Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 22. Apa yang Dia Inginkan?


__ADS_3

Rumah ini meski hanya terdiri dari dua lantai, tetapi terlalu besar apabila hanya aku yang menghuninya. Rumah bergaya modern tanpa pagar dengan warna nude yang mendominasi dan taman kecil di bagian depan menjadikan hunian ini terlihat mewah dan sejuk.


Berkonsep hemat energi, rumah yang Kak Rey pilihkan memiliki banyak jendela kaca lebar di bagian-bagian tertentu agar memudahkan sinar matahari masuk menerangi ruangan dalam pada siang hari meski tidak menyalakan lampu. Terdapat tanaman hias di tengah rumah yang diberi atap kaca, memudahkan tanaman itu melakukan proses fotosintesis walaupun berada dalam ruangan.


Aku berkeliling melihat-lihat setiap detail bangunan ini, termasuk memeriksa kamar utama yang Kak Rey maksudkan. Kamarnya sudah ditata rapi dan wangi. Ada lemari pakaian di sisi kiri. Tanganku tergerak untuk melihat isi dalamnya. Dan ternyata, di sana sudah penuh dengan pakaian wanita lengkap.


Aku tidak menyangka jika Kak Rey sudah mempersiapkan semua ini di belakangku. Mungkinkah ketidakhadirannya beberapa hari belakangan karena ia sibuk menyiapkan kejutan ini untukku?


Apakah itu artinya dia benar-benar menyayangi anak yang saat ini berada dalam kandunganku?


Tanpa sadar aku mengusap perutku sendiri. Andai saja Kak Rey bukanlah suami Kak Rena, mungkin aku akan merasakan kebahagiaan yang berlipat. Namun, kebaikan Kak Rey ini justru membuatku takut. Aku takut apabila hatiku terlalu jauh mengharapkannya. Aku takut jatuh cinta kepadanya.


Aku takut ... terluka.


***


Malam itu, di saat rembulan terlihat membulat sempurna dengan cahayanya yang terang tampak indah memanjakan mata, aku duduk di balkon kamar sambil menyesap teh hangat yang baru saja kubuat. Angin malam berembus sepoi-sepoi meniupkan helai demi helai rambutku yang sengaja kuurai.


Perkataan Kak Rey tadi siang cukup membuatku penasaran. Dia akan datang malam ini? Apa yang dia inginkan?


Sejujurnya, aku belum sepenuhnya percaya dengan lelaki itu. Bagaimana karakter dan sifatnya yang sering membuatku salah sangka. Ekspresinya yang dingin, kadang terlihat hangat, tetapi juga menyeramkan. Dia dalam sekejap mampu menjungkirbalikkan keadaan juga ... perasaanku.


Hampir dua jam aku merenung di balkon kamar, memikirkan apa yang akan Kak Rey perbuat kepadaku. Tanpa sadar aku menantikan kedatangannya. Menunggu saat itu tiba dari waktu ke waktu, menghitung berapa jam yang sudah terlewat, kemudian dari menit ke menit hingga detik ke detik. Sampai akhirnya aku terbuai dalam masa penantian, tertidur di sofabed yang aku gunakan duduk sembari menjulurkan kaki saat ini.


Hawa dingin tiba-tiba mengusik tidurku. Tanganku secara naluri memeluk tubuhku, tetapi aku merasakan raga ini melayang meski mataku masih saja terpejam.


Sampai ketika kupaksakan mata ini terbuka, mataku langsung tertuju pada dada bidang yang berbalut kaus putih polos. Mataku mengerjap, menyadari siapa yang sedang ... menggendongku.


"Kak Rey."


Lelaki ini sepertinya kecanduan menggendongku. Jika sudah datang, mengapa tidak membangunkanku saja?


Dia merebahkanku di atas ranjang, lalu berkata, "Mengapa tidur di luar? Wanita hamil tidak boleh terkena angin malam." Perkataannya membuatku tersadar bahwa sebelumnya aku ketiduran.

__ADS_1


"Aku ... menunggumu sampai ketiduran," jawabku.


"Maaf, aku terlambat." Kak Rey menunduk, duduk di sisi ranjang di mana kakiku menjulur ke depan. "Apa malam ini kamu sudah minum susu?"


"Eh?" Jelas saja aku terkejut. Sejak kapan Kak Rey memperhatikan apa yang aku konsumsi?


"Belum, ya? Pasti tidak tahu tempat susunya. Ayo, ikut aku! Aku tunjukkan tempatnya." Tangannya menarikku sehingga aku terpaksa ikut dengannya.


