Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 57. Memasak


__ADS_3

Setiap kenyataan-kenyatan yang dipaparkan dalam waktu berdekatan, mengurai sebuah benang merah dan menguak sedikit demi sedikit rahasia masa lalu.


Aku masih teramat syok dengan apa yang baru saja Kak Rey utarakan mengenai ibuku. Diperkosa bergilir, lalu Papa yang selama ini aku anggap sebagai malaikat penolongku, memberi kasih sayang yang teramat besar kepadaku tak lain adalah salah seorang laki-laki yang ikut menghancurkan masa depan ibuku.


"Kak, ...." Lidahku kelu untuk bertanya sesuatu. Namun, selanjutnya Kak Rey memelukku. Mungkin dia mengerti bahwa saat ini aku membutuhkan dukungannya. Semua masalah ini terlalu berat untuk bisa kupikul sendiri.


"Katakan, apa yang kamu rasakan saat ini?" Kak Rey menekuk kedua kakinya, menggunakan kedua lutut sebagai tumpuan sehingga posisi kami hampir sejajar. Kedua telapak tangannya menangkup wajahku, lalu sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.


"Aku ... takut. Aku ... merasa akan melukai anakku. Seolah apa yang ada di video itu begitu nyata. Dan tawa wanita itu setelah membunuh anakkya membuat diriku semakin gelisah. Aku cemas jika aku benar-benar melakukan itu."


Dia mengecup keningku, lalu membawaku dalam dekapannya. Aku menangis di sana. Mengapa Kak Rey menunjukkan video seperti itu?


Setelah dirasa aku mulai tenang, Kak Rey melepaskan pelukannya. Posisinya masih sama, berada di depanku dengan berdiri menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan.


"Kak, dari mana video itu berasal? Apa hubungan video itu dengan bunuh diri Mama?"


Dia mengembuskan napas berat sebelum akhirnya berkata, "Alea, tadi malam yayasan sempat mengalami listrik padam. Kamera pengawas yang disebarkan di area kamar asrama pasti mati saat itu juga. Kami belum menemukan siapa yang melakukan ini kepada mamamu."


"Jadi, video itu sengaja diputar untuk memengaruhi kondisi mental Mama?"


Kak Rey mengangguk. Ibu jarinya menyeka tetesan air mata yang mengalir di pipiku. "Melihat reaksimu yang berlebihan setelah melihat rekaman itu, aku yakin ada yang sengaja melakukannya. Dia melalukan bunuh diri karena takut melakukan hal buruk kepada bayinya. Dia lebih memilih melenyapkan nyawanya daripada membunuh boneka yang selama ini ia anggap sebagai anaknya."


Ya, aku pun merasa takut menyakiti anak dalam kandunganku setelah menyaksikan rekaman tersebut. Padahal kondisi psikisku tidak bermasalah. Namun, bagaimana dengan Mama? Dia pasti sangat tersiksa saat itu.


"Aku rasa ada yang sengaja ingin membuat ibumu stres dengan melakukan cuci otak lewat video itu."


Aku terdiam. Siapa yang tega melakukan itu pada ibuku. Tak cukup kah penderitaan yang selama ini dia alami? Apalah yang sebenarnya diinginkan oleh orang-orang jahat di luar sana?


Namun, saat aku berpikir tentang bagaimana akhirnya aku berada dalam lingkungan keluarga Hinata dan ternyata Papa ikut andil dalam pemerkosaan itu, aku yakin jika Mama berada di balik semua ini.


Apakah aku terlalu berburuk sangka? Tapi, semuanya terasa sangat janggal. Aku harus menanyakan ini pada Mama Sonya, istri sah Papa Arya Hinata yang tak lain adalah mama Kak Rena.


***


Sebenarnya aku ingin sekali menjaga Mama. Aku takut apabila ada orang jahat yang tiba-tiba masuk dan mencelakainya. Aku yakin jika orang jahat yang sebelumnya telah membuat Mama bunuh diri masih berada di sekitar rumah sakit ini.

__ADS_1


Sayangnya, Kak Rey melarangku tinggal. Dia berjanji akan memberikan pengawasan dan penjagaan ketat di ruang perawatan Mama. Dia berkata bahwa aku harus fokus pada diriku sendiri, biar Mama menjadi tanggungannya.


Meskipun sedikit tidak rela meninggalkannya, tetapi akhirnya aku mengangguk setuju. Aku yakin jika Kak Rey akan melakukan hal terbaik untuk mamaku.


Kami kembali ke rumah tepat pukul dua siang. Kak Rey memintaku beristirahat terlebih dulu, tidak perlu memikirkan apa pun yang bisa mengganggu kesehatan serta pikiranku. Aku merebahkan diri di atas ranjang setelah membersihkan diri. Berusaha memejamkan mata karena rasanya begitu lelah.


Terlalu lama menangis serta terpukul akan kejadian yang menimpa Mama, bagaimana wanita yang selama ini aku rindukan ternyata telah mengalami nasib yang sangat menyedihkan. Pantas saja Mama Sonya mengatakan bahwa aku hanyalah anak haram dan sudah selayaknya mengandung anak haram. Apakah itu artinya dia sudah sangat mengetahui kejadian memilukan yang dialami oleh mama kandungku?


Ketika pikiranku berkelana untuk mencari sebuah titik temu terkait masa lalu Mama, tiba-tiba hidungku mengendus aroma harum bumbu masakan. Perutku mendadak lapar. Aku baru sadar kalau belum sempat makan siang.


