Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 27. Belanja


__ADS_3

Semalam, Kak Rey menginap di rumah ini lagi. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Lelaki itu tak sedingin dulu awal kami bertemu. Dia lebih hangat kepadaku sehingga aku merasa lebih nyaman ketika berada di sampingnya.


Malam itu, ketika kami mengobrol santai di balkon kamar, ada hal yang selama ini mengganjal di hatiku dan ingin sekali kutanyakan kepadanya. Mungkin, saat ini adalah waktu yang pas untuk menanyakan semuanya.


"Kak Rey, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Aku meminta izin lebih dulu kepadanya.


"Katakan!"


"Mengapa menikahiku?"


"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya. Aku menikahimu karena ingin bertanggung jawab. Aku tidak mau kalian terlantar."


Menurutku, jawaban tersebut masih membuatku kurang puas. Orang menikah bukan hanya karena takut agar istri dan anaknya terlantar, bukan? Jika hanya karena itu alasannya, dia bisa memberi kami rumah serta membiayai tanpa menikahi.


"Bukankah tanpa menikah kamu bisa memberiku tempat tinggal. Mengapa harus menikah?"


Kak Rey kemudian mengalihkan perhatian sepenuhnya kepadaku, menatap hingga ke kedalaman mataku. Pandanganku terpaku di sana, seolah tatapan matanya sanggup menghipnotisku dalam sekejap.


"Karena aku ingin menjagamu." Dia berkata dengan tegas. "Alea, ayahku sering berkata, "Jangan pernah menoleh kepada wanita, apalagi sampai tersenyum kepadanya. Kecuali, dia istrimu." Dan aku melakukan apa yang dia katakan. Aku menyaksikan sendiri bagaimana Ayah hanya memandang Bunda. Sampai usianya yang tidak muda lagi, dia hanya tersenyum kepada ibuku seorang." Bibirnya kemudian menyunggingkan senyum tipis. "Jika aku tidak menikahimu, aku tidak akan mau tersenyum dan menatapmu. Apalagi menjagamu."


"Aku ... bisa menjaga diriku sendiri."


Kak Rey mengangkat sebelah alisnya, menyangsikan ucapanku. "Kamu yakin?" Dia terkekeh kemudian. "Melihatmu hampir bunuh diri, lalu ketakutan ketika dimarahi Mama, aku merasa kehidupan yang kamu jalani saat ini dan ke depannya akan berat. Apabila aku membiarkanmu tanpa pendamping, siapa yang akan menghibur dan melindungimu?"


Aku menatap kedua bola mata hazel yang terlihat indah. Sorot matanya menunjukkan ketulusan. Aku merasakan ada sesuatu menghangat di relung hatiku. Sudah lama sekali kiranya tiada seseorang yang memberiku perhatian semenjak Ayah meninggal. Dan saat ini, seseorang yang memberiku kenyamanan dan perhatian justru adalah suami kakakku sendiri.


Miris, bukan? Meski saat ini dia juga adalah suamiku, tetapi tetap saja kalau hubungan kami tak lebih dari status.


"Jangan terlalu baik kepadaku!" Lirih aku berkata, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa aku terjemahkan. Kak Rey mengerutkan kening mendengar perkataanku. "Aku wanita normal. Aku tidak ingin memiliki perasaan lebih padamu. Bertanggung jawablah sewajarnya. Aku tidak akan menuntut banyak."


Aku memilih berdiri, lalu meninggalkan Kak Rey yang masih duduk di balkon kamar. Kuusap dadaku, meredakan gejolak aneh yang tiba-tiba menggebu. Aku takut hatiku mulai terpaut padanya, takut jiwaku yang lemah bergantung sosok tegap Kak Rey.


Mataku memejam, menyandarkan punggung serta kepala di dinding kamar. Aku embuskan napas yang terasa sesak ini.


Ya, Tuhan. Tolong, jaga hatiku!


