
Kak Rey malah meringis, menenggelamkan wajahnya di belakang rambutku. Kurasakan dia menggesekkan hidungnya di sana. Entahlah, kebiasaan Kak Rey yang seperti ini terkadang membuatku gemas.
"Kelepasan, Sayang. Gak apa, ya, kalau hamil lagi. Aku akan tanggung jawab, kok."
Bukan masalah itu. Aku kan habis caesar. Bagaimana bisa Kak Rey lupa. Aku jadi kesal karenanya.
"Lain kali pake pengaman."
Tapi, sepertinya dia enggan menggubris perkataanku. Karena aku merasakan dengkuran halus keluar dari bibirnya.
Heem, secepat itu dia terlelap setelah menyiksaku.
***
Pernikahan kami berjalan lancar tanpa hambatan. Kak Rey benar-benar menjadi suami idaman. Dia sering kali memberi kejutan untukku saat rasa penat menghampiri. Sepertinya sifat Ayah yang romantis menurun kepadanya.
Seperti malam ini ....
Dia membawa Mama pulang.
Aku begitu terkejut ketika Kak Rey tanpa sepengetahuanku membawa Mama pulang dari yayasan. Aku belum sempat menjenguknya pasca persalinan. Kini setelah usia Althaf memasuki dua bulan, Mama datang ke rumah bersama Kak Rey dan seorang suster wanita berusia sekitar empat puluh tahun.
"Mama!"
Aku yang saat itu sedang menggendong Althaf langsung menghampirinya. Mama sudah lebih segar dari terakhir aku melihatnya.
Kak Rey mengambil alih Althaf dalam gendonganku, membiarkanku melabuhkan kerinduanku pada mamaku. Aku memeluknya dan beliau membalas pelukanku.
Kudengar suara isak tangis Mama ketika pelukan kami saling mengerat. Seolah kami telah dipisahkan dalam jangka waktu lama. Meskipun itu benar adanya.
Kami menangis bersamaan dalam satu pelukan.
Rasanya ini adalah anugera Tuhan yang paling indah. Aku tidak tahu jika perkembangan Mama sudah sejauh ini sehingga Kak Rey akhirnya mengajak beliau pulang ke rumah, mempertemukan denganku dan cucu pertamanya.
Mama mencium keningku setelah pelukan kami terurai.
"Maafkan Mama, Alea. Mama bukan mama yang baik."
Aku menggeleng. Apa pun yang terjadi, Mama adalah yang terbaik. Dia bisa bertahan sampai detik ini pasti membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Mengingat penderitaan yang Mama alami selama ini begitu berat, aku sangat bersyukur akhirnya bisa berkumpul kembali dengannya.
"Ma, ini Althaf. Cucu Mama." Aku berdiri di samping Kak Rey, menunjukkan Mama buah hatiku. "Dia mirip sekali dengan papanya."
Mama memandang Althaf dengan lembut. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi gembul Althaf yang masih terlelap dalam buaian Kak Rey. Lalu, beliau menatapku dan Kak Rey secara bergantian.
"Mama boleh menggendongnya?" Mama bertanya dengan sedikit ragu. Mungkin dia merasa kami keberatan dan takut terjadi apa-apa dengan Althaf. Bagaimanapun Mama belum benar-benar sembuh.
Berusaha menghilangkan rasa tidak enak itu, aku mengangguk menyetujui. "Tentu. Mama boleh menggendongnya," ucapku.
__ADS_1
Aku mengambil alih Althaf pada Kak Rey, memberikan kepada Mama. Beliau menerimanya dengan suka cita.
Mama menggendong anak kami dengan senyum mengembang. Namun, air matanya tak henti-henti menetes membasahi pipi.
"Apa Mama boleh menciumnya?" tanyanya lagi penuh keraguan. Tampaknya Mama masih belum percaya jika diberi kepercayaan menggendong Althaf.
Aku menangguk. Seketika bibir Mama tersenyum bahagia. Berkali-kali bibir tua itu mencium pipi gembul Althaf. Dia mentikkan air matanya kembali, terlihat haru luar biasa. Aku bisa merasakan kebahagiaan dari sorot matanya.
