
Kuhela napas dalam, mencoba menulikan telinga dan membutakan mata akan apa yang terjadi di kamar itu. Segera kutinggalkan mereka yang pasti telah bergumul selayaknya pasangan suami istri, menjalin kasih yang sanggup meremukkan hatiku.
Terlalu tergugu dalam tangis, aku tanpa sengaja menyenggol vas bunga yang berada di atas tangga. Aku terkesiap, takut jika mereka mendengar suara vas bunga pecah. Segera aku melebarkan langkah, berlari dari sana, menuruni satu per satu anak tangga sebelum Kak Rey ataupun Kak Rena menyadari keberadaanku.
Dengan kasar kuseka air mataku sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobil. Zoya ternyata terbangun ketika aku duduk di sampingnya.
"Tante nangis?" tanyanya dengan sedikit menguap.
Aku hanya tersenyum, mengusap kepala gadis bermata bulat itu, lalu memeluknya. Kudekap dia erat, membelainya seperti seorang ibu terhadap anaknya. Aku terisak di sana, memeluk Zoya sebagai pelampiasan kesedihan yang aku rasakan.
"Tante antar kamu pulang, ya!" Aku mencium kening Zoya, meredakan tangis yang hampir pecah. "Pak, tahu rumah Zoya, kan?" Aku bertanya kepada sopir yang mengantar kami.
Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Iya, Non."
"Kita ke rumah Zoya. Orang tuanya sudah menunggu."
Aku memutuskan untuk mengirim Zoya kembali ke rumahnya sesuai rencana awal Kak Rey. Aku mungkin tidak akan sanggup mengurusnya malam ini karena perasaanku sangat kacau.
Masih terbayang di kepalaku bagaimana Kak Rey berciuman dengan Kak Rena. Suara ******* dan teriakan mereka terngiang kembali di telingaku. Hatiku sakit, benar-benar sakit.
Ternyata seperti ini rasanya dimadu. Aku baru menyadari betapa beratnya keputusanku menerima pernikahan ini. Namun, tidak ada yang bisa aku lakukan selain bertahan sampai janin ini terlahir ke dunia.
Sampai ketika mobil kami berhenti di sebuah rumah mewah berada di dekat jalan raya. Aku bertanya kepada Pak Sopir. "Apakah ini rumahnya?"
"Iya, Non. Ini rumah Tuan Alvaro, ayah dari Non Zoya."
"Oh!" Aku mengangguk, lalu menepuk pelan pipi Zoya yang tertidur di pangkuanku.
"Zoya, bangun, Sayang! Kita sudah sampai."
Gadis kecil itu mengerjapkan kelopak mata, lalu menoleh ke luar jendela. "Sudah sampai, ya, Tan."
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Security rumah Zoya membukakan pintu, mempersilakan mobil kami masuk ke dalam rumah besar itu. Meski di depan jalan umum, rumah ini sangat asri. Taman yang menghubungkan rumah dengan gerbang depan sangatlah luas. Sepertinya penghuni rumah sangat menyukai tanaman sehingga taman di sini terlihat indah dan memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Dengan dihiasi bolham lampu di kanan dan kiri jalan tempat mobil melintas menambah kesan mewah dan eksotis dari segi estetika.
Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah Zoya. Mendadak aku ragu untuk mengantar Zoya masuk ke dalam.
Siapa aku?
Mengapa aku bisa bersama Zoya?
Pasti banyak pertanyaan yang akan mereka ajukan kepadaku nanti sehingga aku harus berpikir ulang untuk mengantarkan Zoya tanpa membuat orang lain menyadari keberadaanku.
"Pak, tolong ajak Zoya masuk!" Aku menatap mata bulat Zoya dengan lembut. "Sayang, Tante pulang, ya! Lain kali Zoya bisa main lagi ke rumah Tante."
"Iya, Tan. Bilangin Om Rey agar jemput Zoya lagi untuk diajak main ke rumah Tante." Dia berkata dengan semangat, menggunakan logat khas yang menggemaskan.
"Pasti." Aku tersenyum kepadanya. Pak Sopir membukakan pintu, lalu mengajak Zoya keluar mobil untuk masuk ke rumahnya. Aku hanya bisa menatap punggung gadis kecil itu dari dalam mobil. Mataku masih basah karena tangis, seolah pasokan air mataku tiada batasnya.
***
Aku pun enggan menghubungi Kak Rey karena pasti akan mengganggu hubungannya dengan Kak Rena. Ya, sebaiknya begitu. Lebih baik dia tidak muncul di hadapanku agar aku terbiasa tanpa dirinya. Aku akan lebih mudah melupakan dan menyingkirkan perasaanku yang beberapa waktu lalu selalu memikirkannya.
Sekitar pukul enam pagi, rasa bosan menyelimutiku. Aku ingin sekali keluar untuk sekadar jalan-jalan menghirup udara luar. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku memutuskan untuk pergi ke taman kota. Setidaknya hari Minggu ini akan lebih berwarna jika bertemu dengan orang lain dan berbaur seperti manusia normal lainnya.
