Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 63. Sidang Perceraian


__ADS_3

Hari ini Kak Rey dan Kak Rena menjalani sidang perceraian. Biasanya Kak Rey enggan membawaku. Namun, karena hari ini adalah putusan terakhir, aku membujuknya agar diperbolehkan menemaninya.


Paling tidak aku bisa bertemu dengan Kak Rena sekaligus meminta maaf padanya sebagai sesama perempuan. Bagaimanapun rasa bersalah di hatiku agar tidak terus-menerus menghantui, apalagi hari persalinanku kian dekat.


"Setelah surat perceraian sudah aku dapatkan, kita akan langsung menikah hari itu juga."


Aku mengangguk setuju. Tentu surat-menyurat untuk kelahiran anak pertama kami harus diurus cepat. Bagaimanapun di negara ini mewajibkan setiap anggota keluarga harus terdaftar dalam Dispenduk dan pencatatan sipil sehingga kami harus segera memiliki akta nikah.


"Kak, apa menurutmu Kak Rena akan memaafkanku?" tanyaku ketika berada di dalam mobil. Persoalan Kak Rena sampai saat ini jelas mengganggu pikiranku.


"Dimaafkan atau tidak, yang penting kamu sudah mengutarakannya. Lagi pula semua ini bukan kesalahanmu, melainkan kesalahanku. Jangan terlalu merasa bersalah." Kak Rey mengusap kepalaku yang bersandar pada punggung jok mobil.


Aku mengangguk dan tersenyum, mencoba menghibur hati agar tidak terlalu memikirkan maalah tersebut. Semuanya sudah dilewati sejauh ini. Tidak mungkin jika kami harus mundur lagi, bukan? Walaupun terdengar egois, aku sudah sangat nyaman dengan Kak Rey. Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Dan anak ini juga membutuhkan kasih sayang ayahnya.


Hingga sampailah kami berada di depan pengadilan agama. Bangunan dengan empat pilar penyangga yang menjulang di bagian depan menyambut kami ketika akan memasuki gedung milik pemerintahan tersebut.


Aku dan Kak Rey berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam. Dan saat itu juga kami berpapasan dengan Kak Rena.


Dia terlihat cantik dan anggun saat menghadiri sidang terakhir perceraiannya. Bentuk tubuhnya yang ideal dipadukan dengan gaun biru gelap berleher rendah, lipstik merah merona dan tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menunjukkan betapa berkelasnya Kak Rena. Bahkan, aku merasa tidak percaya diri jika harus dibandingkan dengannya. Penampilan kami sangat berbeda.


Kulirik ke arah Kak Rey, melihat bagaimana tanggapan lelaki itu terhadap penampilan Kak Rena. Kupikir Kak Rey akan menatapnya dengan tak berkedip, dan tersihir dengan penampilan menawan dan seksi Kak Rena. Ternyata tidak. Dia justru meletakkan tangan yang sejak tadi menggandeng tanganku, kini beralih melingkar pada pinggangku. Bahkan, dia mengabaikan Kak Rena yang berjalan melewatinya.


"Kak Rena sangat cantik, ya?" ucapku yang tidak tahan melihat kecantikan kakakku.


Pantas saja Kak Rey begitu mencintai Kak Rena. Mau menikahi Kak Rena dan menerima perempuan itu meski sebelumnya telah tidur dengan laki-laki lain. Kak Rena memang cantik memesona. Lelaki mana yang tidak akan bertekuk lutut di hadapannya?


"Setiap datang dia selalu seperti itu. Aku sudah biasa melihatnya tampil begitu." Telapak tangannya makin mengeratkan pelukan pada pinggangku. "Aku justru tidak sabar melihatmu memakai gaun tidur saat bulan madu nanti." Dia justru menggodaku, membuat wajahku bersemu mendengar ucapannya.


Kak Rey, pandai sekali dia merayu.


