
Bukan karena tempat yang membuat jauh. Namun, mereka sendiri yang saling menjauh. Bukan karena mereka berubah, tetapi waktu yang membuatnya berubah. Ketika setiap masalah hanya dipandang dengan satu sisi, maka tiada yang namanya intropeksi diri, melainkan hanya saling merasa benar sendiri.
Aku hanya berdiam diri di batas celah pintu itu, menatap bagaimana sikap Kak Rena yang secara terang-terangan memarahi Kak Rey. Kak Rena yang selalu anggun, mudah tersenyum, berubah seperti singa betina kelaparan yang siap menerkam mangsa ketika berhadapan dengan suaminya.
"Rey, aku istrimu. Bagaimana kamu justru tidak mendukung proyek yang sedang aku usahakan?" Kak Rena berkata dengan nada tinggi. Aku melihat emosi yang mulai tersulut dalam dirinya.
"Aku sudah mengatakan padamu. Lepaskan! Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari proyek itu. Tapi kamu tidak mau mendengarkanku. Sudah berapa milyar yang sudah digelontorkan, tapi kamu masih tidak sadar juga."
"Oh, jadi sekarang kamu mulai hitung-hitungan denganku? Apa karena sudah ada Alea? Apa kamu merasa hebat sudah diperebutkan dua orang wanita?" Kak Rena mendorong-dorong dada Kak Rey, tetapi lelaki itu hanya diam tak melawan. "Kamu berubah, Rey! Semua yang telah kamu janjikan kepadaku bullshit!"
Aku tidak tahu rupanya sikap Kak Rey selalu lunak terhadap Kak Rena. Dia seolah menahan amarah ketika Kak Rena menghinanya. Mungkin rasa cintanya yang meluap-luap membutakan dirinya akan sikap kasar Kak Rena.
"Aku setuju atas pernikahanmu dengan Alea, tapi itu bukan berarti aku menerima. Sampai kapan pun aku tidak akan mau berbagi suami dengan siapa pun, termasuk Alea. Dia pura-pura tersakiti, tapi sesungguhnya hanya ingin mendapatkan simpatimu. Menginginkan kemewahan darimu. Apakah kamu sadar? Anak yang dikandungnya hanya alat untuk mendapatkan hartamu."
"Cukup, Rena! Bukan Alea yang mengubahku. Tapi sikapmu sendiri. Inilah keburukanmu. Kamu tidak pernah mau intropeksi diri, selalu menyalahkan orang lain."
Kak Rena tidak terima, menyela perkataan Kak Rey. "Dan sekarang kamu mempermasalahkan sikapku? Rey, kamu tidak pernah berbuat seperti ini kepadaku sebelumnya. Aku yakin Alea sudah meracuni pikiranmu. Apa dia menggodamu? Dia mencoba menarik perhatianmu? Katakan!"
"Apa salahnya menggoda suami sendiri?" Kak Rey ternyata membelaku di depan Kak Rena. Aku tidak menyangka akan hal itu. "Setidaknya dia lebih baik darimu dalam memperlakukan suami. Sekarang tanyakan pada dirimu. Hampir lima bulan kita menikah, berapa kali kamu mau melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri? Apa kamu ada waktu untuk mengurusku? Waktumu hanya untuk bekerja dan nongkrong dengan teman-teman sosialitamu. Apa kamu sudah merasa baik menjadi seorang istri?"
"Rey, kita sudah membahas ini. Aku wanita karier. Jangan membandingkan dengan Alea yang hanya bisa menghabiskan uangmu saja. Kamu sudah menyetujui akan kesibukanku mengurus perusahaan. Mengapa sekarang kamu berkata seolah aku yang bersalah?"
Kak Rey terkekeh. "Jadi, kamu merasa aku yang salah. Aku suami yang tidak mau memaklumi kondisimu?" Dia berjalan memutari Kak Rena. Ekspresinya berubah saat melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah menawarkanmu seorang eksekutif untuk membantu pekerjaanmu, tapi kamu menolaknya dengan alasan yang tidak masuk akal."
"Aku tidak percaya dengan kemampuan orang lain." Kak Rena kembali menyela.