Bergegas kuberanjak dari pembaringan. Aku ingin memasak sesuatu untuk mengganjal perut. Pastinya Kak Rey juga kelaparan karena kami sama-sama belum makan siang.


Perlahan aku menuruni anak tangga, lalu berjalan menuju dapur yang berada di lantai bawah. Aroma harum masakan itu kian menyengat, aku semakin tergoda untuk mencicipi.


Dan di sana, aku melihat Kak Rey telah berkutat dengan perlatan dapur. Dia membuat spaghetti yang dimasak di atas kuali. Tangannya begitu lincah ketika menggerakkan spatula dan kuali anti lengket dengan beberapa kali mengangkat benda itu agar masakannya bisa tercampur sempurna. Bahkan, mie yang panjang tersebut sempat terlempar ke atas ketika Kak Rey memasaknya.


"Woow!" Aku bertepuk tangan, sangat terhibur dengan atraksinya.


Seperti biasa, Kak Rey makin sombong saat dipuji. Dia mengangkat bahu sembari mengedikkan dagu seolah dia chef hebat. Namun, sikapnya yang seperti itu justru membuatku ingin tertawa. Dia terlihat menggemaskan. Aku menyeret bar stool untuk kemudian kududuki.


"Silakan, Tuan Putri!"


Satu piring spaghetti ukuran jumbo telah dihidangkan di depanku. Dia bersikap sopan, jauh berbeda dengan Kak Rey yang biasanya.


"Makasih, Chef." Aku terkikik ketika mengatakannya dan hal itu tak luput dari perhatian Kak Rey.


"Hei, mengapa tertawa?"


Aku menggeleng. "Tidak ada. Suamiku tampan."


"Jelas. Itu sudah paten. Tidak bisa didebat lagi."


Tuh, kan, dia selalu menyombongkan diri. Aku memutar bola mata menanggapi. Dia terkekeh, mengusap kepalaku. "Jangan begitu. Nanti kamu makin jelek."


"Astaga, Kak Rey!" Aku memukul pelan dadanya. Pipiku mengembung. Kesal. Bisa tidak memujiku sekali saja. Dia selalu menyombongkan diri, tetapi sambil menghinaku.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba aku merasakan tendangan di perut. Ya, anakku menendang cukup keras sehingga membuatku meringis. "Aah, sakit," ucapku yang kemudian membuat Kak Rey panik.


"Alea, ada apa?" Dia membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan tinggi badanku. "Apa mau melahirkan?" Wajahnya terlihat cemas ketika mengatakannya.


"Apaan sih, Kak? Baru lima bulan suruh melahirkan." Aku memukul bahunya pelan sambil merasakan perutku yang mengencang. "Dia menendang," kataku dengan menahan sakit sambil memegang bagian perut.


Perlahan Kak Rey mengusap perutku, membelainya dengan hati-hati, menggantikan telapak tanganku. Anehnya, perut yang terasa kencang tadi perlahan kendur dan lebih relaks.


"Sudah enakan?" tanyanya memastikan.


"Ehmm, sepertinya dia marah karena mamanya diejek," ujarku kemudian.


"Benarkah?" Kak Rey meletakkan pipinya di perutku, lantas mengajak anakku bicara. "Hai, ini Papa. Siapa yang menghina Mama? Mamamu cantik, pintar masak, juga pandai yang lainnya. Kamu pasti bangga punya Mama sepertinya."


Aku tersenyum, merasa tersentuh melihat Kak Rey begitu perhatian kepada anakku. "Pandai yang lainnya? Pandai apa?" tanyaku yang sedikit penasaran akan kata yang Kak Rey utarakan.


"Heem, ini rahasia karena hanya Papa yang tahu." Dia berbisik pada perutku. Aku semakin penasaran akan apa yang Kak Rey ingin ucapkan. Lalu, dia melanjutkan kalimatnya. "Mamamu pandai sekali mendessah."


"Kak Reeey!" Aku melotot, tetapi dia malah tertawa.


Bisa-bisanya dia membahas hal itu pada anak yqng ada dalam perutku.


"Sudah, ayok kita makan! Aku sudah lapar."


"Heem," gumamku. Aku sudah lapar sejak tadi sehingga memilih mengabaikan candaan Kak Rey yang tidak patut diomongkan pada sebuah janin yang masih berada dalam kandungan.


Tepat ketika kami hendak memakan spaghetti tersebut sepiring bedua, sebuah panggilan tiba-tiba berdering pada ponsel Kak Rey. Lelaki itu segera mengangkatnya dan tanpa banyak bicara dia mengatakan "ya". Panggilan berakhir dengan Kak Rey mengarahkan pandangannya ke arahku.


"Dari rumah sakit. Hasil tes DNA sudah keluar."


...****************...


Btw, yg kemarin komplain mengapa di NT tidak ada novel "Dinikahi Tuan Arthur", ya karena kisah Sean dan Salwa di NT sudah ada. Judulnya "Terjerat Cinta Dunia Mafia". Udah tamat sejak 2020 dulu.


Kalau semua letak di NT akan semakin membingungkan. Ada kisah dg namanya sama, tetapi ceritanya beda. Kan gak lucu. Yg di sebelah itu adalah Remake dr kisah yg ada di NT. Kenapa dibuat remake? Karena authornya sayang sama mereka bedua. 🤭

__ADS_1


Sudah, ya, jangan lupa sesajennya 🙈🙈


__ADS_2