Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 54. Rasa Nyaman


__ADS_3

Ada beberapa pertanyaan yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban, tetapi hanya membutuhkan pengertian. Namun, sebagai seorang wanita aku butuh pengakuan. Apakah kisah ini ada harapan atau hanya sebatas angan-angan?


Aku menunggu Kak Rey di kamarnya. Dia berkata akan pulang terlambat, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tentunya sebagai seorang istri aku harus menyemangati, tidak perlu membebaninya akan perasaanku yang mulai kacau disebabkan oleh perkataan Kak Rena pagi tadi.


Sebelumnya aku sudah ikhlas melepas Kak Rey untuk Kak Rena. Namun, semenjak aku telah menjadi istri yang sesungguhnya, melayaninya baik kebutuhan jasmani maupun rohani, perasaan takut kehilangannya semakin menjadi-jadi. Ada jiwa posesifku untuk memiliki dia seutuhnya.


Apakah aku egois? Entahlah, aku sudah terlalu nyaman dan tidak ingin berpisah dengannya.


Sikap Kak Rey selalu lembut, memperlakukanku dengan istimewa. Tiada celah bagiku untuknya. Dia suami yang paling sempurna di mataku. Namun, di saat rasa tidak percaya diri akan perasaannya kepadaku, aku jadi takut kehilangan dirinya.


Seandainya apa yang dikatakan Kak Rena benar adanya bahwa tiada cinta di hati Kak Rey untukku, aku akan berusaha agar dia mencintaiku. Empat bulan, ya, selama empat bulan akan aku buat Kak Rey memcintaiku, tidak akan kembali pada Kak Rena lagi.


Mungkin aku terlihat egois karena pada dasarnya Kak Rena adalah istri pertama Kak Rey. Tapi, bukankah mempertahankan rumah tangga adalah kewajiban? Aku tidak mungkin membiarkan suamiku memikirkan wanita lain, sementara ada aku dan anakku di sini yang menanti dirinya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya.


Kulirik jam di dinding. Sudah pukul sebelas malam. Sepertinya Kak Rey benar-benar pulang terlambat. Mataku sudah lelah untuk menunggu karena rasa kantuk mulai datang menghampiri.


Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, tidur miring dengan meletakkan bantal untuk mengganjal perutku. Biasanya Kak Rey membantuku tidur dengan mengusap perutku. Mengingat itu, aku jadi merindukannya.


Kak Rey, cepatlah pulang!


Lagi-lagi saat tertidur kurasakan sesuatu yang mendekapku dari belakang. Tepat ketika aku membalikkan badan, aroma harum sabun menguar, menggelitik di indra penciumanku. Harumnya sangat segar hingga aku ingin sekali mengendusnya lebih dekat dengan memajukan wajahku agar bisa meraupnya lebih banyak lagi.


"Hai, apa yang kamu lakukan?"


Suara itu mengagetkanku. Mataku mengerjap sesaat setelah kesadaran sudah mulai merambat naik ke permukaan. Di sana aku mendapati hidungku serta hampir permukaan wajahku menempel pada dada bidang yang terbuka dengan balutan jubah tidur hitam legam. Aku merabanya, lembabnya masih terasa.


"Alea!" Kudengar suara eraman yang tertahan ketika telapak tanganku mengusap permukaan dada itu. Wajah kutengadahkan, dan mendapati mata hazel itu menatapku dengan tajam.

__ADS_1


"Kak Rey, kapan pulang?" Suaraku terdengar serak. Ya, suara khas orang bangun tidur. Aku masih bingung dengan tatapanku mengarah pada wajahnya, sementara telapak tanganku tanpa sadar begitu menikmati membelai permukaan tubuh lembab dan harum itu.


Namun, tiba-tiba tangan Kak Rey menangkap tanganku yang sejak tadi menyentuh dirinya. Aku pikir dia akan marah karena secara tidak langsung aku telah lancang menyentuh bagian tubuhnya. Ternyata tidak, dia meletakkan jemariku pada bibirnya, lalu menggigit kecil-kecil pada ujung-ujung jariku.


Aku merasakan terpaan hawa panas dari embusan napasnya pada permukaan jemariku. Sorot mata yang tadinya tajam berubah redup dan berkabut.


"Kak Rey!" Kusebut namanya, tetapi dia tak menanggapi. Bibirnya masih bermain dengan jemariku yang berada dalam tangkupan tangannya yang besar.


