
Guntur itu terdengar menggelegar seiring kalimat yang baru saja terucap dari bibir Kak Rey. Kilatan cahaya petir menerpa wajahku.
Permintaan Kak Rey terdengar sederhana, tetapi aku tahu dia memiliki pemikiran lain akan hal itu. Mengapa harus itu syaratnya?
"Mengapa kamu diam? Apakah begitu sulit syaratku untuk dipenuhi?"
Aku menggeleng. "Apa hanya itu? Kamu akan menceraikanku setelah mendapatkannya?"
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bibir Kak Rey sempat menyunggingkan senyum tipis, tetapi senyuman itu buru-buru hilang sebelum terbentuk sempurna. "Aku berjanji. Aku hanya ingin memiliki kenangan malam indah bersamamu."
Tepat saat Kak Rey selesai mengucapkan kalimat tersebut, dia menggendongku. Aku bingung harus bagaimana menghadapi sikapnya karena bagaimanapun dia masih suamiku. Tatapanku tak sekali pun mengarah padanya. Aku gugup. Pakaiannya yang basah menular padaku. Selangkah demi selangkah akhirnya kami sudah berada di kamarku.
Kak Rey menurunkanku, lalu menutup pintu kamar dengan cepat.
Aku meneguk ludah ketika Kak Rey kembali menghadapku. Getaran derap langkah yang menuju ke arahku dengan sorot matanya yang masih sama; tajam dan dingin, membuatku terpaku tak bisa ke mana. Dinginnya malam menyelimuti begitu selaras dengan pakaianku yang ikut kuyup tertular rembesan air hujan dari baju lelaki itu. Dia berhenti tepat di depanku bersamaan napasku yang terhela secara kasar dan sempat tertahan lantaran gugup.
Dia menarikku mendekat, lalu ... menanggalkan pakianku dan pakaiannya sendiri.
Kini, kami saling berhadapan tanpa mengenakan sehelai benang pun. Rasa dingin jelas menyerang tubuhku, menggigilkan urat-urat tubuhku yang menegang. Dengan posisi seperti itu, dia memelukku.
Aku merasakan tangannya mulai merayapi permukaan tubuhku, memelukku erat. Dan saat itu juga dia menggiringku ke ranjang. Dia membaringkanku di sana, kemudian turut naik, memerangkapku dengan menutupi tubuh kami menggunakan selimut yang sama.
Mulai dari gerakan perlahan hingga sedikit menggebu, setiap ciuman dan sentuhan yang Kak Rey lakukan malam ini kepadaku terasa berbeda. Selain berhati-hati, dia melakukannya dengan sangat lembut. Bibirnya tak henti-henti menelusuri tubuhku, membuatku tak bisa menahan hasrat yang ikut bergejolak karena rangsangannya yang tanpa jeda. Seolah malam ini dia ingin menunjukkan bahwa aku pun tak bisa berkutik ketika dirinya sudah mulai menjamah, memberikan kenikmatan ragawi yang acapkali dimintanya padaku.
__ADS_1
Aku memejamkan mata, tak kuasa berontak ataupun menolak. Semua ini pasti akan membekaskan kenangan yang sulit untuk dilupakan. Aku pasti akan semakin merasa tersiksa saat memori malam ini hadir dalam pikiranku suatu saat nanti.
Kak Rey, mengapa dia melakukan ini padaku? Mengapa harus memberikan kenangan terakhir seperti ini?
Raga, jiwa, dan hatiku telah dikuasai olehnya. Aku tak bisa menampik jika malam ini adalah malam terhebat yang pernah kami lakukan dari malam-malam yang lain. Dia seakan mengalahkan egoku, memaksaku menerima kenyataan bahwa tubuhku benar-benar membutuhkannya, menginginkannya.
Aku yang sebelumnya meminta perceraian untuk mengakhiri siksaan di hati telah dipatahkan oleh perlakuannya malam ini. Tak henti-henti raga ini dibuatnya melayang, merasakan sesuatu yang meluap-luap sampai suara-suara desa han keluar dari bibir kami berdua. Tangannya pun turut terampil, menambah gairah malam panas kami. Hingga ketika semuanya telah dituntaskan olehnya, tubuhku bergetar hebat saat merasakan sesuatu yang meledak di bawah sana.
Kak Rey memuntahkan semua cairannya di dalam.
