Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 42. Jangan Kabur Lagi!


__ADS_3

Hari ini aku memutuskan berdamai dengan Kak Rey setelah banyak berbincang dengannya. Banyak hal yang tidak aku ketahui tentang lelaki itu. Setiap peeilaku yang dia lakukan sepertinya harus membuatku bersabar dan tidak cepat menyimpulkan sesuatu. Laki-laki memang terkadang kurang peka . Dia mengatakan sudah tahu segala kegiatan yang kulakukan di rumah melalui CCTV, tapi bagaimana denganku? Aku seolah buta terkait dirinya. Tidak tahu apa pun yang lelaki itu lakukan selama tidak bersamaku.


"Kalau peduli dan ingin tahu, kenapa tidak bertanya? Menahan perasaan itu capek, loh!"


Perkataannya selalu santai, tetapi langsung menusuk tepat sasaran. Dia seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan, bahkan terkait hal-hal sepeleh lainnya.


"Suami siapa, sih?" Aku merengut. "Ngeselin!"


Dia tertawa, tetapi kemudian meringis dengan menyentuh pipinya. Mungkin menahan sakit pada lebam yang tampak kebiruan di wajah. Entah siapa yang melakukan itu, tampaknya luka tersebut terlihat masih baru.


"Sakit, ya? Habis dipukulin siapa?" Aku bertanya setelah mengamati bekas luka di wajah Kak Rey. Padahal dalam hal bela diri, lelaki itu jagonya. Aku menjadi saksi bagaimana dia bisa melawan beberapa orang yang memiliki postur besar dan terlihat kuat menyeramkan hanya dengan menggunakan tangan kosong. Kalau melihat dari luka lebam di wajahnya saat ini, aku yakin orang yang memukuli Kak Rey bukanlah orang sembarangan. Tentu memiliki kemampuan bela diri yang tidak main-main.


"Jatuh di depan."

__ADS_1


"Heem, tidak mungkin. Aku tidak sebodoh itu, Kak Rey!"


"Lalu, sebodoh apa?"


"Hei!" Aku melototinya. Meski dia suamiku, aku tidak suka dia menghinaku.


"Jika tidak ada anak buah Ayah yang menemukanmu di jalan, aku tidak tahu harus bagaimana. Anggap saja Tuhan masih menyayangimu. Kamu selalu bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."


Oh, jadi yang menolongku adalah salah satu anak buah dari Paman Sean. Pantas saja saat pertama kali tersadar ada Tante Salwa di sini. Mungkin benar, Tuhan masih sayang kepadaku sehingga selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di saat aku berada dalam kesulitan.


Apa yang kudapat? Aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Kak Rey. Bisa dibilang aku tidak mendapat apa-apa. Aku tidak membawa pulang ibuku. Bahkan, aku kehilangan tas dan pakaianku yang terpaksa kutinggal di sana. Tubuhku tiba-tiba merinding, merasakan kengerian kejadian saat itu. Bagaimana usahaku melarikan diri dari kejaran Pak Raka yang sebelumnya kukira baik, ternyata memiliki jiwa psikopat.


"Kak Rey, apakah ibuku masih hidup?" Kualihkan tatapanku ke arahnya. Meskipun aku tahu Kak Rey tidak bisa menjawab pertanyaanku, tetapi aku ingin mengetahui pendapatnya. "Aku ingin sekali bertemu dengannya. Andai apa yang dikatakan Mama bahwa ibuku gila pun, aku akan tetap menerimanya. Setidaknya aku yakin dia menyayangiku."

__ADS_1


Tangan yang sejak tadi berada di sampingku itu terulur, lantas mengusap kepalaku beberapa kali.


"Kamu akan bertemu dengannya suatu saat nanti. Aku akan membantumu mencarinya, asal kamu mau menepati janjimu."


Aku memandangnya dengan wajah serius, melihat ketulusan dari sorot matanya. Namun, aku bingung janji apa yang dia maksudkan. "Janji? Janji Apa?"


"Jangan kabur lagi apa pun yang terjadi." Tangan itu menurun, mengusap pipi bekas tamparan Kak Rena. Aku sempat berjingkat ketika merasakan usapan jemarinya. "Karena aku akan mencarimu ke mana pun kamu bersembunyi."


***


Maaf, ya!


Kemarin up hanya satu. Karena kepala mendadak sakit, jd gk bisa dipaksain nulis. Apalagi setelah tengok komentar pembaca yg baru masuk, auto makin pusing. 😂😂

__ADS_1


Tapi, gak masalah. Sudah biasa seperti itu. Selama ada yang nungguin dan percaya dengan alur yg saya buat, sy akan tetap menamatkan di sini sesuai rencana.


Hari ini akan up beberapa bab, gk hanya satu atau dua. Jadi, tunggu saja, ya ☺


__ADS_2