__ADS_1
"Oh, bagus. Teruskan saja egomu. Aku mengizinkanmu karena aku tidak mau mengekangmu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu semakin kehilangan arah. Tanpa sepengetahuanku kamu melakukan kontrasepsi, selalu menolakku dengan alasan lelah. Mungkin, ada baiknya kamu menikah dengan seorang pengangguran saja."
"Rey!"
"Aku sudah lelah, Rena. Aku sudah lelah memahamimu. Sebaiknya kita sudahi saja semua ini."
Kak Rena semakin emosi mendengar perkataan Kak Rey. Ternyata dia lebih galak dari apa yang aku bayangkan. "Kamu membuangku demi Alea? Aku tidak percaya dengan semua ini." Kak Rena menggeleng. "Sampai kapan pun aku tidak akan mau mengalah dengannya."
"Aku bilang, jangan limpahkan kesalahanmu kepada orang lain! Ini semua tidak ada hubungannya dengan Alea." Akhirnya Kak Rey bicara dengan suara yang tak kalah tinggi hingga Kak Rena terkejut dan terlonjak dari posisinya.
"Alea!" Tanpa sengaja setelah bicara pada Kak Rena, Kak Rey melihatku. Aku yang sejak awal hanya berani mengintip terpaksa menunjukkan diri.
Kak Rena menatapku kesal. Aku tahu jika saat ini dia sangat membenciku. Apalagi kali ini aku ketahuan menguping pembicaraan mereka.
"Kamu sekarang berubah jadi tukang nguping, ya?" Kak Rena berdecih. Tatapannya mengarah pada tas bekal yang kubawa. Dengan kasar dia merampas tas tersebut, lalu membukanya. "Kamu kasih makan apa suamiku?"
"Kamu bisa masak yang layak, tidak? Rey tidak makan makanan seperti ini."
"Rena, sebaiknya kamu pergi. Kamu sudah banyak membuang waktuku."
"Rey!"
"Aku akan panggil Security."
Kak Rena mengeram, mengepalkan tangan ke bawah, dan menatapku dengan kesal. Aku tak menanggapi, hanya diam sambil membawa kotak makan yang bentuknya sudah berantakan. Dia segera pergi setelah mengentakkan kaki, lalu membanting pintu.
__ADS_1
Mataku mengerjap, membungkuk untuk mengambil tas bekal yang sempat dijatuhkan oleh Kak Rena, mengambil tutup kotak makan yang ada di dalam tas tersebut. Aku mengemas kembali bekal untuk Kak Rey, berniat membawanya pulang. Namun, baru saja langkahku terayun, Kak Rey memanggilku.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
"Aku ...."
"Bawa sini makananku! Aku sudah lapar sejak tadi." Kak Rey berkata sambil mendaratkan bokongnya pada kursi putar.
"Tapi, ini sudah berantakan," ucapku yang tak rela Kak Rey melihat makanan yang kubuatkan tampak acak-acakan.
"Biar saja. Aku sudah lapar." Dia menarik kursi yang lain, memosisikan kursi tersebut tepat di sebelahnya. "Duduk di sini. Aku sangat sibuk. Tolong bantu aku memakannya!"
Aku tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Okey!"
Segera kududuk di sampingnya, mengambil sendok untuk menyuapinya. Kak Rey masih sibuk di depan komputer yang menyala, memainkan jemarinya di atas tombol-tombol papan ketik dengan sangat lincah. Wajahnya tampak serius mengamati setiap kode-kode yang sama sekali aku tidak mengerti.
Perlahan aku menyuapinya. Kak Rey sama sekali tidak keberatan dengan penampilan makananku yang berantakan. Dia hanya membuka mulut dan mengunyah makanan itu perlahan.
"Kamu sudah makan?" tanyanya setelah menelan suapan dariku.
Aku menggeleng. Tadi memang belum sempat makan karena langsung bergegas mengantar bekal ke sini.
"Kalau begitu, makanlah. Ini bisa dimakan berdua."
"Tapi, aku hanya membawa satu sendok," kataku sambil mengangkat suapan berikutnya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Bukankah kita sudah sering berciuman. Makan dengan sendok yang sama tidak akan membuat keracunan."
Oh, mengapa juga Kak Rey membahas ciuman. Bahkan, dia sangat santai mengatakan hal yang kurasa teramat vulgar itu. Aku yakin saat ini wajahku sudah semerah udang rebus karena mendengar perkataannya yang tidak disaring terlebih dahulu.