
Rasa cemas kian menggebu. Aku baru sadar jika sejak awal ada yang membuntuti. Oh, tidak. Jangan-jangan pria bertopi yang sejak tadi berada di seberang kursi saat di kereta api.
Aku ingin menumpahkan tangis. Bagaimana ini?
Tanpa memedulikan petugas, aku melenggang pergi. Meneriaki nama Althaf dan Aylin seperti orang kesetanan. Semua menatapku aneh, tapi aku tak peduli. Air mata berlinang membasahi pipi. Althaf dan Aylin tak juga ditemukan. Hingga aku hampir menuju ke pos security dan ingin menuntut pada petugas jaga zona bermain anak.
Namun, suara teriakan mengurungkan niatku melakukannya.
"Mama, Mama!" Aku menoleh, dua anakku berlari dengan tertawa lebar ke arahku.
Kubungkukkan tubuh, memeluk mereka. Kuciumi wajah yang tampak bahagia itu. Tubuh ini masih gemetar, tetapi rasa lega sudah membanjiri hatiku. Aku menyeka air mata dengan kasar, tidak ingin terlihat cengeng oleh mereka.
"Dari mana, Sayang?" Kukendurkan pelukanku, menatap mereka yang sedang masing-masing membawa sesuatu.
"Sama Papa, beli mainan." Mereka tersenyum ceria, menunjukkan mainan yang terlihat mahal itu.
Lagi, ada yang menyogok putra-putriku dengan mainan mahal. "Al, Ay, sudah Mama katakan! Jangan pergi dengan orang asing. Jangan menerima pemberian orang asing. Bagaimana jika mereka jahat." Kulihat bola mata yang tampak poloz dari keduanya. Wajah tersenyum mereka mendadak muram. Aku sebenarnya tak kuasa memarahi, tetapi kebiasaan mereka selalu memanggil lelaki yang tak dikenal sebagai Papa meresahkanku.
"Maaf, Ma. Tapi Papa ...."
"Tidak ada Papa." Aku membentak, mengambil alih mainan yang dibungkus rapi dan besar dari tangan mungil mereka. "Di mana orangnya. Ayo, kembalikan!"
Keduanya menggeleng. Wajah mereka ditekuk ke dalam.
"Althaf, Aylin, Mama bertanya pada kalian? Di mana orang yang kalian panggil Papa?"
Mereka tetap bungkam dan tidak mau menjawab. Aku kesal. Mengapa mereka tidak mau jujur padaku? Aku takut jika karena hadiah-hadiah ini membuat mereka terlena. Dan berakhir pergi bersama pria yang mungkin berniat jahat dengan kedua bocah kecilku.
"Mama akan membuang mainan ini jika kalian tidak mau menjawab."
__ADS_1
Mereka tetap diam. Aku marah. Segera kubangkit dari posisiku, melangkah menuju tempat sampah, lalu membuang mainan tersebut.
Mereka menangis, lantas berteriak padaku. "Mama jahat!" Kakinya mengentak kesal. "Al sudah lama ingin mainan itu, tapi Mama malah membuangnya. Al benci sama Mama!"
Sungguh, baru kali ini mereka mengatakan aku jahat. Rasanya sakit. Benar-benar sakit. Namun, aku tidak ingin Aylin dan Althaf terlena oleh bujuk rayu seorang pria yang menyebut dirinya "Papa".
Perjalanan yang seharusnya menggembirakan menjadi penuh luka. Al dan Ay menjadi pendiam. Tak sedikit pun terlihat senyum terbit di bibir mereka. Aku hanya bisa menghela napas panjang untuk menambah stok kesabaran.
Kami sampai di rumah pukul delapan malam. Aturan kebiasaan mencuci kaki dan tangan sebelum tidur sudah diterapkan oleh kedua anakku. Setelah berganti dengan piyama, mereka tidur di ranjang terpisah.
Kuketuk pintu kamar, dan saat itu juga wajah mungil mereka segera memejamkan mata. Aku tersenyum. Al dan Ay masih merajuk. Mata yang memejam itu tamoak rapat dan itu terlihat lucu.
Mereka pura-pura tidur.
