar menunggu nanti malam." Tangan kekar itu sedikit mendorongku, mengarahkanku ke ruang ganti diikuti oleh Althaf dan Aylin.
Wajahku bersemu mendengar penuturan Kak Rey. Apakah ini nyata? Tolong, bangunkan aku jika bermimpi. Namun, aku sadar jika ini adalah benar adanya.
Aku tidak bermimpi.
...****************...
Tamat apa lanjut ðŸ¤
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. 🤗🤗