***


Sementara pagi ini, setelah aku menyiapkan sarapan, kudengar Kak Rey memanggilku dari arah kamar. Aku mendongak sambil menjawab panggilannya, lalu bergegas menuju kamar pribadi lelaki itu.


Kamar itu terbuka. Kak Rey sepertinya sengaja tidak menutup pintunya. Kulihat di sana dia duduk di tepian ranjang sembari bertelanjang dada.


Aku menunduk, menyembunyikan bias rona merah di wajah. Mengayunkan langkah secara hati-hati, akhirnya aku berhenti tepat di depan lelaki itu.


"Ada apa?"

__ADS_1


Dia menatapku, lalu mengambil sesuatu dari samping tubuhnya. Sebuah kotak P3K disodorkan kepadaku.


"Bantu aku mengganti perban ini!"


"Oh!" Aku mengangguk, menerima kotak P3K itu dari tangannya, lantas duduk di sampingnya.


Perban itu dililit di bahu kiri menuju ke ketiak kanan. Entah apa maksudnya karena jelas yang tertembak hanya di satu bagian. Kak Rey membiarkanku melepas lilitan perban di tubuhnya, lalu mengganti dengan perban baru.


Aku beranjak dari duduk, berdiri sambil membungkuk ke arahnya, hanya terfokus pada lilitan perban yang teramat tebal tersebut. Kak Rey hanya diam, tak berbicara sedikit pun ketika aku melepaskan perbannya, tetapi ada satu hal yang membuatku terganggu.


Di jarak yang begitu dekat seperti ini, dia menatapku, mengarahkan pandangannya penuh kepadaku.


"Kak Rey!" Aku memanggil namanya tanpa berani menatapnya.


"Heem!"


"Mengapa menatapku terus? Jangan melihatku begitu!" Aku berusaha terus terang kepadanya. Sesungguhnya aku kurang nyaman ditatap seperti itu. Menurutku tatapan matanya tidak baik bagi kesehatan jantungku.


"Lalu, aku harus menatap apa?" tanyanya tanpa rasa berdosa.


"Terserah! Yang jelas jangan menatapku begitu. Aku ... gugup." Itulah keburukanku. Aku terlalu jujur mengungkapkan perasaan. Biar saja! Biar dia tidak lagi melakukan hal yang bisa membuatku gemetar.


"Oh, baiklah!"


Aku bersihkan luka itu dengan handuk hangat yang sudah aku campur menggunakan antiseptik, menekannya perlahan agar tidak membuatnya kesakitan. Kak Rey hanya diam, tak menunjukkan ekspresi kesakitan.


"Kak Rey!"


Aku menoleh ke samping saat memanggilnya dan detik itu juga Kak Rey menoleh ke arahku. Kejadian yang sejak tadi kuhindari ternyata terjadi. Pandangan kami saling bertemu untuk beberapa saat.


Aku berdehem, begitu juga dirinya, mencoba menguraikan suasana yang sempat menegang.


"Apa lukanya ditutup perban seperti tadi lagi?" tanyaku setelah menyamarkan detak jantung yang sebelumnya terasa kencang.


"Tidak perlu. Tutup saja di bagian lukanya."


"Heem, okey!"


Aku benar-benar gugup. Posisi kami begitu dekat. Meskipun saat ini aku bisa leluasa melihat dan menyentuh tubuhnya yang atletis, tapi tentu saja tidak aku lakukan. Aku hanya menyentuh bagian tubuh yang diperlukan, bukan mengambil kesempatan.


"Sudah. Aku ... permisi."


Segera kukemasi perlengkapan P3K, memasukkan ke dalam kotak itu agar segera pergi dari hadapan Kak Rey. Tepat di saat aku beranjak dari posisiku dan hampir mencapai ambang pintu, Kak Rey tiba-tiba memanggilku.


"Alea!"