"Kak Rey!" Aku mendorong dadanya yang berada di atas tubuhku setelah kesadaranku kembali ke permukaan. Wajahnya tampak merah padam seolah telah merasakan denyut kenikmatan ragawi yang baru saja dilakukan. "Apa yang Kakak lakukan? Bagaimana jika aku hamil?"
Rasa cemas tersebut membuatku cukup gelisah. Kami akan bercerai, tetapi Kak Rey malah menanamkan benihnya di rahimku. Padahal, aku belum sempat melakukan kontrasespsi saat itu karena kecelakaan yang dialami Kak Rena.
Tubuhnya roboh menyamping, mempertahankan lengannya, memelukku.
"Perceraian kita batal." Dengan entengnya dia bicara begitu. Aku baru saja menyadari jika saat ini dia sedang mempermainkanku.
"Kenapa, Kak?" Air mata tidak bisa kutahan. Di saat hatiku memilih menyerah, dia justru melakukan ini padaku.
"Alea, mungkin kamu benar. Aku masih memiliki perasaan pada Rena. Tapi, bukan berarti aku mau kembali padanya. Aku sudah nyaman denganmu. Kita juga sudah memiliki Althaf yang lucu. Bagaimana bisa kalian berdua tega meninggalkanku setelah perjuangan kita selama ini?"
Tangannya membalikkanku. Kini, tubuhku berbaring miring menghadapnya. Telapak tangannya menangkup pipiku. "Katakan, apa kurangku sebagai suami selama ini? Mengapa kamu ingin sekali kita berpisah?"
__ADS_1
Saat itu juga aku tak bisa menahan tangisku. Apa kekuranganya? Tidak ada. Kak Rey terlalu sempurna sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah. Tiada alasan kuat untuk aku bisa meminta cerai dengannya. Dia tak pernah berlaku kasar padaku, mencukupi segala kebutuhanku dan Althaf. Bahkan, Kak Rey jugalah yang telah membantuku menemukan Mama dan membuat kebahagianku semakin lengkap.
Dia terlalu sempurna. Aku pun sangat mencintainya.
Kutumpahkan tangisku di dadanya. Dia memelukku, mendekapku. Rasa hangat dan nyaman kurasakan saat berada dalam rengkuhannya. Bagaimana nanti aku sanggup untuk berpisah, merelakan hari-hariku tanpanya.
"Aku akan menjaga Rena sesuai permintaan Mama Sonya. Tapi, aku tidak akan kembali padanya karena aku sudah memilikimu dan Althaf."
Kurasakan tangannya membelai rambutku. Aku benar-benar tak bisa berkutik saat dia memperlakukanku begitu hangat.
"Kak Rey?"
Kutengadahkan wajah, memandang rahang tegas nan memiliki rambut-rambut sedikit kasar yang baru tumbuh di dagunya.
"Heem," gumamnya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku? Tidak ingin kembali dengan Kak Rena?" Kutatap ke kedalaman matanya. Mata hazel bening itu melihatku dengan sendu. Ada hal yang kurasa disembunyikan olehnya. Aku bisa melihat itu. "Jika perasaanmu sangat besar kepadanya, aku akan memberimu kesempatan. Aku sudah bahagia menemukan Mama dan memiliki Althaf. Seandianya kamu bersama Kak Rena pun, aku akan ikut bahagia. Kita sudah memiliki kenangan indah bersama. Aku tidak akan marah padamu."
Meski bibir ini berkata begitu, tetapi tak bisa dipungkiri jika rasa sakit di hatiku sangat terasa. Namun, jika dia bisa melepaskan semua beban hatinya, benar-benar ingin memperjuangkan perasaannya pada Kak Rena, dan itu bisa membuat dia bahagia, aku bisa apa. Aku akan tetap mencintainya meski tidak memiliki.
"Lalu, kamu akan menikah lagi?" Dia justru bertanya padaku.
Menikah lagi?
__ADS_1
Aku bahkan tidak pernah memikirkan apa-apa tentangku sendiri.
"Aku tidak rela jika tubuhmu disentuh pria lain." Kak Rey berkata dengan tegas. "Aku tidak ikhlas jika ada laki-laki lain yang menjamahmu, memelukmu, menciummu. Aku tidak bisa melihat itu semua." Telapak tangannya yang besar mengusap pipiku. "Aku juga tidak rela jika ada pria lain yang dipanggil Althaf dengan sebutan Papa. Althaf hanya anakku. Tidak boleh ada pria lain yang menggantikanku."