Bukan hanya Mama. Dalam sekejap, kebahagiaanku terasa berlipat-lipat. Sungguh nikmat Tuhan mana yang bisa aku dustakan. Keluarga lengkap yang selama ini aku impikan dengan kasih sayang dari orang-orang terdekat telah aku dapatkan. Padahal sebelumnya aku tak memiliki seorang pun yang peduli denganku.
Mama membawa Althaf dengan ditemani suster perawat. Aku memeluk Kak Rey, mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Terima kasih membawa Mama pulang. Aku senang."
Telapak tangan kekar itu mengusap kepalaku. "Aku ingin kamu bahagia. Tapi, jangan menanyakan apa pun terkait masa lalunya. Mama belum sepenuhnya sembuh. Biarkan Mama sendiri yang menceritakannya di saat dia ingin. Jadi bukan kita yang memaksanya. Kamu masih bisa bersabar, bukan?"
Aku mengangguk paham. "Aku akan bersabar."
Kak Rey tersenyum, merapatkan pelukannya pada pinggangku. "Mumpung Althaf ada yang jaga, kita ke kamar saja, ya?"
"Hah?"
"Ayo!" Dia malah mengajakku berduan. Padahal Mama baru saja pulang ke rumah ini meskipun dengan ditemani suster. Seharusnya aku turut menemaninya, bukan? Namun, Kak Rey tak mengizinkan. Dia justru mencari celah meski hanya sedikit saja, memanfaatkan kesempatan untuk meminta haknya padaku. "Nyari pahala yang banyak," imbuhnya dengan tertawa kecil.
***
Mendengar itu, wajah Kak Rey tampak bahagia. Aku tahu karena beberapa hari terakhir dia merasa kurang leluasa dengan menggunakan pengaman biasa. Apalagi suamiku itu tak jarang meminta haknya tidak hanya sekali, melainkan berulang kali.
Kami mengajak Althaf saat ke rumah sakit. Karena kondisi Althaf sangat baik, jadi kami putuskan untuk memberikannya imunisasi dini.
Di dalam mobil Kak Rey berulang kali mengatakan rencananya untuk memintaku mengenakan gaun tidur yang sudah dipesannya via online. Entah apa yang lelaki itu pikirkan saat ini sehingga sejak tadi bibirnya tak henti-henti menyunggingkan senyum.
"Kak Rey!" Aku memanggilnya. Dia menoleh padaku sesaat, lalu menatap ke depan karena fokus menyetir. "Kamu mikirin apa?"
Dia menggeleng. "Tidak ada. Sepertinya waktu malam masih sangat lama, ya?"
Pertanyaannya itu aneh sekali. Jelas saja masih lama karena saat ini masih pukul sembilan pagi. "Kenapa menunggu malam?"
"Kalau siang gak enak sama Mama, kan?"
Emm, ternyata masalah itu. Aku sudah menduganya. Dia bersemangat sekali sampai-sampai tidak sabar menunggu malam tiba. "Ya, udah kali, Kak. Ngapain dipikirkan terus." Aku menggeleng, mengajaknya mencari topik pembahasan lain.
"Oh, ya, besok kita urus pernikahan yang sempat tertunda. Aku menunggumu sehat agar bisa mengajak menikah ulang dan mengurus surat-surat. Aku tidak mau menunda-nundanya lagi."
Aku mengangguk. Setelah sekian lama akhirnya kami akan benar-benar menikah secara sah baik di mata agama maupun hukum. Aku berharap pernikahan ini akan langgeng sampai maut memisahkan kami.
Hingga saat itu tepat ketika kami turun dari mobil dan berjalan ke arah lobby rumah sakit terdengar suara seseorang menegurku.
__ADS_1
"Alea!"
Suara itu membuatku segers membalikkan badan.
"Kak Rena?" Bibirku berucap lirih. Aku tidak menyangka bisa bertemu Kak Rena di sini. Dia berjalan cepat menghampiriku. Dan seperti terakhir kali kami bertemu penampilan Kak Rena berubah. Dia tak lagi glamour seperti dulu. Bukan karena dia menjadi miskin setelah dicerai Kak Rey, tetapi seolah dia enggan lagi mempercantik diri. Kak Rena ysng selalu tampil menawan sekarang justru tak mengaplikasikan make up pada wajahnya.