Aku melirik jam dinding yang berada di ruang tengah. Ternyata sudah memasuki pukul satu dini hari. Aku pikir Kak Rey tidak akan datang, tetapi ternyata apa yang aku pikirkan salah. Dia datang meskipun terlambat. Sesungguhnya aku sangat penasaran, apa tujuan lelaki di depanku ini menemuiku malam-malam begini.


Kak Rey melepaskan tanganku setelah berada di depan patry dapur. Dia membuka salah satu lemari dapur bagian atas. Di sana sudah tersedia beberapa kardus susu ibu hamil dengan berbagai varian rasa. Lelaki berpostur jangkung menoleh kepadaku seraya berkata, "Kamu mau rasa apa?"


"Eh, emm ... cokelat." Aku mendadak gugup ketika menjawab pertanyaannya.


Kak Rey mengangguk, lantas membuatkan segelas susu hangat dengan rasa cokelat untukku. Aku sempat tidak percaya jika lelaki itu melakukan semua ini. Padahal dia yang kukenal memiliki kepribadian yang angkuh dan tak acuh kepada orang lain.


Susu itu diletakkan di atas meja bar, lalu Kak Rey menyeret salah satu barstool untukku dengan dirinya duduk di barstool lain. "Ayo, duduk! Tidak baik minun sambil berdiri," perintahnya yang membuatku menuruti akan apa yang lelaki itu katakan.


Aku mengangguk mengiakan perkataan Kak Rey setelah menghabiskan segelas susu coklat itu. Tunggu, apakah susu yang setiap hari aku minum di hotel adalah susu untuk wanita hamil? Apa itu artinya selama ini Kak Rey memperhatikan asupan nutrisiku?


Aku ingin bertanya kepadanya, tetapi aku merasa canggung dan tidak percaya diri. Pasti tahu, kan, jika Kak Rey selalu mengataiku yang membuat harga diriku jatuh? Jadi, aku memutuskan untuk menyimpan pertanyaan itu di kepalaku sendiri.


"Kak Rey, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Aku mengusap bibirku yang mungkin belepotan akibat susu coklat menggunakan tangan, tetapi detik itu juga Kak Rey mengulurkan sapu tangannya kepadaku.


"Pakai ini?"


Aku menerimanya. Ya, dia memang tipe pembersih.


"Apakah Kak Rena mencariku?" tanyaku kemudian tanpa menunggu persetujuan darinya.


"Ya."


"Apa Kak Rena tahu jika aku diusir dari rumah?"

__ADS_1


"Ya."


"Apa dia mencemaskanku?"


"Ya."


"Kak Rey, mengapa jawabannya ya, ya, ya, terus?" Aku mendengkus. Lelaki itu sungguh menguji kesabaranku.


"Lalu, aku harus jawab apa?"


Aku embuskan napas kasar, lalu beranjak dari dudukku. "Sudahlah, bicara denganmu membuat tensi darahku naik saja." Aku meninggalkannya.


Aku sangat penasaran dengan Kak Rena. Bagaimana kabarnya? Aku ingin sekali bicara dengannya. Bagaimanapun dia adalah kakakku. Kami dibesarkan bersama saat kecil dan saling menyayangi satu sama lain. Akan tetapi, ada rasa ragu dan malu ketika ingin menemuinya. Karena di belakangnya aku telah menikah dengan suaminya.


"Alea, tunggu!"


Aku berhenti tanpa menoleh kepadanya. Rasa kesal karena dia selalu menjawab asal-asalan setiap pertanyaanku, membuatku malas berhadapan lagi dengannya.


"Malam ini, mau kah kamu melakukan sesuatu denganku?"


Deg!


Melakukan sesuatu? Malam ini?


Seketika tubuhku merinding tanpa sebab. Bahkan nalarku tak sanggup mencerna maksud dari perkataannya.


"A-apa maksudmu?" Suaraku mendadak gagap. Seolah tanpa sadar membuka jelas apa yang sedang aku pikirkan saat ini.


Dia beranjak dari duduknya, lantas berjalan mendekatiku. "Sebenarnya aku ingin melakukan ini sejak awal kita menikah. Tapi, aku baru bisa mengutarakannya sekarang. Alea, aku ingin melakukannya berdua denganmu."


Saat itu juga aku kesulitan menelan ludah.


Sungguh, pikiranku tidak bisa menerjemahkan apa maksud tersirat yang sebenarnya ingin Kak Rey lakukan bersamaku?

__ADS_1


__ADS_2