Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 75. Kak Rena Sadar


__ADS_3

Perkataannya itu jelas menunjukkan dominasi yang nyata. Jika dia tak bisa melihatku disentuh pria lain, lalu bagaimana dengan dirinya?


Meskipun aku mengizinkan Kak Rey menjaga Kak Rena, tapi hati kecilku berontak, ingin sekali melarangnya. Apakah aku egois jika menginginkan suamiku hanya untukku tanpa harus berbagi?


Walaupun aku adalah yang kedua, tapi kini akulah istri sahnya. Dan bagaimanapun Kak Rena adalah yang pertama, yaitu wanita pertama yang mengisi hati Kak Rey. Aku sangsi jika suatu saat tiada benih cinta yang akan timbul di antara mereka. Apalagi Kak Rena pun belum bisa melupakan suamiku.


Aku menyeka air mata yang baru saja mengalir di pipi. Kuarahkan pandanganku tepat pada mata hazel dengan alis tebal di atasnya. "Aku tidak tahu. Maaf jika pada akhirnya aku menyerah."


Kak Rey seketika memelukku, mendekapku erat. Dia tidak bicara apa pun. Hanya merasakan tubuhku yang didekap olehnya. Namun, satu hal yang kutahu. Kak Rey sedang berusaha menahan tangis. Dia memaksaku menunduk, menenggelamkanku di dadanya agar aku tak melihat tangisnya. Mungkin begitu karena aku tanpa sengaja mendengar sedikit isakan dari bibirnya.


***


Saat jam beker berdering memekakkan telinga, mataku segera mengerjap dan terbuka. Segera kuraih benda bulat itu untuk menghentinkan suaranya.


Kondisiku masih tak berpakain, dipeluk oleh Kak Rey dari belakang dalam selimut yang sama. Lelaki itu bahkan tak membiarkanku terbebas barang sejenak. Dia terus mendekapku meski sedang terlelap.


Perlahan kupindahkan tangan kekar dari perutku. Aku ingin segera membersihkan diri. Namun, pergerakanku justru ditahan olehnya.


"Mau ke mana?"


"Mandi. Ini hampir subuh."


"Heem, bareng." Situasi seperti ini, dia masih sempat mesum.


"Enggak. Kak Rey istirahatlah dulu. Aku akan cepat."


Namun, aku merasakan sesuatu mengganjal di sana. Percintaan kami semalam terlalu menggebu, hingga area sensitifku terasa tidak nyaman. Jika kubuat berjalan pun, aku harus sedikit mengangkang. Meski lembut, Kak Rey ternyata keterlaluan melakukannya. Dia pasti sengaja membuatku seperti ini.


"Kenapa? Ada masalah?" Dia berkata sambil menahan senyum. Aku jadi sedikit kesal melihatnya.


"Ini semua gara-gara kamu, kan?" Tanganku meraih jubah tidur yang tersampir, mengenakannya dengan mengikat talinya. Berjalan perlahan untuk mencapai kamar mandi.

__ADS_1


Namun, tepat ketika pintu kamar mandi aku tutup, Kak Rey menyelipkan tubuhnya ke dalam.


"Hei, mengapa ikut masuk?"


Aku menatapnya tajam. Tidak cukupkah yang semalam sampai harus menggangguku lagi di pagi hari?


Akan tetapi, dia tak memedulikan perkataanku. Tubuhku didorong hingga menyentuh dinding kamar mandi, lalu tangannya memutar keran shower dengan mengatur suhu hangat. Kini, kami saling menghadap berdiri di bawah guyuran air.


Jubah tidur yang kukenakan basah kuyup, menempel pas pada tubuhku. Tangan kekar itu memerangkapku, menyentuh daguku. Dia ... menciumku.


Aku merasakan tali yang kuikat pada jubah tidurku ditarik olehnya, dan dengan cekatan pakaian itu terlepas dariku.


"Kak Rey, cukup!"


Aku menahannya saat dia mulai menjamahku lagi. Namun, dia tidak peduli. Seolah perkataanku dia anggap sebagai angin lalu. Matanya kian berkabut, menatapku dengan lapar. Sepertinya kali ini aku akan terperangkap pada permainannya lagi.


Dan di sini, di bawah guyuran air hangat yang menerpa kepala kami, Kak Rey menyetubuhiku lagi.


***


Sedikit rasa ragu mulai menghampiriku. Bagaimana aku bisa melepaskan suamiku yang sampai saat ini tidak melakukan kesalahan padaku. Apalagi Althaf masih terlalu kecil jika harus kehilangan sosok ayah. Aku pun juga belum sanggup untuk berpisah dengannya.


Semalam dia menunjukkan bahwa kami saling membutuhkan. Bukan hanya dalam mengurus Althaf, tetapi juga dalam melampiaskan kebutuhan biologis kami.