__ADS_1


Aku menghentikan langkah, tetapi enggan menoleh kepadanya.


"Terima kasih."


Aku mengangguk sembari menarik kedua sudut bibirku ke atas. "Sama-sama," jawabku yang kemudian keluar dari kamar Kak Rey.


Tepat pukul setengah tujuh pagi, sarapan pagi selesai kuhidangkan di atas meja makan. Kak Rey pun turun tepat waktu tanpa aku harus memanggilnya. Dia langsung menarik kursi untuk diduduki sebelum mulai menyantap makanan.


"Masak apa hari ini? Sepertinya enak."


"Heem, semoga Kak Rey suka."


Seperti hari-hari biasa, aku mengambilkan Kak Rey nasi beserta lauk dan sayurnya. Tiada obrolan saat kami menyantap makanan itu. Namun, lagi-lagi ekspresi Kak Rey terlihat enggan dan malas mengunyah makanannya.


"Kenapa? Apa tidak enak?" tanyaku setelah menyadari isi piringnya tak banyak berkurang.


"Alea, sepertinya lidahku mati rasa. Aku tidak bisa merasakan apa-apa." Akan tetapi, matanya justru tertuju pada piring yang ada di depanku. "Sepertinya makananmu lebih enak. Apakah aku boleh menukarnya?"


"Hah?"


Tanpa menunggu persetujuanku, Kak Rey mengambil alih piringku dan mengganti dengan piringnya. "Tapi, itu sudah aku makan." Aku mencoba menghentikannya. Mengapa dia malah mengambil sisa makananku?


"Tidak apa. Sepertinya aku ketagihan memakan sisa makananmu." Kak Rey tampak tanpa beban mengatakannya. Apakah lelaki itu menyadari apa yang baru saja dia katakan?


Kulihat Kak Rey sangat lahap memakannya. Padahal dengan jelas tadi dia mengatakan jika lidahnya tidak bisa merasakan apa-apa.


"Bagaimana rasanya? Apakah masih hambar?" tanyaku memastikan.


Dia menggeleng. "Tidak. Rasanya enak."


Senyum yang mucul di bibirku sengaja kutahan. Kejadian seperti ini sering kali terjadi saat kami makan bersama. Entahlah, aku tidak bisa memikirkan alasan dari perilaku aneh Kak Rey. Kami melanjutkan makan dengan tenang setelah menukarkan piring masing-masing.


***


Bahan makanan telah habis. Aku memesan taksi untuk pergi ke pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota demi menyetok persediaan bulanan. Kak Rey sudah membekaliku dengan kartu kredit dan uang tunai setelah meminta izin kepadanya untuk berbelanja.


Mungkin, aku saat ini lebih mirip ibu rumah tangga sesungguhnya. Tidak mengapa, bukankah setiap wanita memiliki impian menjadi ibu rumah tangga yang bisa mengurus keluarga dan anak-anak mereka agar tidak kekurangan kasih sayang?


Semua bahan makanan sudah kubuatkan daftar di dalam note pada aplikasi smartphone-ku. Kususun sedemikian rupa agar aku tidak melewatkan satu bahan pun ketika memulai belanja.


Satu per satu barang belanjaan kumasukkan ke dalam troli sampai menggunung karena terlalu penuh. Aku menunggu antrean di kasir yang kebetulan tidak terlalu ramai. Demi mengusir kebosanan, kualihkan pandanganku ke arah lain. Namun, apa yang kulakukan justru membuatku menemukan sesuatu. Aku melihat sosok yang sangat kukenal sedang bercengkerama dengan pria asing di salah satu stand jam tangan pria.


Kutajamkan penglihatanku demi memastikan bahwa aku tidak salah mengenali orang. Dan begitu sosok itu tengah membalikkan badan menghadap ke arahku, barulah aku meyakini siapa dia.


"Kak Rena? Bukankah dia sedang berada di luar kota?"

__ADS_1


__ADS_2