"Alea, sentuh aku lagi!"


"A-apa?" Aku masih tidak percaya dengan apa yang Kak Rey katakan. Aku pikir dia akan marah dengan ulahku yang lancang, tetapi dia malah menyuruhku melakukannya lagi.


"Tanganmu sangat lembut." Dia mengecup jemariku. "Aku suka saat tanganmu menyentuhku. Sentuh aku lagi!"


Mataku mengerjap bingung, sampai akhirnya kebingunganku dijawab dengan bisikan hangat di telinga yang membuat rambut halusku meremang.


Dan tepat setelah Kak Rey mengucapkan hal itu, dia mulai melepaskan pakaianku.


***


Di keheningan malam, ketika suara-suara serangga malam mulai mendominasi, kami masih berada dalam selimut yang sama. Dia memelukku dari belakang dengan permukaan punggungku menempel kulit pada tubuh bagian depan lelaki itu.


Aku tidak menyangka bisa melakukan itu kepadanya. Sebelumnya Kak Rey selalu memanjakanku dengan melakukan sentuhan-sentuhan erotis yang membuatku tak bisa menahan dan menolaknya. Namun, malam ini dia memintaku untuk melakukan hal itu kepadanya.


Dia menikmatinya, seolah selama ini mendambakan sentuhan dari seorang wanita. Aku larut dalam permainan itu, menikmati akan apa yang telah aku lakukan kepadanya. Alea yang pendiam dan penuh dengan menerima, tetapi kini berubah menjadi Alea yang liar dan ganas.


"Terima kasih," ucapnya setelah pergulatan panas itu berakhir dengan melabuhkan satu kecupan hangat di bibirku.

__ADS_1


Hingga saat beberapa waktu kami berada dalam posisi yang sama, aku bertanya kepadanya.


"Kak Rey, apa kamu sudah tidur?"


"Heem," gumamnya yang kuterka dia mulai mengantuk.


"Kak, apa yang kamu rasakan padaku?" Kurasakan tengkukku menghangat saat sebuah kecupan kecil mendarat di sana.


"Apa yang ingin kamu dengar?" Bibirnya lagi-lagi membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Dia pandai sekali membuat seorang wanita minim pengalaman sepertiku tergoda lagi. "Katakan!"


"Kak!"


Cih, aku justru menjawab dengan desa han. Sial! Kak Rey benar-benar raja penggoda. Dia menarik bahuku ke belakang, membuat posisiku yang sebelumnya miring menjadi telentang.


Kini dia berada di atasku dengan kedua tangannya menumpu di samping kanan dan kiri tubuhku. Aku menahannya dengan menempelkan kedua telapak tanganku di dadanya. Aku sedang ingin bicara, bukan bercinta.


"Kak Rey, sampai saat ini aku tidak pernah mendengarmu mengatakan perasaanmu kepadaku. Apa kamu tidak mencintaiku?"


Aku harus tahu benar bagaimana perasaan Kak Rey kepadaku. Kak Rena berkata sebelum dirinya pergi siang tadi, bahwa mungkin Kak Rey hanya membutuhkanku untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Bahkan, Kak Rena tega menyamakanku dengan seorang wanita ja lang yang hanya dijadikan pemuas naf su oleh Kak Rey tanpa didasari cinta.


"Rey hanya menganggapmu budak naf sunya saja. Seharusnya kamu sadar, Alea! Rey hanya mencintaiku." Sungguh perkataannya sangat menyakitiku.


Sampai kini, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Kak Rey secara langsung. Aku ingun tahu apakah dia memang menganggapku sebagai wadah pelampiasan saja?


"Aku harus menjawab apa?" Dia menatapku dengan sayu. Kedua tangannya yang tadinya dalam posisi tegak kini ditekuk sehingga tubuhnya kian mengimpitku. Telapak tangannya yang besar mengusap kepalaku, membelai rambutku. "Aku nyaman bersamamu. Dan kurasa perasaan nyaman ini lebih dari sekadar cinta. Jika tiada perasaan di hatiku untukmu, bagaimana mungkin aku bisa melakukan ini denganmu berkali-kali. Mana mungkin aku membiarkanmu menyentuhku. Dan kamu tahu mengapa aku melakukan semua ini kepadamu?"


Dia bertanya sembari meletakkan ibu jarinya menempel di bibirku. Aku hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan dia utarakan. "Itu semua terjadi karena aku ... mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2