Kuayunkan langkah mendekat, berjalan ke arah Althaf. Anakku yang tampan itu juga dalam posisi yang sama, tidur pura-pura. Aku berbaring miring di sana, membelai kepala putra sulungku. Lantas, kulabuhkan kecupan hangat di kening serta kedua pipi.
"Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak berniat marah. Mama hanya takut kehilangan kalian berdua. Mama takut orang lain menjauhkan kalian dari Mama. Kalian adalah harta Mama yang paling berharga."
Perlahan, kelopak mata kecil itu mengerjap. Lalu, membuka menatapku.
"Mama nangis?" Suara Althaf menyejukkan hatiku. Aku menggeleng, mengusap kepalanya lembut.
"Tidak. Mama hanya merasa tidak bisa menjadi mama yang baik buat kalian. Mama adalah mama terburuk yang ada di dunia."
"Siapa yang bilang begitu. Mama adalah mama terbaik. Al sayang Mama. Mama enggak boleh bilang begitu. Al enggak akan ninggalin Mama."
Lengan kecil itu memelukku. Aku tersenyum bahagia. Melihat wajah ceria anakku sudah membuat rasa sakit di hatiku sirna.
"Mama, Ay juga mau dipeluk." Gadis kecilku merengek, menatap iri ke arah kakaknya.
__ADS_1
"Sini, kita tidur bertiga."
Aylin mengangguk cepat, turum dengan tengkurap sampai kakinya menjejak lantai. Lalu, langkah kecilnya sedikit berlari menuju ke ranjang Althaf.
Kini, mereka berdua tidur sambil memelukku di sisi kanan dan kiri. Aku usap kepala mereka berdua dan sesekali mencium kening mereka. Senyumku tak bisa kutahan. Rasanya begitu ... damai.
***
Sejak pagi aku sudah disibukkan mendekor kue.
Pesanan harus diantar pukul sepuluh siang. Melihat lokasi yang ada, aku memutuskan mendekor di tempat. Takut jika ada kerusakan saat pengiriman.
Sebuah mobil yang biasa menerima pengantaran kue telah tiba. Aku menyewanya untuk menuju lokasi pernikahan Kak Rey.
Aku menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak perasaan di dada. Lima tahun lamanya kami tidak bertemu, dan saat ini aku harus melihat dia menikah dengan wanita lain. Entah siapa wanita itu. Aku bahkan tidak sanggup membaca namanya. Aku sampai mengajak Mama untuk membantuku menuliskan nama pengantinnya nanti.
Suasana gedung serba guna itu cukup ramai. Mereka sedang sibuk mendekor ruangan. Aku pun sama, harus siap dengan bahan-bahan yang kubawa agar pesanan kuenya tidak mengecewakan.
Aku sudah mendesainnya di sebuah kertas, menggambarkan bagaimana bentuk kuenya nanti. Segera kuoleskan butter cream dengan pisau, melakukan gerakan memutar hingga bentuk mulus kudapatkan.
Warna biru muda dan biru tua bercampur membaur menjadi gradasi indah. Aku memulainya dari bagian bawah, lalu mengaplikasikan pada bagian atas. Semburat tinta pewarna makanan dengan corak emas menambah kesan elegan. Tak lupa juga action figure Shizuka dan Nobita yang sedang mengenakan stelan jas dan gaun pengantin kuletakkan pada bagian atasnya.
Konsep pada kue ini adalah menatap masa depan. Sepasang pengantin sedang melihat pijaran bintang malam nan indah memanjakan mata. Selesai.
Kue pengantin sudah siap, tinggal menuliskan nama pengantinnya.
Aku kembali menghela napasku dalam saat mengambil kartu undangan yang belum pernah kubuka. Belum sempat aku mengintip isinya, sebuah suara memanggilku.
"Alea!"
__ADS_1
Suara itu. Ya, suara itu sudah sangat familiar di telingaku. Aku sebenarnya enggan menoleh. Namun, tidak mungkin aku membiarkan diri ini tetap dalam posisi seperti ini. Hingga terpaksa ragaku kukuatkan, membalikkan badan saat itu juga.
Dan di sana ... dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Kak Rena menggandeng seorang anak perempuan seusia Aylin, putri kecilku.