
Aku duduk di sana, memperhatikan mata tua yang terkatup rapat dengan wajah pucat pasi. Saturasinya naik-turun secara perlahan, begitu lirih dan lemah.
Aku meminta Kak Rey untuk meninggalkanku sementara waktu berdua bersama ibuku. Ada hal yang membuat batinku bergejolak, merasa menjadi seorang anak yang tidak berguna. Dia pasti sangat ketakutan. Melihatnya selalu menggendong boneka yang sudah lusuh itu, aku bisa merasakan bahwa ibuku sangat menyayangiku. Aku tidak tahu siapa yang membuatnya menjadi seperti ini.
Kugenggam tangan kurusnya. Tangan yang terlihat jelas gurat-gurat pembuluh darah itu menunjukkan jika selama ini ibuku tidak terurus dengan baik. Hatiku trenyuh membayangkan betapa kejamnya dunia memperlakukan ibuku.
Kedua pergelangan kakinya terdapat bekas membiru. Bekas luka itu tampaknya sudah lama sekali. Seperti lebam karena terlalu lama terikat dalam posisi yang sama. Hal mengerikan apa yang selama ini telah Ibu alami?
Kuletakkan wajahku di telapak tangan Ibu yang terbuka, aku menangis di sana. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi tangisan yang kukeluarkan ini benar-benar menjadi bukti bahwa hatiku terluka melihat kondisi Ibu yang seperti ini.
Terlalu terbuai dan tenggelam dalam kesedihan, aku tidak menyadari seseorang masuk ke ruangan Ibu. Sebuah tangan meremas bahuku, membuatku segera menegakkan tubuh dan menoleh ke sosok di sampingku.
"Alea, aku ingin membicarakan suatu hal penting padamu."
***
Sebuah ruangan yang berisi puluhan layar monitor menyambutku begitu aku masuk ke dalam dengan Kak Rey melingkarkan lengannya di bahuku. Lelaki itu dengan penuh perhatian selalu berada di sampingku dan menjagaku.
Sebuah kursi panjang berbahan besi yang terletak di tepi ruangan sudah dipenuhi orang-orang asing. Aku sempat takut dan merasa tidak nyaman. Di ruangan ini hanya aku yang perempuan. Namun, Kak Rey sepertinya mengerti akan ketidaknyamananku sehingga dia merangkulku sejak tadi.
"Duduklah!" perintah Kak Rey kepadaku.
__ADS_1
Aku duduk di kursi tunggal yang ada di dekat dinding dengan Kak Rey berdiri tepat di belakangku. Sementara di depanku ada layar monitor besar yang terletak di atas meja dalam posisi mati.
"Alea, jika kamu tidak kuat melihat ini, berputar ke arahku. Aku akan menghentikan tayangannya." Kak Rey berbisik kepadaku. Aku masih tidak mengerti apa yang ingin dia tunjukkan, tetapi aku hanya mengangguk menyetujui.
Dalam beberapa menit berlalu, setelah mereka mengatur waktu dengan tayangan Video yang ingin dipertunjukkan kepadaku, barulah layar monitor itu menampilkan sebuah tayangan.
"Kalian keluarlah! Aku akan memanggil kalian saat membutuhkan." Kak Rey memerintah dan saat itu juga, langsung tanpa bicara mereka semua yang sejak tadi berkumpul segera meninggalkan ruangan.
Di sana, yaitu di dalam video itu menampilkan seorang wanita dikeroyok oleh tiga orang laki-laki, diperkosa secara bergilir. Aku melihat wanita itu terus-menerus memberontak, memukul, menangis, tetapi pria-pria itu seolah tak peduli. Dia dilecehkan dengan brutal dan menyedihkan. Aku hampir tidak kuat melihat tayangan itu ketika mendengar jeritan perempuan yang menjadi budak nâfsu mereka. Tanganku mengepal, sungguh perbuatan biadap.
Lalu, tayangan itu berubah dengan menampilkan sosok wanita bunting yang tengah melahirkan. Kali ini sepertinya adalah video buatan. Aku bisa memastikan hal itu dari editannya yang masih terlihat kasar.
Namun, bukan itu yang menjadi perhatianku. Melainkan, isi dari video tersebut. Di sana wanita yang baru saja melahirkan itu mengambil pisau, lalu melibas leher bayinya. Tidak hanya itu, dia juga mencincang-cincang tubuh mungil yang masih memerah dengan tali pusar menjuntai. Aku memejamkan mata, tidak kuat melihat keseluruhan adegan tersebut. Segera kuberbalik badan, meminta Kak Rey menghentikan tayangannya. Sungguh, itu adalah video tersadis yang pernah aku lihat.
Ada rasa takut yang tiba-tiba datang menghantui, seolah aku adalah monster bagi anakku sendiri. Keringat dingin keluar dari tubuhku.
Aku ketakutan.
"Kak Rey!" Bibirku gemetar ketika memanggil namanya. Aku memeluknya, memeluk dengan sangat erat. Aku benar-benar takut.
"Alea, kamu baik-baik saja?" tannyanya dengan mengguncang bahuku.
__ADS_1
Aku menggeleng, membenamkan wajahku pada tubuhnya. Apa yang aku lihat baru saja sungguh mengerikan.
Kak Rey memanggil seseorang melalui telepon, dan dalam beberapa menit terdengar suara laki-laki yang telah masuk ke ruangan itu. "Ini minumnya, Tuan."
"Alea, minum dulu. Tenangkan dirimu!" ucap Kak Rey dengan menyodorkan minuman kepadaku.
Aku hela napas dalam, lalu mengangguk patuh. Kuambil gelas yang berisi air itu, lalu menyesapnya hingga tandas.
Kak Rey mengusap punggungku dan menepuk bahuku. Dia berbisik lirih. "Maaf, aku tidak tahu jika dampaknya seperti ini. Tapi, jangan takut! Aku akan selalu menemanimu."
"Heem." Aku menanggapi dengan deheman. "Apa maksud semua ini, Kak?"
"Alea, sebelumnya aku ingin merahasiakan ini kepadamu, tetapi rasanya kamu juga harus tahu." Kak Rey terlihat enggan meneruskan. Dia menatapku dengan sorot mata penuh kekawatiran. Namun, aku segera meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.
"Katakan, Kak!"
Kudengar helaan napas berat darinya. Kemudian dia berkata, "Video yang kedua adalah video buatan yang dibuat menggunakan teknologi artificial inteligence. Sementara video yang pertama adalah video asli. Itu adalah rekaman yang dari segi kualitas gambarnya masih berupa video analog, yaitu video zaman dulu. Sepertinya kejadian itu sengaja direkam oleh seseorang. Dan wanita yang berada dalam rekaman video itu tak lain adalah ... Diana."
"Apa?"
Ya, Tuhan, kebenaran lagi yang Engkau tunjukkan padaku?
__ADS_1
Kak Rey tampak tak tega mengutarakannya. "Ya, Alea. Dia sempat mengalami pemerkosaan secara bergilir. Jika dilihat dari reaksi para laki-laki, sepertinya mereka sedang dipengaruhi alkohol. Aku belum bisa menyelidiki siapa-siapa di antara mereka. Namun, satu orang yang aku kenal, dan kamu juga pasti sangat mengenalnya meskipun kualitas videonya sangat buruk." Kak Rey menjeda kalimatnya sejenak sebelum akhirnya mengatakan, "Ada Paman Arya Hinata dalam peristiwa itu."
...****************...