Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 70. Panik


__ADS_3

Kak Rey berjalan terburu-buru dengan aku mengikut di belakangnya. Dia menggendong Kak Rena yang sudah lemas dengan darah segar merembes tak henti-henti menetes di lantai. Segera kami membawanya ke ruang UGD dengan perawat sudah menyusul kami membawa brankar.


Kak Rey membaringkan Kak Rena di sana yang sudah tidak sadarkam diri. Aku gemetar melihat kondisi Kak Rena yang mengenaskan. Kak Rey memelukku setelah sebelumnya menyugar rambutnya kasar.


"Tenang, ya?" Telapak tangannya yang besar mengusap lenganku. Aku mengangguk patuh.


Aku tahu Kak Rey juga tidak bisa setenang itu. Ia hanya berusaha menahan diri agar aku tidak ikut panik. Tapi, melihat raut wajahnya yang mendadak pasi membuatku mengerti. Kami berdua mencemaskan kondisi Kak Rena.


"Alea, duduklah! Atau kamu pulang dan beristirahat di rumah. Aku akan meminta sopir menjemputmu."


Aku menggeleng. Aku belum bisa tenang sebelum mekihat hasil pemeriksaan Kak Rena. Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.


Bagaimanapun jika Kak Rena tidak mendorong aku dan Kak Rey, mungkin kami lah yang menjadi korban dari runtuhan papan tersebut. Bagaimana bisa papan yang kokoh begitu harus jatuh dengan sendirinya tanpa ada pemicu?


Aku duduk di sana, di kursi panjang berbahan besi yang terletak di depan UGD. Padahal tadi Kak Rena datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesahatannya. Namun, bukannya sehat dia justru seperti sedang menyetorkan nyawanya cuma-cuma.


Aku melihat Kak Rey menghubungi seseorang. Dia tidak mau duduk sama sekali. Sepertinya ada rasa penyesalan hebat yang sedang membelenggu hatinya. Apalagi sebelumnya ia sempat bersikap dingin dengan Kak Rena.


Sekitar lima belas menit lamanya, seorang wanita paruh baya datang dengan tergopoh-gopoh ke arah kami. Dia adalah Mama Sonya. Mungkin Kak Rey yang menghubungi Mama Sonya dan memberi tahu kabar buruk itu padanya.


"Rey, bagaimana perkembangan Rena?"


Kak Rey hanya diam membisu. Kami pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Kak Rena karena sejak tadi tiada tanda-tanda ruang emergency itu terbuka.


Mama Sonya menempelkan telapak tangannya pada kaca ruangan tersebut yang tertutup kelambu. Meskipun beliau ingin mengintip, tetapi tidak bisa dilakukan karena ruangan sudah tertutup rapat.


"Bagaimana bisa Rena tertimpa papan besar? Aku harus menuntut pihak rumah sakit!" Mama Sonya berbicara dengan menangis. Tangannya memukul-mukul dinding bercat putih bersih tersebut. "Rena, kamu harus kuat, Sayang. Mama tidak memiliki siapa-siapa lagi." Beliau menangis.


Aku tak kuasa melihatnya. Mama Sonya begitu menyayangi Kak Rena. Kak Rena adalah kebanggannya, buah hatinya tercinta. Tidak ada orang tua yang mampu kehilangan anaknya sendiri. Itu adalah hal yang paling menyakitkan dan tidak akan bisa diterima oleh orang tua manapun. Termasuk aku. Aku bisa merasakan bagaimana kesedihan Mama Sonya saat ini.

__ADS_1


"Ma!" Kak Rey menepuk bahu Mama Sonya. "Tenanglah! Rena akan baik-baik saja. Aku yakin."


Mama Sonya menyeka air mata dengan punggung tangannya. "Bagaimana kamu seyakin itu? Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini? Rena terlalu banyak menderita. Dia bahkan tidak merawat dirinya akhir-akhir ini." Beliau terisak. Tubuhnya luruh ke bawah.


Aku tidak tahu harus berkata apa. Perasaan orang tua memang begitu kuat untuk anaknya. Apalagi mengetahu putri semata wayang yang beliau kasihi disakiti oleh orang lain, pasti rasa sakit itu terasa semakin menyiksa batinnya.


Hampir tiga puluh menit menunggu, Kak Rey ternyata menghubungi Bunda Salwa. Aku baru tahu saat beliau tiba-tiba datang dengan terburu-buru.


"Rey, ada apa? Di mana Alea?"


