Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 23. Maafkan Aku


__ADS_3

Aku menunggu di kamar ketika Kak Rey mengambil air wudu. Di bawah sana sudah kupersiapkan dua sajadah untuk aku dan Kak Rey.


Dia mengajakku melaksanakan Salat Taubat bersama.


Aku duduk di tepi ranjang, mengingat kembali apa yang sebelumnya Kak Rey ucapkan.


"Alea, aku tahu jika karena perbuatanku kamu menjadi seperti ini. Aku khilaf. Aku berdosa kepadamu. Setiap malam aku memikirkan ini. Bagaimana caraku agar bisa menebus kesalahanku terhadapmu." Kak Rey menunduk. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. "Aku menikahi Rena, tetapi justru merusak adiknya. Aku adalah pria yang paling jahat sedunia."


Mataku berembun mendengar penuturan Kak Rey. Sebelumnya aku menyangka jika Kak Rey tidak pernah menghiraukanku, tak acuh akan kehidupanku. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya, kesenangannya sendiri. Namun, ternyata tidak demikian. Kak Rey ... peduli.


"Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya dengan menelantarkanmu dan anakku. Aku tahu kamu pasti sangat membenciku. Tapi, aku mohon, izinkan aku menjagamu selama masa kehamilanmu!" Dia menyentuh kedua bahuku, menatapku dengan sayu. "Bantu aku menebus kesalahanku padamu," imbuhnya lagi dengan menunjukkan tatapan memohon kepadaku.


"Kak Rey!" Aku memanggil namanya lirih.


Tolong, jangan terlalu baik padaku!


Kebaikanmu akan melukai perasaanku.


Tapi, kata-kata itu hanya tertahan pada bibirku. Lidahku kelu. Aku tidak bisa berkata sepatah kata pun.


"Aku tahu ini salah. Aku tidak akan memaksamu melayaniku sebagai seorang istri, tapi aku ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang suami dan seorang ayah. Aku sudah memutuskan ... untuk memberi tahu Rena tentang anak ini."


Aku menggeleng. Mana mungkin aku tega mengusik kebahagiaan Kak Rena? Biarlah aku yang mengalah. Biarlah aku yang menjaga anak ini. Aku berjanji tidak akan melibatkan Kak Rey dan Kak Rena setelah anak ini lahir.


"Tidak! Kak, aku akan menjaga rapat-rapat rahasia ini. Kak Rey cukup mengurusku sampai aku melahirkan dan kita akan selesaikan semua saat itu juga. Aku akan menjaga anak ini. Dan Kak Rena akan tetap bahagia bersamamu."


Segaris senyum samar terlihat di bibir Kak Rey di saat lelaki itu mengusap kepalaku. Aku melihat ketulusan di matanya. "Kamu tahu, Alea. Seharusnya tidak boleh ada sebuah rahasia dalam hubungan suami istri. Suami adalah pakaian bagi istri, begitupun sebaliknya. Pernikahan adalah sebuah hubungan yang disatukan Tuhan untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Meskipun ini sulit, tapi Rena harus tahu dan mengambil keputusan."


"Keputusan? Keputusan apa?" Perkataan Kak Rey menggantung sehingga membuatku tidak sabar untuk menanyakannya.


"Dia mau menerima masa laluku atau tidak, dan aku harus menerima dan menghargai apa pun keputusannya. Aku akan memberi tahunya di waktu yang tepat."


Aku terdiam, mencoba mencerna apa yang Kak Rey ucapkan. Untuk saat ini, semua hal yang berada di kepalaku rasanya bercampur-baur tanpa bisa dipilah-pilah. Aku tidak tahu harus berkata apa.


Terbukanya pintu kamar mandi membuat kesadaranku kembali pada tempatnya. Di sana, Kak Rey sudah keluar dengan wajah basah. Buliran air wudu tampak berkilau menetes sedikit di bawah dagunya. Lelaki itu berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil baju koko untuk dipakai salat.


Bahkan, aku baru tahu jika di dalam lemari tersebut juga terdapat pakaian laki-laki. Aku belum sempat mengecek semua isinya karena keterbatasan waktu.