Namun, bukan itu yang menjadi perhatianku. Mengapa Kak Rena berada di rumah sakit? Siapa yang sakit?
"Apa kabar?" Dia memelukku sedikit karena Baby Althaf berada dalam gendonganku, lalu menempelkan pipi kanan dan kirinya padaku.
Dia beralih pada Kak Rey, hendak melakukan hal yang sama. Namun, Kak Rey tampak sigap menghindar.
"Rena!" Kak Rey menghalau tangan Kak Rena yang hampir memeluknya. Mungkin dia sedang menjaga perasaanku.
"Sorry, kebiasaan. Aku terlalu senang bertemu kalian." Kak Rena jadi salah tingkah. Penampilannya yang seperti ini membuatnya makin manis. Dia tak menggerai rambutnya, tetapi disatukan dengan japit rambut warna hitam. Pakaiannya pun sederhana, hanya kaus putih polos lengan pendek dengan celana jeans ketat yang membungkus kaki jenjangnya nan indah.
"Siapa yang sakit, Kak?" Aku berusaha mencairkan suasana karena sikap dingin Kak Rey membuat Kak Rena semakin canggung.
"Aku!" Dia berkata lirih, tetapi kulihat ekor matanya menatap pada Kak Rey. Aku merasa Kak Rena masih belum bisa melupakan Kak Rey. Entahlah, mungkin itu hanya perasangkaku saja. "Hanya mual-mual. Sepertinya masuk angin," imbuhnya.
"Sebaiknya Kakak jaga kesehatan. Aku lihat Kakak semakin kurus."
"Ya, mungkin karena aku terlalu memikirkan seseorang. Tapi dia tidak memikirkanku." Dia berkata kepadaku, tetapi sorot matanya menatap Kak Rey.
"Alea, ayo kita pergi. Hari ini aku sangat sibuk."
Kak Rey menarik bahuku dengan melingkarkan tangannya pada lenganku. Aku menurut saja. Sepertinya Kak Rey tidak nyaman dengan perkataan Kak Rena. Aku pun merasakan hal yang sama sehingga memilih untuk meminta izin pada Kak Rena.
"Kami pergi dulu, ya, Kak."
Tanpa menunggu jawaban Kak Rena, kami meninggalkannya. Namun, tepat ketika kami berada di bawah tiang papan reklame yang tinggi menjulang, ponsel Kak Rey berbunyi. Langkah kami terhenti sejenak dengan Kak Rey mengangkat panggilan tersebut. Aku menunggu di sampingnya, tetapi kemudian tiba-tiba ....
"Rey, Alea, awas!" Kurasakan sebuah dorongan dari belakang. Bukan aku saja, melainkan Kak Rey juga didorong dengan keras sehingga langkah kami tergerak maju. Beruntung lengan Kak Rey begitu sigap saat melihatku yang menggendong Althaf hampir terjatuh.
Aku terkesiap sesaat sebelum kemudian menoleh ke belakang. Terdengar suara debuman keras memekakkan telinga dengan debu-debu berhamburan. Semua mata tertuju ke sana di mana papan reklame yang sebelumnya berada di atas kami jatuh dengan sendirinya. Dan di saat debu-debu itu mulai lenyap dari pandangan mataku membelalak terkejut melihat apa yang terjadi di depan mata. Di sana ....
Kak Rena terkapar di lantai beton dengan kepala bersimbah darah. Ya, Kak Rena lah yang sebelumnya mendorong kami dari mala petaka itu kini justru mengorbankan dirinya tertimpa runtuhan papan reklame besar tersebut.
"Kakaaakk!"
...****************...
4 Bab meluncur. Tinggalkan jejak di setiap part-nya.
Tadinya mau up sampai tamat. Tp ternyata gk bisa.
Tenang, Guys. Happy ending, kok. Sabar dikit, ya... 😁
__ADS_1