
Ayah Kak Rey tampaknya bukanlah lelaki yang suka berbasa-basi. Beliau langsung mengatakan hal inti dengan wajah dingin yang selalu menyertai. Aku kesulitan menjawab pertanyaannya. Apakah mereka akan percaya jika aku mengatakan bahwa anaknya lah yang telah menghamiliku?
Air mataku tak sanggup kubendung, menetes begitu saja tanpa kuminta. Seolah awan gelap telah menyelimuti, menghantamkan guntur ke dadaku. Sesak tak terkira membuatku kesulitan bicara. Kedua orang itu hanya menatapku, menungguku mengatakan sesuatu. Sampai pada akhirnya bibirku berkata lirih.
"Ayah dari anak yang sedang kukandung adalah ... Kak Rey."
Seketika itu juga Tante Salwa lemas dengan lengan Paman Sean menahan tubuhnya. Aku tahu mereka akan syok setelah mendengar kebenarannya. Aku ingin menutupinya, tetapi tatapan Paman Sean yang tajam seolah sedang memaksaku berkata jujur.
"Rey, bagaimana bisa kalian melakukan itu?" Tante Salwa berkata sambil menangis. Kepalanya diusap oleh Paman Sean yang masih diam tak bereaksi. Pria bermata biru itu hanya diam, tetapi raut mukanya dingin dan mengerikan. "Mas, hubungi Rey sekarang! Aku ingin minta penjelasan darinya."
Terlihat raut memohon Tante Salwa saat berkata pada Paman Sean. Namun, lelaki itu tak menjawab, melainkan menuntun tubuh istrinya untuk duduk di kursi yang terletak di ujung ruang perawatanku.
"Tenangkan dirimu! Ingat penyakitmu!"
Lelaki itu menyodorkan air mineral kepada Tante Salwa. Tangannya meremas lembut bahu sang istri, menunggu air mineral itu selesai diminum.
Aku melihat dengan kepalaku sendiri, bagaimana kasih sayang seorang suami begitu tulus kepada istrinya. Apakah aku bisa mendapatkan cinta yang tulus seperti itu? Apakah ada yang mau menerimaku dengan segala kekurangan yang kupunya?
Sebagai wanita, aku juga ingin merasakan diperhatikan, dikasihi, dan dicintai. Memiliki pendamping yang mau melindungi dan menyayangi anakku kelak. Namun, sepertinya keinginanku ini terlihat berlebihan. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk hidup berdua hanya dengan anakku seorang.
Masih termenung dalam lamunan, suara Tante Salwa tiba-tiba mengejutkanku. "Aku akan suruh Rey kemari!"
"Jangan, Tan! Biarkan Kak Rey bahagia dengan Kak Rena. Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan kakakku." Aku memohon kepada Tante Salwa. Cukup rasa sakitku ketika melihat mereka berciuman malam itu. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Lebih baik dia tidak datang menemuiku daripada bayangan itu lagi-lagi tergambar jelas dalam ingatanku.
__ADS_1
"Alea, masalah ini tidak semudah yang kamu pikirkan. Ada anak yang harus dilindungi dan disayangi. Tante tidak akan membiarkan Rey lepas tanggung jawab begitu saja. Rena sebagai istrinya juga harus tahu kenyataan ini."
Sungguh, saat ini semua yang kulakukan serba salah. Jika aku memutuskan menghilang, anakku akan kehilangan sosok ayah. Namun, jika aku tetap tinggal, maka bisa merusak hubungan Kak Rena dan Kak Rey. Di saat aku ingin menghidar dan menjauh dari Kak Rey, dari kehidupan keluarga kecil Kak Rena, tetapi aku justru masuk lebih dalam. Entah apa rencana Tuhan untukku. Aku hanya bisa pasrah ketika Tante Salwa memutuskan menyuruh Kak Rey menemuiku.
Seorang dokter masuk dengan seorang perawat wanita, membuat perbincangan kami terhenti. Dokter menyuntikkan sesuatu pada selang infusku, lalu memintaku banyak beristirahat agar kondisiku membaik. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya dokter tersebut undur diri.
Beberapa menit setelah dokter itu pergi, mataku tiba-tiba mengantuk, seolah terbuai oleh sesuatu yang membuatku segera memilih memejamkan mata.
***
"Apa maksudmu, Rey! Kamu menuduhku berselingkuh, tapi ternyata kamu sendiri yang melakukannya? Aku benar-benar tidak menyangka kalian diam-diam menikah tanpa sepengetahuanku."