Aku duduk di belakang ketika persidangan itu dimulai. Kak Rey berada di depan dengan berjarak sekitar lima bangku dengan tempat duduk Kak Rena. Sidang ternyata berjalan cukup lancar. Pihak Kak Rena tidak bisa mengajukan tuntutan yang dianggap tak wajar. Walaupun menurutku apa yang diberikan oleh Kak Rey sangatlah banyak mengingat pernikahan mereka hanya bertahan lima bulan saja. Namun, entah mengapa Kak Rena justru meminta hal yang lebih dari itu.


Aku mengucap syukur, menahan air mata yang hampir terjatuh ketika hakim mengetuk palu sebagai putusan terakhir. Kak Rey beranjak dari duduknya menghampiriku, lantas di depan semua orang memeluk dan mencium keningku. Kulihat raut lega dan bahagia jelas tersirat pada wajahnya. Aku pun merasakan hal yang sama. Akhirnya pernikahanku dengannya akan terwujud. Anak kami akan mendapatkan hak sebagaimana anak yang lain, yaitu memiliki keluarga utuh dan bahagia.


Namun, berbeda dengan perasaan kami yang sedang berbahagia. Kulihat di sana Kak Rena menatap kami dengan menyeka air matanya. Tatapan matanya yang menghunjam ke arahku membuat perasaanku terganggu. Kak Rena belum rela melepaskan Kak Rey untukku.

__ADS_1


Sebegitu besarnya kah cinta Kak Rena untuk Kak Rey?


Sebagai sesama wanita tentu aku merasakan bagaimana hancurnya perasaan Kak Rena saat ini. Bagaimana seorang suami yang sangat ia cintai justru bermesraan dengan wanita lain, yaitu wanita yang pernah dianggap sebagai seorang adik. Melihat lelaki yang dia sayangi merayakan hancurnya rumah tangga di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan, mantan suaminya tampak bahagia ketika putusan pengadilan memenuhi perpisahan mereka.


Aku mengurai pelukan Kak Rey, meminta izin untuk menemui Kak Rena. Namun, Kak Rey tampak menggeleng tak menyetujui.


"Kenapa?" tanyaku tidak mengerti.


"Aku tidak ingin kamu sakit hati setelah bertemu dengannya."


Aku menggeleng. "Aku akan baik-baik saja."


Kami akhirnya keluar dari ruang persidangan itu. Kulihat Kak Rena berjalan lebih dulu dengan mencangklung sling bag pada bahunya, berjalan sangat anggun dengan sesekali menyeka air mata. Segera kupanggil namanya di saat kami hampir mencapai pintu terluar gedung pengadilan agama.


"Kak Rena!"


Dia seketika menhentikan langkah dengan aku menyusul berjalan sedikit cepat ke arahnya. Kak Rey hanya mengamatiku dari sana tanpa berniat mengganggu percakapanku dengan Kak Rena.


"Apa yang kamu inginkan?" Kak Rena berkata sambil mengubah posisi kacamatanya yang tadinya di atas hidung kini diletakkan di atas kepala. "Apa belum puas setelah menghancurkan rumah tanggaku?"


Deg.


"Kak, maafkan aku. Aku salah."


"Maaf?" Dia terkekeh kecil, hanya dengan bibirnya. Sementara matanya mengisyaratkan hal lain. Aku melihat keterpurukan di sana. Kak Rena tak lagi seperti dulu. Dia seolah kehilangan penyemangat hidupnya. "Untuk apa meminta maaf? Permintamaafanmu tidak bisa mengubah status pernikahanku." Dia menggigit bibir bawahnya, seolah menahan tangis yang hampir terisak. "Kamu menang, Alea. Selamat! Selamat akan kebahagian yang sudah kamu dapat setelah menghancurkan kebahagiaan orang lain."


"Kak!" Bibirku gemetar. Aku begitu buruk di matanya. Bukan permintamaafan yang kudapat, melainkan rasa sakit hatinya ikut menular padaku.


"Aku sudah memohon padamu berkali-kali. Kembalikan suamiku! Kembalikan Reynan untukku. Aku yang pertama kali bersamanya. Tidak bisakah kamu mencari kebahagiaanmu sendiri tanpa merusak kebahagiaan wanita lain? Apakah saat ini kamu sudah bahagia, Alea? Selamat, selamat." Kak Rena bertepuk tangan untukku.