Kak Rey mengedikkan dagu ke arahku. Aku memang duduk di belakang tubuh Mama Sonya. Beliau berdiri menghalangi pandanganku.


Bunda datang menghampiriku, mengambil alih Althaf dariku. "Alea, sebaiknya kita pulang. Biar Rey di sini menunggu."


Aku menggeleng. Aku tidak mungkin meninggalkan Kak Rena dalam kondisi seperti ini. Apalagi dia terluka karena menolongku. Bagaimana bisa aku setega itu.


Aku menatap ke arah Kak Rey. Tampaknya dia tak peduli, seolah pikirannya benar-benar disibukkan dengan bagaimana kondisi Kak Rena. Sedikit ada rasa ngilu di sudut hatiku. Apakah Kak Rey menyesali perbuatannya yang telah meninggalkan Kak Rena dengan memilihku? Apalagi sebelum kami pergi, Kak Rena sempat mengatakan memikirkan seseorang yang tidak memikirkannya. Aku yakin jika masih ada cinta yang begitu besar di hati mereka berdua.


Kini, aku mengangguk mengiakan permintaan Bunda untuk pulang. Bagaimanapun keberadaanku tidak sepenuhnya dibutuhkan. Aku beranjak dari kursi besi itu, lalu menghampiri Kak Rey.


"Kak, aku pulang dulu. Kabari aku jika ada perkembangan Kak Rena," ucapku lirih. Tanganku meraih tangan Kak Rey, mencium punggung tangannya. Dan saat itu juga dia melabuhkan bibirnya pada keningku. Sebuah kecupan hangat yang acapkali ia lakukan saat kami hendak berpisah.


"Hati-hati," ujarnya.


Aku mengangguk. Kualihkan pandanganku ke arah Mama Sonya, ingin berpamitan, tetapi wanita paruh baya itu tampak enggan menatapku.


Bunda memanggilku dan dengan segera aku menghampirinya. Kami akhirnya pergi berdua meninggalkan rumah sakit untuk kembali pulang.


***

__ADS_1


Ketika hari mulai petang, aku tak melihat panggilan ataupun pesan masuk dari Kak Rey. Dia juga belum kembali dari rumah sakit. Aku semakin takut jika kondisi Kak Rena semakin buruk.


"Alea, ayo makan!" Suara Bunda memanggilku.


Entahlah, aku merasa tidak lapar. Aku ingin menunggu Kak Rey pulang. Mengapa dia tidak menghubungiku?


"Sebentar, Bun. Mungkin sebentar lagi Kak Rey pulang."


Bunda mengusap kepalaku. Beliau berbisik lirih. "Makan, ya! Rey akan marah jika kamu tidak makan."


Aku mengangguk. Aku menyangsikan jika Kak Rey akan marah. Mungkin saat ini dia justru tidak peduli. Atau dia juga belum mengisi perutnya sejak tadi. Aku mengesah kasar. Mungkin aku harus ke sana dengan membawakan dia bekal makan malam.


"Bun, nitip Althaf, ya? Saya mau ke rumah sakit. Saya yakin Kak Rey belum makan."


Bunda terlihat tak menyetujui ideku. Namun, aku benar-benar mencemaskan Kak Rey. Bagaimanapun Kak Rena terluka karena menyelamatkan nyawa kami bertiga sehingga pasti Kak Rey merasakan rasa bersalah yang bertubi-tubi.


"Baiklah, hati-hati. Jika membutuhkan sesuatu, cepat beri tahu kami. Bawa sopir dari rumah!"


Aku mengangguk sembari menyunggingkan senyum.


***


Hanya butuh dua puluh menit untuk aku bisa mencapai rumah sakit di mana Kak Rena dirawat. Setelah mencari di ruang Unit Gawat Darurat, aku baru mengetahui jika Kak Rena sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Aku bergegas ke sana sembari membawakan Kak Rey bekal makan malam.


Mungkin memang Mama Sonya tidak memiliki pengganti untuk menjaga Kak Rena sehingga Kak Rey harus rela menjaga kakakku sebagai bentuk tanggung jawab. Karena aku tahu sifat Kak Rey yang tidak pernah melepaskan tanggung jawab jika dia merasa bersalah.


Dan kini saat aku berada di depan ruangan Kak Rena yang pintunya terbuka sedikit, aku melihat Kak Rey menunggui Kak Rena yang sedang berbaring dengan mata terpejam, juga perban tebal yang membalut kepalanya.


Kak Rey menangis di sisi Kak Rena.

__ADS_1


__ADS_2