Menggunakan jasa ojek online, aku akhirnya sampai di taman kota sekitar pukul tujuh pagi. Suasana sudah sangat ramai dengan banyaknya pejalan kaki dan keluarga yang sedang mengisi waktu liburan mereka. Keinginan untuk berbaur seolah lenyap begitu saja bergantikan menonton pasangan muda-mudi serta anak-anak yang bermain bersama keluarga mereka.
Sebuah dudukan berbahan semen kujadikan tempat bersinggah sebentar sembari memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu-lalang di depanku. Anak-anak kecil digendong di punggung oleh ayah mereka, sementara tangan sang ibu digenggam oleh tangan kekar suaminya. Mereka tampak bahagia dengan keluarga yang lengkap, saling mengasihi dan menyayangi.
Kuusap perutku sendiri. Apakah nasib anakku akan sama denganku atau justru lebih parah? Dia akan kehilangan sosok ayah yang harusnya melindungi dan memanjakannya di saat masa pertumbuhan. Aku tidak bisa menuntut banyak kepada Kak Rey. Akan tetapi, anak ini juga membutuhkan figur seorang ayah yang dijadikan panutan.
Mendadak sudut mataku menghangat. Kembali aku merasa merindukan lelaki itu. Mengapa sulit sekali mengenyahkan dirinya dari kepalaku?
Aku beranjak dari dudukku, lalu memutuskan ke toko yang terletak di seberang taman. Sebuah toko oleh-oleh yang menjual berbagai macam cindera mata sebagai ciri khas budaya daerah.
Aku tidak berniat membeli apa-apa. Hanya sekadar ingin cuci mata, melihat-lihat barang-barang unik yang dijual oleh pemilik toko. Semua tampak cantik dan lucu. Pantas saja banyak sekali pengunjung yang sudah berjubel memenuhi toko ini meski hari masih pagi.
__ADS_1
Sebuah bola salju berukuran rubik menarik perhatianku. Di sana, di dalam bola berwarnah jernih terdapat keluarga kecil yang terdiri ayah dan ibu bersama seorang bayi berada dalam buaian. Kepala sang ibu menempel di dada suaminya, sementara sang ayah melingkarkan tangannya memeluk istrinya. Mereka tampak manis dan bahagia.
Entah mengapa tiba-tiba aku memutuskan membeli benda itu. Aku teringat Kak Rey. Ah, lagi-lagi. Mengapa wajah itu selalu muncul dalam ingatanku.
Aku meminta pelayan toko untuk membungkus bola salju tersebut dan menuliskan kata-kata di dalamnya. Hanya kata singkat, tetapi sarat akan makna.
"Tersenyumlah! Kamu akan bahagia dengan sendirinya."
Seharusnya kata-kata itu lebih ditujukan untuk diriku sendiri. Namun, senyum Kak Rey yang jarang ditampilkan membuatku ingin sekali melihatnya tersenyum. Senyum langka yang hanya bisa kudapatkan pada momen-momen tertentu membuatku ingin melihatnya lagi. Paling tidak, saat aku pergi darinya dia menatapku sambil tersenyum.
Setelah melakukan pembayaran, aku segera keluar dari toko oleh-oleh tersebut. Tepat ketika ingin kembali ke area taman, tiba-tiba ada suara yang memanggilku.
"Non Alea!"
Mataku mengedar mencari sosok yang memanggil namaku. Suara itu jelas sangat kukenal sehingga tanpa banyak memakan waktu aku bisa menemukannya.
"Mbak Leli?"
Dia asisten rumah tangga di rumah keluarga Hinata. Kami sering bercanda saat membuat sarapan setiap pagi sehingga hubungan kami cukup dekat.
"Non Alea, lama sekali tidak kelihatan. Apa kabar, Non. Mbak kangen banget."
Aku menggeleng. "Panggil Alea aja, Mbak. Aku bukan anak majikan Mbak lagi."
Wajah Mbak Leli berubah muram saat aku mengatakan hal itu. "Turut sedih dengan masalah yang menimpa Non Alea. Non dan kandungan Non, sehat, kan?"
"Heem." Aku mengangguk. "Sehat, Mbak. Alhamdulillah."
Kami sedikit berbasa-basi, menanyakan hal-hal umum seperti orang yang telah lama tidak berjumpa. Sampai saat Mbak Leli mengatakan satu hal yang membuatku terkejut.
"Non, sebenarnya ada suatu rahasia yang selama ini saya bungkam. Ini terkait ibu kandung Non Alea."
Saat itu juga perasaanku mulai tidak enak. Perkataan Mbak Leli menggantung, membuat rasa penasaranku tak sabar untuk menunggu kelanjutan perempuan berusia empat puluh dua tahun itu bicara.
__ADS_1