Rasanya begitu sesak mendapatkan perlakukan seperti itu. Aku seperti wanita yang tidak memiliki perasaan. Dengan kejam merebut suami seorang saudara yang selama ini bersikap baik padaku. Bagaikan pagar makan tanaman. Hubungan rumah tangga Kak Rena dan suaminya yang seharusnya kudukung dan kujaga justru aku rusak demi kebahagiaanku sendiri.


Dia pergi meninggalkanku.


Kak Rey menghampiriku, menyeka air mata yang berlinang di pipiku. Apakah ini semua kesalahanku?

__ADS_1


Aku juga tidak tahu. Setiap mengingat Kak Rena, perasaan bersalah ini terus-menerus menghantuiku.


Tepat ketika kami berada di parkiran, Kak Rey menggandengku, menuntunku menju mobil yang terparkir di sana. Namun, terdengar sesuatu yang membuatku terkejut.


Di sana dengan jelas Kak Rena menggerakkan mobilnya dengan cepat menuju ke arah kami. Mobil warna merah menyala itu bergerak cepat dan hampir menyerempet aku dan Kak Rey.


"Awas!" Lengan kekar Kak Rey mengamit tubuhku, menghindar dari mobil Kak Rena.


Kupikir berakhir sampai di situ. Ternyata tidak. Kak Rena yang sudah berada di depan justru memundurkan mobilnya ke arah kami.


"Minggir, Alea!" Kak Rey berteriak kepadaku. Entah apa yang merasuki Kak Rena. Dia seperti ingin menabrak kami berdua.


Oh, tidak. Dia bukan ingin menabrak kami, melainkan yang diincar adalah Kak Rey.


"Rena, kau sudah gila!" bentak Kak Rey pada Kak Rena yang hampir menabraknya dua kali.


"Aku gila karenamu, Rey! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lain pun juga tidak akan bisa mendapatkanmu. Sebaiknya kita mati berdua!"


Lagi, Kak Rena dengan sengaja mengejar Kak Rey dengan mobilnya. Dia benar-benar ingin menabrak Kak Rey saat itu juga. Aku tidak menyangka jika cinta bisa membuat orang buta hati seperti ini.


Aku ikut ketautan ketika mobil Kak Rena hampir mencelakai Kak Rey. Bagaimana jika Kak Rey benar-benar tiada? Aku tidak bisa membayangkan nasibku dan anak yang aku kandung. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Aku bisa menangis seumur hidup meratapi kepergiannya.


Hingga ketika Kak Rena hampir melakukannya lagi, aku menghadang sedikit jauh di depan, membuat suara decitan mobil, yaitu gesekan antara ban dan beton yang seolah berusaha dihentikan terdengar keras. Namun, semuanya terlambat. Aku merasakan dihantam oleh benda besar yang membuatku terjatuh.


Kudengar teriakan Kak Rey dan Kak Rena hampir bersamaan saat tubuhku terhantam mobil merah itu. Rasa sakit di sekujur tubuhku membuatku tak sanggup bersuara. Kurasakan sesuatu hangat mengalir di bagian sana dengan rasa sakit yang luar biasa.


"Alea, apa yang kamu lakukan?" Kak Rey memeluk tubuhku yang sudah ambruk di bawah mobil Kak Rena. "Bang-sat kau, Rena! Aku akan menuntutmu!"


Aku mendengar Kak Rey memaki dan mengata-ngatai Kak Rena. Aku tidak menyangka jika Kak Rey yang selalu berkata lembut bisa menyebutkan hal-hal kotor dengan gamblang pada Kak Rena.


"Rey, aku tidak sengaja. Dia tiba-tiba muncul di depanku."


"Bodoh! Ba-jingan! Aku tidak akan melepaskanmu jika terjadi apa-apa dengan Alea dan anakku."


Kurasakan tubuhku melayang. Aku sudah tidak sanggup mendengar apa-apa karena detik itu juga semuanya terasa gelap. Telingaku mendadak tuli seiring kesadaran telah menghilang pada diriku.

__ADS_1


...****************...


Masih ada yang baca kan di hari Minggu?


__ADS_2