Saat itu juga dia melepaskan kaus putih yang melekat pada tubuhnya di depanku. Aku ingin memalingkan wajah. Namun, ada hal yang menarik perhatianku sehingga aku urung melakukannya.


Perban tebal yang melilit tubuh Kak Rey terlihat basah dan bernoda merah.


"Kak Rey, lukamu?" Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan ke arahnya. Tanpa sungkan aku menyentuh perban tebal tersebut dengan telapak tangan. "Ini darah?" tanyaku hanya memastikan. Jelas itu darah. Luka penembakan lima hari yang lalu, apakah masih basah?

__ADS_1


"Tidak apa. Tadi pagi perbannya sudah diganti oleh dokter. Aku bisa memanggil dokternya lagi besok."


Hei, kenapa dia sangat santai? Itu pasti sakit, bukan?


Aku menatap matanya dalam. Hanya ingin tahu apa yang sebenarnya lelaki itu rasakan. Tanganku masih menempel pada perban tebal itu, tak bergerak sedikit pun.


"Kak Rey!"


"Heem."


"Apakah Kak Rena tahu tentang penembakan itu?"


Mata kami saling beradu pandang, seolah sedang menerjemahkan apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Dia menggeleng pelan. "Tidak. Dia tidak tahu."


Hatiku miris mendengarnya. Kak Rena ternyata teramat sibuk sampai-sampai tidak sempat mengetahui jika suaminya pernah tertembak dan masuk rumah sakit.


"Mungkin aku tidak bisa melakukan kewajiban sebagai seorang istri pada umumnya, tapi ... aku ingin membantumu merawat lukamu. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kamu telah membantuku saat itu."


Dia mengangguk. "Terima kasih," ucapnya. Bersucilah, kita salat bersama!"


"Heem," gumamku. Aku meninggalkannya yang sedang berganti pakaian untuk mengambil wudu. Pikiranku sudah sedikit terbuka dengan Kak Rey, meskipun banyak hal yang ingin sekali aku tanyakan kepadanya. Sampai saat ini, lelaki itu masih sangat misterius bagiku.


Di atas sajadah masing-masing, kami melakukan salat malam bersama. Kak Rey menjadi imam, sementara aku makmumnya. Suasana sunyi dan tenang di malam hari menambah kekhusukan kami dalam beribadah. Tentunya dengan air mata yang terus-menerus berderai tiada henti.


Sayup-sayup kudengar doa diiringi isakan tangis dari Kak Rey. Lelaki itu memohon ampun dengan segala kesungguhan. Dia tidak sedang bersandiwara. Aku bisa melihat itu. Mataku kini terbuka dan mulai memahami lelaki yang kini telah menjadi suamiku.


Kak Rey bukanlah pria jahat. Dia adalah laki-laki baik. Hanya takdir yang membuat kami berakhir seperti ini. Aku juga tidak tahu bagaimana akhirnya kisahku dan Kak Rey nanti. Kami hanya berusaha sebaik mungkin menjalaninya, saling menjaga dan melindungi. Sampai saat anak ini lahir ke dunia.


Dia beranjak dari sujudnya, menengadahkan kedua tangan ke atas, merapalkan doa-doa yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Punggung itu terlihat kokoh dan kuat, tetapi aku tahu banyak hal yang ditanggung olehnya. Aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu mendukung apa pun keputusannya serta mendoakan dia dan Kak Rena berakhir bahagia.


Wajah itu menoleh ke arahku, lantas menyunggingkan senyum di balik mata yang basah. Aku mengulurkan tanganku, mencium punggung tangannya. Dia kemudian memelukku, memeluk dengan begitu erat. Rasa ini ternyata begitu nyaman.


Kudengar sedikit senggukan dari bibirnya yang tertahan. Pelukan ini hanyalah pelukan biasa, bukan pelukan hasrat ataupun nàfsu. Dia memelukku hanya terkait emosional hati.


"Maafkan aku. Maaf," bisiknya di telingaku.


***


Pagi-pagi sekali aku sudah berkutat di dapur. Semalam Kak Rey tidur di rumah ini. Jangan salah sangka! Kami tidak tidur bersama. Ada kamar kosong di rumah ini yang siap pakai. Mungkin Kak Rey sengaja menyiapkannya apabila dia berniat untuk bermalam di sini.