Sampai saat itu terjadi ....


Kak Rey mendapatkan panggilan dari rumah sakit jika Kak Rena telah siuman sejak semalam. Aku sedikit lega mendengarnya. Mungkin itu adalah petanda jika rumah tanggaku akan selamat. Kak Rey tak lagi menjaga Kak Rena. Masa kritisnya sudah berakhir.


Dengan antusias aku mau menemani Kak Rey menjenguk Kak Rena dengan menitipkan Althaf pada Mama. Tidak baik jika anak bayi harus sering keluar-masuk rumah sakit, bukan? Sehingga aku lebih memilih meninggalkan Althaf di rumah bersama Mama.


Di mobil tangan Kak Rey tak sekalipun melepas genggaman tangannya padaku. Sesekali dia mengecupnya dengan terus mengendara. Aku sempat tersipu dibuatnya. Namun, bukan hal itu yang membuatku bahagia, melainkan hubungan kami semakin membaik sehingga perceraian itu mungkin tidak akan terjadi. Aku memberinya kesempatan untuk menunjukkan bagaimana dia menjadi seorang suami yang hanya memberikan perhatiannya pada keluarganya saja.

__ADS_1


Kami masih bergandengan tangan saat menuju ke ruang perawatan Kak Rena. Dan di sana, Mama Sonya melihat kami berdua dengan tatapan tidak suka. Sorot matanya mengarah pada tangan Kak Rey yang menggenggam tanganku, dan aku pun menyentuhkan tanganku yang lain pada lengan suamiku.


"Rey, Rena ... histeris," ucap Mama Sonya kepada Kak Rey.


Kak Rey bergegas melihat ke dalam dengan aku turut di belakangnya. Di sana kulihat kondisi Kak Rena begitu menyedihkan. Dia tertidur dengan kaki dan tangannya diikat menggunakan kain seolah ada hal yang membuat perempuan itu menjadi tak terkendali.


"Pukul enam sore Rena sudah sadar. Awalnya dia baik-baik saja. Tapi, saat dia meminta cermin padaku, dia histeris melihat wajahnya sendiri." Mama Sonya memberi informasi. "Dia ingin mengakhiri hidupnya karena merasa tidak ada yang mencintainya lagi. Dokter memberinya obat penenang sehingga dia bisa terlelap sampai sekarang."


Saat itu juga tubuh Mama Sonya luruh ke bawah. Dia memeluk kaki Kak Rey. Seketika Kak Rey membungkuk, melepaskan genggaman tangannya dariku demi membujuk Mama Sonya berdiri dari posisinya.


"Tidak, apa yang Anda lakukan?"


Namun, Mama Sonya keras kepala. Beliau tidak mau beranjak dari posisinya.


"Reynan, tolong beri kesempatan Rena lagi. Dia sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup jika melihat putriku menderita seperti ini. Bantu dia menghidupkan keinginannya bertahan. Aku tidak kuat melihat penderitaan putriku." Beliau menangis di kaki Kak Rey.


"Maaf, aku sudah memiliki istri dan anak. Aku tidak mungkin menerima Rena kembali. Aku tidak ingin menduakan istriku."


Aku tidak menyangka akhirnya Kak Rey bisa berkata begitu. Akan tetapi, Mama sonya semakin membujuknya dengan meratap kepadaku.


"Alea, kalian berdua sejak kecil hidup bersama-sama. Tak bisakah kamu berbagi sedikit kebahagiaan untuk Rena? Bukankah dia sebelumnya memberimu kesempatan untuk bersama Rey sampai anakmu lahir ke dunia? Mengapa saat ini kamu hanya memikirkan dirimu sendiri? Tidak adakah rasa empatimu untuk Rena?"


"Nyonya Hinata!" Kak Rey menyela. "Jangan bicara seperti itu pada Alea. Dia berhak memiliki suami yang tidak berpoligami. Mengapa Anda memaksakan kehendak?"


"Kalian berdua!" Mama Sonya menatapku dan Kak Rey secara bergantian. "Mengapa sangat tega dengan Rena? Apa salahnya sampai Tuhan menghukumnya seperti ini? Bukankah kondisi Rena yang seperti ini juga karena menyelamatkan nyawa kalian? Mana tanggung jawab yang kalian janjikan saat itu?"


Apakah aku egois? Tapi, bertanggung jawab bukan harus menikahi, kan? Bolehkah aku menamengi hatiku dengan menghindari poligami?


Aku pernah melihat Kak Rey bercumbu dengan Kak Rena, dan itu rasanya sangat sakit.


...****************...

__ADS_1


Dua bab ya, terima kasih sudah meninggalkan jejak. Mungkin 3 bab selanjutnya akan tamat. Makasih yg sudah mendukung dan setia menanti.


__ADS_2