Sayup-sayup kudengar suara Kak Rena, tetapi mataku belum bisa terbuka sepenuhnya. Sepertinya aku terpengaruh obat tidur sehingga kesulitan untuk membuka mata. Apakah ini mimpi atau sekadar halusinasi?
"Aku tidak berselingkuh. Itu terjadi sebelum kita menikah." Kali ini aku mendengar suara Kak Rey. "Malam itu, aku dan teman-teman sedang mengadakan pesta lajang. Ya, sehari sebelum pernikahan kita. Kamu juga berada di sana, bukan? Saat kamu pulang, dan aku kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil, aku baru merasakan tubuhku bereaksi aneh. Ada yang sengaja memasukkan sesuatu ke minumanku. Dan malam itu akhirnya terjadi"
Lama kondisi berubah hening. Mungkin benar, aku sedang berkhayal. Ini seperti adegan di film-film yang tentunya hanya ada dalam bayanganku. Aku tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang hanya halusinasi. Namun, sesaat kemudian aku mendengar Kak Rey bicara.
"Aku tidak berniat melakukan itu pada Alea. Aku sedang terpengaruh obat yang tanpa sengaja aku minum saat itu." Nada suara Kak Rey terdengar penuh penyesalan. "Aku ... memerkosa Alea sehari sebelum pernikahan kita. Saat terbangun, Alea sudah pergi. Aku tidak tahu jika dia adalah adikmu. Bahkan, aku sempat mengira wanita malam itu adalah kamu. Aku tidak sempat mencari tahu tentangnya karena pernikahan kita akan segera dilangsungkan."
Air mataku menetes mendengarnya. Meskipun mataku masih terasa berat untuk kubuka, tetapi aku sudah tersadar dan sangat jelas mendengar obrolan mereka. Jadi, seperti itu kejadian sebenarnya?
"Lalu, kamu menikahinya?" Terdengar Kak Rena berkata sambil terisak.
__ADS_1
"Ya, aku menikahinya karena dia mengandung anakku. Pernikahanku dan Alea hanya status, tidak ada kontak fisik. Mungkin saat ini dia justru sangat membenciku."
"Rey, bagaimana kamu melakukan itu di belakangku? Bagaimana bisa setega itu padaku?" Suara Kak Rena terdengar pilu. Aku yakin jika saat ini Kak Rena sedang menangis tersedu.
"Rena, bukankah aku menerima segala masa lalumu? Bahkan, aku menerimamu ketika mengetahui bahwa kamu sudah tidak suci lagi saat menikah denganku. Aku tidak mempermasalahkan semuanya. Lalu, bisakah kamu menerima masa laluku? Menerima Alea yang kini telah mengandung anakku? Darah dagingku?"
Napasku sesak mendengarnya. Aku yakin hati Kak Rena teramat sakit. Siapa yang mau dimadu? Siapa yang bisa menerima jika tiba-tiba suaminya berbagi cinta? Aku pun mungkin tidak bisa menerima semua itu.
"Tidak, Rey!" Suara Kak Rena meninggi. Aku tidak mau dimadu! Kamu harus putuskan sekarang, siapa yang kamu pilih, Rey!"
Suasana kembali hening. Aku yakin saat ini Kak Rey sedang berpikir keras, menimbang-nimbang akan jawaban apa yang akan ia katakan kepada Kak Rena. Aku pun sudah tahu benar siapa yang dipilihnya melihat begitu besar cinta Kak Rey untuk kakakku.
"Alea. Dia lebih membutuhkanku."
Sungguh, aku terkejut dengan apa yang Kak Rey katakan. Bagaimana dia bisa memilihku? Sudah sangat jelas jika lelaki itu begitu mencintai Kak Rena. Apakah ini terkait janjinya kepadaku untuk tidak akan melepaskanku selama aku hamil?
"Apa kamu bilang? Bagaimana denganku? Apa cintamu sudah lenyap tak bersisa hanya karena Alea mengandung anakmu?"
"Rena, kamu tahu benar bagaimana perasaanku kepadamu. Tapi, jika kamu saat ini menyuruhku meninggalkan Alea, aku tidak akan melakukannya."
Tepat ketika Kak Rey mengatakan hal itu, dengan susah payah akhirnya mataku bisa terbuka. Kulihat di sana Kak Rena menangis di depan Kak Rey, sementara Kak Rey tampak berantakan dengan wajah lebam kebiruan.
Ada apa ini?
__ADS_1
Siapa yang memukuli Kak Rey sehingga babak belur seperti itu?
"Kak Rey, Kak Rena?" ucapku lirih memanggil dua orang yang sedang berselisih itu.