Hari ini untuk pertama kalinya aku menyiapkan makanan untuk Kak Rey. Anggap saja sebagai baktiku kepada suami. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya.

__ADS_1


Bukan masakan mewah. Aku hanya memasak apa yang tersedia di lemari es. Meski hanya sepiring tumis kangkung dengan potongan udang dan daging, tapi aku harap Kak Rey mau memakannya.


Semua sudah kusiapkan di atas meja makan sebelum memanggil Kak Rey di kamarnya. Ketika tanganku akan mengetuk pintu kamar itu, tetapi dia sudah membukanya. Lelaki itu ternyata telah siap dengan pakaian kerja.


Aku mendadak gugup ketika mata kami beradu pandang. Namun, segera kukatakan maksud tujuanku kepadanya. "Aku ... sudah masak. Apa Kak Rey mau makan bersamaku?"


Kupikir dia akan menolak, tetapi ternyata tidak. Dia mengangguk dengan semangat. "Ayo, aku sudah lapar!"


Dia berjalan di belakangku sambil mendorong bahuku pelan, menuntunku menuju meja makan. Kami duduk saling berhadapan. Seperti pasangan pada umumnya, aku mengambilkan nasi di piringnya, lalu sayur beserta lauknya.


Kami mulai makan dengan tenang, hanya terdengar suara gesekan antara piring dan sendok. Akan tetapi, di tengah makan Kak Rey tiba-tiba bertanya sesuatu kepadaku.


"Alea, apa kamu lupa memasukkan garam?"


"Eh, apa?"


"Iya, rasanya hambar. Apa kamu lupa memberi garam saat masak tadi?" Masakan yang Kak Rey makan dan masakan yang aku makan jelas sama, tetapi aku merasa semuanya sudah pas. "Kamu coba punyaku!" ucapnya sambil menggeser piringnya kepadaku.


Aku mencobanya sesendok, lalu mengunyahnya dengan gerakan perlahan. Tiada masalah. Rasanya sama dan menurutku cukup enak. "Tidak, kok. Rasanya enak," kataku membela diri.


"Masak, sih?" Dia mengambil kembali piringnya, lalu mencicipi makanannya sekali lagi. Anehnya ekspresi yang sebelumnya terlihat enggan untuk makan mendadak berubah. "Iya, enak. Mengapa tadi tidak ada rasanya, ya?"


Sebisa mungkin aku menahan tawa dengan menipiskan bibir sambil menunduk. Jelas itu tadi adalah makanan yang sama. Aku hanya mencicipinya dan tidak menambahkan bumbu apa pun lagi, tetapi Kak Rey mengatakan rasanya sudah berbeda.


Mengapa bisa seperti itu?


Entahlah, aku tidak terlalu memikirkannya.


Sampai ketika Kak Rey akan berangkat bekerja setelah sarapan. Dia berkata akan sering mengunjungiku ketika tidak sibuk. Mendengar hal itu, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Aku tidak banyak menuntut kepadanya.


"Aku berangkat dulu. Jaga dirimu!"


"Heem." Dia mengusap kepalaku, lalu segera pergi memasuki mobilnya. Mataku tak beralih dari mobil hitam legam yang sudah menjauh dari pandangan, lalu kepalaku menggeleng pelan.


Karena bekas piring kotor belum selesai aku bereskan, aku segera masuk ke dalam untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menanti. Ada hal yang menarik perhatianku ketika mataku tertuju pada meja makan itu.


Astaga, ponsel Kak Rey tertinggal!


Ternyata dia juga ceroboh. Tapi, sepertinya tidak juga. Sesaat aku mendapati ponsel Kak Rey tergeletak di atas meja, saat itu juga terdengar suara pintu diketuk dari luar. Bergegas kuayunkan langkah, membawa ponsel tersebut bersamaku. Aku yakin jika Kak Rey kembali untuk mengambil benda ini.


Dengan segera aku membuka pintu tanpa meriksa lebih dulu siapa yang datang. Dan saat itulah mataku membeliak terkejut setelah melihat akan sosok yang sudah berdiri sambil bersedekap dada di depan pintu rumahku.


"Ma-ma?"

__ADS_1


__ADS_2